Janda Tangguh

Janda Tangguh
Diam nya Ayu


__ADS_3

''Kamu kenapa, Nan. Sakit?'' Ikram menempelkan punggung tangannya di kening sang putra. 


Hanan menggeleng malas. Melepas kaos dan jaketnya. Menghempaskan tubuhnya di sofa. Tak mengucap sepatah katapun. Seolah semua terasa hampa. 


Tak pernah terbesit akan berpisah dengan Chika. Dalam bayangannya, kisah asmaranya itu akan berjalan mulus layaknya jalan tol. Ternyata eh ternyata, ada batu besar yang menghadang yaitu restu sang ibu. Memang sulit, tapi harus bisa seperti sang mama yang merelakan melepas ayahnya untuk wanita lain. Rela berkorban membesarkan anak-anaknya meski harus berjuang seorang diri. 


Jika pulang sekolah ia selalu video call dengan Chika, kini hanya bisa meratapi kekosongan yang ada. Sungguh, ini menyakitkan membuat hati terasa ngilu. Senyumnya, candanya masih melintas di otaknya. Sekalipun  gadis itu tak mengirim pesan. Marah, kesal, sudah pasti. Putus cinta baginya memang sangat menyakitkan, namun harus tetap pada pendiriannya. 


''Ada masalah dengan mama?'' tanya Ikram lebih mendekat. 


Berusaha merogoh hati sang putra yang akhir-akhir ini jarang bersamanya. 


''Mungkin papa bisa membantu.''


''Gak mungkin bisa, Pa.'' Hanan memejamkan matanya. Menutup wajahnya dengan bantal. Enggan berinteraksi dengan orang lain saat hatinya sedang galau. Yakin, semua orang tidak bisa mencairkan hati Ayu yang membeku.


Ikram kembali menarik napas dalam-dalam dan melanjutkan pekerjaannya yang harus diselesaikan sebelum hari pernikahannya esok. 


Melirik ke arah Hanan yang sedikit serikutan tak tenang, seakan ada sesuatu yang dipendamnya. 


''Kamu kenapa sih? Cerita dong sama papa!'' suruh Ikram dengan nada pelan. 


Ia tak bisa melihat si sulung itu terlihat gelisah tak karuan. Apalagi ini mendekati hati pentingnya. Harus memastikan keluarga baik-baik saja. 


Belum sempat menjawab, ponsel yang ada di meja berdering. Ikram mengambil nya, menatap Hanan kemudian menerima sambungannya. 


''Assalamualaikum, Mas.'' Suara khas terdengar di telinga Hanan yang masih berbaring di samping Ikram.


''Waalaikum salam, ada apa, Yu?'' tanya Ikram sambil menutup laptopnya. 


''Apa Hanan ada di situ?'' tanya Ayu pertama kali dengan nada yang sedikit datar. Jauh berbeda dengan saat mengucapkan salam. 

__ADS_1


''Iya, memangnya kenapa?'' tanya Ikram. 


Hanan menjambak rambutnya. Ia pikir urusanya bakalan panjang jika semua orang tahu tentang kelakuannya kemarin. Pasti tak hanya Ayu, Ikram pun akan ikut memarahinya. 


''Bilangin sama dia kalau malam ini aku dan mas Angga akan tidur di rumah mama. Nanti kalau dia nyusul suruh langsung ke sana.''


Ingin sekali Hanan berbicara dengan Ayu, namun dalam hatinya berbisik menunggu momen yang pas untuk meminta maaf lagi. Lebih baik diam untuk sementara waktu mendinginkan hati dan pikiran. 


''Iya, nanti aku bilangin ke dia.'' 


Ayu langsung menutup sambungannya. Mengusap buliran bening yang lolos dari sudut matanya. 


''Maafkan mama, Hanan. Mama melakukan ini karena mama sangat menyayangimu. Jangan anggap ini hukuman, karena mama gak pernah ada niat untuk menyakitimu.''


Ikram menyadarkan punggungnya. Menatap langit-langit ruang tamu. Menelusuri kesalahan terbesar dalam hidupnya. Mungkin selamanya akan selalu hadir dalam ingatan. 


''Papa tahu kamu dan mama ada masalah, tapi jangan sampai membuat dia marah. Tidak ada seorang ibu yang ingin melihat anaknya hancur. Mungkin jalan pikiran kalian beda, tapi ingat tanpa mama, kamu tidak bisa seperti ini,'' tutur Ikram panjang lebar. 


