
Ikram kembali ke rumah sakit. Kali ini ia tidak sendiri melainkan bersama Ayu dan Angga. Entah, tiba-tiba anak-anak ingin ikut Ikram pergi. Kecuali Hanan yang tetap merengut dan memilih untuk pulang bersama bi Ninik.
''Kamu gak ada perasaan apapun pada Ikram, kan?" tanya Angga memastikan.
Ayu yang duduk di sampingnya hanya tersenyum tipis.
''Gampang banget cemburunya. Apa aku ini terlalu cantik dan baik? Aku rasa hanya orang bodoh saja yang mencintaiku."
Ayu menatap ke arah luar menghindari tatapan Angga yang terkadang menjerumuskan.
''Itu artinya aku bodoh?'' timpal Angga datar.
Ayu menggeleng. Bahkan, tidak ada kata yang pantas lagi untuk memuji kebaikan pria itu.
''Berapa kali aku bilang kalau hubunganku dan Mas Ikram itu hanya sekedar orang tua dari anak-anak,'' tutur Ayu menjelaskan.
Angga sedikit puas, namun ia tak yakin pada Ikram yang memiliki tatapan lain, bahkan pria itu terlihat gugup saat berada di dekat calon istrinya.
Namun, di tengah candaan keduanya tiba raut wajah Ayu redup mengingat ucapan Bu Winda.
''Kamu kenapa?'' tanya Angga yang selalu membaca perubahan di wajah Ayu.
Ayu menundukkan kepalanya. Menangkap getaran kecewa yang merasuk memenuhi relung jiwa.
Apa aku cerita pada mas Angga, atau aku akan mundur secara perlahan.
''Aku gak papa, cuma terharu saja karena tante Winda mau datang ke pesta ulang tahun Adiba. Makasih ya, Mas. Kamu memang yang terbaik untuk aku dan anak-anak.''
Kejadian di pesta tadi
Bu Winda menahan tangan Ayu yang hampir pergi.
''Bisa kita bicara sebentar,'' ucap Bu Winda disela makannya.
Ayu mengangguk setuju. Mengikuti langkah bu Winda menuju belakang. Mereka berdiri saling bertatap muka dengan pemikiran masing-masing.
''Tante mau bicara apa?'' tanya Ayu lirih. Dalam hati menebak-nebak apa yang akan dikatakan wanita itu.
__ADS_1
''Kamu pasti sudah tahu kalau aku tidak setuju dengan hubunganmu dan Angga,'' ucapnya menegaskan.
Ayu menjawab dengan anggukan kepala.
''Lalu? Apa yang Tante inginkan?'' tanya Ayu bernada rendah. Sedikitpun tak ingin menantang ataupun membentak wanita itu.
''Tinggalin Angga, karna hanya itu jalan satu-satunya supaya dia mau menikah dengan perempuan pilihanku.''
Tidak terlalu berat bagi Ayu. Meskipun benih-benih cinta itu mulai bersemayam, ia tak takut kehilangan seorang Angga. Akan tetapi, perjuangan pria itu yang begitu besar pun bukan hal yang mudah untuk disepelekan.
''Maaf, Tante. Bukan untuk melawan keinginan Tante, tapi aku tidak mau menyakiti mas Angga. Jika ada yang harus tersakiti di antara kita, maka akulah orangnya, bukan dia,'' terang Ayu panjang lebar.
Bu Winda berdecak lalu melipat kedua tangannya. ''Kamu memang perempuan penjilat, aku yakin kamu tidak tulus mencintai Angga dan hanya menggunakan anakmu sebagai umpan supaya kamu bisa meraup kekayaan putraku. Dasar perempuan murahan!''
Kedua tangan Ayu mengepal sempurna. Berkali-kali ia mendapat penghinaan, namun hanya ucapan Bu Winda yang seolah merendahkan martabatnya sebagai seorang wanita.
''Maaf, Tante. Jika ini yang Tante mau aku akan berusaha meninggalkan mas Angga, tapi aku tidak janji karena jodoh ditangan Allah, bukan manusia.''
Ayu pergi meninggalkan bu Winda dan kembali berbaur dengan tamu.
***
''Jangan genit-genit, Mas. Nanti orang mengira kamu serius,'' tegur Ayu mencubit lengan Angga.
