Janda Tangguh

Janda Tangguh
Uang tahun Adiba


__ADS_3

Angga keluar dari kamarnya sembari membawa baju yang menggantung di tangannya. Menghampiri bu Winda yang sibuk menyusun makanan dari rumah Ayu di meja makan. 


"Nanti mama pakai ini ya!" suruhnya menempelkan di tubuh bu Winda. 


"Memangnya mau ke mana pakai baju sebagus itu?" tanya Bu Winda sinis. 


Meskipun berulang kali Angga mengatakan tentang acara ulang tahun Adiba, Bu Winda tetap saja tak menanggapinya dengan baik. 


"Ke pesta ulang tahun Adiba, Ma," terang Angga panjang lebar. 


"Mama gak janji akan datang, jadi kamu bilang pada wanita mu itu jangan berharap penuh."


Angga nyengir. Seandainya bu Winda bukan ibu nya, mungkin ia akan menamparnya, namun sayang hanya bisa memendam kekesalan. 


Angga menggantungkan bajunya di lemari kamar Bu Winda. Kemudian ia ke ruang makan menemani sang mama makan. 


"Tadi Ayu titip salam untuk, Mama. Dia juga bilang kalau mama gak boleh makanan yang berkolesterol tinggi." Ucapan itu sontak membuat Bu Winda terdiam dan meresapi setiap kata yang meluncur. 


"Setelah ini mama mandi, kita berangkat!" bujuk Angga sekali lagi sebelum ia ke kamar. Seperti janjinya pada Ayu, Angga akan berusaha sekuat tenaga meluluhkan  hati mamanya. Sedikitpun tak ingin membuat mereka kecewa padanya. 


Bu Winda duduk di tepi ranjang sembari menatap kebaya yang menggantung di lemari. Sebenarnya ia tak ingin pergi, namun karena Angga terus mendorongnya, terpaksa ia akan ikut datang. 


Angga duduk di ruang tamu. Sesekali melihat jam yang melingkar di tangannya dan menoleh ke arah kamar sang mama. 


"Kira-kira mama ikut gak ya? Kalau gak, pasti Ayu kecewa."


Angga menarik napas dalam-dalam dan memejamkan mata. Apapun pilihan mama nya ia harus menghargai seperti ucapan calon istri nya.


"Ayo, Ga!" 


Tiba-tiba suara renyah menyapa membuat Angga segera membuka mata. Ia menoleh ke arah sumber suara. Ternyata itu adalah  mamanya yang nampak anggun dengan balutan kebaya berwarna pink. Baju yang dipilih oleh Ayu untuk calon mertuanya. 


Alhamdulillah semoga ini awal dari semuanya. 


Angga dan bu Winda bergegas pergi mengingat waktunya yang sudah sangat mepet. 


Jika Angga berhasil membujuk bu Winda untuk pergi ke pesta ulang tahun putri nya, Ikram justru di ambang kesedihan mengingat keadaan Rani yang lupa segalanya. 


Pintu ruangan terbuka lebar. Harini masuk menghampiri Ikram yang nampak kusut. 


"Ini baju ganti untuk kamu. Sekarang kamu istirahat biar aku yang menjaga Rani." Meletakkan tas diatas meja lalu menghampiri adik iparnya. Bagaimanapun mereka tak patut dimusuhi. 

__ADS_1


"Hari ini ulang tahun Adiba. Kamu datang saja. Aku yang menunggu Rani di sini,"  ucap Harini mengalah. 


Sebenarnya Harini ingin datang ke pesta Adiba daripada harus menghabiskan waktunya dengan Rani, namun Ikram yang lebih berhak daripada dirinya. 


Ikram mengangguk. Ia ke kamar mandi untuk mengganti baju. Namun saat ia keluar, Rani membuka mata. Sama seperti kemarin, wanita itu masih tampak bingung dengan orang-orang yang ada di sekelilingnya.  


"Kamu sudah bangun?" Ikram mengusap  lembut kening sang istri. 


Harini berdiri di belakang Ikram. Ia pun ingin memastikan tentang kabar yang diterima. 


"Apa kamu mengenalku?" tanya Harini menunjuk dirinya sendiri. 


Beberapa detik Rani membisu lalu menggeleng tanpa suara. 


"Aku tidak tahu siapapun," ucap Rani polos. 


