
Terkadang Ayu juga merasa lelah menghadapi ujian hidup yang bertubi-tubi. Tatkala masalah terus menimpa layaknya air hujan yang turun dari langit, disaat itulah ia sadar bahwa takdir tak sesuai dengan ekspektasi. Gagal dalam berumah tangga membuatnya ragu untuk menikah lagi, namun melihat kebaikan Angga ia tak tega jika harus menolak pria itu.
Seharian penuh otak Ayu melalang buana mencari jawaban yang tepat atas kelanjutan hubungannya dengan Angga. Ia terus meyakinkan dirinya sendiri. Mengukuhkan hatinya untuk percaya dengan arti cinta sejati. Berusaha percaya dengan kata hatinya saat ini.
"Mama mikirin apa?" Hanan duduk di samping Ayu yang nampak menatap kosong.
Ayu menggeleng tanpa suara. Meraih ponsel dan melihat layarnya. Ada beberapa pesan dari Angga dan juga dua panggilan dari pria itu.
"Apa mama boleh bertanya?" tanya Ayu tanpa melepas ponsel dari tangannya.
"Boleh, tanya saja. Aku akan menjawabnya." Hanan bersiap menerima pertanyaan dari Ayu.
Ayu menghela nafas dalam-dalam. Ia pun siap menerima apapun jawaban dari putra pertamanya.
Sebab, pernikahannya kali ini tak hanya untuk dirinya sendiri melainkan untuk ketiga anaknya yang masih butuh kasih sayang seorang ayah.
"Apa Hanan setuju mama menikah dengan om Angga?" tanya Ayu dengan lugas.
Hanan tersenyum dan mengangguk cepat. "Sangat setuju, Ma." Memeluk Ayu dengan erat. "Mama berhak bahagia, dan aku yakin om Angga bisa membahagiakan, Mama."
Itu yang Hanan inginkan, sikap baik Angga mampu membuatnya luluh. Terlebih, ia juga ingin adik-adiknya mendapatkan kasih sayang layaknya anak-anak yang lain.
Ayu ikut tersenyum. Bangga dengan Hanan yang kini bersikap bijak. Anak-anak adalah sumber kebahagian nya saat ini dan ingin melihat mereka terus tertawa.
"Hanan terus berdoa ya, semoga Allah memberikan yang terbaik untuk kita." Mencium pucuk kepala sang putra yang ada di pelukannya.
Suara ketukan pintu membuyarkan keduanya. Ayu merapikan hijabnya. Menebak-nebak siapa yang datang di jam malam seperti ini.
"Mungkin papa Angga," tebak Hanan melepas pelukannya.
Ayu mengernyitkan dahi. Tidak mungkin, karena Angga sudah mengatakan malam ini ada pekerjaan.
"Mungkin bi Ninik." Ayu keluar dari kamarnya. Ia membuka pintu sedangkan Hanan beralih duduk di ruang tamu.
"Assalamualaikum…" sapa suara berat dari depan pintu.
Ayu menjawabnya dengan pelan. Terkejut melihat seseorang yang datang.
"Mas Ikram," sapa Ayu dengan keterkejutannya.
Ikram hanya tersenyum tipis sembari menatap Hanan yang nampak tak acuh.
"Aku mau bertemu anak-anak." Dengan percaya diri Ikram mengatakan tujuannya.
__ADS_1
Seketika Hanan berlari dan masuk ke kamarnya. Sementara Alifa dan Adiba pun tetap sibuk dengan mainannya.
"Silahkan masuk, Mas." Ayu mengambil beberapa mainan yang ada di meja kemudian ke belakang membuatkan minuman.
Ikram melambaikan tangannya ke arah Alifa dan Adiba, sedangkan mereka hanya terdiam seolah menatap Ikram dengan tatapan asing.
"Itu papa, Nak," seru Ayu dari dapur.
Alifa tetap bergeming dan terus memainkan boneka yang ada di tangannya tanpa memperdulikan Ikram.
"Bukan nya lusa hari ulang tahun Adiba yang ketiga, Yu?" Ikram mengingatkan.
Ayu datang membawa secangkir kopi hitam dan meletakkan di atas meja lalu menghampiri kedua putrinya.
"Iya, Mas. Aku sudah memesan kue di toko terdekat. Kamu gak usah khawatir aku tetap ingat kok," jawab Ayu dengan lembut.
