
Anggi sudah lebih dulu keluar kamar, untuk menyapa kakek dan orang tua Rama,kemudian berhenti sejenak mendengar pembicaraan mereka, wajahnya terlihat memerah karena malu dengan kejadian tadi.
Kakek dan orang tua Rama berbincang dan menertawakan hal yang dilihatnya tadi.
“sekarang aku tidak khawatir lagi dengan mereka berdua” Kakek
Maksud papa apa? Kata papa Rama
“papa melihat nya tadi "
“Apa yang papa lihat?” tanya Papa Rama dengan nada penasaran
“Mereka berdua sedang... ” menggunakan bahasa tubuh nya menautkan kedua jari jari tangannya
Papa Rama yang langsung mengerti maksud papanya itu menegur kelakuan mereka
“apa kalian tidak terlalu kekanak kanakan sampai mengintip mereka”
"kami tidak mengintipnya Pah, hanya kebetulan saja" saut Mamanya Rama
Rama keluar kamar mendapati Anggi berdiri mendengar pembicaraan kakek dan orang tuanya.
“Apa yang anak ini lakukan sekarang” penasaran Rama
Lalu berjalan menuju Anggi untuk menjahilinya
Menyodorkan kepalanya di samping wajah Anggi seraya membisikkan sebuah kalimat ketelinganya
“apa kau sedang menguping sekarang” bisik Rama
Anggi Sontak berbalik karena takut ketahuan, walaupun memang sebetulnya dia menguping.
bibirnya mendarat tepat di pipi sebelah kiri Rama.
Anggi Menutup mulut nya dengan kedua tangannya, cukup kaget yang awalnya memang sudah kaget di tambah lagi karena kelakuannya sendiri yang menempelkan bibirnya di pipi Rama
Rama tersenyum nakal, mengejek Anggi.
Karena kesal dia langsung berjalan menjauhi Rama
“Kau ingin memulai perang lagi dengan ku” gumam Anggi
Rama sengaja berteriak agar kakeknya mendengarnya
“kau jangan melakukannya disini, kakek akan melihat kita”
Kakeknya berbalik melihat mereka berdua.
“Rama, kamu ini jangan membuatku malu di hadapan orang tua mu yah” kesal Anggi yang sudah mencubit lengan Rama.
Rama hanya menahan terikannya agar tidak terdengar orang tuanya.
Anggi melototkan matanya tak suka dengan kelakuan Rama. Tapi dasarnya Rama tidak peduli dengan apa yang di ancamkan Anggi
“Kemarilah, bergabung dengan kami” kata Kakek yang melihat cucunya
Mereka berdua berjalan untuk menghampiri kakek dan Orang tuanya sambil merangkul Anggi.
“apa yang kamu lakukan kenapa merangkulku, Lepaskan!” tanya Anggi dengan suara pelan sambil menatap Rama
“Kamu menurut aja, Kakek pasti akan curiga kalau kita tidak bermesraan didepannya” bisik Rama
“aku tidak peduli” mengambil tangan Rama yang merangkulnya lalu melepaskannya
Rama tiba-tiba menggemgam tangan Anggi lembut lalu mengajaknya ke Ruang Tamu
Anggi hanya pasrah dengan tingkah absurt Rama yang terlalu tiba-tiba itu
Mereka duduk berdampingan disofa tepat berada di depan kakeknya.
__ADS_1
“kenapa kakek tidak bilang kalau mau datang sepagi ini, aku kan bisa bangun pagi menyambut kakek” sahut Rama membuka awal pembicaraan
“Kakek sangat merindukan kalian” kata kakek
"Tapi tidak sepagi ini juga kan, kalian sudah mengganggu pagi kami"
"takut kena macet Rama, lagian memangnya kenapa kalau kami datang sepagi ini, kamu marah" sahut Mamanya
"yah bukan seperti itu Mah, mama kan tau sendiri aku ini sudah nikah, ketuk pintu dulu dong"
"untung saja tadi masih pake baju" jawab Rama tersenyum smirk saat melirik Anggi yang sudah mulai kepanasan akibat Malu
Anggi melihat bibi ija sudah menyiapkan sarapan di atas meja tidak ingin melanjutkan pembicaraan yang barusan
“oh iya bagaimana kalau kita sarapan dulu”. Tanya Anggi memecah keheningan
“Kakek, Mah, Pah, ayo kita sarapan dulu, kalian pasti belum sarapan kan”
“aku” kata Rama sambil menunjuk dirinya ke arah Anggi
“apa?” menatap Rama dengan wajah kesal
“kamu tidak mengajak ku sarapan juga?” menatap wajah Anggi
Orang Tua Rama sedang melihat percakapan mereka, mereka menyadari kalau mereka sedang memerhatikan Anggi dan Rama.
