Janda Tangguh

Janda Tangguh
Awal perjuangan


__ADS_3

Pagi sekali Harini sudah tiba di rumah Ayu. Kebetulan hari ini adalah hari libur. Itu artinya mereka bisa bersama untuk seharian penuh. Menikmati kebersamaan yang jarang terjadi. 


Ia menurunkan barang-barang bawaannya dibantu oleh sopir yang mengantarnya. 


"Gak usah repot-repot, Mbak. Kedatangan Mbak sudah cukup membuat mereka bahagia bukan yang lain," jelas Ayu seraya memeluk Harini. 


Mata Harini menatap beberapa kotak yang ada di meja lalu melepaskan pelukannya. 


"Ini kado dari siapa, Yu?" tanya Harini menyelidik. Mengangkat kotaknya satu-persatu bergantian. 


"Kemarin ada orang iseng yang mengirim hadiah, tapi nanti aku akan kembalikan saja, Mbak." Meraih tangan Harini dan mengajaknya masuk. Ayu tidak ingin membahas tentang kotak itu. Sebab, hatinya kembali jengkel jika mengingat tingkah Angga. 


Jangan-jangan ada laki-laki yang suka sama Ayu. 


Keinginan Harini untuk mempersatukan Ayu dan Ikram kembali lentur. Meskipun dalam hati tidak rela Ayu memiliki pendamping yang lain. Harini mencoba ikhlas demi kebahagiaan wanita itu. 


"Mama…" teriak Hanan dari arah kamar. 


Nampak dengan jelas bocah itu sedang melipat sajadah dan meletakkan peci di atas meja lalu keluar menghampiri Harini dan Ayu. 


"Anak sholeh, tetaplah menjadi yang terbaik ya!" Mencium kening Hanan yang membuat sang empu merah merona. 


"Hari ini kita kan jalan-jalan." Harini membuka beberapa menu makanan siap saji. Sedangkan Ayu mengambil piring di belakang. 


"Adiba dan Alifa belum bangun?" tanya Harini menatap pintu kamar Ayu yang sedikit terbuka. 


"Belum. Semalam mereka gak mau tidur dan menemani aku menulis."


"Menulis?" tanya Harini mengulang perkataan Ayu yang terdengar samar. 


Ayu mengangguk tanpa suara. 


"Nulis apa?" 


Ayu menjelaskan bahwa saat ini ia ikut menulis di buah platform berbayar. Ya, walaupun belum menerima uang dari tulisannya, namun ia sudah merasakan ada sinyal terang yang membuatnya semakin bersemangat. 


Harini kagum. Ternyata adik iparnya itu tak hanya pintar dalam perihal rumah tangga, namun juga mencari uang dan mengurus anak-anak seorang diri. Pejuang rejeki layaknya seorang suami dan ayah. 


Harini melirik Hanan yang sedang menikmati makanannya lalu kembali menatap Ayu. 


"Seandainya ada laki-laki yang mau menikahimu, apa kamu mau?"


Ayu terbelalak. Seketika ia menggeleng. Sedikitpun tak ingin menikah lagi ataupun memberikan ayah tiri untuk anak-anaknya. Baginya sudah cukup seperti ini dan berharap bisa memberikan mereka yang terbaik meskipun statusnya adalah janda. 

__ADS_1


Harini paham, pasti Ayu masih trauma dengan kebejatan Ikram, namun tak baik juga jika wanita itu hidup sendiri. 


"Kenapa?" tanya Harini semakin penasaran dengan tujuan Ayu. 


"Jodoh itu di tangan Allah, Mbak. Jika suatu saat aku menikah, itu adalah takdir yang harus aku jalani. Tapi untuk sekarang ini aku akan fokus pada anak-anak. Aku ingin membahagiakan mereka tanpa campur tangan orang lain. Aku ingin membuktikan bahwa perempuan itu tidak lemah, bahkan mereka melebihi seorang laki-laki. Mereka diciptakan bukan untuk menengadahkan tangan dan menerima nasib buruk, tapi untuk berdiri dan dimuliakan," jelas Ayu panjang lebar. 


Harini berhamburan memeluk Ayu. Ia bangga menjadi bagian dari keluarga wanita itu. Meskipun saat ini tidak ada ikatan lagi setidaknya sudah menganggapnya saudara.


Disaat keduanya tenggelam dalam alunan haru, pintu diketuk dari luar membuyarkan keduanya. 


Hanan segera berdiri dan membukanya. 


"Selamat pagi," sapa suara berat dari arah luar pada Hanan. 


