Janda Tangguh

Janda Tangguh
Layyana Shop


__ADS_3

Ayu memberi nama tokonya dengan sebutan Layyana Shop. Berharap nama itu akan membawanya pada kesuksesan seperti yang diimpikan. Hari pertama bekerja ia sudah disibukkan dengan peminat setelah mempost di sebuah jejaring sosial. 


Meskipun saat ini barang-barang yang ada di toko belum sepenuhnya lengkap, ia tetap berusaha memenuhi permintaan mereka. 


Selain melayani secara online, Ayu juga membuka toko itu untuk memudahkan mereka yang ingin melihat barangnya secara langsung. 


Di hari pertamanya Ayu juga memberikan harga spesial untuk menarik pelanggan. Memastikan mereka merasa nyaman saat berbelanja di tempatnya. Sambil melayani pelanggan yang datang juga meng konfirmasi dengan mereka yang memesan melalui ponsel. 


"Ternyata ribet juga, ya." Ayu menatap Adiba yang nampak anteng dengan mainannya. Lalu menghampiri seorang wanita yang baru saja masuk. 


"Selamat datang di toko Layyana Shop. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Ayu dengan ramah. 


Semestinya itu diucapkan pelayan, namun karena belum punya modal untuk membayar orang, Ayu melakukannya sendiri. 


Wanita itu menatap beberapa baju yang berjejer di gantungan. 


Tak lama kemudian ada dua orang wanita berseragam yang sama itu menyusul. Seperti tadi, Ayu pun menyambutnya dengan ramah. 


"Selamat siang, Bu." Dua wanita itu menyapa  Ayu dengan ramah dan membungkuk layaknya pegawai pada bosnya. 


"Siang," jawab Ayu bingung. Dari penampilannya mereka seperti karyawan. Namun, ia tak tahu apa tujuannya datang. 


"Kami ingin melamar kerja di tempat ini. Apa ada lowongan?" tanya nya masih dengan nada ramah. 


"Maaf, Mbak. Toko ini baru dibuka, jadi belum mencari pegawai," jawab Ayu. 


Bunyi ponsel membuyarkan percakapan mereka. Itu adalah telepon dari Riska. 


Ayu segera menggeser lencana hijau tanda menerima. 


"Ada apa, Ris?" tanya Ayu masih berdiri di depan dua wanita tadi. 


"Tadi saya kirim dua orang, namanya Nita dan Ais. Apa dia sudah tiba, Bu?" tanya Riska dari balik telepon. 


Ayu menatap kedua orang yang saat ini mengangguk dan saling melempar senyum. 


"Orang nya memakai seragam?" tanya Ayu memastikan. 

__ADS_1


"Benar sekali, Bu," jawab Riska seperti yang seperti Ayu katakan. 


"Ini ada dua orang datang, tapi aku belum tahu siapa namanya. Mungkin saja orang suruhan kamu. Memangnya ada apa?" tanya Ayu menyelidik. 


Riska tersenyum kecil. 


"Sebenarnya bukan saya sih, Bu. Itu pak Angga yang suruh. Beliau menyuruh mereka membantu Ibu di toko. Masalah bayaran tenang saja, Ibu bisa membayarnya di akhir bulan." 


Untuk yang kesekian kali Angga menjadi pahlawannya. Pria itu tahu apa yang Ayu butuhkan termasuk hal kecil sekalipun. 


"Baiklah makasih ya, Ris. Tolong sampaikan pada pak Angga kalau bantuan dari dia sudah ditutup," ucap Ayu tegas. Berharap Angga mau menuruti permintaannya. 


Ayu menyuruh Ais dan Nita masuk. Mereka langsung pada pekerjaan yang memang seharusnya dilakukan orang karyawan. 


Sementara Ayu memeriksa barang yang berdatangan silih berganti.


"Maaf ya, Mbak. Aku tinggal sebentar," pamit Ayu pada kedua karyawan barunya. 


Ia melayani pelanggan yang tadi datang untuk membantunya memilih baju. Memberikan saran bagi mereka yang butuh bantuan. Mempromosikan semua yang ada toko itu. Satu persatu memperkenalkan model terbaru.


Ayu tersenyum melihat merk dan juga ukurannya. 


"Ada, Bu. Tapi warnanya sama. Kalau ibu mau, besok saya akan kirim langsung ke rumah," tawar Ayu. 