Perpisahan di antara mereka adalah takdir hingga kini Ayu mulai menerimanya dengan ikhlas, mengusir rasa sakit yang ditorehkan Ikram.
"Ini uang untuk mereka." Ikram mengeluarkan amplop dari saku jasnya lalu meletakkan di samping kopinya.
Anak memang seharusnya masih tanggung jawab Ikram. Tapi entah kenapa, Ayu enggan menerima bantuan itu.
"Kalau kamu sangat membutuhkannya lebih baik pakai saja, Mas. Aku bisa memenuhi kebutuhan mereka." Ayu menyombongkan diri.
Ayu merayu kedua putrinya supaya mereka mau dekat dengan Ikram. Mengupas semua kebaikan yang pernah pria itu berikan. Sedikitpun tak ingin menjauhkan antara ayah dan anak.
Sedikit demi sedikit Alifa mulai luluh. Kaki mungilnya mengayun menghampiri Ikram. Tangannya mengulur menyentuh tangan sang papa yang menengadah.
"Peluk papa, Nak!" suruh Ayu sambil tersenyum.
Seketika Alifa berhamburan memeluk Ikram. Disusul Adiba dari belakang. Mereka bergelayut manja layaknya dulu ketika belum ada perpisahan antara kedua orang tuanya.
Tanpa disadari Ikram menitihkan air mata. Menciumi kedua putrinya bergantian. Meluapkan rindu yang terpendam menyesakkan dada.
Maafkan papa, Nak. Maafkan papa, hanya kata itu yang ingin diucapkan namun tertahan di kerongkongan.
"Apa kamu juga mau bertemu dengan Hanan?" tanya Ayu mencairkan keheningan.
Ikram mengangguk tanpa melepas pelukannya.
Ayu mengetuk pintu kamar si sulung.
"Buka pintunya, Nak! Papa mau bicara," teriak Ayu.
__ADS_1
"Aku gak mau bertemu papa. Dia sudah jahat pada kita, Ma. Suruh dia pergi," teriak Hanan dari dalam.
"Sudah, Yu. Hanan benar, jangan paksa dia," tutur Ikram dengan sopan.
Ayu duduk di depan Ikram. Mereka berbincang layaknya tamu dan tuan rumah. Sedikitpun tak membahas tentang masa lalu yang berhubungan dengan masalah pribadi hingga dering ponsel menghentikan percakapan mereka.
"Sepertinya hp kamu, Yu." Ikram memeriksa ponselnya yang tak berdering.
Ayu berdiri dari duduknya mengambil benda pipihnya. Benar saja, ternyata Angga yang menghubunginya. Ia langsung menerima dan menyapa pria yang ada di seberang sana.
"Ke mana saja sih? Lama banget angkatnya," ucap Angga kesal.
"Maaf ada mas Ikram. Tadi aku menemani dia ngobrol."
Angga yang tadinya berbaring melompat seketika merapikan rambutnya didepan cermin. Menyambar jaket lalu keluar dari kamar.
"Aku akan segera ke sana. Jangan dekat-dekat dengan Ikram."
Ayu hanya bisa menahan tawa mendengar ucapan Angga. Terdengar posesif, namun menggemaskan.
"Kamu mau ke mana? Ini sudah malam. Lagipula sebentar lagi mas Ikram pulang," tutur Ayu meyakinkan.
"Gak, pokoknya aku mau ke sana." Angga tetap kekeh.
"Mau ke mana, Ga?" Suara seorang wanita menghentikan langkah Angga.
Ayu yang ada di balik telepon pun bisa mendengar jelas suara itu.
"Sebentar lagi Nara dan mamanya datang. Kamu jangan ke mana-mana?" imbuhnya lagi.
Ayu hanya bisa menelan perkataan itu. Ia yakin orang yang disebut mama Angga bukan sekedar tamu biasa.
"Tapi, Ma. Aku __"
Angga menghentikan ucapannya. Tak mungkin melanggar janjinya pada Bu Winda dan akan mencoba dekat dengan Nara.
"Gak ada tapi-tapian. Mama gak mau mengecewakan Nara, ingat itu."
Ayu segera memutus sambungannya dan mengirim pesan pada Angga.
Seorang ibu pasti akan memberikan yang terbaik untuk anaknya. Begitu juga dengan tante Winda. Aku harap kamu tidak melawannya hanya demi aku.
Angga hanya bisa membaca pesan dari Ayu dan membatalkan rencananya untuk pergi.
__ADS_1