
"Kalau kamu benar-benar ingin menikah denganku, mintalah restu pada ibumu. Karena aku tidak akan mau menjadi istrimu tanpa restu dari dia."
Ucapan Ayu terus terngiang menghiasi telinga Angga. Bukan karena tidak baik, namun ia merasa itu adalah masalah besar.
"Kamu kenapa?" tanya seorang pria yang baru datang. Dia duduk di samping Angga yang nampak melamun.
Suasana cafe nampak ramai. Namun, bagi Angga tempat itu sangat sepi tak berpenghuni. Ia menoleh sekilas kemudian fokus pada latte hangat yang ada di depannya.
"Kamu pesan apa, Dik?" teriak suara dari arah belakang.
Pria yang ada di samping Angga menoleh. "Pesan es jeruk," teriaknya.
Ya, dia adalah Dika. Satu-satunya orang yang dipercaya Angga untuk mengemban semua tentangnya, termasuk masalah pribadi.
"Aku akan menikah," ucap Angga lirih.
Seharusnya orang yang mengatakan itu pasti bahagia. Akan tetapi tidak dengan Angga, ia justru terlihat menyedihkan.
Dika tersenyum lebar menepuk punggung lebar sang sahabat.
"Ternyata jantan juga. Aku kira kamu gak berani deketin cewek. Memangnya perempuan mana yang berhasil membuatmu jatuh cinta?" goda Dika menaik turunkan alisnya. Mengambil minuman dari nampan seorang waitress. Mengaduk lalu meneguknya.
"Namanya Ayu Lestari. Dia mantan istrinya Ikram."
Seketika Dika tersedak minuman yang hampir masuk ke kerongkongan. Ia meletakkan gelas di atas meja lalu meraih tisu dan mengusap bibirnya yang basah.
"Kamu mencintai janda?" tanya Dika mengulang. Memastikan bahwa ia tak salah dengar.
"Iya, memangnya kenapa?" tanya Angga sinis. Ia bisa menangkap ketidaksukaan pada diri Dika saat mengungkap status wanita yang dicintainya.
Suara tawa menggelegar membuat Angga menutup telinga. Seolah pria itu menertawakan nya yang saat ini diselimuti rasa gelisah.
"Kamu ini ada-ada aja, sih, Ga. Di dunia ini masih banyak perawan. Mereka juga banyak yang cantik, tapi kenapa kamu malah memilih janda?" Seolah Dika pun merendahkan status Ayu yang sudah janda.
Angga terdiam, ia tidak ingin berdebat dengan Dika dan memutar otaknya mencari kata untuk meminta restu pada mamanya.
"Istriku punya teman. Dia cantik masih kuliah, anak orang kaya. Kalau kamu mau aku akan mengenalkanmu padanya." Dika terus tertawa sambil memegang perut.
Braaakkk
Angga menggebrak meja yang membuat Dika terkejut dan terbelalak. Ia meneguk sisa minumannya untuk mengurai rasa kagetnya melihat wajah Angga yang nampak berapi-api.
__ADS_1
"Aku di sini tidak memintamu untuk berkomentar, tetapi minta bantuanmu," pekik Angga dengan suara lantang hingga beberapa orang di sekelilingnya menoleh.
"Ba–baiklah, apa yang bisa aku bantu," ucap Dika dengan bibir bergetar. Ini pertama kalinya ia melihat Angga marah.
Angga menarik napas dalam-dalam.
"Bagaimana caranya aku meyakinkan mama supaya dia mau menerima Ayu," ucap Angga menjelaskan.
Dika mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja. Berpikir keras untuk membantu sang sahabat yang nampak kesusahan.
"Apa Ayu dan tante Winda sudah saling ketemu?" tanya Dika mulai mengintimidasi.
Angga menggeleng. "Aku takut mama menghina Ayu. Aku tidak tega melihat orang yang aku cintai tersakiti dengan ucapan mama."
"Tapi setidaknya mereka harus bertemu lebih dulu, Ga. Dengan begitu mama mu mengenal Ayu lebih dalam. Begitu juga sebaliknya. Mereka harus tahu karakter masing-masing."
Angga memang pernah berpikir seperti itu, namun rasa takutnya lebih besar hingga ia mengurungkan niatnya.
