
Hampir semalam penuh Hanan tak bisa tidur, ia membayangkan film kartun yang akan dipilihnya nanti di layar lebar. Matanya berbinar-binar dengan bibir yang terus memulai melukis senyum indah.
Guling pun menjadi saksi bisu kebahagiaan Hanan yang mulai malas melakukan apapun.
"Sudah subuh apa belum?" tanya Ayu sembari memegang knop.
Membuka pintu sedikit memastikan bahwa putrinya tak lupa menunaikan kewajiban nya.
"Sudah, Ma." Hanan menjawab tanpa bergerak. Sepertinya kasur salah satu tempat ternyamanya pagi ini.
"Jangan terlalu berharap pada manusia, takutnya kamu kecewa," tutur Ayu yang mampu melenyapkan senyum Hanan.
Benar sekali, akan tetapi Hanan yakin Angga tidak akan mengingkari janjinya.
"Sekarang mandi dulu, setelah itu sarapan." Ayu Menyiapkan handuk dan baju untuk Hanan.
"Nanti mama ikut gak?" tanya Hanan turun dari ranjang.
''Tergantung, diajak apa nggak?'' Ayu menutup pintu lemari. Menatap Hanan yang tampak antusias.
"Pasti diajak, papa kan sayang, Mama."
Ayu hanya geleng-geleng kepala kemudian melanjutkan aktivitasnya sembari menunggu Angga datang.
Disisi lain Angga yang baru saja keluar dari kamar mandi berdecak kesal melihat beberapa pesan masuk dari Rani.
Namun, ia tetap menjawabnya dengan ramah.
"Iya Rani, aku akan temani kamu periksa ke dokter." Terkirim ke nomor Rani.
Menghela nafas panjang sambil memakai baju. Otaknya terus berputar mencari cara supaya ia bisa mengantar Rani dan juga bisa menemani Hanan nonton.
Angga keluar dari rumah. Ia langsung melajukan mobilnya menuju rumah Ikram. Menghubungi beberapa orang yang ada di kantor untuk meninjau proyek yang ada di luar kota.
Kurang lebih hampir dua minggu Angga mengurus pengobatan Rani. Ia turun tangan atas permintaan Rani sendiri, bukan tanpa alasan ia hanya ingin memastikan sendiri tentang keadaan wanita itu.
Seperti hari biasa, Rani selalu menyambut kedatangan Angga dengan penuh senyuman secerah mentari pagi yang menghangatkan. Sementara Ikram bermuka datar melihat sikap istrinya yang terlalu genit.
"Pagi mas Angga," sapa Rani saat Angga turun dari mobil
"Pagi," jawab Angga singkat.
''Langsung saja, habis ini aku ada acara penting,'' ucap Angga yang tetap berdiri disamping mobil.
''Biar saya yang nyetir, Pak,'' ucap Ikram. Angga beralih duduk di belakang. Sedangkan Ikram duduk di depan setir.
"Kamu duduk di depan. Suami kamu kan Ikram,'' tegur Angga saat Rani hampir masuk lewat pintu belakang.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih, Mas? Jijik dekat denganku, aku kan cuma mau menenangkan diri. Bukankah dokter bilang kalau aku harus melakukan apa yang membuat aku tenang."
"Terserah, " jawab Angga ketus. Akhirnya ia turun dan beralih duduk di samping Ikram membiarkan Rani duduk di belakang seorang diri.
Sebenarnya ada apa dengan Rani. Bukankah dia tidak mengenal pak Angga, tapi kenapa dia bilang nyaman saat di dekatanya. Ikram menatap Rani dari pantulan spion yang menggantung.
Setibanya di rumah sakit Angga hanya menunggu di luar. Kali ini ia menyerahkan semuanya pada Ikram.
Kenapa lama banget sih, apa aku tinggal saja.
Angga melihat jam yang melingkar di tangannya. Menghentak-hentakan kakinya sembari memijat pangkal hidungnya. Berharap Rani dan Ikram secepatnya keluar dari ruangan dokter.
Ceklek
Pintu dibuka dari dalam. Angga bergegas mendekati Ikram dan Rani serta dokter yang memeriksa pasien.
"Bagaimana keadaan Rani, dok?" tanya Angga cepat-cepat.
Dokter yang ada di depan Angga mengembangkan senyum.
