
Sejak peristiwa saat itu, Angga lebih berhati-hati dan tak membiarkan Ayu keluar seorang diri. Terlebih, akhir-akhir ini banyak sekali tamu yang berkunjung membuatnya ekstra waspada untuk menjaga sang calon istri. Apalagi besok adalah hari pernikahan yang dinanti selama lima tahun. Itu artinya sebentar lagi ia akan menyandang status sebagai suami dari seorang Ayu Lestari dan akan menjaga keselamatan wanita itu sepenuhnya.
Saat ini Ayu dan anak-anak pun sudah pindah. Mereka tinggal di rumah sendiri. Meskipun tak semewah rumah Angga, tapi tetap nyaman.
''Aku gak nyangka besok bakal menikah?'' Menatap bayangannya dari pantulan cermin. Kedua matanya berkaca-kaca mengingat perjalanan hidupnya selama ini.
Rasa sakit karena tak dihargai dan selalu direndahkan. Sulitnya saat menghidupi ketiga anaknya. Hingga perjuangan meminta restu. Nyatanya semua itu adalah pelajaran hidup yang berharga, dan sampai kapanpun akan dikenang.
''Apa kamu bahagia?'' tanya Angga yang baru datang.
Ayu berdiri dari duduknya memutar tubuh. Menatap Angga yang berdiri di ambang pintu. Pria itu tak sendiri melainkan bersama ketiga anaknya.
''Aku sangat bahagia, Mas. Aku bahagia karena bertemu dengan laki-laki sepertimu,'' puji Ayu dari hati.
Adiba dan Alifa serta Hanan berhamburan memeluk Ayu. Mereka semua ikut menangis di pelukan sang mama.
Tak menyangka setelah bertahun-tahun mengalami pahitnya hidup. Kini mereka berdua di puncak kebahagian yang nyata.
''Apa aku boleh ikut memeluk?'' tanya Angga merentangkan kedua tangannya.
Ayu menggeleng pelan. Tidak mungkin ia membebaskan pria itu sebelum akad.
''Setelah ini kalian akan tinggal di rumah papa.'' Angga mendekati mereka. Mengusap lembut kepala kedua putrinya.
Meskipun umurnya menginjak sepuluh tahun, Alifa pun sudah mulai berhijab seperti sang mama. Tutur sapanya juga sopan dan lembut.
''Tapi boleh nginap di rumah papa Ikram juga kan, Pa?'' tanya Hanan sembari mengusap air matanya.
''Boleh. Boleh banget.''
Angga tak ingin mengekang mereka yang faktanya memiliki ayah kandung.
''Sekarang kamu pulang, Mas. Nanti mama nyariin,'' suruh Ayu serius.
Ia tidak ingin malam ini Angga ikut tidur di rumah seperti hari kemarin dan ingin berpisah sebelum besok dipertemukan di pelaminan.
''Aku mau bicara sebentar,'' pinta Angga penuh harap.
Terpaksa Ayu melepaskan anak-anak dan mengikuti langkah Angga menuju pintu depan.
__ADS_1
''Bicara apa?'' Ayu berdiri sedikit menjauh dari pintu, takut pria itu macam-macam.
''Gak papa, cuma mau pamit pulang. Jangan lupa tidur, besok malam kita begadang.'' Mengedipkan satu matanya, menggoda.
Seketika pipi Ayu merona mendengar ucapan itu. Meskipun ini bukan kali pertama ia tetap merasa gerogi, bahkan hampir lupa dengan malam yang menggairahkan itu.
''Assalamualaikum,'' ucap Angga sembari melangkah menuju mobil.
Ayu menjawab dan melambaikan tangannya tanda perpisahan.
Setelah ini aku akan menyerahkan seluruh hidupku untuk mu, Mas. Jangan khawatir, aku akan berusaha menjadi istri yang baik. Aku akan membuatmu nyaman.
Sebuah janji yang pernah Ayu ucapkan dulu saat menikah dengan Ikram. Namun, ia harus gagal dengan hadirnya orang ketiga.
Ayu menghampiri ketiga anaknya yang ada di kamar. Ia duduk di tengah mereka.
''Sebentar lagi papa Angga akan resmi menjadi papa kalian. Tapi ingat! Gak boleh sering meminta sesuatu dari dia. Mama akan tetap mencukupi kebutuhan kalian.''
