Janda Tangguh

Janda Tangguh
Menginap


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, Ayu terus menjewer telinga Hanan yang sibuk mengendalikan laju mobilnya. Geram karena terlambat pulang. Padahal, sudah beberapa kali ia menelepon, namun juga tetap diabaikan. 


"Maaf, Ma," ucap Hanan meringis. Ia hanya bisa menahan rasa sakit yang menjalar hingga ke leher. 


"Lain kali gak ada kata maaf lagi. Mama gak enak sama nenek mu," jawab Ayu ketus. Menatap jam yang melingkar di tangannya. Lalu mengirim pesan pada Bu Winda dan mengatakan bahwa ia dalam perjalanan. 


"Tadi temen aku ada yang gak bawa motor jadi aku anterin," kilah Hanan melirik ke arah Ayu. 


Adiba dan Alifa yang duduk di belakang hanya bisa tertawa cekikikan melihat perdebatan antara mama dan sang kakak. 


"Jangan banyak alasan, mama gak percaya!" bantah Ayu tegas. 


Gak percaya ya sudah. 


Hanan terdiam. Ia tidak membantah lagi, takut Ayu semakin marah besar.


Hanan membunyikan klakson sebelum turun. Memberi tanda bahwa ia sudah tiba. Adiba dan Alifa langsung berlari meninggalkan Ayu dan Hanan yang ada di belakang. 


"Kalau nanti nenek marah, mama gak ikut-ikutan." Ayu merapikan penampilannya. Berjalan di belakang Angga. 


Gak mungkin nenek marah, aku kan cucu kesayangan dia. 


Meskipun bukan cucu kandung, Bu Winda memang menyayangi ketiga anak Ayu. Semenjak Angga pergi ke Jerman, mereka yang seringkali datang untuk menjenguk dan mengisi kekosongan hati wanita tersebut. 


"Assalamualaikum," sapa Hanan dan kedua adiknya bersamaan. 


Bu Winda dan Elisa pun menjawab serempak menyambut kedatangan Ayu dan ketiga anaknya. Sedangkan om Surya dan tante Siwi, mereka ada di belakang. 


"Kalian terlambat lima belas menit loh," tegur bu Winda memeluk Adiba dan Alifa bergantian. 


"Maaf, Tante." Kini Ayu yang memeluk wanita tua itu. "Hanan baru pulang." 


Hanan bergegas ke ruang tengah setelah mencium punggung tangan bu Winda, menghindari amukan om Surya. 


"Sekarang kamu mulai pulang malam. Apa jangan-jangan sudah punya cewek?" tebak tante Siwi dari arah belakang. 

__ADS_1


Hanan hanya melambaikan tangannya. Kemudian mengambil remot tv dan menyalakan film kesukaannya. 


"Masa cowok setampan kamu gak ada yang mau?" ejek Elisa duduk di samping sang keponakan. 


"Banyak yang mau, Tante. Tapi aku yang gak mau sama mereka. Aku mau mencari istri seperti mama. Yang tidak cengeng dan tidak manja. Pokoknya yang mandiri," jawab Hanan menjelaskan. 


Ayu hanya geleng-geleng kepala menghampiri Siwi yang masih menyusun makanan di meja makan. 


"Nanti malam kamu sama anak-anak tidur disini saja, supaya Mbak Yu ada temennya," suruh tante Siwi pada Ayu. 


Sebenarnya tidak masalah sih, namun Ayu ragu setiap kali menginap di rumah itu. Bawaannya teringat dengan Angga. Seolah-olah pria itu terus mengganggunya. 


"Besok Hanan sekolah, aku takut ia terlambat." Ayu menuang jus ke dalam gelas. 


"Dari sini ke rumah kamu kan dekat, kalian bisa pulang setelah subuh," imbuh om Surya. 


Jika mereka berdua sudah memaksa, Ayu tak bisa mengelak lagi dan akan memenuhi permintaan mereka. 


"Baiklah, nanti aku akan tidur di sini.'' Ayu pasrah dan akan mencoba terbiasa menginap di rumah Angga. 


Suasana terasa berbeda. Bu Winda yang setiap harinya hanya menghabiskan malam dengan asisten rumah tangga nya kini berada di tengah orang-orang tercinta. Meskipun hatinya sedikit kosong karena Angga yang tidak ada, tetap saja lebih tenang dengan kehadiran mereka. 