"Keadaan ibu Rani baik-baik saja, tidak ada luka yang serius. Mudah-mudahan ingatannya cepat kembali dan bisa mengenali semua keluarganya," ujarnya menjelaskan.
"Itu artinya tidak ada yang dikhawatirkan ya, Dok?'' tanya Angga lagi memastikan.
Dokter menggeleng.
Apa ini hanya siasat Rani saja?
Atau ada sesuatu yang memang disembunyikan.
Angga tetap tersenyum dan bersikap seperti biasanya.
"Yuk kita pulang!'' ajak Angga pada Rani dan Ikram.
Setibanya di tengah jalan, Rani menunjuk supermarket yang ada di tengah kota.
"Kita belanja ke sana sebentar, ada sesuatu yang mau aku beli."
Ya Tuhanku kapan wanita ini tidak merepotkanku
Angga mulai kesal namun lagi-lagi ia hanya bisa mengadu dalam hati.
Ikram menghentikan mobilnya di depan supermarket dan ikut turun dengan Rani. Sedangkan Angga memilih di dalam mobil.
Di sisi lain
Hanan menangis di pelukan Ayu. Harapannya sia-sia. Seorang Angga menjatuhkannya di jurang terdalam hingga rasa percaya yang dibangun kokoh itu hampir runtuh.
__ADS_1
"Kenapa sih semua orang itu pembohong,'' ucap Hanan menatap lekat wajah sang mama."
Ayu menahan air matanya yang menumpuk di pelupuk. Tidak ingin terlihat menyedihkan saat melihat putranya kecewa.
"Papa Angga masih diperjalanan, Sayang. Pasti sebentar lagi ke sini." Ayu mencoba menenangkan.
"Tapi ini sudah jam sepuluh, Ma. Percuma saja, sedangkan film itu jam sembilan," Hanan berteriak sambil menunjuk jam yang menggantung di dinding rumahnya.
Alifa dan Adiba yang sudah memakai baju baru hanya terdiam melihat kakaknya yang sesenggukan. Sesekali mengusap punggung Hanan seperti yang dilakukan Ayu.
Kenapa kamu tega pada Hanan, Mas. Dia pernah dikecewakan papanya, dan sekarang terulang lagi . Aku takut dia tidak bisa mempercayaimu seperti yang dirasakan pada ayah kandungnya."
Ayu menguatkan hatinya. Meskipun itu menyakitkan baginya, ia tetap berdiri kokoh demi anak-anak tercinta.
"Besok mama akan menemani kamu nonton." Ayu mencoba merayu Hanan yang masih tenggelam dalam kesedihan.
"Gak mau, besok kan sekolah." Hanan tersedu-sedu membenamkan wajahnya di pangkuan Ayu.
"Kita masuk yuk, kita nonton tv aja," ajak Ayu lagi.
"Ayo kak, kan ada film si botak," ucap Alifa dengan tingkah lucunya.
Hanan mengangkat kepalanya mengusap kedua pipinya yang dipenuhi peluh. Teringat dengan perkataan Ayu.
"Mulai sekarang aku tidak akan berharap lagi pada orang lain. Aku gak mau kecewa, " ucap Hanan dari hati terdalam.
Ayu mencium kening Hanan bertubi-tubi.
''Maafkan papa.'' Suara berat menyapa membuat Ayu dan Hanan menoleh.
Mas Angga
Papa
Hanan dan Ayu hanya mengucap dalam hati. Mereka masih berada di tempat tanpa ingin berdiri.
Alifa dan Adiba berlarian menghampiri Angga yang ada di depan pagar dan memeluknya.
''Kita pergi sekarang!'' ajak Angga melambaikan tangannya ke arah Hanan.
"Gak mau sudah terlambat," ucap Hanan berteriak. Berlari masuk ke dalam rumah.
Ayu tersenyum. ''Ujianmu, Mas.''
Angga ikut masuk sambil menggendong Alifa dan Adiba. Ayu ikut dan memberi semangat pada Angga. Sebab, tidak mudah membujuk Hanan ketika sedang marah seperti ini.
"Cium dulu dong, Sayang. Biar aku semangat bujuk Hanan.'' Menunjuk pipinya tepat di samping Ayu.
__ADS_1
"Dasar nakal, jangan macam-macam. Aku gak suka laki-laki ganjen."