Janda Tangguh

Janda Tangguh
Mencari pilihan


__ADS_3

"Baru pulang, Ga?" seru bu Winda dari arah meja makan. 


Angga melihat jam yang melingkar di tangannya. Baru sadar sudah hampir jam sembilan malam. Padahal, ia merasa hanya sebentar menghabiskan waktunya bersama Ayu dan anak-anak. 


"Aku lembur," jawab Angga tanpa mendekat. 


Bu Winda tersenyum sinis. 


"Lembur dengan janda anak tiga itu." Bu Winda menjatuhkan sendok ke lantai hingga bersuara. Mengalihkan perhatian Angga. 


Angga menarik napas dalam-dalam. Telinganya risih saat mamanya terus menyebut Ayu dengan statusnya. 


"Demi perempuan itu kamu melupakan acara makan siang dengan mama," lanjutnya mengingatkan. 


Angga mengusap wajahnya kasar. Disaat pulang ia ingin beristirahat mengurai rasa lelah, namun ada saja masalah yang menghalangi. 


"Bukan melupakan, tapi aku sengaja tidak menemui, Mama. Karena aku gak mau dijodohin dengan perempuan manapun," jelas Angga dengan tegas. 


Waktu makan siang, bahkan ia sengaja menghabiskan waktunya dengan jalan-jalan bersama Ayu dan anak-anak daripada memenuhi panggilan mamanya di restoran. 


Bu Winda menghampiri Angga dan melipat kedua tangannya. Seolah menentang keras ucapan sang putra yang dengan terang-terangan menolak keinginannya.


 


"Lalu apa yang kamu mau? Menikahi perempuan itu dan akan mempermalukan mama. Apa kata orang nanti? Kamu itu satu-satunya ahli waris keluarga. Jangan sembarangan mencari calon istri. Harus sepadan dengan kita dan berpendidikan tinggi. Berkarir, setidaknya dia berpengalaman dalam urusan bisnis."


"Ayu juga berpendidikan, Ma. Dia bukan perempuan sembarangan," sergah Angga sebelum bu Winda merendahkan wanita yang ia cintai. 


"Jangan menilai seseorang dari statusnya. Ayu memang janda, tapi dia bukan janda sembarangan. Sampai kapanpun aku akan tetap memilih dia, dengan atau tanpa restu mama." Angga  meninggalkan bu Winda. Ia tak ingin terus menerus berdebat dengan mamanya. Terlebih, Ayu sudah mengingatkan supaya tidak membantah dan harus menuruti permintaan seorang ibu. 


"Tunggu!" teriak Bu Winda yang sukses menghentikan langkah Angga. 


Angga berbalik badan hingga kembali bertatap muka dengan sang Ibu. 


"Mama ingin melihatku bahagia, kan? Jika memang itu yang Mama inginkan. Izinkan aku menikah dengan Ayu. Hanya dia yang membuatku bahagia, Ma," ucap Angga mengiba. 

__ADS_1


Ia membuka pintu tanpa menghiraukan ucapan mamanya lagi. 


"Dasar bandel, Mama akan melakukan segala cara supaya kamu dan Ayu putus." Bu Winda geram dengan cara berpikir Angga yang tetap kekeh mempertahankan wanita janda dari pada pilihannya yang jelas-jelas lebih cantik, modis dan juga perawan. Juga anak dari orang ternama yang memiliki beberapa perusahaan besar.


"Bagaimana lagi aku harus membujuk mama. Ya Allah, aku sangat mencintai Ayu, dan bagiku dia adalah segala-galanya. Aku tidak butuh perempuan yang muda dan memiliki karir, tapi aku butuh perempuan sholehah yang mampu membuatku nyaman dunia dan akhirat.''


Angga mengadu pada Sang Ilahi atas apa yang saat ini menimpanya. Setelah sekian lama berkelana akhirnya ia menemukan tepi dari penantian, namun harus mengalami hambatan oleh restu.


Ya, Angga memilih Ayu bukan karena parasnya yang cantik. Namun, karena kelembutan dan ketulusan hati wanita itu yang jarang dimiliki wanita lain.


Sikapnya yang dewasa dan tutur nya yang sopan mampu membuat Angga jatuh cinta dalam sekejap saja.


Angga melempar jas yang baru di lepasnya ke sembarang arah. Menghempaskan tubuhnya di sofa. Pikirannya kacau saat berdebat dengan mamanya. 


