Janda Tangguh

Janda Tangguh
Berakhir ranjang


__ADS_3

Kebahagian itu seolah memang melekat pada sepasang pengantin yang baru menjalani kebersamaannya dalam hitungan hari. Hanya ada senyum yang menghiasi bibir mereka dimanapun berada. Seperti saat ini, Ayu bahagia bisa mengajarkan tentang kepenulisan kepada orang-orang yang membutuhkan. Selain tidak dipungut biaya, Ayu juga menuntun mereka sampai bisa.


''Makasih, Bu Ayu.'' Seorang gadis memeluk Ayu dengan erat. Setelah mengikuti beberapa pertemuan kini ia pun sudah lihai dalam membuat cerita.


''Sama-sama, tapi saya juga masih banyak kekurangan. Yang penting kamu fokus saat menulis, dan jangan lupa konsisten,'' tutur Ayu menjelaskan. 


Semua tamu seminar berhamburan keluar dari gerbang setelah berpamitan, kini tinggal Ayu dan Ais yang ada di tempat itu.


''Ibu mau langsung pulang atau mampir ke tempat lain?'' tanya Ais melihat jam yang melingkar di tangannya. 


"Gak, aku mau nungguin mas Angga. Katanya dia mau nyusul ke sini. Kalau kamu mau pulang gak papa, bawa saja mobilnya,'' suruh Ayu. 


Pasalnya, sebelum seminar selesai, Angga menghubunginya dan mengatakan akan menjemput. Sebab, hari ini mereka akan datang ke rumah bu Winda. 


''Ibu gak papa di sini sendirian?'' Ais menumpuk beberapa buku di meja. 


''Gak papa. Lagipula di luar banyak penjaga.''


Ais meninggalkan Ayu sendirian. Meskipun begitu, ia berpesan pada salah satu pegawai untuk menemani sang bos. 


Tak lama setelah sang asisten pergi, Ayu berdecak kesal saat membaca pesan dari Angga. 


''Kenapa malah rapat? Katanya mau menjemputku?'' dengus nya kesal. Memasukkan ponselnya ke dalam tas lalu berdiri dari duduknya. 


''Mau ke mana, Bu?'' tanya suara berat dari ambang pintu samping. 


Ayu menoleh ke arah sumber suara. Bibirnya mengulum senyum melihat seseorang yang ditunggu berada di dekat pintu ruangan.


''Loh, katanya mau rapat, kok ada di sini?'' tanya Ayu memastikan. 


Angga menyandarkan punggungnya di dinding dan melipat tangannya. 


''Iya, rapatnya sama kamu, Sayang. Mana mungkin aku membiarkan istriku tercinta menunggu di sini.'' Angga menghampiri Ayu. Mencium kening nya dengan lembut. 


''Ada-ada saja.'' Angga berjalan lebih dulu. Diikuti Ayu dari belakang. Di sepanjang koridor mereka selalu menampilkan senyum membalas sapaan mereka yang melintas. 


''Sebenarnya kamu gak perlu menjemputku. Aku kan bisa pulang dengan Ais.'' Ayu menekan tombol lift. Sementara Angga membawa tas milik sang istri. 


''Gak bisa dong, mana mungkin aku sanggup jauh darimu.''

__ADS_1


''Gombal.'' Ayu mencubit lengan Angga yang terus-terusan bercanda. 


Mereka langsung melaju menuju kantor. Ada beberapa pekerjaan yang harus Angga rampung kan sebelum pulang. 


Di manapun tempatnya, Angga terus menunjukkan kemesraan di depan banyak orang, sedetik pun tak melepaskan tangan sang istri, bahkan semakin mengeratkan genggamannya.


''Nanti kita mampir ke apotik sebentar ya, Mas,'' pinta Ayu yang membuat Angga menghentikan langkahnya. 


''Mau membeli apa? Kamu sakit?'' tanya Angga menempelkan punggung tangannya di kening Ayu.


Ayu menggeleng


''Ada deh, kamu gak perlu tahu, yang penting anterin aku,'' pinta nya antusias. 


''Baiklah, jangankan ke apotek, ke ujung dunia pun aku akan mengantarmu.'' Menjawil hidung Ayu. 


Beberapa karyawan yang menyaksikan itu pun ikut tersenyum. Seolah mereka melihat anak muda yang masih berpacaran.


Ayu duduk di sofa, sedangkan Angga sibuk menerima laporan yang keluar masuk dari beberapa klien. 


