Janda Tangguh

Janda Tangguh
Sah


__ADS_3

''Apa ini gak terlalu mencolok?'' tanya Ayu pada MUA yang masih sibuk merias wajahnya. 


Setiap kali melihat penampilannya, selalu saja berkomentar. Takut berlebihan dan akan ditertawakan semua orang.


''Tidak, Mbak. Ini sudah sangat pas,'' jawab MUA menjelaskan. 


Ayu menghela napas dalam-dalam. ''Tapi umur saya sudah tiga puluh lima, bahkan hampir menginjak tiga puluh enam. Sudah tua.'' Jika mengingat umur ia selalu minder. 


''Umur tidak masalah. Wajah Mbak masih kelihatan muda, bahkan seperti perawan,'' pujinya. 


Ayu tertawa menggelitik, bagaimana bisa ia yang sudah terlalu tua disebut seperti perawan. Apakah itu adil?


Untuk acara akad Ayu memakai kebaya pengantin hijab berwarna putih rancangan dari desainer ternama. Ia terlihat semakin cantik dan memukau. Kebaya pilihan Angga itu memiliki detail bebatuan yang terlihat seperti choker di area leher. Sentuhan mewah juga diberikan di area dada hingga perut dengan penempatan bebatuan serupa bros. Sangat cantik dan anggun.


Siapa sangka, seorang pembisnis hebat pun bisa memilih baju yang pas untuk sang calon istri. Tidak diragukan lagi bahwa Angga pintar dalam segala hal. Termasuk fashion. 


''Saya yakin pak Angga pasti tidak akan tahan lagi. Setelah akad nanti mbak harus siap-siap,'' bisik MUA yang membuat bulu halus Ayu berdiri. 


Pintu diketuk dari arah luar. Seorang pelayan membukanya. 


Ternyata Adiba dan Alifa yang datang. 


Sama seperti Ayu, mereka berdua pun memakai baju yang berwarna putih. 


''Kita disuruh jemput mama,'' ucap Alifa seperti yang diucapkan Angga.


Ayu menghampiri kedua anaknya. Ia keluar dari kamar itu didampingi Adiba dan Alifa juga beberapa orang. 


''Tunggu di sini. Setelah akad selesai nanti, Mbak baru boleh turun. Itu permintaan pak Angga.''


Jangan ditanya, jantung Ayu berdegup kencang saat penghulu memulai acaranya. Gugup melanda membuatnya salah tingkah. 


''Relaks, Yu. Tarik napas, hembuskan,'' ucap Irma memberi instruksi. 


Aku gak boleh gugup. Itu hanya akan menguntungkan mas Angga. 


Ayu kembali fokus mendengarkan acara sakral yang sudah digelar itu. 


Hingga beberapa menit kemudian, ucapan sah menggema memenuhi gedung berlantai tiga itu. 

__ADS_1


Tanpa disadari Ayu menitihkan air mata. Ia tak sanggup lagi berkata atas apa yang terjadi saat ini. Seakan ia terbangun dari mimpi buruk. 


''Selamat ya, Yu.'' Ucapan selamat mulai mengalir dari semua orang terdekat, termasuk tante Siwi dan Erlina. Mereka memeluk Ayu bergantian. 


''Om yakin, Angga akan membahagiakan kamu seperti membahagiakan mbak Yu.'' Om Surya menepuk pundak sang keponakan. 


Ayu mengangguk. Ia yakin bahwa pria yang saat ini menyusuri tangga itu akan membawanya ke kehidupan baru yang lebih baik dan cerah. 


Jika Ayu sangat cantik dengan balutan kebaya putih nya, Angga pun sama. Pria itu tampak tampan dengan jas putih dan peci dengan warna yang senada. 


Mereka berdiri saling berhadapan. Meskipun jarak jauh namun hatinya sudah menyatu satu sama lain. 


Tidak ada kata-kata yang terungkap. Akan tetapi, dari pandangan keduanya mampu menggambarkan sebuah cinta yang sangat besar. 


''Sampai kapan kamu berdiri di sini?" Ikram menyenggol lengan Angga dengan sikunya. 


Kini ia sudah lebih tenang dan mendukung penuh atas pernikahan itu. 


Angga tersenyum kecil. Kakinya mulai melangkah mendekati Ayu yang nampak malu-malu. 


Tak ada kata yang tersemat. Dari sorot matanya itu sudah menunjukkan ungkapan cinta yang mendalam. 


