
"Ayolah, Nak! Papa minta maaf.'' Angga mencoba untuk merengkuh Hanan namun tetap saja bocah itu menolak.
"Papa sudah ingkar janji," teriaknya.
"Papa gak ingkar janji." Angga pun mengelak.
"Buktinya papa terlambat, bukankah itu namanya ingkar janji?'' Hanan tak mau kalah dan terus membantah karena terlalu kesal.
Ayu menuangkan empat gelas susu dan meletakkan di depan Angga.
Kedua putrinya mengambil segelas susu dengan gelas yang berbeda dari milik Angga dan Hanan.
"Minum dulu, Mas. Supaya pikirannya jernih dan gak mikirin Rani terus,'' sindir Ayu melirik ke arah Angga yang nampak memelas karena tak bisa membujuk Hanan.
Permusuhan antara anak tiri dan papa itu kian sengit karena keduanya tidak ada yang mengalah. Hanan yang keras kepala mencoba untuk mengupas kesalahan Angga, sedangkan Angga sendiri mencoba mempertahankan kebenaran yang dimiliki.
"Oke, sekarang gini aja.'' Ayu berada di tengah-tengah mereka.
''Kita akan tetap pergi. Kalau papa gak bisa mengajak kita nonton itu artinya dia sudah ingkar janji," ujar Ayu yang membuat Angga mengernyitkan dahi.
"Tapi jika papa bisa mengajak kita nonton sekarang juga, itu tandanya dia sudah menepati janji bagaimana?'' Ayu menatap Angga dan Hanan bergantian.
Ibunya memang paling cerdas
Itu adalah hal mudah bagi Angga, dan artinya Ayu memang memihak padanya.
"Aku setuju." Angga mengulurkan tangannya didepan Hanan, sedangkan bocah itu masih menyembunyikan tangannya ke belakang.
"Ayolah Boy. Papa janji sebentar lagi bioskop itu akan menjadi milik kamu." Mengedipkan satu matanya menggoda.
''Ini kesempatan papa yang pertama dan terakhir.'' Hanan menerima uluran tangan Angga dan menciumnya lalu melepasnya dalam durasi tiga detik.
Seperti permintaan Hanan, Angga memboyong calon keluarganya ke bioskop terdekat.
Bertepatan saat mereka turun dari mobil, banyak yang berhamburan keluar dari tempat itu. Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak yang seketika membuat Hanan tertunduk lesu.
__ADS_1
"Sepertinya filmnya sudah selesai, kita pulang saja." Hampir saja membuka pintu mobil, Angga mendekatinya dan mengangkat tubuh Hanan yang beratnya sudah tiga puluh kilo lebih itu.
"Gak ada yang selesai, kita tetap akan nonton," ucap Angga meyakinkan lalu menggiring mereka semua masuk ke dalam.
"Kalian duduk disini papa akan mencari seseorang."
Angga naik ke lantai dua. Tempat itu memang jarang dikunjungi, namun bukan tempat yang asing di matanya. Sejak kecil Angga memang sering menonton layaknya anak-anak yang lain. Dia ditemani papa dan mamanya hingga kenangan tentang papanya tak bisa terlupakan.
"Ternyata sekarang aku merasakan apa yang papa rasakan, dulu aku menuntut papa supaya bisa nonton film yang aku inginkan dan sekarang Hanan juga menuntut seperti itu. Meskipun dia bukan anak Kandung ku, aku sangat menyayanginya. Doakan aku supaya bisa memiliki Ayu, Pa. Doakan aku, karena aku yakin Ayu yang terbaik menjadi pendampingku."
Angga menemui seseorang yang ada di salah satu ruangan. Ia berbicara panjang lebar menjelaskan apa yang diinginkan olehnya saat ini.
"Baik, Tuan. Saya akan segera melakukannya."
Angga bergegas turun menghampiri Ayu dan anak-anak.
"Mari kita masuk, Boy! Kamu akan menonton film yang kamu suka."
Mempersilahkan Hanan dan yang lain masuk, sedangkan Angga membeli popcorn layaknya saat ia nonton dengan pacarnya.
