
Angka demi angka terhitung dengan seksama. Terasa begitu lambat dan lama. Sesekali Angga mendesis dan menatap ke arah benda yang masih ada di dalam gelas. Berharap semua sesuai ekspektasinya. Walaupun tidak, juga tidak masalah. Ia kembali menetralisir hatinya. Tidak akan kecewa apapun hasilnya nanti.
''Kok lama ya?'' Kembali mengeluh. Sedikitpun tak melepaskan pelukannya.
Ayu menyandarkan kepalanya di dada bidang Angga. Ia bisa mendengar dengan jelas detakan jantung yang sedikit tak normal.
''Baru lima menit.'' Ayu mengucap pelan. Menikmati aroma parfum dari tubuh sang suami yang begitu menenangkan. Hanya itu yang membuat nya damai saat ini.
''Aku ingin segera melihat hasilnya,'' ucap Angga lemas.
Ayu berdecak kesal. Menepuk pelan tangan kekar Angga yang terlalu serius.
''Satu menit lagi.'' Mata Angga tak teralihkan dari jam yang melingkar di tangannya. Berharap angka segera berubah. Dan benar, waktu yang ia tunggu sudah tiba.
Ayu melangkah pelan diikuti Angga dari belakang. Tangan mereka mengulur memegang ujung benda pemberitaan dokter.
Angga harap-harap cemas dengan hasilnya, bahkan ia tak setegar Ayu dan memilih memejamkan mata. Mungkin, ini karena pertama kali berada pada situasi seperti itu.
Ayu tersenyum saat melihat sesuatu yang indah pada tespeck itu, bibirnya bergetar menahan air mata yang siap meluncur. Tak menyangka akan diberi hadiah yang luar biasa dari Allah di pagi yang begitu cerah ini. Terlebih, berada di dekat orang tercinta.
''Buka mata kamu, Mas!'' suruh Ayu mengusap pipi Angga dengan pelan.
Perlahan Angga membuka matanya, namun ia menatap wajah Ayu yang nampak berseri-seri meskipun pipinya sudah dibanjiri air mata.
''Apa hasilnya?'' Dengan bodoh nya dia masih bertanya tanpa melihat tespeck langsung.
''Lihat saja sendiri,'' pinta Ayu menekankan.
''Aku gak berani,'' ujar Angga serius.
''Kalau gak berani, aku akan membuangnya.'' Ayu hampir menarik benda yang juga berada di tangan Angga, namun lelaki itu melarangnya.
''Baiklah, aku akan melihatnya.''
Angga menggeser pandangannya ke arah benda itu. Betapa terkejutnya saat melihat dua garis merah terpampang jelas menyapanya.
Dua garis merah. Mengingat-ingat artikel yang ia baca beberapa menit lalu.
__ADS_1
''Po--positif, ini artinya kamu hamil?'' tanya Angga gugup juga bahagia.
Ayu mengangguk cepat. Seketika itu Angga mendekapnya dengan erat. Mencium pucuk kepalanya berulang kali dan mengucapkan terima kasih.
Tidak ada perlawanan, Ayu pun menikmati momen itu, di mana suaminya menyalurkan kebahagiaan melalui bahasa tubuh yang saling bersentuhan. Dada bertemu dada. Jantung saling berpacu menjadi saksi kebahagian yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Mungkin ini adalah kado terindah untuk Angga. Ia tak pernah menyangka akan secepat ini mendapat momongan dalam pernikahannya yang menginjak enam bulan.
''Mama pasti senang mendengar ini,'' ucap Ayu diiringi dengan senyum.
''Iya, kita akan memberi kejutan untuk dia,'' jawab Angga tanpa melepas pelukannya.
''Kira-kira mereka lagi ngapain ya?'' Ais dan Nita saling berbisik.
Security yang berjaga pun ikut nimbrung dan juga penasaran. Pasalnya, hampir satu jam Angga dan Ayu di kamar tanpa kabar. Apakah mereka melakukan __. Ah, lelaki yang berumur tiga puluh lima tahun itu membayangkan tubuh istrinya sendiri yang polos tanpa gaun.
''Itu rahasia perusahaan, gak baik ngintip,'' tegur Ais menarik baju Security dari belakang.
Mereka tertawa kecil kemudian berdiri sedikit menjauh dari ruangan.
