
"Papa di mana?" Hanan celingukan mencari keberadaan Angga di tengah pengunjung yang memadati restoran.
Menilik jam yang melingkari di tangannya. Sudah hampir lima belas menit ia duduk, tapi belum ada tanda-tanda pria itu datang.
"Apa mungkin papa lupa?"
Hanan kembali menghubungi Angga, namun kali ini ponselnya tidak aktif.
"Apa-apaan sih papa? Mana mungkin dia lupa dengan janjinya sendiri," gerutunya kesal.
Hanan menghabiskan segelas jus yang sudah mengembun dan beralih memakan stik kentang yang tadi dipesan. Menghilangkan rasa jenuh akibat menunggu terlalu lama.
Melihat beberapa pemuda yang sedang berbincang dengan pasangan masing-masing kemudian sibuk memainkan ponselnya.
"Aku tunggu lima menit lagi, kalau gak datang aku pergi."
"Hanan," panggil suara berat dari arah belakang.
Hanan terpaku. Ia mencerna suara yang tak asing di telinganya. Itu bukan suara Angga melainkan suara Ikram.
Kenapa papa Ikram yang datang?
Dada Hanan meletup-letup memendam amarah yang memuncak. Tangisan enam tahun lalu seakan tak pernah hilang dalam ingatan dan terus ingin membenci pria tersebut.
Suara dentuman sepatu dan lantai semakin terdengar nyaring, itu artinya Ikram semakin dekat.
"Apa papa boleh duduk?" tanya Ikram dengan nada lembut.
Hanan membuang muka, enggan untuk berhadapan dengan papa kandungnya sendiri.
Meskipun belum diizinkan, Ikram tetap duduk di depan sang putra yang nampak cuek.
"Papa tahu kamu di sini nungguin papa Angga. Tapi sayang, dia gak bisa datang ada rapat penting yang tidak bisa diundur lagi." Ikram mengawali pembicaraan.
Hanan membisu, sedikitpun tak ingin membuka suara atau bercakap.
"Apa kamu sangat membenci papa? Jika benar, apa yang bisa papa lakukan untuk menghilangkan rasa benci mu itu?" tanya Ikram dari hati.
Sebagai seorang ayah yang tak dianggap selama bertahun-tahun membuatnya lelah dan ingin menyerah, mungkin itulah yang dirasakan Hanan dulu ketika dia mengabaikannya.
"Tidak usah ditanyakan, pasti papa tahu jawabannya. Sekarang pergilah jangan ganggu kehidupanku dan mama!" suruh Hanan menunjuk ke arah pintu depan.
__ADS_1
Ikram menautkan kedua tangannya di atas meja. Menarik napas dalam-dalam. Ia sudah kehabisan cara untuk meluluhkan lelaki di depannya itu. Hanya bisa tersenyum melihat kemarahan Hanan yang nampak membuncah.
"Gak papa. Tapi papa mohon, kalau seandainya nanti papa meninggal hadirlah ke acara makam papa. Meskipun kamu tak mau mengakui sebagai papa lagi."
Sakit hati Hanan memang luar biasa, bahkan tak bisa digambarkan dengan apapun di dunia ini, namun mendengar ucapan Ikram membuat jantungnya berdegup lebih cepat.
"Permisi!"
Ikram berdiri dan pergi meninggalkan Hanan. Percuma saja, didesak sekeras apapun putranya itu tak mungkin bisa luluh.
"Seandainya waktu itu papa mau hadir ke acara di sekolah, mungkin aku gak akan sesakit ini, Pa. Mungkin pintu hatiku masih bisa terbuka dan akan memaafkan papa."
Hanan menggulung sepuluh jarinya hingga berbentuk kepalan. Lalu, menggebrak meja dan membuat beberapa orang yang ada disekelilingnya terkejut.
Hanan ikut berdiri. Setelah mendapat penjelasan dari Ikram bahwa Angga tak jadi datang. Ia keluar dari restoran.
Hampir saja membuka pintu mobil, ia dikejutkan dengan beberapa orang yang berlari ke arah jalan. Mereka terlihat panik. Beberapa penjaga keamanan pun ikut sibuk menghentikan kendaraan yang melintas.
