
Angga dan Ayu mengantar Rani ke rumah sakit. Mereka terlihat khawatir mengingat darah yang mengucur dari kening wanita itu.
"Bagaimana kalau lukanya serius, Mas?" tanya Ayu cemas.
"Gak mungkin, tadi aku gak nabrak dia. Dia sendiri yang sengaja jatuh di depan mobil ku," jelas Angga.
Sebab, ia memang tak merasa menabrak Rani hingga sedikit pun tak merasa takut seperti yang dirasakan Ayu.
Semoga gak ada luka yang serius.
''Aku akan menghubungi mas Ikram.''
Seketika Angga menahan tangan Ayu yang hampir mengambil ponsel. ''Gak usah, biar aku saja,'' ucap Angga membelokkan mobilnya ke arah rumah sakit mengikuti mobil di depan nya yang membawa Rani.
Angga bergegas turun dan membukakan pintu untuk Ayu. Ia menggendong Alifa dan Adiba, sementara Ayu menuntun Hanan.
Sebelum mengurus semua tentang perawatan Rani, Angga menghubungi Ikram dan menyuruh pria itu datang ke rumah sakit.
''Kamu tunggu di sini! Aku akan mengurus semuanya.'' Mendudukkan Alifa dan Adiba di kursi besi yang ada di depan ruang rawat.
Ya Allah, semoga kejadian ini tidak menyulitkan mas Angga, doa Ayu dalam hati.
Ia tahu betapa liciknya seorang Rani dan takut akan berbuat macam-macam pada calon suaminya.
Tak berselang lama Angga kembali dan memulas senyum.
''Jangan takut, semua akan baik-baik saja.'' Kembali menenangkan Ayu yang nampak cemas.
''Bagaimana aku tidak takut, orang yang kamu hadapi bukan orang sembarangan, dia Rani. Perempuan yang pernah merusak rumah tangga ku dan mas Ikram. Karena dia aku terpisah dengan papanya anak-anak, karena dia juga aku janda," ucap Ayu dengan mata berkaca-kaca.
Bukan menyesali perpisahannya, hanya mengingatkan Angga supaya lebih waspada pada orang yang saat ini ada di dalam.
Angga berlutut di depan Ayu. ''Menurutku bukan hanya Rani yang jahat, tapi Ikram. Kalau dia memang benar-benar mencintaimu, sebesar apapun godaan dan secantik apapun wanita yang merayu nya, semua itu tidak akan berpengaruh. Pada kenyataannya dia lebih memilih Rani daripada kamu dan anak-anak, itu artinya Ikram juga bejat."
Menghentikan ucapannya sejenak. Meyakinkan Ayu untuk tidak khawatir terhadap masalah yang dihadapi saat ini.
''Percayalah padaku! Sesulit apapun masalah yang menimpa, kamu tetap dihatiku. Aku tidak akan melihat wanita lain selain kamu.''
Bagaikan terguyur air es, sekujur tubuh Ayu terasa sejuk dan damai. Kini ia semakin yakin dengan kesetiaan Angga.
__ADS_1
Ayu mengangguk, perlahan rasa cemas itu lenyap saat Angga terus meyakinkannya.
Tak lama kemudian Ikram datang menghampiri Ayu dan Angga. Ia pun terlihat gelisah setelah mendapat kabar Rani kecelakaan.
''Bagaimana keadaan Rani, Pak?" tanya Ikram sopan.
''Belum tahu, kamu tunggu saja!" ucap Angga kembali duduk di samping anak-anak. Menyisakan kursi kosong yang Ada di bagian tepi.
Ayu dan anak-anak memilih diam. Terlebih Hanan, wajahnya mendadak pias semenjak Ikram datang.
"Tidak ada yang mau memeluk papa Ikram?" Angga mencairkan keheningan yang tercipta.
Meskipun sebentar lagi mereka bertiga akan menjadi anaknya, ia tetap mencerminkan hubungan baik seperti yang diajarkan Ayu.
Alifa turun diikuti Adiba. Mereka berhamburan memeluk sang papa. Sedangkan Hanan tetap di tempat, sedikitpun tak ada niat untuk mendekat.
"Ini pasti karena kamu jatuh," tebak Ikram mengelus kening Alifa.