Pintu ruangan terbuka lebar. Nampak sepasang suami istri itu keluar, mereka saling tersenyum membuat Ais dan Nita juga Security sedikit curiga. Namun, tidak ada yang berubah dari penampilan keduanya. Tidak ada tanda-tanda mereka habis melakukan hal konyol seperti dugaannya.
''Rapatnya sudah mau dimulai. Mereka menunggu kedatangan, Ibu,'' ucap Ais ragu, takut Angga marah karena ia berani mengganggu.
''Mulai hari ini kamu yang akan mewakiliku. Kamu cukup memberi laporan padaku tentang perkembangan usaha kita.'' Ayu menepuk pundak Ais. Yakin gadis itu bisa dipercaya.
Diberi kepercayaan yang sangat besar bukanlah hal mudah, Ais pun juga butuh bantuan yang lain untuk mengatur semua nya. Strateginya memang jitu juga cekatan, hingga Ayu tak meragukan kehebatannya dalam berbisnis.
''Ibu mau ke mana?'' tanya Ais setelah diam beberapa menit.
Angga tersenyum. ''Dia hamil, dan aku melarangnya untuk bekerja,'' jawab Angga sesuai kesepakatan.
Ucapan selamat pun diterima Ayu dari beberapa karyawan yang mendengar kabar itu. Bahkan dari mereka langsung mengunggah di media sosial dan menuai banyak komentar positif karena nama Angga dan Ayu memang tak asing di kalangan netizen.
Ayu dan Angga langsung ke rumah Bu Winda untuk menyampaikan kabar baik itu.
''Halo, Ma. Mama ada di mana?'' ucap Angga lewat sambungan telepon.
__ADS_1
''Ini mama mau pergi ke rumah om Surya, ada apa?'' Bu Winda yang hampir keluar mengurungkan niatnya dan kembali duduk di ruang tengah.
''Ini, aku dan Ayu mau ke sana. Ada yang mau dibicarakan.''
Angga membukakan pintu untuk Ayu lalu ia duduk di belakang setir.
''Ya sudah, datang saja. Mama akan batalkan rencana mama, hati-hati di jalan.''
Angga memutus sambungannya. Ia mulai melajukan mobilnya keluar dari kantor.
Angga tidak bisa membayangkan reaksi mamanya saat mendengar Ayu hamil, pasti wanita itu bahagia seperti dirinya yang saat ini berbunga-bunga.
Ternyata cerahnya hari ini memberikan kabar baik padaku. Terima kasih ya Allah, akhirnya Engkau mendengar doaku selama ini.
Rasa syukur kembali terpanjat dalam hati mengiringi perjalanan menuju rumah Bu Winda.
Tiga puluh menit, mobil yang ditumpangi Angga dan Ayu sudah mendarat di depan rumah mewah bu Winda. Mereka turun dan masuk saling bergandengan tangan.
''Kayaknya ada yang bahagia nih?'' tebak Bu Winda menyambut kedatangan putra dan menantunya.
''Kebahagiaan ini tidak untuk kami, tapi untuk mama juga,'' jawab Angga penuh teka-teki.
''Apa?'' Bu Winda semakin penasaran. Menatap mereka yang terlihat penuh senyuman. Terlihat dari mata keduanya yang berbinar memang seperti menyimpan sesuatu.
''Ayu hamil,'' ucap Angga lugas yang sukses membuat bu Winda terpaku.
Air matanya pun lolos begitu saja membanjiri pipinya yang mulai keriput. Ini pun menjadi kado terindah baginya yang selama ini mengharapkan kehadiran cucu dari putra semata wayangnya.
Mereka berpelukan lagi. Terhanyut dalam kebahagiaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata hingga dering ponsel membuyarkan suasana.
Angga merogoh ponsel dari saku jas nya. Melihat layar yang berkelip.
''Tidak ada namanya.'' Angga menunjukkan nomor yang berkelip di layar. Dari poto profilnya pun mereka tak mengenal orang itu.
''Angkat saja, Mas! Mungkin penting.''
Angga menggeser lencana hijau tanda menerima.
__ADS_1
''Halo,'' sapa Angga singkat.
''Halo juga, bisa kita bertemu.'' Suara seorang wanita menyambut sapaan Angga dengan lembut.