
Ayu meraih ponsel yang ada di tangan Angga. Sedikit ada rasa curiga pada sosok yang tadi mengucap kalimat dengan lembut. Apakah itu klien ataukah. Ah, dadanya mulai sesak. Entah, akhir-akhir ini pikirannya memang sensitif dan selalu mengarah pada sesuatu yang negatif. Seperti saat ini yang curiga dengan suaminya sendiri.
Angga pun terdiam. Ia tak bisa bicara apapun karena belum berkenalan. Memalingkan pandangannya ke arah lain saat Ayu menatapnya tajam.
''Ada apa ini?'' Suara bu Winda memecahkan keheningan yang tercipta.
Ayu tersenyum kaku. Menempelkan benda pipih itu di telinganya.
''Halo, ini siapa ya?'' sapa Ayu lemah. Menahan dadanya yang terlalu sesak akibat kekurangan oksigen.
''Maaf, Mbak. Ini saya Mirna, ibunya Chika.''
Angga bernafas lega setelah wanita yang ada di balik ponsel itu menyebut nama pacar, eh mantan pacar Hanan.
''O...'' Jantung Ayu pun kembali normal. Menghapus kecurigaan yang sempat melintas di otaknya. Kembali yakin bahwa suaminya adalah lelaki baik dan tak mungkin bermain serong di belakangnya.
''Ada apa ya, Mbak?'' tanya Ayu santai.
Terdengar helaan nafas panjang. ''Maaf mengganggu waktunya, apa kita bisa bertemu?'' tanya Mirna penuh harap.
Hari ini tidak ada jadwal penting. Rapat sudah dipimpin Ais, sementara Angga pun sudah menyerahkan pekerjaannya pada Wendi dan Riska. Itu artinya mereka berdua banyak waktu luang, dan seperti nya mamanya Chika memang ingin bicara penting. Terlebih mungkin ini akan menyangkut anak-anak mereka.
''Baiklah, saya setuju.''
Telepon terputus. Ayu membaca pesan dari Mirna yang mana itu adalah alamat cafe tempat mereka akan bertemu.
''Ada apa?'' tanya Angga antusias. Ia khawatir dengan keadaan Ayu yang sedikit tak baik-baik saja, takut masalah yang terjadi akan berimbas pada janinnya.
''Gak tahu, dia ingin bertemu kita,'' ucap Ayu menunjukkan pesan dari Mirna.
__ADS_1
Angga pun langsung setuju dan berharap ini juga jalan baik untuk kedua insan yang saling mencintai namun terpisah karena keadaan.
Mobil melesat dengan kecepatan sedang menuju cafe yang tak jauh dari kantor. Ayu semakin penasaran dengan tujuan Mirna mengajaknya bertemu. Sebab, ia yakin ada hubungannya dengan Hanan, pastinya.
''Kira-kira apa yang mau dibicarakan perempuan tadi ya, Mas?'' Ayu semakin gelisah. Ia tak mampu memendam sendirian dan berharap Angga mencari solusi.
''Jangan khawatir, mungkin mamanya Chika cuma mau bersilaturahmi dengan kita.'' Angga meyakinkan, walaupun hatinya sendiri tak yakin.
''Semoga.''
Angga menghentikan mobilnya di parkiran. Ia dan Ayu masuk. Matanya mengelilingi ruangan yang dipenuhi dengan pengunjung. Seorang wanita cantik memakai seragam cafe itu mendekati mereka.
''Ibu Ayu dan pak Angga,'' sapa nya ramah dan sopan.
''Iya,'' jawab Angga tegas.
''Mari, Anda sudah ditunggu bu Mirna di dalam.''
''Selamat datang, Mbak.'' Mirna mengulurkan tangannya ke arah Ayu.
Dari tampilannya mereka memang jauh berbeda. Jika Ayu berpakaian tertutup rapat, wanita yang memperkanlkan namanya Mirna itu memakai dres selutut layaknya istri pengusaha kaya raya.
''Silahkan duduk!'' Mirna mempersilahkan Ayu dan Angga duduk.
Mereka bercakap biasa, tidak ada pembahasan tentang Chika maupun Hanan. Lebih condong dengan bisnis masing-masing dan juga pengembangan usaha yang digeluti saat ini, hingga beberapa saat kemudian seorang pria tampan dengan setelan jas hitam datang dan tersenyum ke arah Angga.