Tidak ada siapapun selain Angga dan Ayu serta anak-anak. Suasana terasa sepi. Menurut Angga itu memang menguntungkan baginya bisa berduaan dengan sang calon istri. Namun tidak dengan Hanan, tetap saja ia merasa kesepian karena tak bisa melihat banyak orang dengan ekspresi yang berbeda saat ada adegan tegang di layar.
"Papa tahu apa yang kamu mau,"
Pintu terbuka lebar. orang-orang masuk kedalam dan memenuhi ruangan itu."
"Makasih ya, Pa," Hanan memeluk Angga yang duduk samping Ayu.
"Entahlah, aku juga bingung dengan dirimu, Mas. Kenapa harus mencintaiku yang sudah janda dan punya anak. Bukankah kamu bisa mendapatkan yang lebih," bisik Ayu di antara keramaian tempat itu.
"Itulah cinta, Yu. Tidak ada yang tahu, di mana kita akan bersandar. Tetap yakin aja, berkata yang baik-baik jangan marah lagi. Dan jangan diingat tentang urusan di kantor tadi, nanti aku jelaskan."
Angga pun tak lupa, selama dua minggu ini ia mengabaikan Ayu juga membuat Wanita itu kesal bahkan cemburu dengan tingkah nya yang lebih memilih Rani.
"Habis ini kita ke mana?'' tanya Angga di sela-sela nontonnya.
__ADS_1
"Renang, Pa. sudah lama aku gak berenang."
Angga mengangguk setuju sesekali melihat layar ponselnya untuk memeriksa email yang masuk.
Ada beberapa pesan juga yang masuk di antaranya dari Rani dan Elisa.
Apa aku tanyakan sama mas Angga saja siapa Elisa yang datang ke rumahnya kemarin.
Ayu menyodorkan popcorn di depan bibir Angga. Menatap wajahnya yang sangat dekat dengan pipinya, bahkan sedikit saja bergerak mereka pasti berciuman.
"Mas, apa aku boleh bertanya?" tanya Ayu berbisik namun tetap terdengar jelas di telinga Angga.
Suara layar lebar dan penonton bersorak tak jadi hambatan bagi Angga yang sengaja mendekatkan wajahnya dengan wajah Ayu.
"Siapa Elisa yang kemarin datang ke rumahmu, apa dia gadis yang akan dijodohkan denganmu?" tanya nya ragu-ragu, takut Angga tersinggung dengan pertanyaannya.
"Gak tahu pasti sih, biasanya mama memang begitu kalau ada anak gadis. Tapi kamu tenang aja, dia itu masih saudara, gak mungkin lah kita menikah meskipun dari nasab boleh aku tetap gak mau."
Ayu manggut-manggut paham.
Ternyata dia saudara mas Angga. Mana mungkin dia saudaraku, tapi sekarang Elisa di mana ya, tante dan om semuanya pada ke mana, benarkah mereka melupakan aku.
"Itu saudara dari papa kamu atau tante Winda," tanya Ayu yang masih penasaran.
"Elisa itu saudara dari __" Angga mengingat-ingat keluarganya yang banyak. "Eh, gak tahu juga, bingung aku merangkainya. Pokoknya dia itu masih kerabat jauh ku."
"Mas, sebentar lagi aku gajian lo, mau gak kamu aku traktir makan malam,'' tawar Ayu basa-basi.
Selama ini Angga yang selalu mengeluarkan uang untuknya dan Ayu ingin berbagi, itung-itung itu sedekah gajinya yang mulai lancar.
"Mau dong, di restoran mahal ya, " Angga memasukkan ponselnya. Dan beralih mengambil ponsel di tangan Ayu.
"Mana, berapa gaji kamu?'' Angga membuka sebuah aplikasi yang sering ditunjuk Ayu.
''Nih yang bulan kemarin, dan ini yang bulan ini.'' Menunjuk nominal uang lumayan besar yang membuat Angga bangga dan mengusap pucuk kepala wanita itu.
__ADS_1
"Tetaplah rendah hati meskipun banyak uang. Sampai kapanpun aku suka kamu yang seperti ini, Ayu Lestari."