"Apa ada cara lain?" tanya Angga. Kali ini otaknya buntu dan tidak bisa berpikir jernih.
Dika menghembuskan napas pelan.
"Ada sih, tapi aku gak yakin ini akan berhasil." Dika sedikit ragu.
"Kamu sering-sering saja beli sesuatu untuk mamamu tapi mengatas namakan Ayu. Misalnya makanan kesukaan dia atau baju, atau yang lainnya. Biasanya wanita akan luluh dengan hadiah barang-barang mewah."
Angga mencerna setiap kata yang meluncur dari bibir Dika. Ia berharap itu adalah cara menyatukan mereka.
"Baiklah, terimakasih. Aku mau pulang." Angga meraih jasnya. Meletakkan beberapa lembar uang di atas meja lalu pergi meninggalkan Dika.
Dika tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
"Aneh juga si Angga. Banyak perawan tapi kenapa dia malah memilih janda, apa keistimewaan wanita itu?"
Dika ikut penasaran dengan sosok Ayu yang sudah berhasil membuat sahabatnya itu jatuh cinta. Ia membuka sosial media mencari jati diri seorang Ayu Lestari. Berharap Angga tak salah memilih pendamping hidupnya.
Sebelum pulang ke rumah, Angga mampir ke rumah Ayu dan mengatakan akan segera meminta restu pada mamanya. Ia tak bisa tenang sebelum memastikan wanita itu baik-baik saja.
"Salam untuk mama kamu." Ayu ikut mendukung niat baik Angga.
Berhasil ataupun tidak, setidaknya sudah berusaha.
__ADS_1
"Apa kamu ada makanan?" Angga menatap meja makan.
"Ada, tadinya aku pikir kamu mau makan siang di sini. Tapi kalau mau pulang gak papa, bawa saja." Ayu kembali ke meja makan. Ia mengambil rantang dan memasukkan sebagian makanan ke dalam nya, menyisakan untuk dirinya dan anak-anak.
"Ini untuk kamu, dan mama mu."
"Namanya Winda, kamu bisa memanggilnya tante Winda," jelas Angga mengambil rantang yang ada di tangan Ayu.
Menggeser tubuhnya lebih dekat lagi dengan Ayu. Melirik kiri kanan memastikan bahwa tidak ada orang lain. Tanpa aba-aba, Angga mencium pucuk kepala sang kekasih yang tertutup hijab.
"Maaf, anggap saja itu sebagai tanda pamit."
Angga bergegas pergi sebelum diceramahi oleh Ayu.
Sesampainya di rumah, Angga langsung menghampiri bu Winda yang nampak santai di ruang tengah.
Semoga mama luluh dengan kebaikan Ayu.
"Ma, ada titipan dari Ayu. Ini tumis bunga pepaya sama __" Angga menghentikan ucapannya. Mengingat-ingat makanan yang disebut Ayu.
"Aku lupa, kita makan yuk! Aku lapar." Angga merangkul pundak bu Winda.
"Gak mau, kamu makan saja sendiri," tolak bu Winda ketus kemudian beranjak dari duduknya.
Namun, langkahnya berhenti saat Angga menghalangi jalannya.
"Oke, mulai sekarang aku akan mencoba membuka hati untuk Nara," kata Angga berat.
Bu Winda tersenyum. Menangkup kedua pipi kokoh sang putra.
"Benarkah?"
Angga mengangguk. "Tapi dengan satu syarat," ucap Angga mengangkat rantang di tangannya.
"Mama juga harus menghargai Ayu sebagai temanku. Terima apapun pemberian dia dan jangan pernah membencinya," ucap Angga dari hati.
Itu bukan usul dari Dika. Namun, ia berharap akan berhasil dan membuat kebaikan Ayu berharga di mata Bu Winda.
"Baiklah mama setuju."
Tanpa disadari Bu Winda menikmati olahan sederhana dari Ayu. Tak dapat dipungkiri bahwa rasanya menggoyang lidah.
__ADS_1
Seorang suami akan luluh dengan hidangan, semoga mama juga akan segera menerima Ayu.
Sedikit demi sedikit Angga mulai yakin dan akan terus membuat mamanya itu nyaman dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan Ayu.