
Debaran jantung Angga kian memburu. Ia tak bisa berkata-kata melihat kecantikan Ayu yang luar biasa. Jika di mata orang lain akan terlihat biasa saja, tidak di matanya. Justru ada yang spesial dari orang yang saat ini berdiri di depannya.
''Apa ada yang aneh, Mas?'' Ayu merapikan rambutnya ke arah samping.
Angga menggeleng. Ia pun melepas jas yang membalut tubuhnya dengan bantuan wanita itu.
Seandainya tak ingat dengan keluhan Ayu saat di pelaminan, mungkin mereka akan melakukan ritual suci siang itu juga. Namun sayang, Angga harus menahan sejenak untuk itu.
''Kenapa kamu lihatin aku terus, malu.'' Ayu mengalihkan pandangannya. Ia meninggalkan Angga yang masih berdiri di tempat dan duduk di depan meja rias untuk membersihkan make up nya.
''Itu karena kamu cantik.'' Seakan tak ingin jauh, ia pun mendekati sang istri. Membungkuk dan mensejajarkan wajahnya dengan wajah Ayu.
Alih-alih mengambil sesuatu di leher, justru Angga mencium pipi Ayu yang membuat sang empu merona. Ada getaran aneh saat pria itu tak juga melepaskan ciumannya.
Tak hanya bibir, kini tangan Angga pun mulai merayap memeluk pinggang ramping sang istri.
''Jangan suruh aku melepasnya,'' ucap Angga memelas.
Ayu terdiam. Menerima perlakuan lembut seorang Angga.
''Apa Mas mau aku berbuat lebih?'' tanya Ayu menanggapi.
Sebagai seorang istri ia pun harus tahu apa yang diinginkan suaminya saat ini.
Angga mengangguk cepat. Ia tak mungkin menolak tawaran yang menggiurkan itu.
Ayu beranjak dari duduknya dan mendudukkan Angga di kursi yang beberapa menit ia tempati. Lalu dia duduk di pangkuan pria itu. Mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami.
Keduanya saling pandang dengan jarak yang terlalu dekat. Bahkan hidung bangir mereka saling menyapa disertai hembusan napas.
''Silakan, Tuan. Aku siap jika harus melayani mu siang ini juga,'' ucap Ayu mempersilahkan. Meskipun lelah ia tak tega jika harus membiarkan Angga menahan sesuatu yang seharusnya disalurkan.
Tanpa aba-aba Angga menyatukan bibirnya dengan bibir Ayu. Mengeratkan pelukannya dan semakin memperdalam ciumannya.
Sedikitpun tak memberi celah untuk Ayu melepaskan diri. Ia sudah terlanjur larut dalam gelora cinta yang menggebu.
''Apa kita akan melanjutkannya sekarang, Mas?'' Ayu menahan tangan Angga yang hampir membuka kancing bajunya.
Angga mengangkat tubuh Ayu dan membaringkan di atas ranjang. Mengusap keningnya yang sudah dipenuhi peluh.
''Gak, kita hanya akan pemanasan. Kalau kita melakukan sekarang kurang bebas. Pasti sebentar lagi ada yang mengetuk pintu,'' ucap Angga lirih.
Tidak masalah bagi Ayu, mungkin itu lebih baik daripada ritual mereka harus terganggu dan tidak puas.
__ADS_1
Angga melanjutkan aksinya. Ia mengungkung Ayu di bawah. Meski begitu antusias tetap melakukan nya dengan lembut dan berhati-hati, takut menyakiti sang istri.
Hingga beberapa menit kemudian, Angga ambruk di atas Ayu. Membenamkan wajahnya di ceruk leher wanita itu.
''Sudah?'' tanya Ayu mengusap kening Angga yang dipenuhi keringat.
''Hmmm,'' jawab Angga masih mengatur napas. Menikmati aroma parfum yang menyeruak masuk ke rongga penciuman. Tangannya masih tetap terpaut dan enggan untuk bangkit.
''Biarkan aku seperti ini,'' pinta Angga penuh harap.
Ayu mengangguk setuju. Mengusap punggung sang suami yang nampak mulai terlelap.
Ada ada saja kamu, Mas.
Benar saja, suara ketukan pintu terdengar dari luar, namun Ayu mengabaikan karena Angga tak mengizinkan untuk membukanya.
