
"Kamu kenapa sih tersenyum terus?" tanya Angga penasaran.
Ayu menggeser layar ponselnya tepat di depan Angga. Menunjukkan nominal uang yang masuk ke rekening.
Sangat kecil di mata Angga, namun itu sangat berharga bagi Ayu.
"Alhamdulillah, aku akan tabung uang ini untuk pendidikan anak-anak."
"Dari novel?" tanya Angga memastikan.
Ayu mengangguk cepat. "Aku akan lebih berjuang lagi supaya anak-anak ada jaminan bisa masuk sekolah sampai ke jenjang yang lebih tinggi."
Angga yang hampir melajukan mobilnya terpaksa menghentikannya lagi. Mendekatkan kepalanya ke arah Ayu.
"Aku bisa membiayai mereka," ucapnya dengan tegas.
"Makasih, Mas." Ayu mengucap dengan lembut. "Tapi aku tidak mau merepotkan orang lain, jika setiap bulan dapatnya sebesar ini, aku yakin bisa membiayai mereka sendiri."
"Itu artinya kamu menolak bantuanku?" Angga menyelidik. Bukan karena tak percaya, tapi takut Ayu mengabaikan semua pemberiannya.
"Menolak rejeki itu tidak baik, tapi maaf aku belum bisa menerima uang dari mu. Apalagi untuk anak-anak. Mereka adalah tanggung jawabku sepenuhnya. Sudah, cepetan jalan!" Ayu mengalihkan pembicaraan. Ia tak ingin membahas itu lagi, pasti ujung-ujungnya Angga akan marah karena merasa ditolak.
"Oke, kali ini aku tidak akan memaksa, tapi kalau kamu merasa keberatan bilang padaku."
Ayu mengangguk enteng, setidaknya itu membuat Angga lega.
Setibanya di depan toko, Angga menciumi kedua pipi Adiba bergantian. "Pasti papa akan merindukanmu." Menyatukan hidungnya hingga membuat Adiba tertawa geli.
"Nanti kamu gak usah khawatir, biar aku yang jemput anak-anak. Sekalian kita beli kado." Angga mengambil tas milik Ayu dan membantunya membuka pintu.
"Makasih ya, aku gak bisa membalas apa-apa. Tapi aku akan bantu kamu meminta restu pada tante Winda." Hanya itu yang bisa Ayu janjikan. Sebab, ia tak memiliki barang yang berharga sebagai ganti dari kebaikan Angga.
Itu saja sudah lebih dari cukup, Yu.
Ayu melambaikan tangannya ke arah Angga yang mulai pergi kemudian masuk. Hari ini ia hanya menyiapkan pesanan tanpa harus mengirimnya dikarenakan tidak membawa kendaraan.
"Itu calon suamimu, Bu?" tanya Indah yang mengintip dibalik jendela.
Ayu menoleh ke belakang mengikuti mata Indah memandang.
"Kalau iya kenapa?" tanya Ayu balik. Melewati tubuh Indah yang masih terpaku menatap ekor mobil Angga yang hampir menghilang.
"Ganteng amat, ada lagi gak ya yang kayak gitu untuk aku?"
__ADS_1
Seluruh pegawai toko pun tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan dari Indah. Tak terkecuali Irma yang baru datang.
"Banyak laki-laki di luaran sana, Indah. Kenapa harus yang seperti punya Ayu?" cetusnya.
Ayu hanya bisa geleng-geleng dengan sikap mereka yang selalu kepo dengan urusannya.
"Ir, hari ini aku cuma mengantarkan pesanan. Nanti siang mau keluar dengan anak-anak," ucap Ayu sembari memeriksa barang yang akan dikirim.
"Gak papa. Aku paham kok." Irma menaik turunkan alisnya menggoda, sedangkan yang lainnya ikut berbisik.
"Mau makan siang sama papa Aga?" sahut Indah satu-satunya sahabat yang paling kepo di antara lainnya.
"Iya,'' jawab Ayu jujur. Mungkin dengan begitu ia tak diberondong berbagai pertanyaan lagi.
Hampir saja duduk, penjaga masuk mencari Ayu.
"Ada apa?" tanya Ayu dari arah kejauhan.
"Ada pak Ikram di depan, Bu. Katanya mencari, Ibu," lapor penjaga dengan lantang hingga semua orang yang ada di ruangan itu mendengar.
