Janda Tangguh

Janda Tangguh
Pendapat Om Surya


__ADS_3

"Gak usah, Ma. Aku mau kerja." Menunjuk laptop yang ada di jok belakang. Angga terus mengeluh saat bu Winda memaksanya untuk turun. 


"Sudah, gak usah banyak alasan, cepetan!" Bu Winda terus mendesak Angga supaya mau menemaninya masuk.  


Tidak hanya acara arisan. Di dalam gedung yang menjulang tinggi itu ternyata ada sebuah pertemuan penting antara kerabat jauh yang memang diadakan setiap tahunnya dan mengharuskan semua keluarga ikut. 


Angga berulang kali memukul stir. Namun, ia tetap turun dan mengikuti mamanya. 


Angga berhenti di belakang pintu. Matanya mengelilingi setiap tamu yang hadir. Wajah mereka memang tak asing, namun tetap saja membuat Angga tak nyaman.


"Sini, Ga," teriak seorang Wanita paruh baya yang ada di tengah tamu yang lain. 


Angga mendekat lalu bersalaman dengan wanita itu. Bibirnya membisu seolah enggan untuk membuka suara.


"Sudah punya calon istri?" tanya nya. 


"Sudah," jawab cepat-cepat memotong bu Winda yang hampir berbicara. 


"Kenapa gak diajak?" 


Angga menatap ke arah lain, dimana beberapa sepupunya berkerumun. Sama seperti dirinya, mereka pun banyak yang semakin dewasa.


"Ada kak Angga," seru suara cempreng dari belakang. 


Angga menoleh ke arah sumber suara lalu tersenyum. 


"Elisa, ini beneran kamu?" Mencubit hidung gadis cantik yang nampak akrab dengannya.


"Ternyata kak Angga masih ingat sama aku." Elisa mengusap hidungnya yang memerah akibat cubitan Angga.


Angga dan Elisa memang masih saudara jauh. Akan tetapi, dipisahkan jarak jauh. Bahkan, disaat orang tua Elisa meninggal pun Angga tak bisa datang karena ada ujian, dan saat itu ia berada di luar negeri.


Kayaknya mereka akrab banget. Kalau Angga gak mau sama Lili mungkin dia bisa membuka hatinya untuk Elisa. 


Bu Winda berdehem membuyarkan percakapan antara Angga dan Elisa. 


"Kalian ini jarang bertemu lo, tapi kok bisa akrab.'' Bu winda berdiri di tengah-tengah Elisa dan Angga. 


Elisa tersenyum malu. Benar apa kata bu Winda, ia dan Angga memang jarang bertemu bahkan hampir tak berkomunikasi. Namun, sekali bertemu mereka langsung akrab bahkan tidak canggung sedikitpun. 


"Sekarang kamu tinggal dengan siapa?" tanya Bu Winda yang seketika membuat mata Elisa berkaca-kaca. 


Buliran bening mulai menetes dari sudut mata Elisa saat bu Winda merengkuh nya. 

__ADS_1


Kenangan indah bersama kedua orang tuanya melintas menghiasi otaknya. 


"Kamu yang sabar, tante yakin mama dan papamu mendapatkan tempat yang terbaik disisi Allah. Ada kak Angga. Dia pasti akan menjagamu seperti dia menjaga mama." Melirik Angga sekilas. Memberi kode pada pria itu untuk ikut menenangkan. 


"Iya El, aku akan menjagamu seperti dulu orang tuamu menjagamu." 


Elisa mengangguk, ia mencoba menerima kepergian kedua orang tuanya yang sudah hampir dua tahun. Meskipun terkadang merasa iri dengan mereka yang masih memiliki keluarga lengkap, Elisa tetap berharap mendapatkan kebahagiaan dari yang lain. 


"Sekarang kamu kerja di mana?" tanya Bu Winda mengusap pipi Elisa yang dipenuhi dengan air mata. 


"Aku kerja di perusahaan garmen milik Om Surya, Tante. Dia yang selama ini merawatku, tapi__" Elisa menundukkan kepala 


"Tapi apa?" tanya Bu Winda antusias.


"Tiga bulan ini aku tinggal di apartemen karena gak enak sama tante Siwi. Aku gak mau mereka berantem gara-gara aku."


Kebetulan sekali orang yang disebut Elisa datang hingga membuatnya bungkam.


