
Ayu berpikir keras. Menyelaraskan hati dan pikirannya yang saling bertarung. Tidak boleh egois, saat ini Hanan memang terlihat baik-baik saja. Lalu bagaimana dengan Chika? Bahkan, jika terus menerus seperti ini pasti masa depannya akan hancur. Gadis itu akan tenggelam dalam kehidupan fana tanpa arah. Semua yang diimpikan hanya menjadi harapan yang tak terwujud.
Sebagai seorang ibu ia pun tak ingin merusak kehidupan seorang anak. Terlebih gadis itu satu-satunya harapan kedua orang tuanya. Penerus keluarganya kelak.
''Kita datang ke rumah Chika, Mas,'' ucap Ayu meraih tas tangannya yang ada di meja.
Angga tersenyum tipis. Mereka meninggalkan cafe setelah menanyakan alamat rumah Danu.
''Apa yang akan kamu katakan pada Chika?'' tanya Angga mulai menancap gas mobil.
Ayu menggeleng, ia pun masih bingung tujuannya datang. Namun, akan memastikan gadis itu baik-baik saja. Membuka lagi hatinya yang tertutup oleh keputusan yang salah.
''Menurutku, kamu biarkan saja mereka, kita cukup peringatkan supaya tidak melampaui batas.'' Angga memberanikan untuk memberi pendapat yang tadi sempat dipendam. Karena takut Ayu marah.
Ayu terdiam. Otaknya masih mencari jawaban yang tepat untuk itu. Tidak ingin salah langkah yang akan berakibat fatal nantinya.
Rumah Chika pun tak kalah mewah dengan rumah Angga. Mereka memang sepadan dari segi materi. Hanya saja, Angga dan Ayu tak terlalu menunjukkan kekayaan. Akan tetapi, Danu sebagai pembisnis jelas tahu siapa orang yang saat ini ada di depannya.
''Selamat datang di rumah kami, Pak, Bu.''
Mirna dan Danu menyambut kedatangan Ayu dan Angga dengan kedua tangan terbuka. Memperlakukan mereka dengan istimewa dan hormat. Menyiapkan berbagai jamuan di ruang tamu. Terlihat spesial dan mewah.
''Maaf jika permintaan kami mengganggu waktu bapak dan Ibu.'' Danu kembali minta maaf.
Ayu tersenyum kecil. Matanya menatap foto Chika yang terpajang mengisi ruang tamu. Cantik, imut dan menggemaskan. Pantas saja membuat anaknya jatuh cinta.
''Chika sangat cantik ya, Mbak,'' puji Ayu basa-basi.
Mirna tersenyum. Mengisahkan gadis itu sejak kecil hingga remaja yang memang pendiam dan jarang bergaul. Hanya Hanan satu-satunya lelaki yang masuk dalam hidupnya. Itu kata Mirna.
Ayu dan Angga mendengar dengan seksama sambil mengangguk-anggukkan kepala mengerti. Jika dilihat saat bertemu memang seperti itu, tapi entahlah Ayu pun belum paham sepenuhnya.
''Sekarang di mana dia?'' tanya Ayu membuka suara.
__ADS_1
''Ada di kamar,'' jawab Mirna menunjuk pintu ruangan yang ada di lantai dua.
Ayu menyentuh tangan Angga, meminta pendapat pria itu.
''Temui dia,'' kata Angga menepuk-nepuk tangan Ayu. ''Pasti nanti dia akan mengerti,'' imbuhnya meyakinkan.
Ayu berdiri dari duduknya. Ia melangkah mengikuti Mirna yang berjalan di depannya. Mereka sudah terlihat akrab. Entah karena sama-sama orang terpandang atau yang lain, namun Ayu pun merasa nyaman dan nyambung saat bercakap.
''Chika, buka pintunya, Nak!'' seru Ayu sembari mengetuk pintu.
''Gak mau, Ma. Aku malas bertemu siapapun,'' teriak suara dari dalam membuat hati Ayu kembali tersayat.
''Begitulah, Mbak. Dia gak mau bertemu dengan siapapun,'' jelas Mirna cemas.
''Saya akan coba.''
Mirna mundur satu langkah, kini tempatnya digantikan oleh Ayu.
Chika menatap ke arah pintu yang tertutup rapat. Meski terdengar samar, namun ia tak lupa dengan suara khas itu, pun namanya yang tak asing. Kakinya yang terasa lentur itu pun bergerak memakai sandal. Bangkit dari ranjang menuju pintu.