Hanan, anak yang paling besar mengangguk dan diikuti adik-adiknya.
''Uang yang mama kasih ke kamu itu untuk biaya sekolah, jangan dibuat main-main. Itu adalah amanah, jadi jaga dengan baik. Belajar bertanggung jawab,'' pesan Ayu panjang lebar.
Adiba dan Alifa mengangguk bersamaan. Mereka mengerti apa yang dimaksud Ayu.
Angga yang baru saja tiba langsung menemui bu Winda di ruang tengah. Ia bergelayut manja di pangkuan sang ibu.
''Apa setelah ini kamu akan meninggalkan mama?'' Buliran bening menetes di pipi bu Winda. Sebagai seorang ibu ada rasa takut untuk kehilangan sang putra.
''Gak, Ma. Kita akan tetap bersama. Mama akan tinggal dengan aku dan Ayu juga anak-anak,'' terang Angga dengan jelas.
Bu Winda mengusap kening Angga. Jika di dekat pria itu ia teringat dengan almarhum suaminya. Namun, berpikir keras dengan pilihan yang akan diambil nanti.
''Pesan mama untuk kamu, Ga. Jangan pernah sakiti Ayu dalam segi apapun. Karena hati perempuan itu sangat rapuh. Mereka hanya pura-pura kuat untuk menghadapi kenyataan,'' tutur bu Winda.
Angga mengangguk paham. Sedikitpun tak ingin membuat Ayu menangis apalagi menyakiti. Dalam hatinya hanya ada niat baik dan akan membahagiakan mereka setelah melewati likunya kehidupan.
''Mama tenang saja. Aku akan membahagiakan Ayu dan anak-anak. Setelah ini kita semua akan tinggal bersama di rumah yang lebih besar. Supaya mereka lebih nyaman.''
Bu Winda tersenyum. ''Mama akan tetap tinggal di sini. Banyak kenangan yang membuat mama tidak akan meninggalkan tempat ini, kamu dan Ayu saja yang tinggal di rumah itu,'' tolak bu Winda.
__ADS_1
Angga tak menanyakan alasan penolakan itu. Cukup tahu perasaan bu Winda.
''Aku tidur dulu ya, Ma. Takut bangun kesiangan.''
Bu Winda geleng-geleng dan tersenyum.
Angga masuk ke kamar. Ia berbaring menatap langit-langit kamarnya. Berharap waktu segera berlalu.
''Padahal tinggal beberapa jam lagi, kenapa aku sudah gak sabar ya?''
Angga menutup wajahnya dengan bantal. Berharap malam ini saja ia bisa sejenak melupakan wajah Ayu.
''Ayu oh Ayu, apa kamu pakai pelet untuk menjerat ku, kenapa aku gak bisa hidup tanpamu,'' keluh Angga geregetan.
Memiringkan tubuhnya ke kiri dan kanan mengusir jauh wajah calon istrinya untuk segera pergi. Sebab, ia tak akan sanggup menahan beratnya rindu meskipun hanya semalam saja.
Sudah hampir dua jam Angga di kamar, sedikitpun tak bisa memejamkan mata. Seolah Ayu terus mengusik hatinya saat ini. Terdengar lebay, namun itulah yang dirasakan calon pengantin itu saat ini.
''Apa aku telpon dia saja.'' Angga meraih ponsel yang ada di nakas. Ia langsung menghubungi nomor Ayu.
''Kamu pasti gak bisa tidur?'' tebak Ayu dengan suara lembut.
''Kok kamu tahu?'' Angga menyandarkan punggungnya di samping jendela. Matanya menatap ke arah gemerlap lampu yang menghiasi tengah kota.
''Ya tahulah, buktinya kamu menelponku, kalau sekarang tidur pasti sudah memimpikan aku,'' canda Ayu.
Angga tertawa menggelitik. Apa yang dikatakan Ayu benar sekali dan itu membuatnya tak bisa berbohong.
''Sekarang kamu kembali ke ranjang,'' suruh Ayu pada Angga.
Tanpa berpikir panjang, Angga pun melakukannya dengan senang hati.
''Pejamkan mata mu,'' suruh Ayu lagi.
Tak banyak bicara, Angga pun mengikutinya.
Tak lama kemudian terdengar suara napas yang teratur itu artinya Angga sudah tertidur pulas.
Mau jadi imam, tapi setiap tidur harus diimamin dulu.
__ADS_1