Hanan duduk di tepi ranjang. Menyatukan hati dan pikirannya yang masih terpecah belah. Meski terasa sulit harus ia lakukan demi kebahagiaan seorang ibu. Bukankah itu yang lebih utama bagi seorang anak laki-laki? Membahagiakan ibu adalah hal yang paling mulia di atas segala-galanya.


Sudah hampir jam tiga sore, tapi Hanan masih enggan untuk pulang. Pasti di rumah akan bertemu Ayu yang cuek bebek. Hanya Adiba dan Alifa yang mungkin mampu mencairkan suasana hatinya yang kian memburuk, sedangkan Angga, pria itu belum pulang dari kantornya. 


''Kalau mau tidur di sini gak papa, biar mama yang bilang ke mama kamu.'' Harini hanya bicara dari ambang pintu. 


''Gak Ma, aku harus pulang takut mama marah.'' 


Hanan memakai sepatunya dan beranjak, mengganti jaketnya dengan hoodie berwarna putih. Sangat pas di tubuh atletisnya. Bahkan terlihat sempurna hampir mirip dengan Ikram sewaktu masih muda.


Selain berpamitan dengan Harini, Hanan juga berpamitan dengan Ikram. Meminta doa pada pria itu supaya bisa menghadapi mamanya. Toh sekarang Hanan juga sudah sadar dan tidak akan pacaran lagi. 


''Pokoknya kamu jangan membuat mama menangis, cukup papa yang pernah jahat padanya. Kamu jangan.'' Menepuk pundak si sulung dengan pelan. 

__ADS_1


''Baik, Pa.'' Hanan mencium punggung tangan Ikram lalu pergi, menaiki motornya dengan laju sedang seperti permintaan sang papa. 


Hanan menghirup dalam aroma mawar yang menyeruak dari arah taman. Ia sengaja masuk melalui pintu samping. Mengira pasti mamanya ada di ruang tengah bersama dengan bu Winda. 


Benar saja, nampak Ayu yang sedang bercanda dengan Adiba dan Alifa, sementara bu Winda entah ke mana. 


Hanan menyapa dengan suara halus. 


Seperti biasa, Ayu menoleh sambil menjawab salam. Se marah apapun ia tetap memberikan contoh yang baik untuk anak-anak dan juga orang di sekitar. 


''Maaf, Ma. Aku terlambat, tadi ke rumah papa dulu.''


Hanan duduk di depan Ayu. Menggunakan dua kakinya sebagai tungku untuk menopang tubuhnya. 


''Mama sudah tahu.'' Mengalihkan pandangannya ke arah lain. Memasang wajah datar saat Hanan mencoba mencairkan suasana. 


Sampai kapan mama akan diam seperti ini? 


Hanan semakin jenuh dengan sikap Ayu. Padahal, ini baru sehari itu pun tak sepenuhnya mereka bersama namun ia sudah tak sanggup dengan kemarahan sang mama. Meski nampak biasa saja, tapi sakit itu luar biasa bahkan lebih sakit daripada luka yang nyata. 


Apa ini yang dirasakan mama saat aku berbohong? Hanan mulai meraba kesalahannya. 


''Aku sholat ashar dulu, Ma,'' pamit Hanan. 


''Hemmm,'' jawab Ayu tanpa membuka mulut. Melirik Hanan sekilas dan kembali menyaksikan Adiba dan Alifa yang sibuk mengerjakan PR. 


''Eh Hanan, kamu baru pulang, Nak?'' suara Bu Winda membuat Ayu menoleh namun tetap sama, dengan ekspresi kaku. 


''Iya, Oma. Tadi aku ke rumah papa dulu, ada perlu sedikit.'' Terdengar suara tawa renyah dari sudut bibir Hanan, entah apa yang dilakukan selanjutnya, sepertinya lelaki itu baik-baik saja. 


''Jangan marah terlalu larut, Yu. Mama sependapat dengan Angga. Hanan itu anak baik, pasti dia sudah sadar atas kesalahannya, kasihan jika didiamkan seperti itu,'' ujar bu Winda di belakang Ayu.

__ADS_1


''Iya, Ma,'' jawab Ayu singkat. 


__ADS_2