"Boleh, saya akan berterima kasih sekali. Nanti kirim gambarnya." Meletakkan lagi dress yang membuat matanya terpana. 


Ayu mengambil buku. Mencatat alamat pelanggan kemudian menyimpannya. Lantas, ia menghubungi penjual yang berskala besar. Sebab, saat ini uang Ayu belum mencukupi untuk mengambil banyak barang, dan mungkin akan bertahap. 


Jam sudah menunjukkan pukul sembilan, itu artinya waktunya Alifa pulang. Ayu yang dari tadi sibuk memisahkan pakaian itu beranjak dari duduknya. 


"Mbak, tolong jangan Adiba juga ya, aku harus menjemput Alifa di sekolah," pinta nya pada Ais yang menyusun baju di lemari. Merapikan penampilannya memastikan bahwa ia selalu cantik saat keluar. 


"Baik, Bu. Saya akan menjaga Adiba." Ais mendekati Adiba dan mulai berinteraksi dengan bocah tersebut. 


Ayu bergegas keluar dari toko dan melajukan motornya menuju sekolah Alifa. Sekalian membeli makanan untuk mereka makan siang nanti.


"Sepertinya tinggal di ruko akan lebih mudah."

__ADS_1


Ayu memikirkan cara supaya ia lebih mudah dan fokus dengan pekerjaannya. Tidak bolak balik ke rumah dan ke toko seperti saat ini. Mungkin menempati toko itu tidak membuang waktunya yang berharga. Terlebih, tempat itu sudah lengkap dan tak perlu direnovasi lagi. 


Berpikir ulang dan akhirnya ia memutuskan tinggal di ruko supaya lebih menghemat pengeluaran. 


Sebelum Ayu ke sekolah Alifa, ia pulang terlebih dulu. Mengambil baju milik anak-anak dan juga miliknya. Sedikit demi sedikit akan membawanya ke tempat yang baru. 


"Mau ke mana, Yu?" Bi Ninik datang menghampiri Ayu yang  sibuk memasukkan bajunya ke dalam tas. 


Ayu tersenyum. Meraih tangan bi Ninik. Satu-satunya orang yang membantunya ketika tenggelam dalam kemiskinan. 


"Aku menyewa ruko, Bu. Rencananya aku dan anak-anak mau tinggal di sana supaya lebih hemat. Lumayan, kan uangnya buat tabungan Hanan sekolah nanti."


Ninik mengangguk setuju, ia pun tak memberatkan Ayu dan akan mendukung apapun keputusan wanita tersebut.


"Kapan-kapan aku boleh dong datang ke toko mu?" ucap bi Ninik penasaran. Ia melihat dari sosmed toko Ayu yang sangat menggiurkan dengan tawarannya. 


"Toko dibuka untuk umum. Jadi Ibu gak perlu khawatir. Tapi aku buka sampai jam delapan saja, karena harus membantu anak-anak belajar  juga menulis."


Ninik pun membantu Ayu untuk membereskan barang yang akan dibawanya. Cukup mendukung dan mendoakan yang terbaik untuk mereka, dengan begitu tidak akan ada yang meremehkan seorang janda. 


Baru saja keluar dari rumah, Ikram datang dengan wajah yang ditekuk. Pria itu nampak lesu dan suram. Bi Ninik langsung pulang. Memberi ruang pada Ayu dan Ikram berbicara.


''Ada apa, Mas?'' tanya Ayu penasaran.


Ikram menarik napas berat. Menatap Ayu dengan tatapan penuh arti. Bibirnya terkunci jika mengingat masa lalu itu.


''Duduk dulu, Mas.'' Ayu kembali ke teras dan duduk di depan Ikram.


Ia memang tak lupa dengan permintaan Rani yang menyuruhnya berbicara dengan Ikram. Namun, ia enggan untuk ikut campur urusan mereka.


"Aku akan menceraikan Rani. Kesalahannya sudah terlalu besar. Dan aku tidak bisa memaafkannya lagi,'' ucap Ikram geram.


Ayu terdiam. Ia tidak bisa melakukan apa-apa selain memberikan pendapat yang mungkin akan sulit diterima pria itu.


"Setelah bercerai apa yang akan kamu lakukan? Mencari istri yang lebih cantik dan baik lagi?" tanya Ayu menyindir.


__ADS_1


__ADS_2