Janda Tangguh

Janda Tangguh
Hadiah dari Angga


__ADS_3

Baru saja turun dari motor, Ayu sudah dikejutkan dengan empat kotak yang ada di meja depan rumah. Menoleh ke kanan kiri mencari seseorang di sekitarnya.


"Siapa yang mengirim barang-barang itu, apa mungkin mbak Harini?" terka Ayu.  


Ia meletakkan helm lalu menjemput anak-anak di rumah Ninik. Mengesampingkan rasa penasaran demi bisa bertemu buah hatinya yang seharian ini ditinggal. 


Seperti biasanya, mereka melepas rindu saling berpelukan dengan erat. 


Ninik keluar menghampiri Ayu. 


''Tadi ada kurir yang mengantar barang. Katanya untuk kamu," ucap Ninik lugas seperti yang diucapkan sang pengirim. 


"Apa kurir nya bilang dari siapa, Bu?" tanya Ayu balik seraya berdiri di depan Ninik. 


"Tidak. Dia hanya bilang untuk Ayu Lestari."


Dada Ayu bergemuruh gelisah. Takut itu dari orang jahat. Ia merogoh ponsel dari tasnya lalu menghubungi Harini. 


"Aku tidak mengirim apa-apa, Yu. Ini baru belanja dan besok baru mau aku antar ke rumahmu," terang Harini dari balik telepon. 


"Makasih ya, Mbak." Ayu memutus sambungannya. Saking takutnya ia meminta bantuan Ninik untuk mengantarnya pulang. 


"Mungkin saja ini dari fans kamu," ucap Ninik mengangkat kotak yang ada di bagian atas. 


Dilihat dari bungkus dan ukurannya memang tak asing yang membuat kedua alis Ayu menyatu. 


Ini seperti milik pak Angga. 


Menurunkan Adiba yang dari tadi digendongannya. Hanan dan Alifa pun ikut terdiam melihat kotak yang ada di depan mereka. 


"Buka saja, Yu. Gak mungkin ini bahaya," suruh Ninik meyakinkan. 


Tangan Ayu mengulur, ia semakin yakin bahwa kotak itu adalah kotak yang tadi diantar ke restoran. 


Jika benar ini milik pak Angga, apa maksudnya? 


Ayu membukanya pelan. Dari lubuk hati ia berharap itu bukan milik Angga. Namun salah besar, ternyata benar itu adalah baju yang dipesan pelanggan konyol itu. 


"Gak usah dibuka, Bu. Aku sudah tahu isinya." Ayu melarang Ninik yang hampir membuka kotak satunya. Ia menutupnya lagi tanpa ingin melihat.


Mengajak anak-anak masuk tanpa membuka kotak itu. 


"Aku langsung pulang, Yu. Malam ini mau pergi sama bapak," pamit Ninik. 


Ayu berterima kasih berulang-ulang pada wanita itu. Berharap tidak bosan membantunya dalam segala hal. 


"Kenapa gak dibawa masuk, Ma? Kayaknya bajunya bagus," protes Hanan yang sempat melihat baju tadi. 

__ADS_1


"Kurirnya salah kirim, Kak. Besok mama akan mengembalikannya," ucap Ayu lalu menyiapkan makan untuk mereka. 


Kenapa mama bohong. Jelas-jelas nama dia Ayu Lestari. 


Hanan tak mau membantah meskipun yakin barang itu milik mamanya.


Baru beberapa menit bergulat dengan bumbu dapur, Hanan mendekat membawa ponsel milik Ayu yang berdering. 


"Dari siapa?" tanya Ayu tanpa menatap. 


"Gak ada namanya, Ma." 


Ayu membungkuk menyuruh Hanan menempelkan benda itu di telinganya. Sebab, ia tak bisa meninggalkan masakannya yang ada di atas kompor. 


"Assalamualaikum," sapa Ayu dengan suara lembut.


Sontak seseorang yang ada di ujung telepon semakin kagum dengan janda beranak tiga tersebut. 


Ia menjawab salam dengan suara berat. Melompat dari tempat pembaringan. Membayangkan lagi wajah Ayu yang sangat cantik seliweran di depan nya saat ini. 


Ayu mendengus kesal. Ternyata itu adalah orang yang menurutnya sangat menjengkelkan. 


"Kalau Bapak tidak ada kepentingan jangan ganggu aku," ujar Ayu tegas. 


"Jangan matiin, Yu. Aku hanya ingin mendengar suaramu saja."


