Janda Tangguh

Janda Tangguh
Hari pertama


__ADS_3

Menjadi bahan pembicaraan di luar sudah biasa bagi Ayu. Akan tetapi, di tengah keluarga itu sangat langka. Terlebih sebagian besar mereka adalah keluarga Angga. Pipinya merona saat semua orang terus menggodanya. 


Bahkan, ada beberapa dari mereka terus menanyakan momen yang sangat menggairahkan itu. Sungguh memalukan bagi seorang Ayu Lestari.


''Aku gak mau cerita,'' tegas Ayu malu-malu.


Menundukkan kepalanya menatap makanan yang hampir habis. 


Angga pun ikut menahan tawa seperti yang lain. Mengusap pucuk kepala sang istri dengan lembut.


''Gak papa, gak ada yang maksa kok. Makannya yang banyak.'' Angga memberi kode pada semua orang untuk diam, takut Ayu semakin marah.


Entah, pagi ini perutnya memang terasa sangat lapar hingga sanggup makan dua porsi dari biasanya.  


Kali ini Hanan benar-benar melihat rona bahagia di wajah sang mama. Setelah sekian lama tenggelam dalam keseriusan, akhirnya kini bisa tertawa lepas. Melepas semua beban yang membelenggu jiwa. 


''Rencananya kalian mau berangkat kapan?'' tanya bu Winda mengalihkan pembicaraan. 


Ayu mengangkat bahu, ia tak mengerti dengan acara selanjutnya. 


''Langsung, Ma. Semuanya sudah siap, tinggal berangkat.'' 


''Bagaimana dengan kalian?'' tanya Angga kepada ketiga anaknya. 


Mereka menggangguk persamaan, itu artinya tak ada kendala lagi untuk segera pergi. 


''Kamu mau ikut, Er?'' tawar Angga.


''Kalau mau ajak Melati juga boleh, nanti. Lebih enak rame,'' imbuhnya.


Sudah lama Angga tak berlibur dengan saudaranya, dan mungkin ini waktu yang tepat untuk itu.


Menggiurkan juga sih tawaran Angga, namun ada beberapa pekerjaan yang harus Erlina selesaikan hingga terpaksa ia menolaknya.


''Mungkin belum rezeki kamu, kita bisa berangkat lain kali saja.'' tante Siwi menyenggol lengan sang keponakan. 


Angga celingukan. Acara sarapan pagi ini memang dengan beberapa keluarga. Sepertinya ada yang tidak hadir membuatnya bertanya-tanya. 


''Melati gak datang?'' tanya Angga pada Erlina. Sebab, wanita itu yang lebih dekat dengannya. 


''Gak, Kak. Katanya oma gak mau ditinggal pergi,'' ujar Erlina seperti apa yang dikatakan Melati lewat sambungan telepon. 


Angga manggut-manggut mengerti, karena waktunya sudah mepet ia pun tak bisa menjenguk dan mungkin setelah ini akan sering berkunjung ke rumah oma Nanda yang sudah sakit-sakitan.  

__ADS_1


Usai sarapan bersama, Angga langsung pulang bersama Ayu dan anak-anak, sedangkan bu Winda pulang bersama dengan om Surya. Mereka berpencar, karena hari ini Angga dan sang istri serta anak-anak pun pulang ke rumah baru sesuai rencana. 


Tidak hanya perabotan rumah yang lengkap, kini hidup Angga pun sempurna setelah memiliki istri seperti yang diidam-idamkan. 


''Kakak dan adik-adik tidurnya di atas. Mama sama papa di bawah.'' Angga menunjuk ke arah lantai dua. 


Kamar di sana pun tak kalah mewahnya dengan kamar utama. Angga memang sengaja membuat banyak kamar sesuai karakter masing-masing. Di atas juga dilengkapi dengan alat-alat olahraga seperti permintaan Hanan. 


''Makasih ya, Pa.'' Memeluk Angga dengan erat. 


''Belajar yang rajin. Capai cita-cita yang kamu impikan. Papa hanya bisa mendukung dari belakang."


Hanan mengangguk, berterima kasih juga pada Ayu yang sudah menyiapkan biaya besar untuk dirinya. 


Angga menggiring mereka mengelilingi rumah. Menunjukkan beberapa tempat yang memang harus dihafal. Seperti tempat khusus untuk istrinya bekerja dan ruangan santai. 


Ada beberapa tempat juga yang menjadi favorit Angga saat menginap. 


