
Hari pertama Hanan mengikuti alur Ayu yang membisu. Ia tak tahu harus bicara apa, serba salah dan kaku saat di dekatnya.
Hari kedua ia mencoba mencairkan suasana, sering manja pada sang mama dan juga bicara yang aneh-aneh, namun juga tak mendapat respon baik.
Hari ketiga, Hanan sudah terbiasa, namun entah kenapa Ayu masih belum membangunkannya saat subuh. Alhasil ia tak pernah sholat berjamaah dengan keluarga karena terlambat. Harus menelan kekecewaan lagi.
Hari keempat, Hanan mencoba untuk menyendiri di kamar. Mencari jawaban untuk segera meluluhkan hati Ayu. Meyakinkan bahwa ia dan Chika hanya berteman layaknya pada yang lain, namun seakan jalan itu masih buntu hingga membuatnya harus lebih sabar lagi.
Hari ke lima, Hanan keluar rumah untuk menjernihkan pikiran. Setiap kali bertemu dengan Ayu yang cuek, hatinya sakit bak di remas-remas. Ia menemui beberapa teman tongkrongannya hanya untuk meminta saran. Setidaknya ia berpikir matang dengan langkah selanjutnya.
''Kalau menurutku, kamu belikan saja hadiah yang mewah untuk mama mu, pasti dia memafkanmu,'' ujar salah satu teman sekolah Hanan.
''Kalau menurutku sih, kamu harus ada di dekat mama mu terus. Pokoknya mencari perhatian dengan sikap baik mu,'' imbuh yang lainnya.
''Iya, kamu harus terlihat baik di mata dia, supaya mamamu itu melihat kesungguhanmu.''
Hanan menghabiskan kopinya yang tinggal sedikit. Mungkin saran dari mereka ada benar nya meskipun berulang kali juga gagal. Ia harus terus menarik perhatian di mata sang mama.
Ponsel berdering membuyarkan percakapan.
Hanan membaca pesan yang terkirim dari Angga.
Cepat pulang, Nak! Mama khawatir.
Ada senyum yang terukir di sudut bibir Hanan. Ya, walaupun ia yakin itu murni pesan dari Angga setidaknya menautkan nama mamanya yang mungkin tak peduli dengannya.
Hanan mengetik sesuatu. ''Baik, Pa. aku segera pulang.''
Sebelum ia memakai helm nya, berfoto dulu dengan teman-temannya tak lupa menyertakan nama cafe tempatnya nongkrong saat ini lalu mengunggah di story Wa berharap mamanya itu melihatnya.
''Aku pulang dulu,'' pamit Hanan, adu tos dengan mereka bergantian. Membayar makanan dan minuman yang dipesan sebelum meninggalkan tempat itu.
''Hati-hati!'' teriak mereka hampir serempak.
__ADS_1
Mereka geleng-geleng, ''Dasar anak mama memang selalu diperhatikan. Pacaran aja gak oleh.'' Mereka tertawa kecil dan kembali menikmati hidangan yang sudah tersaji.
Hanan melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Menembus kegelapan malam yang disertai dengan mendung, dan akhirnya setengah perjalanan gerimis pun mengundang disertai angin.
Namun, itu tak membuat Hanan menghentikan kuda besi nya. Ia tetap mengendarainya supaya secepatnya tiba di rumah.
''Aduh, basah deh.'' Hanan bergegas melepas jaketnya.
''Sini Den, biar bibi yang bawa.'' Bibi mendekati Hanan dan mengulurkan tangannya.
''Gak usah, Bi. Aku bisa cuci sendiri. Mama belum tidur?'' tanya Hanan memeriksa ponselnya yang ternyata masih nyala meskipun sedikit basah.
''Gak tahu, tapi ruang tengah sudah sepi,'' jawab bibi menyembulkan kepalanya ke arah pintu. Memastikan ucapannya itu tidak salah.
''Lampunya malah sudah mati.''
Hanan mengerutkan alisnya. Ya sudahlah, ia pasrah mungkin malam ini memang belum waktunya untuk bicara dengan Ayu.
