Janda Tangguh

Janda Tangguh
Cemburu berat


__ADS_3

Ayu berangkat kerja. Ia tidak ingin berdiam diri di rumah sementara setiap hari harus mengeluarkan uang untuk kebutuhan sehari-hari. Sedangkan uang menulis ia tabung untuk pendidikan anak-anak. 


Tak seperti hari biasanya yang menghilang tanpa jejak, hari ini Ayu mendapat pesan dari Angga yang memesan baju wanita. 


''Kok baju seksi, memangnya untuk siapa.'' Ayu berulang-ulang membaca pesan dari Angga, dan dari awal ia memang tak salah baca. Pria itu memesan tiga dress selutut serta rok pendek. 


''Apa mungkin dia punya kerabat perempuan?'' terka Ayu, ingin sekali bertanya langsung namun diurungkan karena menurutnya itu masalah pribadi. 


"Kamu kenapa ,Yu?'' Irma menepuk lengan Ayu yang nampak suram.


"Gak papa.'' Ayu mengepak barang-barang pesanan hari ini. Tidak banyak yang dikirim, khusus milik Angga dan pelanggan terdekat saja. 


"Kapan kamu dan Angga nikah, Yu?'' tanya Irma lebih dalam. 


Indah ikut bergeser karena jika menyangkut pasal nikah ia pun kepo. 


"Belum ada hilal,'' jawab Ayu singkat. Meskipun tak berharap penuh bisa menikah dengan Angga ia sengaja menghibur mereka yang mendukung kedekatannya. 


"Ada yang bisa aku bantu?'' Sebagai seorang sahabat, Irma menawarkan diri.


Ayu menggeleng, "Ini masalah orang tua, Ir. Kalau memang mamanya mas Angga tidak merestui, aku tidak mau memaksa,'' ucapnya. 


Teringat nama Angga, sudah empat hari tidak tahu kabar tentang mama dari pria itu. 


Bagaimana keadaan tante Winda? Apa dia makan seperti yang aku suruh atau tidak. 


Walaupun Angga memang jarang datang, Ayu tetap peduli pada Bu Winda yang butuh bantuan darinya. 


Ayu bergegas pergi ke kantor Angga. Tidak mau terlambat seperti jam yang dituliskan pria itu juga tidak ingin mengecewakan mereka yang sudah percaya padanya. 


Ayu masuk ke kantor. Semua orang yang mengenalnya kini menyapa dengan ramah layaknya pada bos nya yang membuat Ayu salah tingkah. 


"Maaf, Bu. Ada yang bisa saya bantu?'' Salah satu pegawai menawarkan diri pada Ayu yang nampak kerepotan saat membawa pesanan Angga. 


"Boleh.'' jawab Ayu memberikan tiga kotak dari tangannya, sementara ia masih membawa dua kotak lagi. 


Lift terbuka, Ayu segera berjalan menuju ruangan Angga dan mengetuknya. 


''Masuk!'' sahut suara dari dalam.  


Ayu membuka pintu. Lagi-lagi ia dikejutkan dengan Rani yang sudah ada di dalam. 


"Kamu sendiri yang antar, Yu? Aku kira kurir lain.''

__ADS_1


Ayu terpaku. Matanya tak teralihkan dari Rani yang duduk di sofa. 


"Sebenarnya apa apaan ini mas?'' tanya Ayu dengan suara pelan namun menekankan. Kedua matanya mentap tajam ke arah Angga yang mulai bermain api. 


Bukan karena Angga membawa wanita lain masuk ke ruangannya' namun siapa yang dibawa. 


Angga menyuruh pegawai itu meletakkan barang-barangnya di depan Rani, tak lupa menyuruhnya menutup pintu ruangan.  


Kini di dalam itu hanya ada Ayu, Angga dan Rani. 


"Apa-apaan bagaimana? Bukannya kamu yang menyuruhku membantu kesembuhan Rani. Dan itu yang aku lakukan sekarang,'' jawab Angga dengan nada tinggi. 


Rani ikut berdiri dan menggeleng.. 


"Maaf, Yu. Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku ke sini hanya ingin menenangkan diri,'' papar Rani dengan wajah sedihnya. 


Ayu berusaha tenang. Benar apa yang dikatakan Angga, bahwa Ia sendiri yang menyuruh pria itu untuk membantu kesembuhan Rani. Namun, hatinya terasa sakit melihat mereka berdua dalam satu ruangan.


