
Angga berulang-ulang mengucapkan kata maaf atas kecerobohannya. Sesekali menatap Hanan dari pantulan kaca spion yang menggantung.
"Maaf aku merepotkan," ucap Ayu merasa bersalah.
"Aku yang minta maaf lupa mengantarkan motormu. Mulai besok kamu gak usah kerja biar aku yang mencukupi kebutuhan kalian."
Seketika Ayu menggeleng. Sedikitpun tak ingin berpangku tangan. Sebelum ia dan Angga terikat dalam sebuah hubungan sakral, maka anak-anak akan sepenuhnya menjadi tanggung jawabnya.
"Kenapa?" tanya Angga menekankan.
"Aku hanya ingin mandiri dan bisa membuktikan bahwa aku bukan perempuan lemah. Aku akan membuktikan pada mas Ikram, bahwa tanpa dia aku bisa menyekolahkan ketiga anakku." Ayu mengucapkan apa yang selama ini dipendam. Ia tak ingin diremehkan lagi seperti dulu.
"Baiklah, aku terima keputusanmu. Tapi jika kamu merasa terlalu berat katakan padaku."
Angga pun hanya bisa mendukung dari belakang. Memberi semangat pada wanita itu untuk bisa melewati semuanya.
Hampir lima belas menit, Angga sudah tiba di depan sekolah Hanan. Ia menatap lokasi sekolah itu dari dalam mobil. Cukup sederhana dan kurang memadai.
"Sudah terlambat, Pa." Menunjuk gerbang yang sudah tertutup rapat.
Angga tersenyum kecut. Menoleh ke arah Hanan yang nampak menekuk wajahnya.
"Apa Hanan ingin pindah sekolah?" tanya Angga dengan suara lirih.
Ayu hanya bisa melihat kedekatan mereka.
Hanan menggeleng, sebentar lagi ia menginjak kelas enam dan akan tetap sekolah di tempat itu sampai lulus.
"Nanti saja kalau sudah Smp," jawabnya lesu. "Lagi pula ini kan tinggal setahun," lanjutnya.
"Oke, untuk sekarang belajar yang rajin nanti papa akan mencari sekolah yang bagus untuk kamu." Mengusap pucuk kepala Hanan dengan lembut lalu keluar, sedangkan Ayu dan Alifa serta Adiba menunggu di dalam mobil.
Angga menggandeng tangan Hanan menghampiri satpam yang berjaga.
"Maaf, Pak. Apa saya boleh masuk?" tanya Angga.
Hanan menundukkan kepala, takut terkena hukuman seperti temannya saat terlambat.
"Maaf, Pak. Di sini sudah diterapkan bahwa siswa yang terlambat harus berada di luar sampai jam istirahat," ucap Satpam sesuai peraturan yang berlaku.
Otak Angga berkelana mencari cara supaya ia bisa masuk.
"Hanan bukan terlambat, Pak. Tapi saya sengaja datang siang karena ingin melaporkan sesuatu pada gurunya," kata Angga meyakinkan. Memasang wajah dingin dan serius.
Satpam yang bertubuh kekar itu menatap penampilan Angga dari atas hingga bawah lalu membuka gerbangnya.
__ADS_1
Hanan terdiam namun dalam hati terus berdoa pagi ini bisa mengikuti pelajaran.
"Baiklah kalau memang seperti itu silahkan masuk."
Teringat masa SMA dulu, pasti Angga mengelabui penjaga demi terhindar dari hukuman. Sebenarnya memang tak patut ditiru namun demi lolos dari amukan guru ia melakukannya.
Angga terus menggenggam tangan Hanan yang terasa dingin. Mereka menyusuri lorong menuju kantor.
"Bagaimana kalau Bu Guru tidak memaafkanku, Pa," ucap Hanan takut.
"Tenang saja, papa akan menyelamatkan kamu dari hukuman Guru." Angga mengucap dengan berbisik, takut ada orang lain yang mendengar.
Setibanya di depan ruang Guru, Angga mengetuk pintu.
Pintu terbuka lebar, nampak seorang pria memakai seragam kuning keemasan berdiri di depan pintu. Dari tatapannya yang tajam sudah dipastikan pria itu marah karena keterlambatan Hanan.
Supriyono
Angga membaca tulisan yang ada di baju pria itu dalam hati lalu mengulurkan tangannya.
"Maaf, Pak. Kenalkan nama saya Angga. Papanya Hanan," ucap Angga diiringi dengan senyum tipis.
"Saya Supriyono kepala sekolah di sini."