''Makasih, Bi. Lain kali bibi gak usah nungguin.'' Hanan masuk. Berjalan dengan pelan. Seperti kata bibi, ruangan lantai bawah memang sangat sepi bahkan lampu menyala redup.
''Maafkan aku, Ma. Aku janji akan menjadi anak yang patuh seperti keinginan, Mama.'' Merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk dan berselimut tebal, namun terasa berada di luar, dingin penuh dengan kegelapan.
Mungkin memejamkan mata akan menjernihkan pikirannya, dan bisa merancang kembali apa yang akan dilakukannya nanti.
Alarm berbunyi. Hanan melompat dari tempat tidurnya dan bergegas ke kamar mandi. Tak lupa menggosok gigi lalu mencuci muka. Mengambil wudhu. Merapikan penampilannya sambil menunggu lantunan adzan berkumandang.
''Akhirnya, pagi ini aku bisa shalat berjamaah dengan keluarga.'' Memakai peci hitamnya. Bangga karena bisa bangun sendiri dan tak terlambat.
Baru beberapa menit duduk, akhirnya yang ditunggu tiba. Suara adzan terdengar merdu dari arah masjid yang lumayan jauh dari rumahnya. Hanan tersenyum. Ia bangkit lalu keluar dari kamarnya. Mengetuk pintu kamar Alifa yang masih tertutup rapat.
''Bangun, Dek! sudah shubuh,'' teriak Hanan.
''Iya.'' Terdengar suara serak dari dalam, itu artinya Alifa memang sudah terjaga. Kemudian beralih ke kamar Adiba dan melakukan hal yang sama.
__ADS_1
Ia sengaja turun bersama dengan kedua adiknya supaya tidak terlalu canggung saat berhadapan langsung dengan sang mama.
Setibanya di sudut tangga, pintu kamar terbuka. Angga keluar diikuti Ayu dari belakang. Mereka terkejut melihat ketiga buah hatinya yang nampak siap untuk berjamaah.
''Siapa yang bangunin kalian?'' tanya Ayu menunjuk Alifa dan Adiba.
''Kak Hanan,'' jawab mereka serempak.
Ayu menatap Hanan yang berdiri paling belakang. Matanya berkaca, merasa tak adil sudah mengabaikannya selama beberapa hari.
Hanan mendekat ke arah Ayu.
''Seandainya terjadi sesuatu padaku, hanya satu permintaanku, Ma. Tolong maafkan aku, karena aku gak mungkin bisa mati dengan tenang sebelum mendapatkan maaf dari mama."
Jantung Ayu berdegup kencang. sekujur tubuhnya lemah. Tangannya gemetar hingga tasbih yang ada di tangannya terjatuh. Buliran bening mengalir, merenungi apa yang ia lakukan pada lelaki itu.
Kata-kata macam apa itu? Ya, ia sangat takut kehilangan, apalagi Hanan mengucap kata mati. Sungguh tidak akan terbayang jika itu terjadi.
Hanan meraih tangan Ayu dan menciumnya. Menghirup dalam aroma yang menyejukkan.
Tak lama kata itu meluncur sebuah tangan melingkar di punggung Hanan dengan erat. Jelas, itu tanda tak ingin kehilangan. Ciuman pun mendarat di pucuk kepala lelaki itu diiringi tetesan air mata.
Suara isak tangis terdengar membuat suasana menjadi haru. Akhirnya mereka akur setelah beberapa hari saling diam sengit.
Angga hanya bisa menahan senyum yang hampir terukir. Tak menyangka Hanan sangat cerdik untuk mengambil hati sang mama.
''Aku janji tidak akan membuat mama sakit hati. Aku juga sudah memutuskan untuk berteman dengan Chika,'' ucap Hanan tanpa melepas pelukannya.
Ayu hanya mengucap terima kasih. Pertanda bahwa ia juga bahagia dengan keputusan itu, dan berharap Hanan mengerti.
''Sekarang kita shalat, keburu waktunya habis,'' ajak Angga mendahului mereka.
Alhamdulillah, akhirnya istri dan anakku akur. Gak kebayang mereka diam selama sebulan, pasti rumah ini sudah seperti goa akbar saja.
__ADS_1
Angga pun menjadi imam shalat seperti biasanya.