Dua jam berlalu
Kini Ayu sudah tampil cantik dengan baju yang berbeda. Jika tadi ia memakai kebaya putih dengan penuh bebatuan, kini ia memakai gaun mewah berwarna silver.
Gaun pengantin satu ini sangat cantik. Bagian gaunnya dari material kain full bordir, namun dibuat mewah dan elegan dengan aksen layering, cape full payet dan kristal berkilauan dengan tone warna abu-abu gelap.
Tampak anggun dan cantik, bahkan Angga mampu menjadikan istrinya itu berbeda dari pengantin pada umumnya.
Angga tersenyum bangga. Setidaknya ia sudah menikmati bagian dari apa yang menjadi haknya.
''Sudah,'' jawabnya asal.
Ayu mengernyitkan dahi. Padahal, mereka tadi hanya berciuman, tapi kenapa Angga mengatakan sudah. Bukankah itu perkataan yang memalukan?
''Sudah berapa ronde?'' tanya MUA lebih konyol lagi.
Angga menghampiri Ayu dan merapikan perhiasannya yang sedikit melenceng.
''Setengah.''
Gelak tawa mengiringi jawaban itu. Memang itulah yang terjadi. Angga baru setengah main dan itu akan menjadi permulaan yang cukup bagus.
''Oke, saya percaya. Dulu suami saya juga melakukan hal itu. Tenang saja, Tuan. Saya yakin nanti malam gak akan setengah lagi.''
Pembicaraan yang tak berfaedah menurut Ayu. Ia hanya bisa mendengar tanpa menyahut.
''Sudah selesai, silahkan turun.''
__ADS_1
MUA menggandeng tangan Ayu menuju pintu. Lantas, digantikan oleh Angga.
Untuk pesta yang kedua Angga sudah berantisipasi dan menyuruh Ayu langsung duduk. Berharap mereka mengerti dengan kondisi sang istri yang sudah terlalu lama berada di pelaminan.
''Selamat Tuan Angga. Kami semua gak dengar Anda pacaran tapi tiba-tiba saja nikah,'' kata seorang pria yang merangkul sang pengantin.
Matanya menatap Ayu yang juga menatapnya.
Mas Calvin
Ayu
Mereka saling menyebut nama dalam hati. Tak menyangka, lagi-lagi Ayu bertemu orang di masa lalu. Meskipun tak banyak yang mereka lalui bersama tapi cukup mengesankan.
''Saya memang tidak pernah pacaran. Kami menjalani hubungan jarak jauh,'' jawab Angga menjelaskan.
Calvin tersenyum lalu beralih berdiri di depan Ayu.
''Selamat ya, Yu. Ternyata beneran kamu istri Tuan Angga.'' Calvin menangkup kedua tangannya.
Saat menerima undangan ia memang sudah menebak dengan nama yang mirip sang mantan, namun sedikit tak percaya mengingat status mereka yang berbeda, dan terdengar mustahil jika itu terjadi.
''Makasih, Mas.'' Ayu menjawab dengan ramah.
Tak seperti acara pertama yang diisi dengan musik klasik dan kesakralan serta pencerahan bagi pengantin, kali ini lebih dominan dengan disko, karena sebagian tamu yang diundang di sesi kedua adalah anak muda dan pengusaha kaya.
Ada juga acara dansa yang melibatkan kedua mempelai.
''Aku gak suka dansa, Mas,'' tolak Ayu.
Ia malu menjadi pusat perhatian, terlebih sebagian besar dari mereka adalah kalangan papan atas.
''Aku akan membuatmu suka.'' Angga membawa Ayu di tengah para tamu.
Alunan musik mulai mengiringi, begitu juga dengan Ayu dan Angga yang mulai menikmati dansa nya.
Tak sedikit ungkapan cinta yang Angga luncurkan di telinga Ayu. Uraian-uraian kata manis terdengar merdu dan menyejukkan.
''Nanti malam harus siap, ya?'' tanya Angga menuntut.
Ayu mengangguk. Tidak ada alasan untuk menolak, terlebih tiga hari yang lalu ia selesai datang bulan.
Kembali menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami dan kembali mengikuti Alunan musik yang menggema.
__ADS_1