''Mas, kata Hanan kemarin mas Ikram melamar Melati,'' ucap Ayu teringat ucapan Hanan semalam.  


''Aku kira gak berani menikah lagi setelah bercerai dua kali,'' imbuhnya. 


Ayu tak menanggapi karena sibuk membalas pesan dari Irma. Wanita itu mengatakan sudah membereskan beberapa masalah atas bantuan Angga, dan juga mulai bangkit dari keterpurukan. 


''Oh iya, Mas. Semalam aku gak sengaja dengar pembicaraan kamu dan Wendi.'' Ayu mendekati Angga yang nampak sibuk dengan layar laptop. 


Angga menarik pinggang ramping itu hingga jatuh ke pangkuannya.


''Yang mana?'' tanya Angga. memastikan. 


''Katanya kamu juga kekurangan dana untuk melanjutkan proyek dengan Tuan Ferdinan. Apa itu benar?'' Ayu semakin menyelidik. 


''Bukan kekurangan, Sayang. Hanya saja waktunya yang mundur. Mungkin akan dimulai tahun depan,'' terang Angga jujur. Namun, ia tak menjelaskan secara detail tentang kendala yang dihadapi saat ini. 


Ayu mengeluarkan tiga kartu atm dengan warna yang berbeda. 


''Aku banyak tabungan. Mungkin saja bisa bantu kamu.'' Memberikannya pada Angga. 

__ADS_1


''Aku yakin uang ini cukup untuk melanjutkan rencana mu.''


Sebagai seorang suami, bahkan Angga sangat malu mendengarnya. Ia yang seharusnya melakukan itu justru terbalik. Sungguh memalukan baginya menerima uang dari istri. 


''Aku pernah mendengar bahwa uang suami adalah milik istri, tapi bukan sebaliknya, Sayang. Karena uang istri tetap milik istri dan suami tidak berhak menggunakannya. Jadi maaf, aku gak bisa menerima bantuanmu. Aku hanya membatalkannya untuk sementara waktu, hmmm?''


Terpaksa Ayu memasukkan benda itu lagi, karena percuma saja memaksa Angga tak mungkin mau menerimanya. 


''Aku ke kamar mandi dulu,'' pamit Ayu masuk ke kamar pribadi sang suami. 


Angga hanya menatap punggung Ayu yang menghilang di balik pintu. 


Aku tahu kamu sukses, tapi sedikitpun aku gak akan meminjam uang mu. Cukup temani aku dan itu akan membuatku bahagia. 


Angga mengambil ponsel Ayu yang berdering. Kemudian menggeser lencana hijau tanda menerima. 


''Halo, dengan Ayu Lestari di sini, ada yang bisa saya bantu?'' ucap Angga menyapa. Meskipun dia bukan pemilik, namun menirukan gaya sang istri saat menerima telepon.


''Oh iya Pak, maaf mengganggu waktu nya. Kemarin bu Ayu memesan perhiasan limited minggu ini, dan saya mau mengkonfimasi kalau barangnya sudah datang,'' ucap pelayan toko dengan ramah.  


''Baiklah, nanti saya akan segera ambil barangnya.'' Angga menjawab tanpa berpikir panjang. Meskipun ia tidak tahu menahu, sudah menjadi kewajibannya memenuhi apapun permintaan wanita itu. 


Ayu keluar tanpa memakai kerudung. Rambutnya terurai panjang dengan jepit yang menghiasi di bagian atas telinga. Sungguh, kecantikannya yang luar biasa membuat Angga tergila-gila.


''Mas, baju dan kerudungku basah, apa ada penjual di dekat sini?'' tanya Ayu sembari mengibas-ngibaskan bajunya. 


Kayaknya ini momen yang pas untuk menggoda Ayu. 


Angga mengunci pintu lalu membuka jas yang membalut tubuhnya. Menyingkap rambut Ayu ke belakang hingga leher putih yang dipenuhi tanda merah sisa percintaan semalam itu nampak dan jelas. 


''Kayaknya di buka lebih enak, Sayang,'' goda Angga dengan suara erotis. Menggambarkan bahwa ia sudah diselimuti gairah. 


''Cepetan, Mas! Aku kedinginan.'' 


Angga tersenyum menyeringai. Ia mendorong pelan Ayu masuk ke kamar dan membawanya ke ranjang.


''Aku akan menghangatkanmu,'' ucap Angga berbisik. Ia memulai aksinya tanpa ada penolakan dari Ayu. 


Bukan menghangatkan tapi melelahkan.

__ADS_1


__ADS_2