
"Aku kangen sama papa Angga, Ma,'' rengek Alifa, anak kedua Ayu.
"Papa Angga sibuk, Nak.'' Ayu meletakkan ponselnya dan beralih fokus pada Alifa.
Sudah tiga hari Angga tak datang kerumah membuat anak-anak rindu pada sosoknya. Tak hanya perlakuannya yang baik, namun juga kehadirannya dan kehangatannya.
"Apa sayang nya papa Angga itu hilang seperti papa Ikram? Apa ini karena aku, Ma?'' Hanan ikut mendekat dengan wajah murungnya.
Ayu mengusap lembut pipi sang buah hati lalu beralih duduk di sampingnya. Mengusap lengan Hanan, satu-satunya anak yang paling kangen dengan Angga.
"Gak, Nak. Papa Angga sudah bilang ke mama kalau dia memang gak bisa datang ke sini karena sibuk,'' tuturnya dengan lembut.
Ayu menarik napas dalam-dalam menatap ke arah depan. Tidak hanya anak-anak, ia pun berharap Angga datang.
Bener apa kata mereka, tumben mas Angga gak datang ke sini. Apa ini karena dia marah sama aku atau sibuk. Kenapa gak memberi kabar?
Ayu menatap layar ponselnya berharap ada kabar dari Angga. Namun nihil, tidak ada apapun selain pesan dari pelanggan.
"Kalau kemarin nganterin Rani ke rumah sakit lalu sekarang ke mana? Apa ngurusin Elisa pindahan?''
Tak dapat dipungkiri ada rasa cemas yang membelenggu. Namun, Ayu kembali memikirkan tentang semua kata-kata bu Winda yang memang tak menganggap kehadirannya.
Kalau memang ada perempuan yang lebih baik gak papa aku akan terima, semoga mas Angga bahagia.
Itulah Ayu, ia tidak pernah memberatkan orang lain, ia hanya ingin kebahagiaan untuk mereka yang baik. Namun, kini harus mencari alasan supaya anak-anak tidak mengharapkan kehadirannya lagi.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuyarkan candaan Ayu dan anak-anak.
''Pasti itu papa Angga.'' Hanan berlari ke arah untuk membuka pintu.
Semoga itu beneran kamu, Mas.
Tak lama kemudian anak-anak kembali dengan wajah merengut dan duduk di tempat semula.
"Loh kenapa? Bukannya papa Angga datang?'' Ayu mencoba melihat siapa tamu yang datang, namun karena pintunya sedikit tertutup hingga membuatnya tak nampak.
''Ini aku, Yu.'' Suara berat menyapa. Itu bukan suara Angga melainkan suara Ikram.
"Eh mas Ikram, sebentar, Mas,'' ucap Ayu menurunkan Alifa.
__ADS_1
"Mama keluar sebentar ya. Kamu tunggu di sini.''
Ayu mengusap pucuk kepala anak-anak lalu keluar menghampiri Ikram yang masih berdiri di ambang pintu.
"Ada apa, mas?'' tanya Ayu mempersilahkan Ikram duduk.
"Gak ada papa, aku cuma kangen anak-anak saja.''
"O, Ayu segera ke belakang dan membuatkan minuman. Sementara Alifa duduk di pangkuan Ikram. Sedangkan Hanan sudah dipastikan tidak mau keluar dari sarangnya.
"Bagaimana keadaan Rani, Mas? Apa dia sudah lebih baik?'' tanya Ayu menyuguhi secangkir kopi hitam didepan Ikram.
Ikram tak menjawab, ia hanya teringat dengan perilaku Rani selama beberapa hari ini.
"Kalau dari fisik dia sih baik-baik saja. Kata dokter juga gak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi semakin hari dia seperti menjauh dariku.''
Ayu mengerutkan dahi.
"Menjauh? Maksud kamu apa?'' Ayu duduk di depan Ikram terhalang meja.
"Sejak aku datang waktu itu, dia seperti menjauhiku. Dia bilang lebih nyaman kalau ada didekat Angga, sampai ke rumah sakit pun bersama dengan Angga. Aku gak bisa berbuat apa-apa, dia bilang hanya ingin menyesuaikan diri.''