Alifa mengangguk. Menceritakan kejadian saat di kantor, ia juga bercerita tentang Angga yang sabar merawatnya dan memberikan banyak mainan untuknya.
Angga bergeser lebih mendekat lagi ke arah Hanan yang nampak cemberut.
"Kita selfie yuk!" Mengeluarkan ponsel lalu mengarahkan layarnya tepat di depan Ayu dan Hanan. Tiba-tiba saja kedua putrinya ikut hadir di tengah mereka.
"Sudah, ini rumah sakit," tegur Ayu setelah mereka mendapatkan tiga gambar.
''Lupa,'' jawab Angga pura-pura bodoh. Kemudian memasukkan ponselnya lagi ke saku jas.
Pintu terbuka lebar. Beberapa dokter keluar. Ayu dan Ikram menghampiri mereka yang sibuk berbicara dengan suster.
"Bagaimana keadaan pasien, Dok?" tanya Ayu dan Ikram serempak yang membuat Angga jealous.
"Pasien terluka di bagian kepala yang cukup serius dan butuh perawatan yang intensif," ujar dokter menjelaskan.
Tadi aku gak menabraknya. Apa ini karena benturan saat dia jatuh.
"Baik, Dok. Terima kasih," ucap Ikram lalu masuk menghampiri Rani yang masih tak sadarkan diri.
Ayu ikut masuk di belakang Ikram, sedangkan Angga menjaga anak-anak di luar ruangan.
__ADS_1
''Maafkan mas Angga, Mas. Dia tidak sengaja menabrak Rani,'' ucap Ayu merasa bersalah.
"Enak saja," sahut Angga dari arah luar yang membuat Ayu dan Ikram menoleh. "Aku gak nabrak dia. Dia yang menabrak mobil ku." Tak terima dengan ucapan Ayu.
Ayu mendaratkan jarinya di bibir memberi kode pada Angga supaya diam.
''Apa-apaan, aku kan gak salah,'' gerutunya sembari menatap ke arah lain.
Malas jika harus melihat Ayu dan Ikram berdekatan. Emosinya kembali memuncak jika mereka bersama.
"Jangan dipikirkan. Mas Angga memang seperti itu. Semoga Rani cepat sadar," ucapnya dengan suara lebih pelan, takut Angga mendengar dan tak terima seperti tadi.
"Makasih ya, Yu. Kamu sudah peduli pada Rani. Padahal __" Ikram menghentikan ucapannya, ia pun tak ingin mengupas apa yang sudah terjadi pada mereka di masa lalu.
"Aku tunggu di luar," ucap Ayu lalu meninggalkan Ikram yang nampak dirundung kesedihan.
Ayu duduk di samping Alifa. Menatap wajah Angga yang cemberut.
''Kenapa sih? Aku cuma menenangkan mas Ikram. Kasihan dia, istrinya belum sadar." Ayu mencoba menjelaskan.
Angga mengembangkan senyum. menggeser duduknya sehingga ia berada tepat di samping Ayu.
"Tapi aku gak suka kamu dekat dengan dia," bisiknya.
''Iya, aku akan jaga jarak dengan mas Ikram," ucap Ayu dengan tegas berharap Angga tak cemburu lagi.
Ikram yang dari tadi duduk di samping ranjang tersenyum saat melihat jemari Rani bergerak. Ia segera menekan tombol darurat memanggil dokter.
"Kamu sudah sadar, Ran?" ucapnya lirih. Menyentuh tangan Rani yang terasa dingin.
Tidak ada jawaban, juga tidak ada tanda-tanda Rani membuka mata. Dokter datang dan memeriksa pasien.
Sementara Ayu dan Angga ikut masuk berdiri tak jauh dari brankar.
"Bagaimana keadaan Rani, Dok?" tanya Ikram cepat.
Dokter hanya bisa menghela napas sambil menggeleng. "Kondisinya belum stabil. Tapi sepertinya pasien bisa merespon suara di dekatnya."
Ikram membungkuk. "Bangun, Ran. Ini aku," kata Ikram tepat di telinga Rani.
__ADS_1
Beberapa detik kemudian Rani membuka matanya dengan pelan. Mengabsen setiap orang yang berdiri di sekelilingnya. Menatap mereka satu persatu kemudian berhenti pada sosok Ikram.
"Siapa kamu?" tanya Rani dengan suara tersendat.