Janda Tangguh

Janda Tangguh
Ketahuan


__ADS_3

Ayu duduk di tepi ranjang. Menarik napas dalam-dalam. Sesekali menoleh ke arah dua anaknya yang nampak bercanda. Merapikan selimut yang hampir terjatuh. Tidak habis pikir dengan seorang Angga yang mengejarnya, bahkan membuktikan dengan segala sikap lembut pada putra-putrinya. 


Apa dia tulus atau hanya sekedar kasihan pada Ayu? Seorang janda miskin dengan tiga anak yang masih sangat kecil. 


"Ah, tidak mungkin dia jatuh cinta padaku."


Berkali-kali Ayu menepis perasaan itu. Tatapan matanya yang sendu. Tutur sapanya yang lembut serta sikapnya yang begitu hangat layaknya seorang ayah.  Mustahil jika hanya menyembunyikan sebuah kebohongan. 


"Aku harus apa?" Bingung dengan jawaban atas pertanyaan yang diberikan Angga tempo hari. Ia juga tak ingin menggantung pria itu. Namun, juga ragu dengan pilihan yang sangat sulit. 


Ya, anak-anak memang butuh sosok ayah yang bisa menemaninya dan membimbing hingga dewasa. Akan tetapi, Ayu belum sepenuhnya yakin akan menikah lagi. Terlebih orang yang mencintainya saat ini bukanlah pria sembarangan, melainkan pemimpin perusahaan besar yang pasti banyak diincar kaum wanita sosialita. 


Meskipun ia pun ingin bahagia bersama suami tercinta, tetap saja banyak yang dipikirkan supaya tidak ada penyesalan pada akhirnya. 


Hanya nama Harini yang muncul dalam benak disaat Ayu harus seperti ini. Ia segera menghubungi wanita itu dan mengajaknya untuk bertemu. 


"Nanti malam saja, Mbak. Hari ini aku ada banyak pesanan." Ayu beranjak dari duduknya. Meraih handuk dan bergegas ke kamar mandi untuk memandikan Alifa. 


Mungkin Alifa lebih tahu. 


Ayu berjongkok mensejajarkan tubuh nya dengan tinggi Alifa yang masih sibuk bermain dengan busa sabun. 


"Apa Alifa mau mempunyai papa seperti om Angga?" tanya Ayu lirih. 


Jika didengar oleh Angga atau orang lain Ayu sangat malu, itulah kenapa ia menanyakan hal itu di kamar mandi. Pasti tak ada yang mendengarnya. 


"Mau, Ma. Om Angga baik," jawab Alifa dengan senang hati. 


Beberapa kali pertemuan pria itu memang meninggalkan kesan yang menyentuh dan terus diingat dengan kebaikannya. Sifatnya yang dewasa menunjukkan bahwa dia sudah siap menjadi ayah dan suami yang baik. 


"Ya sudah, Mama cuma tanya." Mengguyur Alifa menggunakan air hangat untuk membersihkan sisa sabun. 


Alifa sudah rapi dengan seragam sekolahnya, sedangkan Adiba pun sudah memakai baju pemberian Angga. Ayu mulai membiasakan diri menerima pemberian pria itu dan bersikap ramah. 


Seperti hari biasa, Ayu memakai kemeja dan rok panjang. Terlihat simpel namun tetap cantik dan trendi, serta kerudung ikat ala istri seorang gubernur. Memakai make up tipis dan natural yang menambah kecantikannya. 


Ia keluar dari rumahnya. Jika hari sebelumnya menitipkan Adiba pada Ninik, kali ini Ayu membawa si bungsu ke tempat kerja karena permintaan dari Irma. 


Kedatangan Adiba memberi warna tersendiri bagi karyawan yang bekerja di toko Irma. Mereka antusias menyambut wajah mungil batita yang minggu depan akan berulang tahun yang ketiga tersebut. 

__ADS_1


Kulitnya yang putih, rambutnya yang hitam pekat serta pipinya yang gembul membuat semua orang jatuh cinta pada pandangan pertama. 


"Aku rela cuti demi mengasuh dia," ujar Indah diiringi dengan senyuman kecil. 


Bahkan, salah satu dari mereka mengabaikan tugasnya dan memilih ikut nimbrung menggoda si kecil. 


"Gak papa, lagi pula kamu kan jomlo gak butuh uang," cetus yang lainnya. 


Indah merengut, statusnya yang jomblo hanya menjadi bahan olokan semua temannya. 


Ayu terkekeh. Ia segera bergulat dengan pekerjaannya, sementara Adiba bersama dengan Indah. 