"Apa mas Angga sering datang ke rumah kamu?'' tanya Ayu menyelidik.
Ayu menggeleng. Angga memang seperti menjauhinya, akan tetapi Ayu tidak pernah berpikir ke sana. Ia pikir Angga benar-benar sibuk seperti biasa.
Sampai kapan dia marah padaku. Apa yang harus aku lakukan supaya dia mau menerimaku sebagai temannya.
Dari lubuk hati terdalam Ikram tersiksa, namun ia hanya bisa bersabar dengan sikap tak acuh istrinya.
"Biarkan saja, Mas. Kalau itu yang membuat Rani nyaman. Setidaknya ada perkembangan. Semoga dia cepat sembuh.''
Ayu tetap optimis dan mengusir semua prasangka buruk. Berharap Angga tetap teguh pada imannya sekalipun mencintai tidak mungkin memilih istri orang.
"Aku ke sini cuma mau memberikan ini.''
Memberikan amplop coklat pada Ayu.
"Gak usah, Mas. Lebih baik kamu simpan untuk Rani. Dia lebih membutuhkan.'' Ayu menolak secara terang-terangan. Ia tidak mau membebani Ikram yang sudah susah. Meskipun sebenarnya masih anak-anak tanggung jawab pria itu. Ia sudah bisa mencukupi kebutuhan mereka.
"Gak papa, Yu. Sekali-kali kamu terima.'' Ikram sedikit memaksa dan berharap Ayu menerimanya.
__ADS_1
"Baiklah, aku terima.'' Ayu mengambil uang itu dan membawanya ke kamar. Meletakkannya di atas meja lalu menunjukkan pada Hanan.
''Uang dari papa Ikram,'' ucap Ayu tanpa suara.
"Kita jalan yuk, Ma. Kayaknya pulpenku habi.''
"Siap, kita berangkat sekarang.'' Ayu mengangkat tangannya dan meletakkan di kepala tanda hormat. Ia tetap ceria meskipun dalam hati sedih memikirkan Angga.
"Mas kamu tunggu rumah ya, aku mau keluar sebentar mengantar Hanan beli pulpen,'' pamit Ayu merapikan hijabnya.
''Iya, aku akan menjaga anak-anak dengan senang hati.'' Ikram memenuhi perintah Ayu.
Keberadaannya di tengah anak-anak seakan memberikan suasana baru dalam hidupnya. Terlebih pernikahannya dengan Rani tak dikaruniai anak dan itu membuat Ikram kesepian.
Ayu pergi ke toko alat tulis. Selain membeli peralatan sekolah untuk Hanan, ia juga membeli makanan siap saji untuk makan malam.
Tak sengaja, Hanan melihat Angga yang sedang berjalan dengan seorang wanita.
''Itu papa Angga, Ma", ucap Hanan kegirangan sembari menepuk-nepuk lengan Ayu.
"Mana?'' Ayu menoleh ke arah tangan Hanan menunjuk.
Betapa terkejutnya melihat Angga dan Rani saling bercanda di sela langkahnya.
"Pap __" Ayu segera membungkam bibir Hanan dan menariknya ke belakang. Bersembunyi dibalik pengunjung lain.
Angga yang ada tak jauh dari tempat itu menoleh. Mencari suara nyaring yang hanya sekejap.
Tadi sepertinya ada yang berteriak tapi di mana?
"Kamu mencari siapa, Mas?" tanya Rani dengan lembut. Sejak dinyatakan amnesia, sikap Rani memang agak jauh berbeda dan lebih ramah pada setiap orang.
Angga menggeleng setelah memastikan tidak ada apapun. Melanjutkan langkahnya menuju mobil lalu pergi.
Ayu membuka mulut Hanan dan berdiri di depan bocah itu.
"Jangan sering panggil papa Hanan, dia itu sibuk", tutur Ayu bernada lembut. Berharap Hanan paham dengan kata-katanya.
Hanan mengangguk dan mencoba mengerti akan hal itu.
"Ada apa denganmu, Mas. Kenapa kamu berubah, lalu kenapa kamu harus janji padaku.''
__ADS_1
Ada sedikit kecewa yang dirasakan Ayu, namun ia mencoba untuk tegar dan berharap Angga tak salah pilih.