
Ayu menyusun makanan di meja makan. Ia memasak menu kesukaan Angga dan anak-anak, juga beberapa menu lain untuk menjamu Tuan Louis.
"Menurut kamu ini kurang apa tidak, Mas?" Ayu menarik tangan Angga. Menunjukkan olahannya yang sudah siap untuk disantap.
Mereka pun sudah rapi dan siap menyambut kedatangan Tuan Louis serta tamu yang lainnya.
"Sudah kok, aku yakin Tuan Louis akan menyukainya. Kamu memang hebat." Angga mengangkat kedua jempolnya memuji.
Tak berselang lama, suara mobil berhenti di depan rumah.
Ayu dan Angga segera keluar. Mereka menghampiri Tuan Louis dan sekutunya yang baru turun dari mobil.
"Selamat datang di gubug saya, Tuan." Angga memeluk Tuan Louis, sedangkan Ayu segera menangkup kedua tangannya dan membungkuk ramah, menyapa.
Tuan Louis menatap Ayu beberapa saat hingga lupa berkedip. Penampilannya yang tertutup namun tetap modis membuatnya terpesona.
"Ini siapa?" tanya tuan Louis menunjuk Ayu.
Angga mundur dan berdiri di samping Ayu. Siap memperkenalkan wanita itu pada sang tamu.
"Ini calon istri saya, namanya Ayu Lestari." Angga memperkenalkan Ayu tanpa ragu.
Ia juga menceritakan perjalanan kisah cinta mereka sebelum mengajak Tuan Louis singgah di rumahnya.
Tuan Louis geleng-geleng, tak menyangka bahwa orang yang berjuang bersamanya selama lima tahun di Jerman itu meninggalkan wanita cantik dan anggun.
"Jadi yang Anda maksud Ayu Lestari tadi itu calon istri, Anda?" tanya Tuan Louis memastikan.
Angga mengangguk dan tersenyum.
"Betul sekali, Tuan. Dia berjuang sendiri menghidupi anak-anak dan tidak menerima bantuan saya maupun orang terdekat, dan sekarang mereka tumbuh dengan baik dan menjadi anak-anak yang mandiri," sanjung Angga pada Ayu dan ketiga anaknya.
Tuan Louis tersenyum, ia ikut salut dengan perjuangan wanita yang berdiri di depannya tersebut.
"Rumah disini sejuk, ya. Selain pintar mencari istri, Anda juga lihai memilih tempat yang tepat. Saya dan istri juga ingin mempunyai rumah di dekat sini," tutur tuan Louis menunjuk beberapa pohon yang ada disekitar rumahnya.
"Semoga Anda betah di sini. Dan semoga apa yang Anda inginkan terkabul."
Angga memang sengaja menanam beberapa pohon besar di sekitar pagar supaya tidak terlalu panas. Ia juga membuat sebuah taman yang cukup luas di samping rumah dan berharap nanti semua keluarganya merasa nyaman bak berada di seribu tempat yang berbeda. Selain menjadi rumah masa depan, juga idaman.
Mereka masuk dan duduk di ruang tamu, sedangkan Ayu kembali ke belakang untuk menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan.
__ADS_1
Riska, sang sekretaris pun ikut ke belakang menemani Ayu yang nampak sibuk.
"Bu Ayu ke depan saja, biar saya dan bibi yang bekerja." Riska mengambil piring yang ada di tangan Ayu.
Namun tidak bagi Ayu, karena ia pun tak bisa berpangku tangan sementara yang lainnya bekerja.
"Di ruang tamu itu urusan laki-laki, dan aku gak mau kepo. Nanti mas Angga malah menyuruhku berbisnis," tolak Ayu.
Sebab, biasanya Angga memang mendorong Ayu untuk terjun di bidang bisnis lain, dan pria itu siap untuk membimbingnya.
Itulah kenapa Ayu selalu menghindar saat calon suaminya itu membahas perihal kantor.
Hanan dan kedua adiknya datang. Mereka berjabat tangan dengan Tuan Louis dan yang lain bergantian. Lalu duduk di samping Angga.
Semua yang ada di ruang tamu bangga dengan ketiga bocah itu yang lekat dengan sopan santun. Jarang sekali anak seumuran Hanan mau melakukan hal yang seperti itu, bahkan sebagian besar mereka akan pergi menghindar saat di rumah ada tamu dengan alasan malu. Akan tetapi, lelaki itu menunjukkan kepatuhannya.