Kaki Hanan mengayun mendekati seorang wanita yang berdiri di samping gerbang restoran.
"Di depan ada apa, Mbak?" tanya Hanan ragu. Menatap mobil berwarna putih yang nampak ringsek di bagian depan dan samping.
Hanan kembali menuju mobilnya. Namun, tiba-tiba teringat dengan ucapan Ikram yang menyangkut tentang kematian.
Papa
Hanan menutup pintu mobilnya lagi lalu berlari menuju jalan raya. Ikut berhamburan mendekat tempat kejadian.
"Di mana korbannya, Pak?" tanya Hanan cemas. Menatap mobil yang mirip dengan milik Ikram.
"Sudah dibawa ke rumah sakit, Mas. Sepertinya parah banget," jelas salah satu pria yang melihat kronologinya.
Hanan melihat nomor plat mobil dan menghubungi Ikram.
Tidak ada jawaban, namun dering ponsel bersamaan terdengar dari dalam mobil yang ada di depannya.
Dada Hanan terasa sesak, ia melangkah mencari sumber suara.
Betapa terkejutnya saat melihat ponsel di bawah jok depan. Namun, ia tak bisa memungut benda itu saat sebuah tangan kekar menarik nya dari arah belakang.
"Jangan diambil, kami akan melakukan penyelidikan," ucapnya tegas.
__ADS_1
Hanan menatap tajam ke arah polisi yang bertugas. Bibirnya terkunci dan tidak bisa berkata apa-apa, bahkan saat ini ia tak bisa berpikir lagi. Kedua tangannya gemetar dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku harus ke rumah sakit sekarang." Hanan membelah kerumunan dan berlari menuju mobil.
Meskipun pikirannya kacau, ia tetap melajukan mobilnya dengan baik, satu-satunya tempat tujuan kali ini adalah rumah sakit.
"Aku yakin itu bukan papa, hanya kebetulan saja." Hanan mencoba menepis dugaannya sendiri dan berharap yang terbaik.
Hanan masuk ke rumah sakit, ia tak ingin menghubungi yang lain sebelum memastikan kebenarannya.
"Di mana ruangan pasien kecelakaan tadi?" tanya Hanan dengan bibir bergetar.
"Di ruang gawat darurat lantai tiga, Mas. Silakan masuk!" jawab resepsionis yang bertugas.
Hanan bergegas melanjutkan langkahnya menuju lantai tiga. Meskipun kemungkinan besar itu adalah Ikram namun dalam hati berkata tidak.
Ya allah, jika benar itu adalah papa, berikanlah kesembuhan padanya, doa Hanan dalam hati.
Ia keluar dari lift. Mencari ruangan seperti yang dikatakan resepsionis tadi.
"Maaf numpang tanya, Sus. Di mana ruangan pasien kecelakaan yang baru saja di bawa ke sini?" tanya Hanan dengan nafas memburu.
"Oh, baru saja ditangani dokter, silakan tunggu diluar." Menunjuk ruangan yang ada di bagian tepi. "Apa Anda keluarga nya?" tanya suster itu lagi pada Hanan.
"I–iya," jawab Hanan cepat.
Suster itu menyodorkan sebuah dompet di depan Hanan.
"Tadi kami menemukan dompet ini di saku celana pasien. Silakan di cek, barangkali ada yang hilang nanti bisa lapor," ucap suster nya lalu pergi.
Hanan semakin diliputi rasa takut melihat dompet yang ada di tangannya.
Jemarinya membuka dompet itu dengan pelan. Seketika tubuh Hanan terasa lemas saat melihat fotonya terpajang di dalam dompet itu. Kakinya terasa lentur hingga tak bisa menopang tubuhnya.
Mengingatkan kembali dengan ucapan Ikram yang seolah menjadi sebuah pertanda.
"Nggak, papa pasti sembuh. Dia gak mungkin pergi meninggalkan aku dan adik-adik." Tetap yakin bahwa Ikram baik-baik saja.
Hanan kembali bangkit dan berjalan menuju ruang rawat darurat yang tak jauh dari tempat nya berada.
Ia menghubungi Ayu dan Angga. Menyuruh mereka untuk segera datang.
__ADS_1