Supriyono menatap wajah Hanan yang nampak pucat.
Angga berdehem berpikir positif supaya alasannya diterima. "Tujuan saya ke sini hanya ingin mengantarkan Hanan. Sebenarnya dia tidak terlambat, Pak. Tadi ada sedikit masalah yang tidak bisa ditinggal. Jadi dia terpaksa harus ikut saya dan mama nya," ucap Angga panjang lebar.
Supriyono berpikir keras untuk memberi keputusan.
Melihat kesungguhan Angga, pria yang berpangkat kepala sekolah itu tak tega jika harus banyak bertanya. Terlebih Angga sudah mengatakan alasan Hanan terlambat.
"Baiklah kalau begitu silahkan masuk! Tapi saya tidak bisa memberi kesempatan yang kedua kali," ungkap Supriyono menjelaskan.
Angga mengangguk lalu mengantar Hanan menuju kelas.
"Makasih ya, Pa." Hanan memeluk Angga dengan erat saat mereka tiba di depan kelas. Bahkan, hal itu pun belum pernah dilakukan oleh Ikram.
"Sama-sama, sekarang masuklah! Papa mau mengantar dik Alifa dan mama."
Hanan melambaikan tangannya ke arah Angga lalu masuk setelah mendapat izin dari Guru yang mengajar.
Angga kembali ke mobil. Ia langsung diberondong pertanyaan oleh Ayu.
"Tenanglah, Sayang. Hanan aman, dia langsung boleh belajar di kelas."
__ADS_1
Ayu menyandarkan punggungnya di jok. Ketakutannya lenyap ketika mendengar penuturan sang kekasih.
"Hari ini kamu gak usah kerja, aku akan mengajak mu ke sebuah tempat." Keanu melanjutkan laju mobilnya lagi.
"Tapi aku belum izin sama Irma, gak enak juga sama yang lain. Akhir bulan ini Hanan bayar ujian dan aku juga harus menabung untuk mendaftarkan dia ke sekolah lagi."
Sebenarnya Angga bisa membantu dan meringankan beban Ayu, namun pria itu tak bisa berbuat apa-apa karena tak diizinkan.
"Bulan ini punya uang berapa?" tanya Angga basa-basi.
Ayu tersenyum saat mobil berhenti di depan sekolah tempat Alifa belajar.
"Bulan ini lumayan sih, pesananku banyak dan melebihi target. Aku dapat bayaran jadi kurir juga, kayaknya nanya akhir bulan juga mulai dapat bonus dari menulis."
Ayu percaya diri menunjukkan nominal yang yang ia miliki. Meskipun di mata Angga terbilang kecil, ia tetap bersyukur.
"Apa itu cukup untuk kebutuhanmu dan anak-anak?" tanya Angga memastikan.
"Insya Allah, Allah akan mencukupi setiap rezeki yang diberikan pada hamba-Nya. Berapapun itu aku sudah merasa cukup dan puas."
Tak ada yang diragukan lagi, Angga semakin jatuh cinta dengan wanita yang ada di sampingnya tersebut.
Seperti yang dilakukan pada Hanan, Angga pun turun mengantarkan Alifa masuk. Ia memperkenalkan diri sebagai papa dari bocah itu hingga membuat beberapa guru berbisik.
"Ternyata suami bu Ayu tampan sekali, sepertinya dia bukan orang sembarangan."
Angga hanya menanggapinya dengan senyuman lalu kembali setelah menyerahkan Alifa pada gurunya.
Tak menunggu waktu lagi, Angga melanjutkan perjalanannya menuju tempat yang akan ditunjukkan pada Ayu.
"Memangnya tempat apa sih, Mas?" tanya Ayu mulai kepo.
"Nanti kamu juga tahu." Angga melirik ke arah Ayu yang nampak merengut.
"Jangan cemberut gitu, aku malah pingin cium nih." Jiwa kelelakian Angga memberontak, semakin hari ia semakin tak tahan jika berada di samping Ayu.
Tin Tin
Angga membunyikan klakson saat berhenti di depan rumah mewah.
Ayu hanya bisa menatap dengan tatapan intens. Jika dilihat dari luar rumah itu persis sebuah istana megah yang dihuni raja dan ratu, namun ia tidak tahu siapa sang pemilik.
"Kenapa kita ke sini, Mas? Rumah siapa ini?" tanya Ayu.
Angga mendekatkan bibirnya di telinga Ayu.
__ADS_1
"Ini rumah kita. Setelah menikah nanti, kita akan tinggal disini," tutur Angga menjelaskan.