''Hanya kamu yang aku seriusin, Yu. Tenang saja, hatiku hanya untuk mu.'' Tertawa lepas melihat pipi Ayu yang merah merona.
Dasar gombal
Ayu mengetuk pintu ruangan di mana Rani dirawat. Harini yang membuka pintu dan berhamburan memeluk Ayu. Mereka terlihat begitu akrab.
''Selamat ulang tahun putriku,'' ucap Harini tanpa melepaskan pelukannya. Menoel hidung Adiba yang terlihat riang.
''Maacih mama Harini,'' balas Adiba memanyunkan bibirnya. Mencium pipi wanita yang berdiri di depannya.
''Bagaimana keadan Rani, Mbak?" tanya Ayu menghampiri Rani yang duduk di atas pembaringan. Terlihat jelas wanita itu menatap dengan tatapan kosong. Seolah tak tergambarkan sebuah masa depan.
''Masih sama. Dia belum mengenaliku.'' Harini ikut mendekat berdiri di samping brankar. Berulang kali memperkenalkan diri sebagai kakak dari Ikram, namun itu malah membuat kepala Rani pusing.
__ADS_1
Terdengar suara tawa kecil dari arah pintu membuat Rani menoleh. Bibirnya memulas senyum melihat Angga dan Alifa saling senggol.
''Itu siapa?'' tanyanya dengan suara lemah.
Ayu ikut menatap ke belakang. ''Itu namanya mas Angga, dia rekan kerja mas Ikram juga calon suamiku, dan yang kecil itu anakku. Namanya Diba dan Alifa,'' jawab Ayu dengan jelas.
''Aku gak kenal semua orang di sini.'- Rani menggeleng. Berusaha keras mengingat semuanya, namun nihil tak ada satupun dari mereka yang tertinggal di memori.
''Gak papa bisa pelan-pelan, sekarang kita kenalan. Namaku Ayu, ini mbak Harini.'' Menunjuk Harini. ''Dan itu,'' Menunjuk Ikram, "Suamimu namanya mas Ikram.'' Rani mengikuti jari Ayu menunjuk.
''Dan yang itu mas Angga calon suamiku.'' Mengulang lagi supaya Rani tidak lupa. Dengan beraninya Ayu mengucap yang membuat jantung Angga berdebar-debar.
''Terserah kamu mau bercakap dengan siapa? Kami semua siap membantumu untuk sembuh.'' Mengusap lembut punggung tangan Rani yang dihiasi jarum infus. Tidak ada lagi kata dendam yang menjalar dan ingin menganggap wanita itu saudara.
''Terima kasih kamu sudah baik padaku,'' ucap Rani tanpa ekspresi.
''Sama-sama.'' Ayu tersenyum bahagia setidaknya dia bisa membantu orang yang pernah merebut suaminya.
Suster datang membawa makanan untuk pasien. Ayu mengambil semangkuk bubur yang diletakkan diatas meja. Kemudian menghampiri Rani.
''Kamu harus makan supaya cepat pulih,'' ucap Ayu sembari menyodorkan sesendok bubur di bibir Rani.
Ikram ikut mendekat.
''Biar aku yang suapi.'' Mengambil alih mangkuknya.
Ayu bergeser memberi ruang pada Ikram untuk melayani Rani.
''Yang sabar ya Mas, aku yakin Rani akan cepat sembuh. Aku dan mas Angga akan membantumu sampai Rani bisa mengingat semuanya.''
Angga terlihat cuek dan memilih fokus dengan nama anak-anak.
''Manusia hanya bisa berencana tapi Allah yang menentukan. Semoga Rani lekas sembuh dan mendapatkan petunjuk jati dirinya.
Ayu sedikit menjauh. Ia duduk di samping Angga sembari menatap Ikram yang nampak santai saat menyuapi Rani.
Dulu kamu tidak pernah mesra seperti itu padaku, Mas. Tapi sekarang kamu memperlakukan istri kamu dengan baik. Tapi aku tidak menyesal pernah hidup denganmu, karena kehadiran anak-anak adalah hadiah besar yang tidak akan tertandingi oleh apapun.
__ADS_1
"Tenang saja, Sayang. Nanti kalau kita sudah menikah, aku akan menjadikanmu ratu. Jangankan makan, mandi pun aku yang mandiin."