"Ini siapa yang beliin, Dik?" tanya Indah pada Adiba. Menjewer baju mahal yang dipakai bocah itu. 


"Papa Aga," jawab Adiba gagu. 


Kedua alis indah berkerut, curiga dengan ucpa Adiba. Pasalnya, Ayu sudah menceritakan kisah hidupnya  dn sang suami yang bernama Ikram, namun Adiba menyebut nama pria lain dengan sebutan papa. 


"Maksud dik Diba papa Ikram?" Indah kembali memastikan. 


Adiba menggeleng. Meskipun masih sangat kecil ia tahu Ikram dan Angga adalah orang yang berbeda. 


"Lalu?" Erni ikut mendekat karena penasaran. 


Bukan membuat mereka paham malah membuat dua gadis itu bingung. 


"Apa mungkin bu Ayu sudah punya calon suami lagi?" bisik Indah di telinga sang sahabat. 


Erni mengangkat kedua bahunya tak mengerti. Saking penasarannya, mereka mencari nama-nama yang berakhir dengan kata ga.


"Bu Ayu, kata Adiba ini baju dari papa Aga. Memangnya siapa dia?" teriak Indah yang membuat semua karyawan menoleh. 


Kedua bola mata Ayu membulat sempurna. Jari-jarinya yang hampir mengambil baju menggulung turun. Menelan ludah nya dengan susah payah tanpa menoleh. 


Bagaimana ini? Aku belum siap kalau harus memperkenalkan Angka pada semua orang. 


Ayu semakin gugup. Mencari cara supaya ia bisa mengalihkan pembahasan. 


"Ah mungkin kalian salah dengar," ucap Ayu tertawa kecut. Melanjutkan pekerjaannya, tak ingin menggubris mereka yang hanya akan membuatnya terjerembab dan membuka suara tentang Angga. 

__ADS_1


Indah tak tinggal diam. Ia mencari cara supaya Ayu membongkar sosok yang disebut Adiba.


Gimana caranya supaya bu Ayu cerita. Mengetuk-ngetuk dagunya dengan hati telunjuk. Sesekali menyungutkan kepalanya ke arah Erni pertanda meminta bantuan. 


Ayu berbalik badan. Erni dan Indah pura-pura bermain dengan Adiba. 


"Aku titip bentar ya, mau ke kamar mandi." Ayu meletakkan ponselnya di samping  Indah. Kemudian berlalu ke belakang. 


Tak berselang lama Ayu menghilang di balik pintu, ponsel milik wanita itu berdering. 


Nama Angga berkelip di layar disertai foto tampan dan rupawan yang menjadi gambar profil. 


"Angga. Apa dia yang dimaksud Adiba?" lirih Indah melongo. Matanya menyorot ketampanan yang berlebihan. 


Beberapa karyawan ikut mendekat dan melingkari ponsel milik Ayu. Mereka menerka-nerka sosok yang ada di balik telepon tersebut. 


"Kalau dia beneran pacar bu Ayu, berarti kita kalah saing," tukas yang lain. 


Indah menatap ke arah pintu belakang. Belum ada tanda-tanda Ayu keluar dari sana yang membuatnya tersenyum licik. 


"Bagaimana kalau kita angkat saja teleponnya," ucapnya menatap karyawan lain bergantian. 


"Nanti kalau bu Ayu marah gimana?" tanya Erni. Menahan tangannya yang sudah gatal ingin menggeser tombol hijau. 


"Gak mungkin dia marah. Nanti bilang aja kalau Adiba yang angkat," jawab yang lainnya lagi. 


Mereka tahu itu perbuatan yang tidak baik hingga mengurungkan niatnya. Namun, jemari mungil Adiba mengulur menyentuh benda pipih milik sang mama. Lantas, ia menggeser lencana hijau ke atas tanda menerima. 


"Halo, Sayang. Kamu sudah sampai di tempat kerja?" 


Suara seorang pria menyapa dengan lembut membuat semua orang membuka mulutnya. 


"Papa…" Adiba ikut menyapa. 


Terdengar gelak tawa di seberang sana. 


Indah mengalihkan suara ke mode Loudspeaker supaya bisa mendengar suara itu dengan jelas. 


"Ternyata Dik Diba. Mama di mana, Nak?" tanya Angga dengan suara lembut. 

__ADS_1


"Di kamar mandi, Pa," jawab Diba. 


Melihat semua karyawan berkerumun membuat Ayu menghentikan langkahnya. Namun, seketika ia berlari menghampiri mereka saat mendengar Adiba memanggil Papa Aga.


__ADS_2