Apakah itu tandanya Ayu cemburu? 


Apakah ada unsur lain yang membuatnya marah? 


Apakah aku terlalu emosi. Tersenyum untuk menyembunyikan rasa sakit yang terpendam.  


''Aku permisi dulu.'' Ayu yang hampir keluar menghentikan ayunan kakinya saat Rani memanggilnya. 


"Tadi mas Angga pesan baju untukku, kamu bisa kan pilihkan mana yang bagus?'' ucap Rani mengambil barang yang diantarkan Ayu. 


Kamu pasti bisa, Yu. Jangan merasa lemah hanya karena kehilangan seorang laki-laki karena kebahagian tidak hanya tercipta darinya tetaplah tersenyum meskipun kamu terlihat menyedihkan.  


Ayu memutar badannya dan menghampiri Rani. 


"Tapi selera perempuan itu tidak sama, Ran.'' Aku tahu kamu suka baju yang seksi, sedangkan aku malu sekali menampakkan auratku di depan laki-laki yang bukan mahram.'' Ucapan itu bagaikan pisau belati yang menggores paha Rani, kejam.


Angga hanya bisa menatap mereka berdua bergantian. 


"Gak papa, aku yakin kok apa yang kamu suka mas Angga juga suka, iya kan mas?'' Suara itu terdengar sangat menggoda di telinga Ayu hingga membuatnya jijik. 


Ayu membuka bungkusnya lalu menjewer baju di depan Rani. 


"Kayaknya yang ini lebih pas.''


Memasang baju berwarna peach di depan Rani.

__ADS_1


"Iya kan mas Angga?'' Menatap Angga yang ada di sampingnya. 


"Iya, memakai apapun Rani tetap terlihat cantik kok.'' Mengangkat jempolnya. 


Oke, jika kebersamaan Angga dan Rani masih bisa Ayu terima, tapi pujian tadi seolah membuat nya benar-benar kesal setengah mati. 


Awas saja kamu, Mas. Dasar mata keranjang. Kamu boleh memuji dia sepuasnya mas tapi jangan di depanku. Begitulah hatinya berkata. 


Ayu memberikan baju itu kepada Angga. Menatap manik matanya yang berwarna biru.


''Semoga kamu tidak terjerumus dalam lubang yang salah. Terima kasih pernah hadir dalam hidupku. Aku hanya bisa mendoakan hubungan kamu langgeng,'' bisik Ayu yang tak didengar oleh Rani. 


''Makasih doanya,'' balas Angga sebelum Ayu pergi. 


Ayu keluar lalu menyandarkan punggungnya di dinding. Mengusap dadanya yang terasa sesak dengan sikap Angga yang tak mempedulikan perasaannya. 


Kamu jahat, Mas. Ternyata kamu tidak ada bedanya dengan laki-laki lain. 


Ayu pergi. LAgi-lagi ia membawa secuil luka dalam hati, tak berdarah namun rasa sakit itu menjalar ke sekujur tubuh. 


Setibanya di tempat parkir salah satu pegawai berlari sambil memanggil nama Ayu. 


"Ini ada titipan dari pak Angga.'' Memberikan kantong kresek pada Ayu. 


"Apa?'' tanya Ayu tanpa menyentuhnya. 


"Katanya baju yang tidak disukai bu Rani.''


Ayu memejamkan matanya. Tidak mengerti dengan Angga yang semakin membuatnya bingung. 


'-Buat kamu aja, aku gak butuh. Nanti kalau ditanya bilang saja aku sudah menerimanya.'' 


Ayu langsung melajukan motornya tanpa menerima baju dari Angga. 


Wanita yang mengantarkannya itu tersenyum mendapat rezeki nomplok.  


Ditengah perjalanan, tiba-tiba Ayu teringat pada Angga yang masih berada di ruangan bersama dengan Rani. 


''Aku harus menelpon Riska, dia harus tahu kalau bosnya ada di dekat ular cobra.'' 


Ayu menghubungi Riska dan meminta wanita itu untuk terus mengawasi ruangan bosnya. 


Ya Allah, jagalah orang-orang yang aku sayang. Setidaknya lindungi dia dari hal-hal buruk dan perbuatan yang tidak terpuji. 

__ADS_1


Ayi kembali melanjutkan perjalanannya membelah jalanan yang sangat ramai.


__ADS_2