Sementara di sisi lain


Ayu menutup pintu kamar. Menghampiri Harini yang menunggu di ruang tamu. 


"Kamu mau bicara apa?" tanya Harini meletakkan ponsel nya di atas meja. 


Fokus pada Ayu yang nampak serius. 


"Bingung kenapa? Bukankah Angga itu baik. Dia juga sangat menyayangi anak-anakmu melebihi anak kandungannya. Lalu apa yang kurang dari dia?" tanya Harini antusias. 


Sebagai seorang kakak ia juga harus memastikan bahwa orang yang ingin memiliki Ayu benar-benar baik dan mau menerima wanita itu apa adanya. 


Ayu menundukkan kepala. Berulang kali Angga meyakinkan untuk percaya, namun dari relung hati terkecil ia merasa ragu untuk memberi keputusan. 


"Sepertinya namanya Angga tidak merestui hubungan kami. Apa ini karena aku janda." Ayu mengucapkan kegelisahan yang memenuhi dadanya. 


"Aku takut ini akan menjadi perseteruan antara Angga dan mamanya. Aku takut demi aku dia melawan orang yang sudah melahirkannya," imbuh Ayu cemas. 


Harini ikut berpikir keras. Apa yang dikatakan Ayu masuk akal juga, namun tidak ada yang bisa mengubah jodoh. 


"Sekarang katakan bagaimana perasaan mu untuk Angga. Apa kamu menyukainya?" tanya Harini menyelidik.  

__ADS_1


Seketika pipi Ayu merah merona, meskipun mereka berada di bawah pencahayaan remang, Harini bisa melihat jelas bahwa saat ini Ayu tersipu malu layaknya anak Abg. 


"Aku gak tahu," jawab Ayu pelan, bahkan nyaris tak terdengar. 


Harini tersenyum tipis, dari raut wajahnya ia sudah bisa menebak bahwa sudah tumbuh benih-benih cinta di hati Ayu. Hanya saja, wanita itu enggan mengakuinya. 


"Sekarang tidurlah! Besok kita pikirin lagi." 


Harini beranjak dari duduknya, sedangkan Ayu masih bergulat dengan pemikirannya. Menatapkan hati untuk melangkah ke depan demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik lagi. 


Ayu melepas hijabnya dan pergi ke kamar mandi. Ia mengambil wudhu hendak menjalankan sholat istikharah, dengan begitu berharap mendapatkan petunjuk yang lebih baik dari Sang Khaliq. 


Usai sholat dua rokaat, Ayu menulis lanjutan cerita nya yang hampir selesai tanpa melepas mukena nya. Menyempatkan waktunya yang sempit demi bisa menghibur readers yang mulia tergila-gila dengan tulisannya.


Bukan hanya sekedar ceritanya yang bagus dan menarik, namun Ayu mulai lihai dengan kata-kata puitis yang menyentuh hati. Juga kata moral di setiap akhir episode.


Ponsel berdering menghentikan jari Ayu yang sibuk menari di atas keyboard.


Bibirnya memulas senyum saat melihat nama yang berkelip. Ia segera menggeser tombol biru tanda menerima.


Sapaan salam terdengar lirih, Angga maupun Ayu takut mengusik anak-anak yang tertidur pulas.


''Kok belum tidur? Aku kan sudah bilang jangan tidur terlalu malam. Gak baik untuk kesehatan,'' tegur Angga serius.


Ayu tersenyum lagi. Kini hatinya lebih damai dan yakin untuk melanjutkan hubungannya dengan pria yang saat ini menatapnya dari layar ponsel.


''Aku baru saja selesai sholat. Sekarang lagi nulis. Kamu sendiri kenapa belum tidur?'' tanya Ayu balik.


Angga menghembus napas pelan. Dalam hati ingin menceritakan ucapan Bu Winda. Namun, ia tak ingin membuat Ayu kepikiran dengan masalah yang membelitnya.


"Mas, malam ini aku akan menjawab pertanyaanmu waktu itu," ucap Ayu diiringi detakan jantung yang memburu.


Angga tersenyum lebar. Memasang telinga baik-baik supaya tidak salah dengar.


''Katakan! Aku siap mendengarnya, apapun itu.''

__ADS_1


"Aku menerima lamaran mu."


Angga hanya bisa mengucapkan syukur dalam hati. Bahkan, kebahagiaannya kali ini tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


__ADS_2