Janda Tangguh

Janda Tangguh
Sikap Rani


__ADS_3

Masih di hari ulang tahun Adiba. keadaan Ayu sudah mulai membaik. Ia bisa membersihkan rumah dan juga merawat anak-anak. Memesan makanan restoran dalam porsi banyak. Rencananya hari ini akan mengirim makanan untuk karyawan yang ada di toko. Kemarin sengaja tidak mengundang mereka karena acaranya digelar di jam kerja. 


Meskipun libur bekerja, Ayu tidak berhenti menulis. Justru ia semakin gencar saat melihat pembacanya mulai banyak. Bahkan pengikutnya setiap hari pun bertambah. 


''Alhamdulillah, rezeki tidak akan ke mana. Semoga aku mendapat uang dari jalan lain.'' Meminum obatnya, takut Angga marah ketika tahu ia teledor.


"Mama jangan capek-capek, nanti kalau gak bisa bekerja biar aku bantu setelah pulang sekolah,'' pamit Hanan mencium punggung tangan Ayu.'' 


Ayu mengangguk mengiyakan. Memberikan uang untuk putra pertamanya tersebut. 


Tak berselang lama Hanan pergi, pesanan Ayu datang. Ia langsung mengambil dan membawa nya masuk ke dalam. Membayar dengan uang yang pas. Mengabaikan ucapan Angga yang mengatakan akan membayarnya. 


Ya Allah, akhirnya aku bisa mentraktir anak-anak yang lain, semoga rezeki ku bertambah berkah. Ayu menghitung jumlahnya lalu menghubungi Irma. 


Seperti biasa, mereka bercakap renyah. Meskipun lewat ponsel tak membatasi keduanya untuk curhat. 


"Maaf ya, untuk beberapa hari ini aku gak bisa masuk, tadi aku sudah kirim pesanan yang masuk pada Indah, katanya dia bisa menghandle semuanya,'' kata Ayu panjang lebar.


"Iya, gak papa, lagi pula kesehatan juga penting, semoga cepat sembuh dan menikah.''


Ayu mengamini dalam hati. Selama restu itu belum diberikan, ia tak ingin berharap penuh dengan pernikahan. 


Angga datang. Pria itu berpenampilan rapi dengan style yang keren. 


"Tumben cuma pakai kemeja. Gak ke kantor, Pak?'' Sekali-kali Ayu menggoda Angga yang nampak tampan di atas rata-rata. 


"Gak, Bunda. Kita akan datang ke acara makan siang di rumah Ikram. Kamu lupa?'' Angga kembali mengingatkan. 


Ayu menepuk keningnya. Ia benar-benar lupa bahwa Rani mengundang Angga makan siang di rumahnya. 


"Kok aku malas ya, Mas,'' ucap Ayu yang masih merasakan nyeri di beberapa bagian tubuhnya. 


"Kalau kamu malas aku bisa membatalkannya. Lagipula aku juga gak terlalu minat.'' Angga membuka tudung saji. Meskipun ada makanan dari restoran ia tetap mengutamakan masakan Ayu. 


"Jangan, gak enak dengan Rani. Mungkin dengan begini dia bisa mengingat semuanya, setidaknya kita mendukungnya.'' 


Angga nurut, ia pun ingin secepatnya wanita itu sembuh dan tidak merepotkan lagi. 

__ADS_1


''Cepetan ganti baju, Sayang. Atau mau aku gantiin?'' Angga tersenyum menatap setiap pergerakan Ayu. Entah, kali ini ia sudah tak sabar lagi untuk terus menunggu. 


Ayu meletakkan beberapa kotak itu di atas meja. Menatap Angga dari kejauhan. 


"Kamu jangan sering-sering ke sini ya, Mas. Aku gak enak dengan tante Winda.'' Ayu meremas sepuluh jarinya. Ia tahu Angga tidak akan terima dengan ucapannya, namun ia juga tak siap mengabaikan peringatan dari wanita itu. 


"Kenapa, apa ini karena mama? Apa mama mengancammu?''


Ayu melambaikan tangannya dan menggeleng. Tidak mungkin ia mengatakan yang sejujurnya. Itu hanya akan menimbulkan masalah besar. 


''Jangan dibahas. Aku akan ganti baju.'' Ayu bergegas ke kamar. 


