
Angga merapikan penampilannya di depan cermin. Memuji ketampanan yang jauh diatas rata-rata. Berkali-kali merombak gaya rambut yang sudah kental dengan gaya khas aktor korea.
"Jangan panggil aku Angga jika tak bisa menyatukan Ayu dan mama," ucapnya meyakinkan diri sendiri.
Pagi ini wajahnya tampak berseri. Percakapannya semalam membawa banyak perubahan. Kehadiran Ayu membuat harinya lebih berwarna.
"Aku harus pura-pura cuek." Memasang wajah cemberut.
Membuka pintu kamar. Matanya menyusuri ruang tengah menatap Bu Winda yang sudah menunggu di ruang makan.
Angga keluar dari kamarnya berjalan ke arah pintu depan. Namun, langkahnya berhenti saat suara bu Winda memanggilnya.
"Kamu gak sarapan?" tanya nya dari arah jauh.
Dari relung terdalam, Angga kasihan jika harus bersandiwara, namun itu harus ia lakukan demi masa depannya.
"Gak lapar," jawab Angga ketus.
Bu Winda mengerutkan alisnya. Sekian lama, ini pertama kali Angga bicara singkat padanya. Bahkan, pria itu tak mengucapkan selamat pagi seperti biasa.
Dentuman sepatu dan lantai terdengar semakin dekat kemudian berhenti tepat di belakangnya.
"Kamu kenapa?" tanya bu Winda serius. Tak merasa sikap Angga salah akibat dari ulahnya.
"Kamu kenapa?" Angga menirukan ucapan bu Winda dengan bibir meleyot.
"Apa ini karena si janda itu?" tanya Bu Winda memastikan.
Angga membisu. Enggan untuk menjelaskannya lagi pada Bu Winda.
"Dasar janda gatel, menggoda," imbuhnya menjelekkan Ayu.
"Namanya Ayu. Mama bisa memanggil namanya," terang nya.
"Siapapun namanya mama gak peduli," timpal bu Winda dengan nada sinis.
Selama ini aku selalu mencoba memahami perasaan mama, tapi mama yang gak ngertiin aku.
"Kalau iya kenapa? Apa Mama akan merestui ku?" jawab Angga dengan posisi tetap memunggungi Bu Winda.
Jika saling tatap takut akan terjadi perdebatan sengit.
"Tidak," jawab bu Winda cepat, sedikitpun tak ada tempat untuk memasukkan nama Ayu dalam list keluarganya.
Angga mengepalkan kedua tangannya. Geram dengan keangkuhan mamanya yang luar biasa.
__ADS_1
"Aku pergi dulu," pamit Angga melanjutkan langkahnya. Ia takut tak terkendali dan akan melampiaskan kemarahannya.
"Sampai kapanpun mama tidak akan merestui hubunganmu dan Ayu," teriak Bu Winda dengan lantang.
Namun, itu tak membuat Angga mundur, justru ia semakin nekat dan akan berjuang lagi demi mendapatkan kebahagiaannya.
Bu Winda tersenyum saat mobil yang ditumpangi Angga menghilang di balik gerbang.
"Aku tahu caranya supaya kamu melupakan janda itu."
Berjalan menuju ruang tengah. Lalu, mengambil ponselnya. Tak lama kemudian Bu winda berbicara serius dengan seseorang yang ada di balik ponselnya.
Selama perjalanan Angga terus menggerutu dengan sikap angkuh mamanya. Satu-satunya jalan ia harus meminta bantuan sang paman jika tak berhasil meruntuhkan hati wanita tersebut.
"Aku harus ke rumah Ayu." Melihat jam yang melingkar di tangannya. Membanting Setir ke arah rumah Ayu yang juga tak jauh dari kantornya.
Sebab, hanya bertemu dengan wanita itu bisa mengembalikan semangatnya yang patah. Angga juga berencana akan bertemu dengan pamannya diwaktu yang tepat untuk membahas tentang hubungannya dengan Ayu.
Ayu menggeliat. Tangannya mengulur meraih ponsel yang ada di meja samping ranjang.
''Astagfirullah...'' Bergegas bangun, menguncir rambutn dengan asal. Merapikan mukena yang masih berantakan di atas sajadah. Menatap Adiba yang masih terlelap, sedangkan Alifa nampak sibuk mewarnai.
''Mama keluar dulu ya, Nak,'' pamit Ayu membuka pintu kamar.
