
Awalnya Angga memang malas membuka mata. Ia lebih suka bergumul dalam mimpinya yang indah. Namun, setelah melihat nama yang berkelip di layar ponselnya ia langsung melompat dan berlari ke kamar mandi. Tidak mungkin ia menyambut wajah cantik calon istrinya dengan muka yang lesu.
''Sudah tampan belum ya?'' Melihat wajahnya dari pantulan cermin. Mengusap sisa air yang masih membasahi dagunya.
Angga kembali ke ranjang dan duduk bersila. Mengambil ponselnya lagi lalu menggeser lencana hijau tanda menerima.
''Assalamualaikum...'' sapa Angga lebih dulu.
Ayu menjawabnya dengan suara yang begitu lembut menyejukkan. Meskipun tidak menatap, Angga bisa melihat wajah bening Ayu yang mempesona.
''Sudah Sholat Shubuh apa belum?'' tanya Ayu mengingatkan.
''Belum,'' jawab Angga singkat, padat, dan jelas.
''Padahal, aku kira kamu sudah sudah Shubuh, kok belum. Baru bangun ya?'' tebak Ayu sembari tersenyum mengejek.
''Iya sih, tapi sudah tampan, kan?'' Angga membanggakan diri. Memastikan wajahnya benar-benar tampan dan mempesona.
''Tampan bukan jaminan masuk surga. Untuk apa dibanggakan. Ayu tak segan-segan berkata menohok jika ada sesuatu yang membuat hatinya menjanggal.
''Iya aku tahu. Tapi kalau aku nggak tampan pasti kamu nggak mau, kan?'' kilah Angga yang tak henti-hentinya mengusap pipi Ayu dari layar ponsel.
Ayu sedikit mengangkat wajahnya. Menatap layar ponsel.
''Tampan atau jelek itu adalah ciptaan Allah. Manusia hanya bisa menerima, apapun yang diberikan pada kita, pasti itu yang terbaik. Terkadang aku juga mengeluh dengan keadaan, tapi semua itu kita kembalikan kepada sang pemilik.''
Angga menyangga dagunya. Ia terus menatap wajah cantik Ayu. meskipun hanya lewat ponsel, seolah-olah ia berada di hadapan wanita itu.
''Seandainya kita sudah menikah, Yu. Aku pasti memeluk kamu. Pokoknya bangun tidur aku akan langsung mencium mu, menggodamu, semalaman penuh aku nggak akan melepaskanmu,'' ucap Angga konyol.
Otaknya traveling membayangkan saat ia bisa berbaring di sisi Ayu, pasti akan lebih malas lagi untuk bangun
''Sudah, sekarang cepetan Shubuh. Aku mau masak dulu,'' suruh Ayu dengan tegas.
''Baiklah, Sayang. Nanti aku mampir ke rumah, kalau masak yang enak ya, dandan yang cantik biar calon suamimu ini betah di rumah.''
__ADS_1
''Ngawur.'' Ayu segera mematikan ponselnya daripada menerima gombalan-gombalan yang tak bermutu dari bibir Angga.
Usai menjalankan kewajibannya, Angga menemui Bu Winda yang nampak termenung di teras samping rumah.
''Mikirin apa, Ma?'' tanya Angga menarik kursi dan duduk di samping sang mama.
''Mikirin kamu?'' jawab Bu Winda dengan wajah yang sayu.
''Mama nggak usah mikirin aku. Aku sudah dewasa. Seharusnya aku yang mikirin Mama. Menjaga Mama seperti wasiat dari papa.'' Angga mengingatkan pada permintaan terakhir papanya.
''Kata om Surya semalam dia main ke rumah Ayu. Tapi anak-anak sudah tidur.'' Angga mencoba mencairkan suasana hati bu Winda yang mungkin masih tertutup untuk Ayu.
''Sampai kapan kamu membahas perempuan itu?'' Bu Winda memalingkan pandangannya.
''Kemarin aku sudah bilang ke mama, kalau aku akan tetap menikahi Ayu. Hanya satu yang aku minta yaitu dukungan, Mama.''
Bu Winda melengos seakan ia belum menerima sepenuhnya kehadiran Ayu. Meskipun wanita itu adalah salah satu dari keluarga besar kerabatnya, tetap saja statusnya adalah janda dan memiliki anak.
