Janda Tangguh

Janda Tangguh
Niat pergi


__ADS_3

Angga pulang ke rumah. Sebelum membicarakan tentang proyek di Jerman dengan Bu Winda, ia mempersiapkan keberangkatannya terlebih dahulu. Kini hatinya sudah mantap akan pergi meninggalkan Ayu selama lima tahun. Tidak mudah memang, karena nama Ayu itu lekat bak lem yang menempel di organ tubuhnya. Akan tetapi, masa depan mereka juga penting.


''Aku harus bisa, aku harus bisa.'' Seperti Ayu yang rela ditinggalkan oleh Ikram dan hidup sendirian. Dia juga harus rela berpisah. Ayu adalah semangat untuk Angga, dan ia akan bekerja keras untuk mereka.


Angga mengambil koper yang ada di atas lemari lalu membukanya. Memasukkan sebagian bajunya satu-persatu ke dalam hingga penuh. Tak lupa membawa foto anak-anak yang terpasang di atas nakas. Sungguh, ia seperti akan meninggalkan keluarganya sendiri.


''Kamu di mana, Ga?'' seru Bu Winda dari balik pintu yang sedikit terbuka.


''Aku lagi di dalam, Ma. Buka saja,'' sahut Angga.


Bu Winda masuk. Ia terkejut melihat Angga beberes.


''Kamu mau ke mana?'' tanya Bu Winda menatap Angga dengan lengkap. Tidak biasanya Angga keluar kota membawa koper sebesar itu dan kini pria itu malah memasukkan beberapa barang-barang yang menurutnya tidak terlalu penting.


''Aku mau ke Jerman, Ma.'' ucap Angga dengan berat hati.


''Jerman? Berapa hari? Kenapa harus membawa baju sebanyak itu?'' Bu Winda mulai panik.


Ia belum terbiasa ditinggal oleh Angga dalam kurun waktu yang lama.


''Ada Proyek besar di sana, Ma. dan Tuan Louis menunjuk ke aku. Dia mempercayaiku untuk memegang proyek itu.'' Angga menjelaskan dengan lembut.


''Berapa hari?'' tanya Bu Winda menyelidik.''

__ADS_1


''Lima tahun,'' jawab Angga pelan. Ia pun tak tega mengucapkan itu di depan mamanya yang sudah tua. ''Apa Mama ingin ikut ke Jerman?'' tanya Angga menawarkan.


Bu Winda tak menjawab, pikirannya berkelana ke mana-mana. Di satu sisi ia ingin Angga segera menikah dan mempunyai anak, tapi di sisi lain pilihan Angga bukanlah orang yang tepat menurutnya.


''Mama nggak bisa ikut kamu. Mama cuma bisa datang paling sebulan sekali.'' Meski bu Winda juga merasa berat. Ia akan tetap merelakan.


''Nggak papa.'' Angga mulai terbiasa dengan keadaan. Kali ini ia mencoba untuk melepas semuanya. Melepas Ayu dan Bu Winda serta anak-anak juga keluarga yang lainnya. Ia ikhlas pergi jauh demi masa depan yang cerah. Demi mereka yang membutuhkan dirinya dan demi apapun termasuk kebahagiaan.


''Apa Ayu tahu tentang kepergianmu?'' Ayu memegang kedua lengan Bu Winda. Keduanya saling bertatap muka, saling menatap manik mata.


''Aku tidak akan pergi tanpa izin dari Ayu, Ma. Dia mengizinkan ku pergi. Selama ini aku tidak pernah minta apapun. Aku tidak pernah minta harta. Aku tidak pernah meminta sesuatu yang menyulitkan, Mama. Tapi aku mohon untuk kali ini restui hubunganku dengan Ayu. Anggap saja ini permintaan yang terakhir.''


Dalam sekali kedip air mata banjir basahi pipi Angga. Meskipun dia adalah seorang laki-laki, tetap saja merasa rapuh jika menyangkut tentang hati. Bu Winda memeluk Angga. Menumpahkan air matanya dipelukan Sang putra. Bagaimana bisa ia menolak permintaan itu, sedangkan dirinya sendiri belum bisa membahagiakannya. Selama ini Angga sudah banyak berkorban untuk dirinya. Meninggalkan pergaulannya hanya demi pekerjaan.


