
Ayu merebut ponselnya dari tangan Indah. Lalu memutus sambungannya. "Dia temanku," ucapnya gugup.
Apa saja yang mereka bicarakan dengan Angga?
Dada Ayu bergemuruh seakan ia maling yang tertangkap basah dan harus siap diintimidasi.
"Tapi Adiba memanggilnya papa, Bu," protes Indah antusias. Memancing Ayu supaya mengatakan sejujurnya.
"Apa salahnya? Dia itu laki-laki, jadi wajar dipanggil papa. Gak mungkin kan dipanggil ibu?" bantah Ayu mencoba menghindari tatapan sahabat-sahabatnya yang penuh tanda tanya.
Ayu kembali melanjutkan aktivitasnya. Mengambil ponselnya lagi lalu mengirim pesan pada Angga.
Maaf, jangan hubungi aku dulu, banyak orang disini. Begitulah pesan yang terkirim untuk Angga.
Angga yang baru saja membaca pesan itu malah tersenyum nakal dan bergumam. "Memang nya kenapa? Bukankah wajah ku ini tampan dan tidak memalukan?"
Beberapa staf kantor yang ada di ruang rapat pun saling tatap mendengar suara Angga yang keluar dari pembahasan kali ini.
"Ada apa, Pak?" tanya Riska yang duduk disamping sang bos. Mewakili semua staf yang ada di tempat itu.
"Gak papa. Ini, kurir yang mau mengantar barang salah alamat," jawab Angga dan kembali mengetik tulisan di layar ponsel.
Ayu berdecak kesal melihat banyak pesanan dari Angga. Padahal, hari ini ia membatasi pesanan namun tak bisa menolak permintaan pelanggan.
"Baik, Pak. Sebentar lagi aku akan segera meluncur ke sana," balas Ayu dengan pesan teks pula diakhiri dengan emoji cemberut.
Bahkan, itu pun tak membuat Angga marah dan justru tertawa terbahak-bahak.
Sebenarnya masih banyak yang akan Angga bicarakan, Akan tetapi mereka berdua berada di tempat kerja hingga mengurungkan niatnya. Menunggu waktu yang tepat untuk bercakap lebih dalam.
Ayu sudah selesai menyusun pesanan di motor. Ia mendekati Adiba yang nampak asyik bermain. Kali ini akan datang ke kantor Angga bersama si bungsu atas permintaan pria itu.
"Adiba mau bertemu dengan papa Angga, ya?" goda Indah mengikuti langkah Ayu menuju depan.
"Husstt…gak baik. Adiba mau ikut mamanya kerja," elak Ayu serius.
"Ayolah, Bu. Kami juga ingin tahu sedekat apa ibu dengan calon papanya anak-anak. Kami pasti akan memberi dukungan dan doa," desak Indah.
Ayu mengambil helm lalu menatap Indah.
__ADS_1
"Belum waktu nya, Sayang. Nanti kalau sudah deal, aku pasti kasih tahu kamu dan yang lain. Da...da, sampai ketemu nanti sore."
Ayu melajukan motornya tanpa menghiraukan ucapan Indah. Mungkin dengan begitu akan terhindar dari pertanyaan yang membuatnya bingung.
Ayu menghentikan motornya. Menggendong Adiba di bagian punggung dan mengambil barang-barang pesanan Angga.
Ia masuk lewat pintu utama dan menjadi pusat perhatian semua karyawan yang ada di sana.
"Mau bertemu pak Angga, Bu?" tanya resepsionis yang berjaga.
"Iya, Mbak. Beliau ada?" tanya Ayu pura-pura. Padahal, ia sudah tahu bahwa Angga ada di ruangannya.
"Silahkan! Anda sudah ditunggu," ucap wanita itu dengan ramah seperti perintah sang bos.
Ayu melanjutkan langkahnya menuju ruangan Angga yang ada di lantai atas. Mengetuk pintu ruangan. Sesekali menoleh ke arah kiri kanan dan menyapa karyawan yang melintas.
Pintu terbuka. Sesuai harapannya, Angga sendiri yang membuka pintu. Pria itu tersenyum ramah lalu mengambil barang-barang yang ada di tangan Ayu.
