
''Ada apa ini?'' tanya Angga yang baru datang membelah kerumunan.
Alifa membenamkan wajahnya di dada cleaning servis yang memangku nya, sedangkan Hanan duduk sambil mengusap kening sang adik.
Angga ikut berjongkok dan mengambil alih Alifa. Betapa terkejutnya saat melihat benjolan di kening bocah itu.
''Kenapa ini?'' pekik Angga menatap tajam ke arah pria yang ada di depannya. Menatapnya dengan tatapan curiga.
''Maafkan saya, Pak. Tadi adiknya lari, dia menabrak kaca dan jatuh,'' ucap cleaning service dengan bibir bergetar menahan takut.
Sepuluh jarinya menggulung mencengkram ujung baju. Takut Angga akan memecatnya karena keteledoran yang tak disengaja.
''Iya, Pa. Tadi dik Alifa lari terus nabrak kaca,'' terang Hanan yang menjadi saksi kejadian itu.
Angga merengkuh tubuh mungil Alifa. Menyuruh salah satu dari mereka untuk memanggil dokter. Kemudian membawa ke ruangannya.
''Panggil sopir! Suruh menjemput Ayu,'' teriak Angga sambil berlari kecil menuju lift.
Tak lupa menggandeng tangan Hanan. Takut kejadian itu menimpa putra pertamanya juga.
Seluruh karyawan saling mengangkat bahu. Mereka tak terlalu paham dengan perintah sang bos.
''Ayu siapa? Di mana dia sekarang?'' tanya sang sopir yang diperintahkan.
''Aku juga gak tahu, coba kamu tanya yang lain. Mungkin mereka paham.''
Suasana kantor bergemuruh. Mereka saling bertanya-tanya tentang sosok Ayu yang belum diketahui.
Riska yang paham akan hal itu pun menjelaskan pada sopir tentang jati diri wanita yang bernama Ayu.
''Ini alamatnya, cepetan!'' suruh Riska menyerahkan selembar kertas kecil ke arah sopir.
Ia bergegas kembali ke ruangan Angga, sedangkan yang lain menunggu dokter datang.
Angga terus mendekap tubuh mungil Alifa. Merasa bersalah karena sudah meninggalkan bocah itu.
''Dokter sudah datang, Pak.'' Riska menghampiri Angga yang masih nampak panik.
''Silakan masuk!'' Menggeser duduknya memberi ruang pada dokter untuk memeriksa Alifa.
''Tadi dia jatuh, Dok. Keningnya benjol," ucap Angga menunjuk kening alifa.
Dokter yang ada di samping Angga memeriksa Alifa dengan intens. Tak hanya di bagian kepala namun juga di bagian tubuh lainnya. Memastikan tidak ada luka selain itu.
__ADS_1
''Tolong ambilkan es batu!'' pinta dokter.
Riska segera mengambil permintaan sang dokter dari lemari pendingin kemudian meletakkan di atas meja.
''Apa ada yang sakit selain ini?'' tanya dokter dengan lembut. Mengusap kening Alifa dengan es batu yang dibalut kain halus.
Alifa menggeleng tanpa suara. Ia mulai duduk normal saat rasa sakit di keningnya berkurang.
''Lain kali hati-hati ya, jangan sampai jatuh lagi,'' tutur dokter dengan lembut.
''Makasih, Dok,'' ucap Angga yang sedikit lega.
Dokter pun memberikan salep yang sudah disiapkan. Sebab, sebelum pergi ia sudah tahu tentang kondisi pasien yang akan diperiksa hingga menyediakan beberapa obat.
''Saya permisi, Pak,'' pamit dokter lalu pergi setelah mendapat anggukan dari Angga.
Tak berselang lama Ayu datang. Ia menghampiri Angga yang masih sibuk mengompres Alifa.
''Alifa kenapa, Mas?'' Menatap beberapa obat yang ada di meja lalu duduk di samping Angga.
''Tadi Alifa jatuh, keningnya benjol. Tapi kamu tenang saja, dokter sudah memeriksanya,'' ucap Angga menjelaskan.
Ayu hanya ber oh ria. Berbeda dengan Angga yang panik justru ia terlihat biasa saja melihat luka di kening putrinya.