"Kamu sudah siap? Maafkan mama tadi ketiduran,'' ujar Ayu membantu memeriksa tas Hanan.
''Gak papa, Ma.'' Hanan tersenyum memaklumi sang mama yang super sibuk.
''Seharusnya ini pekerjaan mama, bukan kamu.'' Membantu memakai dasi.
Hanan bisa melihat guratan lelah di wajah wanita yang ada di depannya. Mana mungkin ia tega membangunkan Ayu yang masih tertidur. Sedangkan, ia bisa menyiapkan kebutuhannya sendiri.
''Aku sudah besar, Ma. Jangan khawatir,'' ucap Hanan meyakinkan.
Ayu mengusap wajahnya memasukkan bekal makanan ke dalam tas sang putra lalu mengantarkan di belakang pintu karena tak memakai hijab.
Baru saja membalikkan tubuh, suara berat mengucap salam dari arah luar. Ayu terpaku. Ingon menoleh, namun ia sadar bahwa saat ini kelapanya terbuka.
Seperti suara Angga. Tapi masa sih pagi-pagi dia ke sini? Bukankah semalam dia bilang akan pergi ke kantor pagi sekali.
Ayu berjalan pelan menuju ke arah pintu kamar. Menghentikan langkahnya di sana saat tidak ada suara lagi.
Apa mungkin aku yang salah dengar.
Ayu menoleh, betapa terkejutnya melihat Angga berdiri tak jauh darinya. Ayu segera masuk ke kamar dan menutup pintu membuat Angga terkekeh dengan tingkah nya.
__ADS_1
Ternyata dia sangat cantik, kira-kira rambutnya panjang apa pendek ya.
Otak mesum sang bujangan mulai beraksi, namun Angga menepis nya sebelum ia menghalalkan wanita itu.
Tak berselang lama Ayu keluar dengan sekujur tubuh yang tertutup sepenuhnya. Menyapa Angga dengan sopan dan lembut kayaknya sang Tuan rumah dan tamu.
"Ngapain ke sini?" tanya Ayu malu-malu, masih teringat tentang kejadian beberapa menit yang lalu.
Angga mendengus. Ia duduk tanpa menjawab pertanyaan Ayu.
"Apa ada masalah di kantor?" tanya Ayu lagi.
Angga menggeleng berat. "Di mana Adiba dan Alifa?" tanya nya.
"Mereka di kamar. Tunggu dulu aku buatkan kopi."
"Gak usah," sergah Angga menghentikan langkah Ayu.
Suasana kembali canggung. Angga terus menatap Ayu dengan intens.
"Bagaimana perasaanmu padaku, Yu?" tanya Angga tiba-tiba yang membuat Ayu bingung.
Ayu mengangkat kedua bahunya. Dalam hati kecilnya, ia merasa nyaman saat didekat pria itu. Namun, ia tak ingin mengakuinya. Takut jika apa yang ia rasakan itu hanya sebatas perasaan seorang sahabat dan disalah artikan oleh Angga.
"Kamu gak kerja?" Angga mengalihkan pembicaraan. Menatap penampilan Ayu yang masih memakai daster rumahan.
"Sebentar lagi. Kamu ngapain ke sini? Bukannya ini waktu kamu kerja," Ayu balik tanya.
"Aku akan lebih bersemangat jika melihat wajah calon istriku sebelum kerja."
Seketika wajah Ayu tersipu dengan kata-kata absurd dari Angga. Ia tak bisa berkutik lagi jika pria itu sudah mengeluarkan jurus monyet nya.
"Cepat pergi, sudah siang." Ayu menarik lengan Angga. Ia tak ingin terjebak dalam alunan cinta sesaat. Terlebih, pria itu tak henti-hentinya merayu.
Meskipun masih malu-malu, Angga bisa melihat semburat cinta di wajah wanita itu.
"Cium dulu dong." Menunjuk pipinya dengan satu jari.
Sontak itu membuat Ayu kesal dan mendorong Angga hingga ke teras.
Ayu menutup pintu dan menguncinya. Menyandarkan punggung di dinding. Satu tangannya mengusap dadanya yang saat ini berdebar-debar.
"Aku berangkat dulu, Sayang. Jaga diri baik-baik. Salam untuk anak-anak,'' teriak Angga dari arah luar.
Ayu hanya tersenyum kecil dan menggelengkan kepala.
__ADS_1