Angga hanya bisa menatap pintu yang tertutup rapat. Sejak acara ulang tahun Adiba Ayu semakin sering melarangnya ini dan itu. Seperti ada sesuatu yang menekan untuk menjauhinya. 


Apa mama berbicara sesuatu pada Ayu, gak mungkin dia bersikap seperti Itu jika tidak ada orang lain yang ikut campur. Otak cerdas Angga langsung beroperasi. Menerka-nerka apa yang dibicarakan mamanya. 


Ayu dan Angga sudah tiba di rumah ikram. Mereka hanya mengajak Adiba karena kedua anaknya yang lain sekolah. 


Nampak Rani berdiri di teras dengan senyum lebar. Seolah menyambut kedatangan tamu penting. 


"Sayang, apa kita bisa bersandiwara?'' bisik Angga melihat tatapan aneh yang mencurigakan. 


Angga mencengkram ujung baju Ayu dan menggandengnya masuk. 


"Kalian sudah datang," sapa Rani berdiri di depan Angga tanpa menoleh ke arah Ayu. 


"Iya, maaf sedikit terlambat tadi kami mengantarkan makanan ke toko.'' Ayu yang menjawab. 


"Gak papa," jawab Rani tanpa mengalihkan pandangannya dan tetap tertuju pada wajah Angga. 


"Sebenarnya aku tidak tahu siapa mas Angga, tapi aku sedikit nyaman saat di dekatnya. Aku mohon bantu aku untuk mengingat semuanya.''


Bulu halus Angga berdiri mendengar ungkapan Rani. Entah, saat berada di dekat wanita lain, ia bagaikan didekati hantu kuntilanak. Begitu juga saat didekat Rani, ia merasa merinding  dan ingin menjauh. 


"Pasti aku bantu,'' jawab Angga ramah dan sukses membuat Ayu kesal.


Harini keluar menyusul mereka yang hanya berdiri di teras lalu mengambil Adiba. 

__ADS_1


''Silahkan masuk, Yu!' Ikram sudah menunggu kalian." Mempersilahkan masuk tamu istimewanya. 


Rani berdiri di antara Ayu dan Angga memisahkan mereka berdua. 


Apa-apaan sih dia? gerutu Angga dalam hati. Tangannya sudah gatal ingin menonjok wajah Rani, namun diurungkan mengingat Rani yang masih dalam keadaan sakit. 


Tidak hanya di luar Rani menyambut Angga dengan ramah, di dalam rumah pun Rani melakukan hal yang sama. Membuat dan menyuguhi minuman sendiri tanpa meminta bantuan pembantu.


"Kata mas Ikram mas Angga yang menabrak aku?'' tanya Rani duduk di samping Angga.


"Bukan, kamu yang menabrak sendiri," elak Angga. Ia tak akan pernah lupa dengan kejadian waktu itu. 


Rani memegang kepalanya. Mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi. 


"Benarkah, kenapa aku gak bisa ingat semuanya?'' Menjambak rambutnya hingga meringis. 


Ayu panik dan mencoba menahan tangan Rani. Begitu juga dengan Ikram yang ikut mendekat. 


"Gak usah diingat, Ran! Jangan paksakan diri kamu untuk mengingat semuanya,'' saran Ayu menangkup kedua pipi Rani. 


"Iya, Ran. Aku gak mau kamu sakit lagi,'' imbuh Ikram. 


Rani terisak menatap Ikram dan Ayu bergantian.


"Aku hanya ingin tahu yang sebenarnya, Mas. Aku gak mau seperti ini terus,'' cicit Rani menanggapi.


Meskipun Ayu dan Ikram terlihat khawatir tidak dengan Angga yang hanya biasa saja. 


"Aku mau bicara dengan kamu, Mas," ucap Ayu pada Angga. Ia berdiri dari duduknya lalu keluar. 


"Tolong jangan seperti ini, Mas. Aku tahu kamu gak suka sama Rani. Tapi aku mohon bantu mas Ikram, kasihan dia,'' pinta Ayu serius. 


"Aku sudah bantu mereka. Lalu kamu mau aku bantu apa lagi?'' Angga meninggikan suaranya. 


"Berbicaralah dengan baik pada Rani.''


Angga berkacak pinggang. 

__ADS_1


"Baiklah, kalau itu yang kamu mau aku akan berbicara baik dan bersikap baik pada dia.'' Angga terlihat marah dan meninggalkan Ayu. 


__ADS_2