"Silahkan masuk, Nyonya!" ucapnya lembut layaknya pada tamu. Menutup pintu dan menguncinya, memastikan supaya tidak ada yang curiga. Kemudian mengambil alih Adiba yang dari tadi melambaikan tangan ke arahnya.
"Lain kali jangan telepon saat aku kerja," protes Ayu duduk di kursi tamu.
Sementara Angga langsung membawa Adiba ke sofa memberikan cemilan yang ia beli saat berangkat tadi.
"Gak mau. Nanti kalau ada karyawan masuk bagaimana?" tolak Ayu melengos.
Angga semakin terpesona dengan janda itu. Tidak ada kata mundur dan akan terus berjuang mendapatkannya. Apapun rintangan yang melintang akan ia terjang.
"Kan pintunya sudah dikunci." Angga menaik turunkan alisnya, berharap Ayu cepat memenuhi permintaan nya.
Tidak ada pilihan lain, Ayu berdiri dan pindah duduk di samping Angga. Mereka duduk bersejajar menghadap ke arah yang sama.
"Nanti aku ingin makan malam di rumah dengan anak-anak." Angga mengutarakan isi hatinya.
"Tapi aku ada janji dengan mbak Harini."
Angga berdecak kesal, mendekatkan bibirnya di telinga Ayu. "Gak boleh, harus makan malam denganku," ucapnya memaksa.
"Ya sudah, kalau gitu sekarang aku mau mengantarkan barang-barang dulu. Setelah itu aku akan mengatur waktunya lagi." Ayu mengulurkan tangannya ke arah Adiba, namun bukan bocah itu yang ia dapatkan melainkan tangan Angga.
__ADS_1
"Jangan pergi sebelum aku mengizinkanmu." Angga meraih tangan Ayu. Melarang wanita itu meninggalkan ruangannya
Angga menghubungi salah satu pegawai untuk datang ke ruangannya.
"Duduk di situ! Jangan berdiri kalau aku tidak menyuruhmu," ucap Angga menekan.
Sudah kayak suami aja. Padahal aku belum menjawab pertanyaannya.
Tak lama kemudian seorang pria berseragam hitam datang menghampiri Angga. Dia adalah sopir yang bernama Anto. Salah satu orang kepercayaan di kantor itu.
"Bapak butuh sesuatu?" tanya Anto sopan.
"Kamu antarkan barang-barang ke pelanggan. Ini kunci motornya." Memberikan kunci milik Ayu pada Anto yang berdiri disamping meja.
"Baik, Pak," jawab Anto membalikkan badan sambil melirik ke arah Ayu.
"Oh iya, Pak. Motornya yang bagaimana supaya saya tidak susah mencarinya."
"Motor matic warna putih yang terparkir di samping mobil saya." Angga yang menjawab.
"Baik, Pak." Anto keluar dan menutup pintu. Meskipun dalam hati bertanya-tanya tentang sikap wanita yang ada di ruangan bosnya, ia memilih bungkam.
Ayu tak bisa berkutik lagi. Angga membuatnya mati kutu bahkan tak bisa leluasa melakukan apa yang diinginkan, namun ia juga salut dengan perhatian pria itu yang melebihi batasan seorang sahabat.
"Seandainya aku menolak kamu, apa kamu masih akan baik padaku?" tanya Ayu tiba-tiba.
Angga tersenyum mengusap pucuk kepala Adiba yang ada di pangkuannya.
"Aku akan tetap sayang padamu dan anak-anak sampai kalian mendapatkan laki-laki yang tulus."
Kini Ayu semakin yakin dengan keseriusan Angga, namun ia belum bisa menjawab sebelum membicarakannya pada Harini.
Bunyi notif terdengar dari ponsel Angga yang ada di depan Ayu.
Wanita itu hanya menatap tanpa membukanya.
"Buka saja gak papa," suruh Angga santai. Toh tak ada yang perlu ditutupi. Harus terbiasa saling terbuka satu sama lain.
"Mama sudah ada di bawah, Ga," kata Ayu membaca pesan yang diterima.
__ADS_1
Angga terkejut mendengar itu. Pasalnya, ia belum siap untuk mempertemukan antara Bu Winda dan Ayu.
Apa yang harus aku lakukan, bagaimana kalau mama marah melihat Ayu ada di sini?