
Ayu berbalik badan. Ia menatap dua bodyguard yang berjalan mengikutinya dari belakang.
"Lain kali kalau disuruh Mas Angga jangan mau, lebih baik kalian cari kerjaan lain daripada jadi pengawalnya. Dia orangnya nggak tahu terima kasih." Ayu terus mengompori dua pria itu.
''Ya sudah, kalau mereka nggak boleh jadi pengawalku, itu artinya mereka akan menjadi pengawalmu. Mereka akan menjaga rumahmu, menjaga anak-anak dan menjaga kamu," timpal Angga yang tak sengaja mendengar ucapan Ayu.
"Rumahku kan rumah kontrakan, ngapain dijagain? Malu sama tetangga."
"Maksudku bukan rumah yang itu."
''Lalu?'' Ayu melanjutkan langkahnya meninggalkan Angga dan 2 Bodyguard yang masih berdiri di depan gerbang.
"Rumah kita," teriak Angga lepas hingga beberapa orang yang ada di dekatnya menoleh.
"Rumah kita yang mana?" Ayu ingin memperjelas kata-kata Angga.
"Rumah kita yang kemarin aku perlihatkan sama kamu," jawab Angga serius.
"Antarkan aku pulang. Jangan berbicara terus menerus."
Angga segera naik ke mobil dan melajukan nya. Membelah kerumunan kendaraan. Bukan jalan ke rumah Ayu melainkan jalan ke rumah mamanya.
"Kok kita ke rumah kamu sih? Aku kan maunya pulang. Kasihan anak-anak."
"Kan aku sudah suruh bi Ninik untuk menjaga mereka? Kamu nggak usah khawatir, lagi pula kan mereka sudah besar dan sudah pintar. Makanya kamu tinggal di rumah kita supaya ada yang menjaga mereka."
"Gak ah, sebelum kita menikah aku tidak akan pindah dari rumah itu, titik. Kecuali aku bisa beli rumah sendiri maka aku akan pindah."
"Oke, aku setuju." keduanya saling diam.
__ADS_1
"Sebenarnya kita ke sini mau apa sih, Mas? Kamu tahu, kan? Tante Winda itu nggak suka lihat aku."
"Mama itu bukannya nggak suka, tapi belum terbiasa. Aku yakin lambat laun mama pasti akan suka sama kamu. Kamu ingat, waktu kemarin dia menyuruhmu masak? Kalau nggak suka ngapain dia menyuruhmu Masak? Gak mungkin." Angga yakin bahwa Bu Winda bukannya tidak setuju dengan hubungan mereka, akan tetapi masih beradaptasi dengan keadaan Ayu yang statusnya adalah orang miskin.
"Untuk kali ini aku akan ikut kamu, tapi seandainya tante Winda belum juga menyetujui kita, maka lebih baik kita hanya berteman, Mas. Kamu bebas memilih perempuan yang kamu suka atau yang mama kamu suka, jangan menungguku. Kamu juga berhak bahagia, selama ini anak-anak memang nyaman padamu, tapi seiring berjalannya waktu mereka akan mengerti bahwa semua yang diinginkan belum tentu tercapai."
"Aku nggak setuju." Angga meraih tangan Ayu dan menggenggamnya dengan erat.
"Pokoknya sampai kapanpun aku akan tetap menunggu kamu atau aku tidak akan menikah selamanya.''
"Jangan gitu, Mas. Gak baik, Aku nggak suka. Kamu harus memikirkan tante Winda, dia pasti pengen cucu, pengen keluarga kamu bahagia, jangan egois.''
"Aku egois? Mama yang egois, selama ini aku nggak minta apa-apa dari Mama.''
"Jangan pernah berkata seperti itu, dia ibumu."
Ayu berdecak, ia malas jika harus berdebat dengan Angga, benar pun pasti pria itu akan tetap meminta menang. Dia lebih memilih diam dan mendengarkan Angga yang terkadang keluar dari jalur.