''Kamu gak khawatir, Sayang?'' tanya Angga tanpa melepaskan tangannya.
Ayu menggeleng. Mengambil segelas air putih lalu meminumnya.
''Apa kata dokter?'' tanya Ayu santai.
''Tadi dokter bilang gak apa-apa. Kalau di kompres dan diberi salep pasti sembuh,'' ucap Angga menirukan penjelasan dokter tadi.
''Ya sudah, tinggal di kompres saja beres, kan? Lagipula itu cuma benjolan kecil. Gak papa, anak mama kan kuat."
Angga geram. Satu tangannya mengulur ke samping meraih ceruk leher Ayu dan mendekatkan di wajahnya. Maju Satu senti saja mereka sudah berciuman bibir.
Ayu menelan ludahnya dengan susah payah. Dadanya bergemuruh saat ia merasakan hembusan nafas Angga. Jantungnya berdegup dengan kencang antara gugup dan takut.
Kayaknya asik godain Ayu.
Angga memejamkan matanya. Dalam hati cekikikan melihat ketakutan Ayu.
''Papa...Mama,'' seru Hanan membuat Angga terkejut dan akhirnya melepaskan Ayu. Hampir saja ia tak terkontrol dan akan mendaratkan sebut ciuman. Entah setan macam apa yang merasukinya hingga lupa diri.
__ADS_1
Astagfirullah hal adzim, kenapa aku bisa gak sadar seperti ini sih.
Ayu pura-pura merapikan hijabnya yang memang sudah rapi. Malu saat Hanan memergoki kelakuan mesum Angga.
''Sudah sembuh, Nak?'' Angga mengambil kain yang ada di kening Alifa lalu mengoles lukanya dengan salep pemberian dokter.
''Sudah, Pa,'' jawab Alifa lugas. Turun dari pangkuan Angga dan beralih duduk di depan Ayu.
''Apa kita bisa berangkat sekarang?'' tawar Angga lalu ke kamar. Mengambil baju ganti untuk anak-anak yang memang sudah disiapkan sebelumnya.
''Bisa, Pa.'' Alifa menjawab dengan suara lantang. Keadaannya sudah mulai membaik setelah mendapat perawatan.
''Tadi mas Ikram juga datang ke toko. Dia ngajakin aku keluar.'' Ayu melepas baju Alifa dan menggantinya dengan baju rumah.
''Kamu bilang apa?'' tanya Angga sinis. Membantu Hanna melepas sepatu.
Setiap kali berbicara tentang Ikram hatinya kesal.
''Aku bilang pada mas Ikram sudah punya janji sama kamu,'' jawab Ayu jujur.
''Makasih ya.''
Angga memanggil Riska mengatakan pada sang sekretaris bahwa ia akan pulang.
Kali ini Ayu menerima pemberian Angga. Menghargai hadiah yang diberikan pria itu untuk anak-anak. Meskipun hanya Alifa yang ulang tahun, namun Angga memberikan kado untuk Hanan dan juga Alifa. Tak membedakan di antara mereka yang sama-sama anak Ayu.
''Jangan banyak-banyak, aku takut mereka terbiasa dengan barang-barang mahal.'' Ayu mengembalikan beberapa mainan yang menurutnya tak penting.
Hanan hanya bisa menatap tanpa protes. Ia pun tak begitu membutuhkan benda itu dan lebih fokus dengan pelajaran sekolah.
Huh
Angga hanya bisa menghembuskan napas. Mau heran tapi itulah Ayu Lestari, wanita yang punya pendirian teguh dan tak akan goyah. Mendidik anak-anak dengan caranya sendiri.
''Oke, kalau begitu sekarang kita ke toko kue,'' ajak Angga setelah membayar semuanya.
Baru saja melajukan mobilnya, tiba-tiba sebuah tragedi terjadi tepat di depan gerbang. Angga kaget saat ada seorang wanita jatuh tepat di depan mobilnya.
''Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun.'' Ayu bergegas turun dan memastikan keadaan orang yang tergeletak tersebut.
Ayu lebih terkejut saat melihat seseorang yang tak asing di matanya.
''Rani,'' ucapnya tanpa menyentuh.
__ADS_1
Angga pun lupa-lupa ingat dengan wanita itu. Ia memilih memanggil orang lain untuk menolongnya.