"Pendidikan pilot, penerangan. Aku eren, kan Nek?" Menaik turunkan alisnya, membanggakan dirinya sendiri. Sebab, dari keluarganya pun belum ada yang bercita-cita seperti itu. Kebanyakan dari mereka hanya berbisnis hingga turun temurun. 


"Gak papa, nenek salut sama kamu. Sebentar lagi papa Angga pulang. Minta uang yang banyak sama dia." Menepuk pundak Hanan. 


"Gak usah, Tante. Untuk biaya anak-anak sekolah sudah ada, dan aku yakin cukup sampai mereka lulus nanti. Lagipula aku juga punya pekerjaan, kalau kurang masih bisa dicari sambil jalan," terang Ayu memberikan segelas teh hangat di tangan bu Winda. 


"Tapi sekolah pilot itu biayanya mahal, Yu. Apa kamu sanggup?" Bu Winda kembali memastikan. 


Ia tahu berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk sekolah yang satu ini, yaitu mencapai angka miliaran. 


"Sanggup, Tante. Percayalah aku bisa memberikan apa yang mereka mau." Menyungutkan kepalanya ke arah ketiga anaknya. "Tanpa bantuan siapapun," terangnya secara gamblang. 


"Seandainya aku menikah dengan mas Angga, dia gak perlu repot-repot untuk menghidupi anak-anak, karena mereka sudah punya biaya hidup sendiri dariku." Panjang lebar Ayu menjelaskan, karena ia tak mau dianggap numpang hidup saat menikah dengan Angga nantinya. 

__ADS_1


"Apa ini semua karena, Tante, Yu.'' Bu Winda menundukkan kepala. Ia merasa tersindir karena pernah berbicara jelek kepada Ayu. 


Ayu tersenyum meraih kedua tangan bu Winda. 


"Tidak, Tante. Aku hanya menepati janji pada diriku sendiri. Bahwa aku harus bisa menyekolahkan anak-anak tanpa ikut campur tangan mas Ikram. Aku tidak ingin merepotkan orang lain termasuk mas Angga."


Tidak hanya keluarga Angga yang bangga pada Ayu, Hanan pun ikut kagum dengan perjuangan sang mama yang pastinya tidak mudah. Terlebih ia sering melihat Ayu tidur malam dan bangun terlalu pagi. Itu pasti hanya demi dirinya dan kedua adiknya. 


Makan malam berjalan hikmat. Om Surya dan tante Siwi serta Elisa pulang, sedangkan Hanan sibuk main game sembari membalas chat dari teman satu grupnya. 


Adiba dan Alifa belajar di kamar nya, ditemani asisten rumah tangga. 


"Aku ke kamar dulu ya, Tante," pamit Ayu yang terlihat lelah. 


Bu Winda mengangguk tanda mengizinkan. "Selamat tidur," ucapnya. 


Ayu masuk ke kamar Angga. Tidak ada yang berbeda dengan kamar itu. Semenjak sang pemilik pergi, ruangan itu memang selalu rapi karena tidak ada yang menempati selain Ayu saat menginap. 


Ia melepas hijabnya lalu duduk di tepi ranjang. 


"Apa kabar, mas Angga? Kenapa dia tidak pernah menghubungiku?" Ayu membuka layar ponselnya. Ada beberapa pesan masuk, namun itu bukan dari Angga melainkan dari karyawannya. 


"Mungkin saja dia sibuk." Ayu meletakkan ponselnya di atas nakas lalu ke kamar mandi. Ia membersihkan diri sebelum tidur. 


Ayu menggeliat. Meregangkan otot-otot nya yang terasa kaku. Hampir semalaman penuh ia terlelap, namun tubuhnya masih terasa remuk dan susah untuk digerakkan. 


"Apa ini? Seperti tangan seseorang," gerutu Ayu dengan mata terpejam. 


Lampunya yang menyala remang membuatnya tak bisa melihat sekeliling dengan jelas. 


Tangannya mengulur menyentuh benda keras yang ada di atas perutnya. 


Seperti tangan? 


Terus merabanya hingga menemukan jari.

__ADS_1


Sontak membuat Ayu membuka mata lebar-lebar. Betapa terkejutnya saat ia melihat seseorang berbaring di samping nya. 


Namun, Ayu tak bisa menjerit saat mulutnya dibungkam. 


__ADS_2