Angga ikut menyambut kedatangan keluarga yang baru datang. Selain sebagai pengganti papanya, ia juga paling tua di antara sepupu yang lain. 


"Kamu kapan nikah, Ga?" tanya Om Surya menepuk pundak Angga. 


Angga tersenyum sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Jika ditanya soal nikah, pasti ia bingung setengah mati.  


Om Surya menatap bu Winda yang asyik berbicara dengan Elisa. Pura-pura tidak mendengar percakapan Angga dan saudara dari suaminya tersebut.


"Memangnya kenapa dengan calon istrimu, apa dia kurang cantik, atau __"


"Gak, calon istriku cantik banget, tidak hanya wajahnya tapi juga hatinya. Selama aku kenal dengan perempuan tidak ada yang bisa menandingi dia. Calon istriku juga berhijab, dia patuh dengan Agama dan selalu mengingatkan aku dengan hal-hal yang baik. Hanya saja__" Angga menarik napas dalam-dalam.  


"dia janda miskin dan mempunyai anak, itulah kenapa mama gak setuju. "


Sedikitpun Angga tak menutupi jati diri Ayu. Baginya, seluruh keluarga berhak tahu, dan mereka boleh mengeluarkan pendapat.


"Menurut Om, apa aku salah memilih istri yang seperti itu?" 


Om Surya menggeleng. "Tidak, ikuti isi hatimu, om yakin kamu akan mendapatkan yang terbaik."


Tante Siwi pun ikut mendukung pilihan Angga.


Bu Winda tak menanggapinya dan memilih pergi meninggalkan Angga. 


"Kapan-kapan om boleh dong kenalan dengan calon istrimu?" goda Om Surya. 

__ADS_1


Angga mengeluarkan ponsel nya lalu memperlihatkan foto Ayu dan anak-anaknya. 


"Namanya Ayu Lestari, umurnya 31 tahun dia punya anak tiga."


Ayu Lestari, ulang Om Surya dalam hati. Nama yang tak asing di telinganya, namun ia segera menepisnya dan kembali fokus pada Acara pertemuan itu. 


Ponsel Angga berdering, nama guru sekolah Hanan berkelip di layar. 


''Ada apa ini?'' Menatap jam yang melingkar di tangannya. Ternyata sudah jam waktu nya pulang untuk anak-anak kelas lima. 


Sapaan salam terdengar. Angga menjawabnya lalu keluar menghindari kebisingan. 


"Hanan belum dijemput, Pak. Saya mencoba menghubungi Bu Ayu, tapi tidak ada jawaban," ucap Guru wanita yang ada di seberang ponsel. 


"Baiklah, saya akan segera ke sana."


Tanpa pamit Angga berlari menuju mobil. Tidak biasanya Ayu terlambat menjemput anak-anak hingga membuatnya cemas.


Ada apa dengan Ayu? bertanya-tanya dalam hati. 


Angga melajukan mobilnya menuju sekolah Alifa yang lebih dekat. 


Sesampainya, Angga segera masuk ke dalam menghampiri Alifa yang duduk di samping gurunya. Ia terlihat lesu dan hampir menangis.


''Ya Allah, Nak. Maafkan papa gak bisa jemput kamu tadi.'' Memeluk tubuh mungil sang putri dan menggendong ya ke arah mobil. 


''Mama ke mana, Pa?'' tanya Alifa lirih. 


Itulah yang membuat Angga gelisah. Ia mencoba menghubungi Ayu namun hasilnya sama, tersambung tak diangkat. 


''Mama di rumah, Sayang. Kita jemput kak Hanan dulu ya.''


Angga melanjutkan perjalanannya menuju ke sekolah Hanan. 


Berbeda dengan Alifa yang masih ada di dalalam, Hanan menunggu di pos satpam. Bocah itu langsung berlari menghampiri Angga yang baru turun dari mobil. 


''Kamu gak papa, kan?'' tanya Angga memastikan. 


Hanan menggeleng lalu masuk saat pintu dibuka. 


''Terima kasih, Pak. Sudah jagain anak saya,'' teriak Angga ke arah satpam yang berjaga. 


Tak menunggu lama, Angga langsung membawa mereka pulang ke rumah. Berharap tidak terjadi hal buruk pada Ayu. 

__ADS_1


__ADS_2