"Baiklah, saya akan temui dia." Ayu menatap Adiba yang asyik bermain.
"Jaga Adiba, aku akan menemui mas Ikram sebentar." Menepuk pundak Indah dengan pelan.
"Ada apa, Mas?" tanya Ayu antusias.
Ikram menoleh sambil tersenyum. Beranjak dari duduknya menghampiri sang mantan.
"Rencananya hari ini aku mau ajak kamu dan anak-anak pergi. Beliin kado untuk Adiba." Dengan percaya diri Ikram mengucapkan tujuannya.
Ayu tersenyum kaku lalu meminta maaf.
"Kenapa?" tanya Ikram lagi.
"Aku sudah ada janji dengan Mas Angga. Gak mungkin dibatalin, kan?" jawab Ayu yang membuat hati Ikram terasa nyeri.
Ternyata luka karena ditolak lebih sakit daripada luka yang berdarah.
Ikram menelan kekecewaan dengan pernyataan dari Ayu, namun ia pun tak bisa berbuat apa-apa selain menerima dengan berat hati.
"Tapi kalau Mas mau kita keluar bisa izin sama mas Angga, karena dia yang lebih dulu ngajakin anak-anak dan Hanan sudah setuju." Ayu memilih jalan tengah karena ia pun tak ingin membuat Ikram merasa tersisihkan, sedangkan statusnya ayah kandung.
"Gak usah, lain kali saja. Takutnya Hanan kecewa."
__ADS_1
Pasti, Mas. Bahkan, sampai sekarang pun dia belum memaafkan kamu.
Ikram pamit pergi, sedangkan Ayu langsung masuk melanjutkan pekerjaannya.
"Ada apa Ikram ke sini?" tanya Irma menatap mobil Ikram berlalu.
"Mas Ikram mau ngajakin keluar, tapi aku gak bisa karena sudah ada janji dengan mas Angga," ucap Ayu jujur.
Irma berdecak. "Laki-laki memang seperti itu, kalau udah pergi aja dicariin, dulu kemana?" ucapnya ketus, seolah menjelekkan Ikram yang memang tak memiliki tanggung jawab terhadap ibu dan anak-anaknya.
Ayu menanggapinya dengan senyuman manis.
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Usai menjemput Alifa di sekolahnya, Angga langsung meluncur menuju sekolah Hanan. Bertepatan saat mobil berhenti si sulung keluar dari arah gerbang.
Angga melambaikan tangannya ke arah Hanan memberi kode keberadaannya.
"Mama mana, Pa?" tanya Hanan duduk di jok depan. Mencium punggung tangan Angga.
"Mama kerja. Kita ke kantor papa setelah itu jemput mama dan adik Diba," terang Angga melajukan mobilnya ke arah kantor. Sebab, masih ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum ia sibuk mengurus pesta ulang tahun Adiba.
Melihat gedung tinggi dan besar membuat Hanan terpana. Selama ini ia sering melewati tempat seperti itu, namun ini kali pertama ia memasukinya. Hanan juga bisa melihat beberapa karyawan yang berlalu lalang di dalamnya. Rasa penasarannya terobati.
"Kantor ini punya, Papa?" tanya Hanan antusias.
"Iya, nanti kalau kamu sudah besar akan menjadi milikmu." Angga berhenti di lantai dasar.
Seketika Hanan menggeleng.
"Kenapa?" tanya Angga mengernyit.
"Aku pingin jadi pilot, Pa. Bukan bos," ujarnya.
Angga terkekeh. Mengangkat jempolnya. Apapun pilihan Hanan ia tetap mendukung.
Angga memanggil salah satu cleaning servis yang melintas.
"Tolong jaga mereka." Menunjuk Hanan dan Alifa bergantian. "Aku ke ruangan sebentar."
"Baik, Pak," jawab pria yang berseragam navy dengan sopan. Menggiring Alifa dan Hanan menuju ruang tunggu.
Sedangkan, Angga langsung pergi ke arah pintu lift menuju ruangannya.
Saking bahagia nya Alifa berlari hingga tak sadar ia menabrak kaca dan terjatuh.
__ADS_1
Sontak itu membuat pria yang menjaganya lari dan memeluk Alifa dengan erat.