Matanya mulai digenangi cairan bening mengingat kata-kata Hanan pagi itu. Bibirnya bergetar menahan tangis.
Membuka pintu lebar-lebar dan berhamburan memeluk Ayu yang berdiri di depan pintu. Menumpahkan air matanya di dekapan wanita itu.
Ayu bisa merasakan isak kesedihan yang mendalam pada diri gadis itu. Tak menyangka keputusannya membuat Chika hilang arah seperti saat ini.
''Tenangkan diri kamu.'' Ayu mengusap punggung Chika yang naik turun. Memberikan pelukan hangat yang mungkin sedikit memberikan aura positif.
''Tinggalkan kami, Mbak.''
Mirna mengangguk setuju. Yakin, Ayu bisa membawa kebaikan pada putrinya. Mereka masih dalam pelukan layaknya seorang ibu dan anak yang saling mengurai rindu.
''Tante mau bicara dengan kamu,'' ucap Ayu menangkup kedua pipi Chika yang dipenuhi air mata.
__ADS_1
Chika mengangguk menahan tangis yang terus membuat Ayu merasa bersalah. Mereka masuk ke kamar dan menutup pintu. Duduk di tepi ranjang dan menatap ke arah yang sama.
Hening, hanya terdengar suara isakan Chika yang memilukan.
''Apa kamu sangat mencintai Hanan?'' tanya Ayu memastikan.
Chika mengangguk cepat. Meraih kedua tangan Ayu dan menciumnya. Menatap manik matanya dengan lekat.
''Saya sangat mencintai Hanan, Tante. Sejak dia memutuskan hubungan kami, saya merasa tidak punya tujuan lagi untuk sekolah. Padahal saya sudah berusaha baik-baik saja, tapi setiap melihat dia hati saya kembali hancur. Rasanya ingin mati saja.''
Chika berusaha ingin tidak menangis. Namun apa daya, seakan air mata itu memang ingin mewakili kesedihannya yang mendalam. Sebagai bukti betapa rapuh hatinya saat ini ketika separuh jiwanya pergi.
''Tidak boleh seperti itu, Nak. Ingat masa depanmu. Kamu berhak meraih cita-cita setinggi langit. Apa yang istimewa dari dia. Tidak ada. Tante mohon jangan terlalu berharap sepenuhnya pada manusia, karena itu hanya akan menyakiti diri sendiri.'' Ayu mencengkram kedua pundak sedikit menekan. Masih menatap matanya yang basah.
''Percayalah! Jika kalian berjodoh, maka Allah akan mempersatukannya lagi nanti. Tante bukan tak merestui hubungan Kalian. Tapi tante hanya menjaga jarak karena kalian itu masih sekolah. Mungkin menurut kamu ini kejam, tapi pikirkan lagi. Setiap orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya. Bukan begitu?''
Chika menunduk, mencerna setiap ucapan Ayu yang benar adanya. Meski ia belum bisa menerima sepenuhnya, namun sedikit lega mendengar alasan Ayu.
''Ini hanya masalah waktu.'' Ayu kembali keyakinan. Berharap Chika pun paham.
Waktu yang memang belum tepat untuk menjalin asmara dengan serius karena mungkin hati masih sangat labil dan mudah terpengaruh. Mudah bergeser karena keadaan ataupun suasana baru. Masih butuh banyak pertimbangan jika akan melangkah ke jenjang selanjutnya. Harus berpikir keras melawan arus yang bertolak belakang. Bisa jadi karena pendirian berbeda ataupun restu dan juga situasi.
''Itu artinya sampai kapanpun tetap ada peluang untuk saya menjadi menantu Tante?'' tanya Chika dengan lugas.
Ayu tersenyum melihat keseriusan di mata sang gadis yang berani menanyakan hal seperti itu padanya.
''Ada, tante akan merestui. Asalkan kalian sudah benar-benar dewasa nanti.'' Mengusap rambut Chika dengan lembut.
Chika kembali memeluk Ayu. Ada setitik guratan semangat yang hadir setelah mendengar penjelasan wanita itu. Hatinya yang kemarin sempat terhanyut dalam kegalauan kini bangkit dan penuh dengan cahaya.
''Mulai besok saya akan sekolah lagi.'' Chika mengucap dengan sungguh-sungguh.
Ayu mengecup pucuk kepala Chika. ''Tante akan selalu mendoakan kamu dan Hanan. Kalian anak baik.''
__ADS_1