
Ayu masih dirundung gelisah. Sepanjang perjalanan pulang ia hanya diam. Sesekali menatap ke arah luar jendela. Menikmati pemandangan kota yang diselimuti dengan polusi dan debu. Meyakinkan hati bahwa semua akan baik-baik saja karena setiap masalah pasti ada solusinya.
''Lagi mikirin apa?'' Angga menggenggam erat tangan Ayu. Berharap masalah yang dibendung akan terbagi, meski tak akan bisa.
Ayu tersenyum, mencoba mengalihkan pikirannya yang semrawut. Belum selesai urusan Chika dan Hanan namun sudah ada masalah baru yang membuatnya cemas tingkat tinggi.
''Kebanyakan anak remaja pasti malu kalau ibunya hamil, apa Hanan akan seperti itu? Apa dia akan marah jika tahu kalau aku hamil?'' Ayu menundukkan kepalanya. Jika itu terjadi ia tak akan sanggup menghadapinya.
Ternyata tak hanya masalah tentang Chika yang membuatnya cemas, namun juga tentang kehamilannya.
Bagaimana cara ia mengatakan pada Hanan. Apa tanggapan lelaki itu, marah ataupun senang. Itulah yang dari tadi mengganjal di dadanya.
''Hanan itu anak baik, dia pasti paham dengan keadaan kita.'' Angga meyakinkan.
Tentu itu tidak mudah baginya juga. Sebagai ayah sambung yang belum memiliki anak pun harus pintar merebut hati anaknya yang sudah remaja untuk menerima adiknya.
''Kalau kamu takut, aku yang akan bicara dengan dia.''
Angga menghentikan mobilnya. Menatap motor sport yang terparkir di depan garasi. Itu artinya Hanan sudah pulang.
Angga turun, membukakan pintu untuk Ayu. Kemudian mereka masuk bersama.
Hanan yang ada di ruang tengah hanya menjawab salam Ayu tanpa menoleh. Tanggung, game nya hampir menang, jika lengah sedikit saja akan berakibat fatal. Itulah menurutnya.
''Adik-adik di mana?'' tanya Ayu duduk di samping sang putra.
''Dijemput oma, Ma. Tadi katanya disuruh menginap, sekarang diajak kak Erlina jalan-jalan.'' Hanan meraih tangan Ayu dan menciumnya, itu pun dilakukan pada Angga yang baru tiba.
''Ada yang ingin mama bicarakan dengan kamu.'' Ayu mengambil ponsel dari tangan Hanan dan meletakkannya di meja. Pertanda meminta lelaki itu untuk fokus dengan ucapannya kali ini.
''Ada apa, Ma?'' tanya Hanan ikut serius.
Angga terdiam sesekali tersenyum tipis.
__ADS_1
''Mama hamil.''
Mereka bertiga terlibat dalam keheningan. Hanan sedikit menunduk menatap perut Ayu yang masih sangat datar lalu beralih menatap Angga yang duduk tak jauh darinya.
''Hamil?'' ulang Hanan memastikan.
Ayu dan Angga mengangguk bersamaan. Harap-harap cemas dengan reaksi Hanan selanjutnya. Senang ataukah sebaliknya, masih menjadi misteri untuk detik ini.
Tangan Hanan mengulur mengusap perut Ayu yang tertutup gamis longgar. Bibirnya tertarik berbentuk senyum, senyum yang tidak dipaksakan. Kepalanya menunduk dan menyandarkan di pangkuan sang ibu. Menghadap langsung ke arah sang adik bersemayam. Membayangkan menyentuh jari mungil yang lembut serta mencium aroma khas makhluk suci itu. Pasti sangat lucu dan menggemaskan.
''Apa aku orang terakhir yang tahu tentang ini?'' gumam Hanan menatap manik mata sang mama.
''Tidak, adik-adik juga belum tahu,'' ucap Ayu menjelaskan.
Ia belum tahu sepenuhnya apa yang dirasakan Hanan saat ini, namun dari ekspresi wajahnya sudah bisa dibaca bahwa lelaki itu bisa menerimanya dengan lapang.
''Semoga adikku nanti kembar ya, Ma. Pasti rumah ini sangat ramai, dan aku akan menjaga mereka semua. Aku akan menjadi pelindung bagi adik-adikku.''