Harini lebih mendekat lagi. "Aku ini kakaknya Ikram, jadi kamu boleh memanggilku mbak Harini." 


Rani mengangguk kecil. 


"Aku pergi sebentar ada urusan, kamu di sini dengan mbak Harini," pamit Ikram sembari mencium kening Rani. 


Di tempat pesta


Acara sudah hampir dimulai. Namun, Ayu cemas saat ia belum melihat tanda-tanda Angga datang.


Apa mungkin tante Winda melarang mas Angga datang? Astagfirullah, aku gak boleh suudzon pada orang lain. Apalagi tante Winda sudah aku anggap ibu kandungku sendiri. 


"Ini kapan acaranya dimulai, Bu?" tanya MC sembari mengetuk jam yang melingkar di tangannya. 


Ayu masuk dan berdiri di garda terdepan. 


"Silahkan mulai, Mbak!" ucapnya malas.


Ayu mendampingi ketiga anaknya yang ada di panggung. Sebagai ayah sekaligus ibu kehadirannya sangat penting di mata mereka. Bahkan tidak ada yang mampu menggeser posisinya saat ini. 


Tak lama acara dimulai, sebuah tangan melambai-lambai dari arah pintu depan. 


Ayu mengembangkan senyum saat melihat wajah yang sangat familiar itu berjalan ke arahnya. 


"Maaf, kamu jaga adik-adik, mama turun sebentar," bisiknya di telinga Hanan. 

__ADS_1


Bocah itu mengangguk dan kembali fokus pada kedua adiknya yang duduk di sampingnya. Mereka terlihat lucu dan menggemaskan dengan bajunya ala princess. 


Ayu membelah tamu. Ia menghampiri Angga yang berdiri paling belakang. 


"Kenapa terlambat? Tadi anak-anak mencarimu," ucap Ayu kesal. 


"Maaf, tadi aku nungguin mama," ucap Angga sambil cekikikan.


Menatap wajah Ayu yang nampak cantik jelita. Bajunya yang berwarna pink seolah memancarkan kecantikannya yang luar biasa. 


"Mama. Tante Winda ikut?" tanya Ayu memandang ke arah depan. 


Angga mengangguk cepat lalu keluar. Menjemput mamanya yang masih ada di mobil. 


Sebuah kehormatan bagi Ayu saat melihat bu Winda masuk. 


Ia berlari kecil menyambut kedatangan sang calon mertua. 


Layaknya anak pada orang tua, Ayu mencium punggung tangan wanita itu lalu memeluknya. 


"Terimakasih karena Tante sudah sudi datang ke sini," ucapnya. 


Bu Winda masih saja bersikap sinis. Namun, itu tidak masalah bagi Ayu. Yang terpenting saat ini mereka sudah datang. 


Ayu kembali ke depan saat acara pemotongan kue tiba. Ia melambaikan tangannya ke arah Angga yang menemani bu Winda. Baginya, acara tidak akan lengkap tanpa kehadiran pria itu. 


"Tante mau, kan? Menemani mas Angga di depan," bujuk Ayu ragu. Ia takut Bu Winda akan memarahinya  karena sudah lancang mengatur. 


Tanpa menjawab, Bu Winda pun maju ke depan dan berdiri di samping Angga. 


"Sudah, Bu?" tanya MC sebelum menyuruh musisi memainkan alat musik masing-masing.


Ayu kembali menatap ke arah pintu. Berharap Ikram pun segera datang dan bisa mendampingi ketiga anaknya. 


Mungkin mas Ikram gak bisa datang. Dia pasti sedih melihat Rani hilang ingatan.


Layaknya anak-anak yang lain, Angga pun memakai topi hingga aksi kocaknya itu menciptakan gelak tawa bagi mereka yang hadir. 


Lagu selamat ulang tahun melantun dengan merdu. Semua anak-anak bertepuk tangan dan menyanyi diiringi alunan musik yang menggema. 


Adiba mengulurkan tangannya ke arah Angga hingga kini pria itu yang berada di depan kue mewakili Ayu. 

__ADS_1


Tanpa disadari Ikram yang baru datang melihat Angga yang berperan layaknya seorang ayah. 


Pak Angga memang lebih sempurna daripada aku. Dia bisa membuat anak-anak bahagia dan nyaman, sedangkan aku hanya membuat mereka menderita.


__ADS_2