''Mama akan merestui hubungan kamu dengan Ayu. Mama merestui hubungan kalian.'' Antara bahagia dan sedih bercampur aduk. Angga tak bisa mengungkapkan dengan kata-kata. Ia sangat bahagia mendengar ungkapan dari Bu Winda. Akan tetapi, ada kesedihan yang mendalam karena ia akan berpisah dengan Ayu selama lima tahun. Bukankah itu waktu yang lama untuk sebuah hubungan yang sudah mendapatkan restu.


''Makasih, Ma.'' Angga melepaskan pelukannya. Mengusap air mata di pipi bu Winda.


''Tersenyumlah, Ma. Aku akan berangkat besok. Aku akan menyuruh Ayu untuk menjaga, Mama. Meminta dia untuk sering datang ke rumah, Mama.'' Bu Winda berdaratkan jari telunjuknya di bibir Angga.


''Ini rumah kamu, itu artinya ini rumah Ayu juga. Biarkan dia tinggal di sini sama mama. Dengan begitu dia akan aman.''


Angga tersenyum, ''Gak mungkin, Ma. Ayu nggak mungkin mau tinggal di sini. Dia pasti akan tetap tinggal di rumahnya sendiri. Meskipun aku di Jerman aku akan tetap pantau dia, aku akan suruh orang-orang ku untuk menjaga dia dan anak-anak. Mama tenang saja, pokoknya selama aku di Jerman, kalian akan tetap terjaga.

__ADS_1


Kabar itu tak hanya terdengar oleh om Surya, Bu Winda dan Ayu, akan tetapi juga Elisa. Gadis itu langsung datang ke rumah berhamburan memeluk Angga.


Jarang bertemu bukan berarti mereka tidak akrab, buktinya Elisa juga merasakan berat saat mendengar Angga akan pergi. ''Kenapa Kakak nggak nikah dulu baru pergi. Kenapa harus mendadak seperti ini?'' protes Elisa seolah dia yang paling benar sendiri.


Angga menoyor jidat gadis itu hingga terhuyung dan hampir jatuh. ''Ngomong jangan asal, kalau aku menikah, itu malah nggak jadi pergi. Aku akan tetap di rumah menjaga istriku, dasar bocil,'' tegur Angga.


Elisa menoleh ke arah koper yang sudah rapi bersandar di lemari. ''Tapi kasihan Kak Ayu, Kak. Pasti dia kesepian nggak ada Kak Angga. Lalu anak-anak bagaimana?'' Elisa pun memikirkan keadaan Ayu setelah Angga pergi. Pasti mereka akan merasa kehilangan sosok orang yang selama ini melindungi dan menjaganya.


''Aku sudah punya cara supaya mereka tidak merasa kehilangan, kamu tenang saja.''


Banyak kenangan yang Angga tinggalkan di antaranya foto kebersamaan saat hari ulang tahun Adiba.


Disaat Elisa keluar, Angga kembali duduk si tepi ranjang sembari menatap benda yang terletak di lemari bagian bawah.


Senyum mengembang mengingat awal pertemuannya dengan Ayu. Kala itu calon istrinya masih terlihat ketus dan galak.


Angga mengambil benda yang menurutnya menjadi perantara hubungannya dengan Ayu.


''Awalnya aku membeli ini.'' Menggenggam kain segitiga berwarna hitam lalu mengepalnya menjadi sebuah genggaman.


''Dan aku mencintaimu pada pandangan pertama. Aku tidak percaya akan jatuh cinta dengan wanita sepertimu, bahkan kamu adalah wanita yang pertama kali tahu nomor celana da-lamku."


Bibi yang mendengar itu hanya bisa menahan tawa lalu berdehem.

__ADS_1


Angga bergegas memasukkan benda antiknya ke dalam koper. Bukan untuk dipakai, namun itu sebagai pengingat saja. Bahwa Ayu lah yang membelinya.


Ayu yang ada di rumah pun terus membujuk anak-anak. Menjelaskan pada mereka dengan kepergian Angga.


__ADS_2