Ayu tersenyum namun juga manangis. Terharu dengan ucapan Hanan, begitu juga dengan Angga, tidak ada lagi yang mereka khawatirkan.
Alhamdulillah, Hanan menerimanya dengan baik.
Obrolan-obrolan kecil menghiasi ruangan. Sesekali Angga maupun Hanan tertawa membayangkan bayi imut yang pasti akan menjadi rebutan. Tentu saja, Angga akan mengalah demi anak yang lainnya.
''Oh ya, tadi mama dari rumah Chika.''
Senyum Hanan redup seketika. Ia masih belum sanggup untuk membahas gadis itu, meskipun beberapa hari ini selalu terbayang, mencoba untuk menepis nya.
''Untuk apa?'' tanya Hanan curiga. Takut mamanya marah di rumah sang mantan karena ia sudah berani memberikan nomor ponsel pada orang tua gadis itu.
''Sebenarnya, bagaimana perasaanmu pada Chika? Jujur sama mama.'' Ayu menekankan. Ingin jawaban yang jujur supaya ia bisa memberi solusi yang tepat.
Hanan menatap Angga. Pria itu mengangguk lalu fokus pada sang mama yang menunggu jawabannya.
__ADS_1
''Aku menyukai Chika, Ma. Sampai sekarang pun aku masih berharap dia kembali padaku. Bahkan aku gak bisa melihat dia di dekat lelaki lain. Itu menyakitkan.''
Hari kemarin Hanan memendam perasaannya hanya demi kebahagiaan Ayu, namun kali ini ia harus mengatakan demi kata 'jujur'.
Ayu tersenyum. Mengangkat dagu Hanan hingga netra keduanya saling bertemu. Sebagi lelaki normal yang menginjak dewasa wajar mulai tumbuh benih-benih cinta, namun tetap harus waspada.
''Mama gak akan melarang kamu menjaga dia. Tapi, tetap dengan status sahabat, bukan pacar. Dia anak baik, masa depannya masih panjang sama sepertimu. Masa muda kalian adalah jawaban di masa tua nanti. Jadi mama harap kamu mengerti.'' Mengusap pundak Hanan dengan lembut.
''Pacaran itu tidak diperbolehkan, Nak. Dan kami orang tua tidak ingin kamu terjebak dalam cinta yang semu. Suatu saat, kami akan merestui hubunganmu dengan Chika, hanya menunggu waktu yang tepat. Untuk sementara anggap saja dia seperti adikmu, tapi bukan mahram.'' Angga ikut mengingat kan.
Hanan mengangguk mencoba mengerti dengan penjelasan papa dan mamanya. Memang akan sedikit rumit baginya yang saat ini mengharapkan lebih dari sekedar sahabat.
Suara salam serempak mengejutkan Ayu dan Angga. Mereka berdua mengerutkan alisnya melihat kedua putrinya berjalan dari arah pintu utama.
''Bukannya kalian jalan-jalan dan akan menginap di rumah oma?'' tanya Ayu pada kedua putrinya.
Adiba dan Alifa hanya senyum-senyum lalu mencium pipi Ayu bergantian. Memeluk Angga lalu duduk di tengah mereka berdua.
''Tadinya iya, tapi setelah tahu mama hamil aku langsung minta di anterin pulang. Pokoknya mulai malam ini aku akan tidur dengan mama,'' ucap Alifa ragu dan menunduk. Sebab, itu bukan hal yang mudah mengingat ada Angga.
''Aku juga.'' Adiba ikut mengangkat tangannya.
''Aku juga,'' tambah Hanan.
Angga hanya geleng-geleng kepala. Seperti nya bakal ada penghalang kokoh sehingga ia harus mengalah dan menahan hasratnya yang hampir setiap malam disalurkan.
Angga mengambil ponselnya lalu mengetik sesuatu. Tak lama kemudian ponsel Ayu berdering.
Wanita itu segera melihatnya. Ternyata pesan dari Angga.
Gak papa, setelah mereka tidur kamu pindah, aman kan?
Andara terkekeh menghapus pesan konyol itu, takut anak-anak melihatnya.
__ADS_1
Siap Tuanku, tunggu saja, balas Ayu, tak lupa ia pun langsung menghapus pesannya setelah terkirim.