"Sebentar lagi, Nak. Ini mama masih masak," jawab Ayu. 


Hanan masih menempelkan ponsel di telinga Ayu tanpa mematikannya.


"Tapi aku sibuk, Pak." Ayu kembali fokus dengan ponselnya. 


Angga menghela napas panjang. Tersentuh mendengar rengekan anak kecil yang ia belum ketahui namanya. 


"Seharian kamu sudah bekerja mencari uang. Dan malam-malam begini masak. Kapan kamu istirahat?" tanya Angga dengan suara lirih. 


Ayu terdiam. Benar kata Angga, seharusnya pulang dari kerja ia bisa beristirahat dan menghabiskan waktu bersama anak-anak, namun kenyataannya ia harus bekerja lagi membuatkan makan untuk mereka. 


"Bukan urusan kamu," jawab Ayu ketus. 


Angga tak peduli dengan kebencian Ayu padanya, justru ia semakin jatuh cinta. Itu artinya bukan orang yang mudah terpengaruh dan akan mempertahankan harga diri di depan pria manapun. 


"Aku tahu, Yu. Tapi mulai hari ini akan menjadi urusanku. Kamu dan anak-anak akan menjadi tanggung jawab ku," ungkap Angga seperti yang diinginkan. 


Ayu tak menjawab, tangannya sibuk mengambil bumbu untuk melengkapi rasa masakan nya. 


Apakah orang ini calon papa ku? 

__ADS_1


Hanan mulai menebak-nebak sosok yang terus berbicara dengan mama nya. Meskipun ia tidak melihat wajahnya, Hanan yakin orang itu baik. 


Ayu menyusun makanan di meja makan lalu mengambil ponsel dari tangan Hanan. 


"Kita tidak ada hubungan apa-apa, jadi jangan pernah berbicara seperti itu. Aku bisa mengurus keluargaku sendiri. Besok kamu ambil barang-barang mu atau aku buang," ancam Ayu tegas. 


Namun, bukan Angga jika termakan oleh ucapan ketus Ayu. Sedikitpun tak ingin mundur aku takut. Menganggap itu adalah ujian dan harus lulus. 


Ayu menutup teleponnya. Mengambil makanan untuk ketiga anaknya dengan porsi yang berbeda. 


Sementara Angga yang ada di tempat lain hanya bisa mencerna ucapannya. Hatinya tergugah dengan niatnya yang ingin segera mendekati dan menghalalkan wanita tersebut. 


"Aku harus minta doa dan dukungan mama. Semoga dia setuju dengan keputusanku ini." 


Angga berdiri dari duduknya. Menghampiri Bu Winda yang ada di ruang tengah. Duduk di samping wanita itu dan bergelayut manja. 


"Tumben jam segini di rumah. Biasanya  kamu nongkrong di luar." 


Winda mematikan layar televisi. Paham dengan sikap Angga yang manja, pasti pria itu sedikit bermasalah. 


Aku harus mulai dari mana?


Angga bingung, di satu sisi ia sudah menganggap Ayu sebagai calon istrinya, namun disisi lain masih takut. Takut jika wanita itu tak mau menerimanya. 


"Bicara saja. Mungkin mama bisa membantu," tawar Winda serius. 


Angga menghela napas panjang. Mulai mode serius. Ia membuka layar ponselnya lalu menunjukkan foto Ayu pada sang mama. 


Dalam hitungan detik, Bu Winda terpesona dengan wajah cantik Ayu serta tampilannya yang memakai hijab. Ia menatap lekat manik mata wanita yang saat ini ada di layar ponsel milik sang putra. 


"Itu foto siapa?" tanya Bu Winda memastikan. 


"Ini foto perempuan yang aku sukai, Ma.''


Bu Winda terkejut, tak menyangka selera Angga adalah wanita kalem, berkerudung dan tampak dewasa. 


"Jangan tanyakan umur atau statusnya, Ma. 


Dahi bu Winda berkerut. Oke baiklah, sebagai orang tua ia tidak akan menanyakan apapun, akan tetapi harus tahu sedikit seluk beluk tentang wanita yang berhasil membuat anaknya jatuh cinta. 


''Siapa namanya?" tanya bu Winda basa-basi. 


"Namanya Ayu Lestari,'' jawab Angga cepat. 


"Nama yang bagus," puji bu Winda. 


Semoga dia bisa mengubah sifat kamu yang kekanak-kanakan, imbuhnya dalam hati. 

__ADS_1


__ADS_2