Ayu menatap semua orang bergantian lalu tersenyum. Mengangkat tangannya yang sedikit gemetar lalu meraih uluran tangan sang suami dan menciumnya. 


Suara tepuk tangan mengiringi disaat Ayu meneteskan air mata bahagia di punggung tangan Angga. 


''Aku mencintaimu,'' ungkap Angga selanjutnya. 


Ayu melepaskan tangan pria itu. Lalu mendongak lebih mendekat lagi. 


Tanpa aba-aba, Angga mencium kening sang istri dengan lembut. 


Sungguh, ini membuat Ayu malu setengah mati. Terlebih, Angga sepertinya enggan mengakhiri ciuman itu membuatnya tak bisa berkutik lagi. 


''Sudah, Ga. Kamu gak lihat tamunya nungguin dibawah.'' Om Surya menepuk lengan sang keponakan yang sepertinya melupakan acara.


''Lanjutnya nanti malam,'' bisik Erlina di telinga Angga. ''Itupun kalau mbak Ayu gak capek, tapi kalau dia sudah kelelahan jangan dipaksakan,'' imbuhnya. 


Angga menggandeng tangan Ayu. Mereka menuju tempat yang sudah dipenuhi dengan tamu undangan. Pesta sesi pertama itu memang hanya dihadiri kerabat dan orang terdekat saja, tapi mereka juga cukup banyak. Bahkan jumlahnya mengalahkan pesta kedua dan ketiga.

__ADS_1


Orang yang pertama kali Ayu dan Angga temui adalah Bu Winda. Satu-satunya wanita yang paling mulia dalam hidup mereka saat ini.


Tangis haru kembali terjadi saat Ayu dan Angga mencium kaki wanita itu.


''Doa mama selalu untuk kalian.'' Mengusap punggung anak dan menantunya.


''Selamat, Ga. Aku gak nyangka akhirnya kamu menikah juga,'' ucap seorang wanita dengan nada mengejek. 


Anga tersenyum kecil. ''Terimakasih ya, Mel. Kamu sudah datang ke pernikahan ku,'' jawab Angga bahagia. 


Ya, dia itu adalah Melati, wanita yang beberapa menit lalu sempat bertemu dengan Ikram dan Harini. 


Angga menggeser tubuhnya beralih berdiri di depan bu Nanda. ''Oma apa kabar?'' Angga memeluk wanita itu dengan erat. 


''Oma baik, mentang-mentang sudah sukses gak pernah main ke rumah oma.'' Bu Nanda menepuk lengan Angga dengan pelan. 


Mereka berbincang seperti hal nya Ayu dan Melati yang baru berkenalan. 


''Kamu janda?'' tanya Ayu pada Melati yang baru saja mengatakan statusnya. 


Melati mengangguk tanpa suara. Dari raut wajahnya seolah masih menyimpan berjuta masalah.


''Yang sabar, aku juga janda bahkan memiliki tiga anak yang masih sangat kecil. Tapi dengan berjalannya waktu aku bisa bangkit dan menjadi ibu yang sukses,'' tutur Ayu memberi semangat. 


Melati memeluk Ayu. Meskipun mereka baru mengenal tapi sudah lumayan akrab. Apalagi jejak Ayu sudah tersebar di telinga seluruh keluarga karena Angga menceritakan sosok wanita yang dinikahi itu apa adanya tanpa ada yang ditutupi.


''Semoga aku juga bisa menjadi seperti, Mbak. Aku harus bisa membuktikan pada mantan kalau aku juga bisa hidup tanpa dia.'' Melati melepaskan pelukannya. 


''Ini istriku, Oma. Cantik, kan?" Angga merangkul pundak Ayu, memamerkan wanita itu di depan bu Nanda. 


Ayu pun memeluknya layaknya yang dilakukan pada keluarga lain.


''Cantik, kamu memang gak salah pilih.'' Mengelus pipi Ayu yang kelewat mulus. Menatap lekat manik mata sang cucu menantu.


''Dia masih saudara dengan Siwi, Bu De,'' sahut Om Surya dari arah samping. 


''Benarkah? Kenapa aku gak tahu?kalian pasti menyembunyikan ini dariku.'' Bu Nanda mulai sewot. 


Melati segera mengajaknya turun takut kemarahannya itu melampaui batas dan menggegerkan acara. 

__ADS_1


__ADS_2