"Pagi juga," balas Hanan menerima uluran tangan pria itu lalu menciumnya. 


"Mau bertemu dengan siapa, Om?" tanya Hanan sopan. 


"Mamanya ada?" tanya pria itu tanpa ragu. 


"Ada. Silakan masuk, Om." Hanan menggeser tubuhnya mempersilahkan sang tamu untuk masuk ke dalam. 


Betapa terkejutnya Ayu saat melihat seseorang yang tersenyum padanya. 


Ayu gugup. Ia tidak menyangka pria itu nekad datang ke rumahnya. Padahal, sikapnya jauh dari kata ramah dan berharap pria itu menjauh, justru sebaliknya. 


"Siapa, Yu?" bisik Harini. 


"Itu–itu," ucap Ayu terputus-putus. Ia tidak bisa menjelaskan tentang Angga pada kakak nya tersebut. Pasti akan menimbulkan banyak tanya. 


Angga membungkuk ramah seraya menggandeng tangan mungil Hanan. 


"Silahkan duduk, Om." Hanan menunjuk kursi kosong yang ada di depan Ayu. Bukan lancang, sang mama selalu mengajarkan untuk menghormati tamu, dan itu langsung diterapkan oleh Hanan. 


Ayu masih termangu, ia belum mampu bersikap layaknya seorang teman seperti yang diinginkan Angga. Namun juga tak bisa abai dengan kehadirannya. 


"Ada perlu apa kamu ke sini?" tanya Ayu ragu. 


Harini pergi ke belakang, sedangkan Hanan melanjutkan makannya di samping Ayu. 


Sama seperti Ayu, Angga pun tampak gugup saat berada didekat wanita itu. Wajahnya sedikit menciut menahan dadanya yang terasa berdebar-debar layaknya abg bertemu dengan kekasihnya. 


"Mau silaturahmi," jawab Angga lugas. 

__ADS_1


Pertama-tama memang itu tujuannya, dan kedua kali ia ingin memperkenalkan diri pada anak-anak Ayu. 


Sesekali Hanan memandangi wajah Angga yang sangat tampan seperti aktor korea. 


Apa om ini yang menelpon mama semalam? Semoga dia orang baik. 


Hanan pura-pura polos, namun menyaring setiap pembicaraan antara Ayu dan Angga. 


"Sekalian bawa hadiah mu pulang. Aku tidak butuh." Ayu masih mode galak. 


Tidak masalah, Angga tetap menanggapinya dengan senyuman. 


"Nanti kita jalan-jalan ke mana, Ma?" tanya Hanan setelah selesai makan. 


"Kalian mau jalan-jalan?" sergah Angga menghentikan Ayu yang hampir menjawab. 


"Iya, Om. Setiap hari minggu mama ngajakin aku dan adik jalan-jalan. Dan hari ini kami akan pergi dengan mama Harini juga."


O, yang tadi namanya Harini. Tapi siapanya Ayu ya? Nggak mungkin saudaranya, wajahnya gak mirip.


"Mau jalan sama Om Angga?" tawar Angga pada Hanan. 


Seketika itu juga Ayu menatap Angga dengan tatapan tajam. 


Hanan terdiam, ia melihat kemarahan di wajah Ayu dan tak berani menjawab pertanyaan dari orang yang terus tersenyum padanya. 


"Mama…" teriak Alifa dari kamar membuat Angga menoleh. 


Matanya menangkap gadis kecil yang kesusahan saat turun dari ranjang. 


Eh, itu anak kedua apa ketiga ya, lucu banget. 


Lagi-lagi Angga kepo dengan anak Ayu yang baru pertama kali dilihatnya. 


"Dik Diba sudah bangun." Ayu mengangkat tubuh mungil Adiba dan membawa ke pangkuannya. 


Harini keluar. Ia meletakkan secangkir kopi di depan Angga. 


"Makasih, Mbak." Angga melambaikan tangannya ke arah Adiba. Tebar pesona pada putri bungsu Ayu yang bermanja dengan ibunya. 


Harini kembali ke belakang. Ia tak ingin mengganggu Angga yang nampak berjuang mendekati anak-anak Ayu. 


"Siapa yang hari ini mau naik mobil dengan Om?" Angga mengangkat tangannya, ia tak pantang menyerah dan ingin memberikan yang terbaik bagi mereka. Meskipun sudah ditolak oleh ibunya tetap akan maju sebelum janur kuning melengkung. 

__ADS_1


 


__ADS_2