''Pak Danu,'' sapa Angga terkejut. Ia pun mengulurkan tangannya pada pria yang tak lain kolega bisnisnya itu.
''Pak Angga, gak nyangka tamu saya adalah Anda.'' Danu ikut duduk di samping Mirna dan menyebut diri sebagai papanya Chika dan juga suami Mirna.
__ADS_1
Suasana terasa hangat. Mereka bercakap lumer dan sesekali tertawa, begitu juga dengan Ayu yang mulai merasa nyambung dengan pembahasan itu.
''Jadi Hanan itu putra, Anda?'' tanya Danu memastikan.
Angga ngangguk ringan. Sebab, selepas ia menjadi suami Ayu, maka anak-anak pun ia anggap seperti anak kandungnya sendiri. Apa susahnya mengakui mereka yang saat ini memang menjadi tanggung jawabnya.
Meski sebenarnya Danu juga tahu bahwa mereka tak sedarah mengingat pernikahan Angga yang baru ditunaikan beberapa bulan lalu.
''Begini, Pak. Sejak Hanan memutuskan Chika, dia malas belajar dan gak mau sekolah. Saya bingung harus bersikap bagaimana, kesehariannya hanya diisi dengan melamun dan melamun. Suka menyendiri. Saya takut dia depresi, bahkan sering kali gak mau makan,'' ujar Danu menjelaskan.
Hati Ayu mendadak nyeri membayangkan gadis manis itu terhanyut dalam luka yang ia ciptakan. Bagaimana jika itu terjadi pada salah satu putrinya. Akankah ia sanggup melihatnya? Apakah dia pun akan memohon seperti yang dilakukan orang tua Chika sekarang?
Bahkan, terkadang ia pun memintanya dengan cara yang tidak baik-baik saja, tidak seperti mereka yang meminta tolong dengan sebuah kelembutan tanpa menyalahkan. Hati dan pikirannya mencoba untuk menyatu mengambil keputusan. Ya, keputusan yang sangat sulit. Antara tetap memisahkan mereka seperti keinginannya atau mempertemukan mereka kembali supaya tidak ada yang tersakiti.
Ayu dalam dilema, bibirnya terkunci. Hanya otaknya saja yang terus berputar mencari jawaban yang tepat.
''Saya harap, Ibu dan bapak bisa membantu. Kami sudah konsultasi dengan dokter, dan katanya jika ini dibiarkan berlarut akan mengalami gangguan jiwa.''
Kedua bola mata Ayu melebar. Menatap Mirna yang nampak meneteskan air mata. Hatinya kembali luluh. Mungkin, Hanan juga merasakan sakit yang sama, hanya saja lelaki itu mencoba untuk terlihat biasa saja demi membahagiakannya.
Angga menatap sang istri yang mulai dirundung gelisah. Terlihat dari matanya yang meremang juga tangannya gemetar saat meremas ujung hijabnya. wanita itu berada di ambang kegalauan karena ucapan orang tau Chika.
''Begini saja, Pak, saya dan istri saya akan bicara dengan Chika. Kami yang akan menjelaskan semua nya, oke.'' Angga mengambil jalan tengah. Ia tak mau Ayu merasa terbebani dengan masalah itu. Terlebih saat ini sedang mengandung, takut berpengaruh buruk pada janinnya.
''Terima kasih, Pak. Saya hanya berharap Chika kembali normal seperti biasa. Dia anak kami satu-satunya. Kebanggaan kami.''
Terasa ngilu didengar. Seorang ibu pasti akan hancur jika anaknya hancur begitulah yang dialami Mirna.
''Silahkan Ibu dan Pak Danu pergi dulu, saya akan bicara dengan istri saya.'' Angga mengucap dengan nada pelan, bahkan hampir tak terdengar oleh Ayu yang nampak melamun.
__ADS_1
Danu dan Mirna pamit meninggalkan cafe. Kini hanya ada Ayu dan Angga di ruangan tertutup itu.
''Bagaimana, Sayang? Aku tidak bisa memaksamu, aku pun ingin yang terbaik untuk mereka berdua tanpa harus mengganggu sekolah nya.''