Bagi Ayu itu adalah pelajaran yang pertama kali ia dapatkan di dunia dan dari situ juga membuat dirinya bisa berdiri kokoh seperti saat ini. dilepaskan Ikram dengan tiga anak bukan lagi hambatan untuk dirinya bisa melakukan sesuatu hal karena dari kecil ia sudah mendapatkan ilmu yang bermanfaat dari orang-orang terdekat.
"Kalau kamu tetap memilihku Baiklah, aku akan ikut kamu, tapi kita harus sabar."
Angga mengangguk setuju. Meskipun ia tidak tahu jalan hidup wanita yang ada di sisinya, tapi ia tahu bahwa wanita itu adalah wanita yang kuat yang tegar dan bisa mengatasi masalahnya sendiri tanpa bantuan orang lain, termasuk darinya.
Tanpa terasa mobil berhenti di depan rumah. Seperti kesepakatan yang mereka bicarakan tadiz Ayu berjalan bersejajar dengan Angga layaknya sepasang kekasih yang saling mencintai. Kebetulan Bu Winda ada di ruang tengah.
"Jangan emosi, tetap tenang.'' Ayu kembali mengingatkan sebelum mereka menghampiri Bu Winda.
"Kamu sudah pulang?" tanya bu Winda tetap menatap ke arah televisi.
__ADS_1
"Iya, Ma," jawab Angga duduk di depan mamanya.
"Sore, Tante." Ayu bersalaman dengan Bu Winda kemudian duduk di samping Angga.
"Dari mana kalian?" tanya Bu Winda selanjutnya, bukan tanpa alasan ia berkata seperti itu, pasalnya baju yang dipakai Ayu bukan baju rumahan akan tetapi gaun mahal yang sering ia lihat di butik.
"Kami dari rumah Ikram.'' Angga yang menjawab.
"Ngapain?" tanya Bu Winda singkat.
"Menyelesaikan masalah penting."
Ayu meremas ujung hijab nya. Entah kenapa saat di dekat bu Winda ia merasa gugup. Jiwa keberaniannya lenyap seolah-olah Ia hanya kelinci kecil yang ingin mengikuti induknya. Pelukan seorang ibu yang belum pernah ia dapatkan selama berpuluh-puluh tahun itu ia dapatkan, dan seandainya satu kali saja Bu Winda mau memeluknya maka itu adalah nikmat terbesar dalam hidup Ayu.
"Aku ingin bicara dengan Mama." Angga terlihat lebih serius daripada dia membongkar kejahatan Rani tadi.
"Bicara saja, mama akan mendengarnya." Bu Winda terlihat ketus.
"Sekali lagi aku akan mengatakan pada mama, kalau aku akan tetap menikahi Ayu."
Bu Winda beranjak dari duduknya. Baru beberapa langkah, suara seorang gadis menghentikan kakinya.
"Elisa!" serunya, ternyata yang datang adalah Elisa, saudara Angga. Mata Ayu menatap sosok cantik yang berjalan ke arah Bu Winda. Ia memang belum pernah melihat gadis itu, akan tetapi ada sesuatu yang mengingatkannya pada saudara kecilnya.
"Elisa," ucapnya lirih yang bisa didengar oleh Angga hingga pria itu menatap Elisa dan Ayu bergantian.
"Kamu kenal sama Elisa?" tanya Angga menyelidik.
Ayu menggeleng. Ia memang belum pernah bertemu dengan gadis yang saat ini berpelukan dengan Bu Winda, akan tetapi ada sesuatu yang menggugah hatinya saat gadis itu tersenyum.
__ADS_1
Apa mungkin dia Elisa adikku, tapi kenapa bisa ada di sini? Sebenarnya ada hubungan dari mana keluarga mas Angga dan keluargaku. Aku harus meminta penjelasan padanya.
Ayu yang hampir melangkah ditahan oleh Angga. "Tetap di sini, urusan kita belum selesai. Pokoknya jangan pergi sebelum berhasil.''