"Kenalkan Tuan, ini anak-anak saya." Angga menunjuk ketiga anak Ayu bergantian serta menyebut nama mereka.
Terkejut, ya itulah beberapa orang yang duduk di depan Angga. Bahkan, dari mereka tercengang namun tak mempertanyakan masalah yang mungkin pribadi. Kembali fokus dengan beberapa agenda yang akan diselenggarakan setelah Angga dan Ayu menikah.
"Bagaimana kalau kita mengadakan pesta besar-besaran di hari pernikahan, Anda?" Tuan Louis mengutarakan pendapatnya.
Ayu datang memberi tahu angga bahwa makanan sudah siap dan meminta mereka untuk segera ke ruang makan.
"Maaf, Nyonya. Kedatangan saya ke sini pasti mengganggu waktu, Anda," ucap Tuan Louis pada Ayu yang berjalan di belakangnya.
"Tidak apa-apa, Tuan. Saya malah senang jika Anda sering mampir," jawab Ayu ramah.
Suaranya terdengar sejuk di telinga Tuan Louis. Seakan ingin memujinya, namun takut Angga cemburu.
"Silahkan di makan, Tuan. Kalau ada yang tidak disukai bisa komplain," ucap Ayu.
Makan siang berjalan hikmat, Tuan Louis maupun klien lainnya sangat menikmati masakan Ayu. Sedikitpun tak protes karena mereka seperti makan di sebuah restoran bintang lima.
"Selain pintar menulis dan berdagang, ternyata Anda juga pintar memasak, Nyonya."
Seketika pipi Ayu merah merona, ia tersipu saat disanjung di depan banyak orang.
"Sepertinya Nyonya juga cocok terjun di bidang kuliner," imbuh yang lain.
Angga menjentikkan jarinya. Itu memang rencananya. Ia akan membangun restoran yang menyajikan hidangan khas ala Ayu Lestari.
__ADS_1
Bu Winda tidak bisa berkata lagi, ternyata Ayu tak hanya dicintai oleh Angga namun juga dikagumi orang-orang tersohor.
"Itu nanti saja, karena untuk saat ini kami akan fokus dengan pernikahan," ucap Angga kemudian yang membuat semua orang bergelak tawa.
"Tenang, Tuan. Kami semua akan membantu supaya berjalan dengan lancar." Tuan Louis menyendok makanannya yang terakhir.
Drt Drt Drt
Ponsel yang ada di saku celana Angga bergetar. Ia segera merogoh dan melihat nama yang berkelip di layar.
Alice, ngapain dia menelponku?
Angga menatap semua orang bergantian lalu beranjak dari duduknya.
"Maaf, saya harus menerima telepon sebentar," pamit Angga dan berjalan menuju belakang.
Ayu yang duduk di samping bu Winda hanya menatap punggung pria itu yang mulai menjauh.
Tumben sekali dia mengangkat telepon jauh dariku, apa mungkin ini karena ada Tuan Louis.
Ayu melanjutkan makannya sembari menunggu Angga kembali.
''Halo ada apa?" tanya Angga datar.
"Sekarang aku ada di Indonesia, Ga. Kita masih bisa bertemu seperti biasa, kan?" tanya Alice yang membuat Angga terkejut.
Namun, ia tak kehilangan akal untuk menghindari wanita itu.
"Gak bisa, aku lagi sibuk dengan anak istriku. Lagipula ngapain kamu ke Indonesia?" tanya Angga balik. Ia penasaran dengan tujuan wanita tersebut.
"Aku kangen sama kamu. Aku bela-belain bolos dari kantor hanya untuk bertemu denganmu," terang wanita yang menurut Angga sangat centil itu.
Tanpa aba-aba, Angga memutus sambungan nya. Tak ingin berurusan dengan wanita lain selain Ayu.
Aneh-aneh saja, memangnya dia pikir bisa mengejarku.
Angga kembali masuk dan berkumpul lagi dengan keluarganya.
Alice tersenyum licik. "Kamu gak mungkin bisa menghindar darikua lagi, Ga. Aku akan buktikan!''
__ADS_1