''Ini adalah rumah kalian, jadi jangan sungkan-sungkan untuk melakukan apapun, asalkan yang baik-baik.''


Ya, meskipun memberi kebebasan, Angga tetap memperingatkan pada anak-anak. Menanamkan kebiasaan baik. Terlebih, Hanan sudah menginjak dewasa dan harus waspada. 


''Makasih, Pa.'' Alifa dan Adiba berhamburan memeluk sang papa. 


Ternyata itu telepon dari Wendi. Asisten yang baru bekerja seminggu lalu. 


''Ya, ada apa?'' tanya Angga serius. 


''Semuanya sudah siap, Pak. Sekarang saya ada di depan rumah,'' ucap Wendi ramah. 


''Baiklah, saya akan segera turun, kamu tunggu.''


Angga memasukkan ponselnya ke saku celana. Menghampiri Ayu yang nampak memeriksa bunga mawar di teras belakang. 


''Kalau kamu suka besok taman ini akan aku isi dengan bunga mawar,'' ucapnya. 


Ayu terkekeh. Angga memang selalu memanjakannya dengan sesuatu sebelum minta. Namun, ia bukan orang yang terlalu boros dan membeli barang berlebihan, cukup memiliki. 


''Gak kok, aku akan merawat yang ada di sini saja. Lagipula ini sudah terlalu banyak.'' Menunjuk beberapa bunga yang berbeda. 


''Wendi sudah datang, kita akan segera berangkat.'' Angga mengajak mereka keluar dari rumah. Meminta penjaga untuk menjaga rumah dengan baik. 


Mobil melesat dengan kecepatan sedang menuju bandara. Angga juga berpesan pada Riska untuk menghandle semua pekerjaannya selama pergi. Sebab, sudah diperkirakan akan sedikit lama, tergantung dengan anak-anak. 

__ADS_1


''Semalam kalian tidur dengan siapa?'' tanya Angga pada anak-anak.


''Dengan papa di rumah, ada tante __" 


Hanan mendaratkan jarinya di bibir. Menghentikan Alifa yang hampir keceplosan. 


Ayu mengernyitkan dahi menatap kedua anaknya bergantian. 


''Ada siapa, Nak?'' tanya Ayu memastikan. 


Alifa menutup bibirnya rapat-rapat. Ia tak berani mengatakan sesuatu teringat pesan sang papa. 


''Gak baik menutupi sesuatu dari mama,'' sindir Ayu menatap ke arah luar. 


Hanan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia berada di fase membingungkan antara melanggar permintaan sang papa atau membuat mamanya penasaran. 


''Semalam tante Melati datang. Kayaknya papa suka sama dia deh, Ma,'' tebak Hanan yakin.


''Kok kamu tahu?'' tanya Angga menyelidik. 


''Ya tahu lah, Pa. Aku kan sudah besar. Papa perhatian banget sama tante Melati. Dia juga baik dengan aku dan adik-adik. Katanya dulu sempat memiliki anak tapi meninggal di kandungan,'' ucap Hanan menjelaskan. 


Ayu menatap Angga yang mengangguk. Membenarkan cerita Hanan yang memang sebuah fakta. 


''Gak papa lah, tante Melati juga baik. Siapa tahu jodoh nya papa?'' jawab Ayu setuju. 


Sebagai seorang mantan, ia pun akan mendukung jika memang itu yang terbaik untuk Ikram. 


''Kenapa dulu Melati dan suaminya cerai, Mas?'' tanya Ayu pada Angga. 


''Banyak alasannya, salah satunya suami Melati itu pemakai, dan kami sekeluarga juga kaget. Padahal, di depan keluarga dia itu baik, ramah sopan, tapi gak nyangka itu hanya untuk menutupi kebejatannya saja.'' 


Dada Ayu ikut sesak. Seandainya ia yang berada di posisi Melati, mungkin juga tidak kuat menjalaninya. 


''Dan yang lebih parah, dia itu sering jajan di luar dan marah-marah pada oma saat Melati kerja.''


''Astagfirullah hal adzim. Naudzubillahimindzalik. Semoga kita semua dijauhkan dari orang yang seperti itu ya, Mas.'' 


Ayu menggenggam tangan Angga. 


''Kasihan dia. Semoga mendapatkan suami yang lebih baik dan mau merawat Oma dengan ikhlas.'' 


Aamiin

__ADS_1


__ADS_2