''Banyak wanita lain lo, Ga. Apa kamu nggak malu sama saudara-saudaramu yang lain mempunyai istri seorang janda?'' Angga tertawa lepas kemudian memeluk bu Winda.
''Aku nggak akan pernah malu, Ma. Justru aku akan malu kalau mempunyai istri yang tidak sholehah. Aku mencari istri bukan untuk menjagaku saja, tapi untuk Mama juga. Aku ingin dia patuh padaku dan Mama. Seorang Istri harus bisa menjaga keluarga suaminya, menjunjung tinggi martabat dan semua itu aku dapatkan dari Ayu. Aku harap Mama bisa mengerti perasaanku.''
''Nanti mama akan bicara dengan om Surya.'' Bu Winda beranjak pergi meninggalkan Angga.
Seperti ucapannya tadi pagi, Angga mampir ke rumah Ayu.
Ia disambut ramah oleh si bungsu yang kini mulai lebih pintar.
''Hanan dan Alifah sudah berangkat?'' Angga memeriksa sepeda Hanan yang tidak nampak di tempatnya.
''Sudah, Mas. Hari ini aku juga mau berangkat ke rumah Irma. Aku mau mencoba berdagang online dengan dia.''
''Maksud kamu?'' Angga penasaran
Ayu menghentikan aktivitasnya. Menghampiri Angga yang duduk dengan tenang. Meskipun mereka masih calon suami istri yang belum mendapat restu, tetap saja Ayu menghargai pria itu. Dan akan meminta izin padanya dengan apa yang akan dilakukan.
__ADS_1
''Aku punya tabungan, dan rencananya mau jualan online sendiri. Buka di rumah. Kayaknya seperti itu lebih enak daripada jadi karyawan. Lagipula sekarang Adiba sudah pintar bisa main sendiri, jadi kayaknya aku harus berkembang deh Mas. Aku nggak mau ikut orang terus.''
Hampir semalaman Ayu menimbang itu, dan akhirnya ia yakin dengan keputusannya.
Angga hanya bisa mengangkat jempol. Lalu merentangkan tangannya tanpa bisa memeluk. Ia hanya menahan dadanya yang kini berdebar-debar saat berdekatan dengan Ayu.
''Harus sampai kapan aku seperti ini, Yu? Ayolah kita menikah.''
''Sabar, Mas. Orang sabar pasti di sayang Allah. Bagaimana, kamu setuju apa tidak?'' Ayu menarik lengan Angga.
Angga mengangguk, itu artinya setuju.
''Nanti kamu kirim rekening ke nomorku, aku akan kirim uang.''
''Gak usah,'' tolak Ayu seketika. Ia izin bukan berarti minta dana, akan tetapi minta doa restu supaya dilancarkan rezekinya dan juga berkah.
''Aku rasa uangku sudah cukup, Mas. Gak usah kamu kirim, lagi pula aku punya tabungan yang lain kok. Hanan kan belum daftar sekolah, jadi aku bisa pakai uangnya dulu. Nanti kalau sudah dapat, pasti aku kembalikan.''
''Oke, sekarang kamu bisa menolakku, tapi nanti kamu nggak akan bisa menolaknya lagi,'' tegas Angga.
''Oh iya, tadi om Surya bilang, katanya semalam dia ke sini dan kamu langsung memaafkan dia?''
''Aku gak mau dendam pada keluargaku. Apalagi om Surya sudah mengakui kesalahannya.''
Drtt drtt drtt
Bunyi ponsel milik Angga berdering. Ia segera melihatnya.
"Tuan Louis, ngapain dia menghubungi ku?"
Angga berdiri mencari tempat yang sepi untuk berbicara.
"Segera datang ke restoran, Tuan. Saya sudah tiba di bandara."
Mendengar itu membuat Angga cepat-cepat keluar. ''Sayang, aku harus ke kantor. Ada tamu dari Jerman dan katanya ada yang mau dibicarakan."
__ADS_1
Meskipun tak bisa makan bersama, Angga tetap mencicipi makanan yang sudah disiapkan untuknya.
"Hati-hati, Mas. Jangan lupa tetap optimis."