“Kamu bukan anak kecil lagi yang mau di panggil makan” jawab Anggi
“Tapi kamu memanggil mama, papa, dan kakek juga”. Balas Rama
“Lelaki ini, pengen aku jitak kepalanya” pikir Anggi
Anggi mencubit kedua pipi Rama dengan cukup keras seperti anak kecil yang menggemaskan.
“kamu bukan tamu di rumah ini sayang, harusnya yang manggil makan itu kamu” sambil tersenyum dengan tatapan balas dendam
Melihat keromantisan mereka mama jihan tersenyum melihatnya, saat mereka semua menuju ke Meja makan.
“apa papa tidak dengar percakapan mereka tadi, romantis kan Pah"
“memangnya kenapa, apa ada yang salah?”
“gak ada yang salah pah, mama hanya suka aja melihat kedekatan mereka”
“Kok malah mama yang kasmaran sih melihat keromantisan mereka”
“Mama Rama tersenyum bahagia melihat kedekatan mereka”
“Mama jangan kekanak kanakan begini”
Percakapan orang tua Rama selesai setelah sampai di meja makan, Rama memamerkan kemesraan mereka lagi.
Rama berpikiran ingin mengerjai Anggi lagi, karena telah mencubit pipinya dengan cukup keras.
Rama menyuapi Anggi yang ada di sampingnya, melihat kelakukan Rama, Anggi terlihat kesal, Anggi tidak ingin membuka mulutnya.
“Buka” kata Rama
Mendengar kata itu Mama Rama langsung mengatakan
“Rama jangan menyuruh Anggi membuka nya disini, kamu lakukan di kamar saja” tersenyum mengejek
“Mah, aku menyuruhnya membuka mulut, bukan buka yang lain”
“ oh iya mama lupa kamu kan sudah melakukannya tadi pagi” ucap mama Rama yang spontan.
Anggi yang sementara makan tersedak terbatuk batuk mendengar perkataan Mertuanya itu.
Rama yang mendengarnya pun Menatap Anggi yang tidak tenang karena mengingat kejadian tadi.
__ADS_1
Papa Rama langsung menegur Istrinya itu.
“Mah lihat Anggi sampai terbatuk begitu, wajar saja kan merek itu sudah nikah"
“Mama minta maaf yah Anggi, mama spontan mengatakan itu”.
" tidak apa-apa kok Mah" sahut Anggi
Mereka melanjutkan makan mereka lagi. Selang beberapa menit menghabiskan makannya.
Mereka kembali mengobrol lagi diruang tamu.
“oh iya, mama sama papa pulang dulu yah” kata papa Rama
"kok cepat sekali sih Mah Pah" tanya Anggi
"Papa ada urusan di Kantor, Kapan Kapan Papa akan Mampir mengunjungi kalian"
“kakek gak ikut?” tanya Rama
“selama kakek di indonesia, kakek akan tinggal bersama kalian” jawab kakek
Rama cukup Terkejut mengdengar pernyataan kakeknya
"Kenapa? Apa kau tidak ingin kakek tinggal bersama kalian?
“Bukan seperti itu kek, hanya saja jika aku pergi kuliah dengan Anggi, tidak ada yang mengurus kakek, pembantu disini hanya bi ija. Bibi ija juga sibuk dengan pekerjaan rumahnya”
“Kenapa kau terlalu banyak protes, Anggi juga tidak keberatan kalau kakek tinggal disini.
"Tentu saja kek, kakek boleh tinggal disini selama yang kakek mau" Anggi tersenyum
“Kalau kakek tinggal disini dia tidak akan berani menjahiliku, aku tinggal melapor saja ke kakek” pikir Anggi
"baiklah kalau begitu, kakek akan tinggal disini untuk sementara waktu, jika ada apa apa bibi ija telpon kami saja" Rama
Bibi ija sudah menyiapkan kamar yang akan digunakan kakek untuk beristirahat. Kakek masuk kekamar, sementara Rama dan Anggi masih berada diruang tamu, Mereka beradu mulut lagi.
“apa maksudmu menyuruh kakek tinggal di sini?” Kata Rama
“jika aku bilang tidak boleh, kakek akan menganggap ku apa, kalau kakek marah dan sakit gara gara cucunya yang tidak peduli dengannya, kamu mau?”
“hehh, apa pedulimu?, bukannya kamu tidak senang jika tidak ada orang dirumah ini, agar kita tidak ketahuan kalau selama ini kita itu sekamar”
“ohh, apa jangan jangan kamu suka sekamar denganku”. Lanjut Rama
“iya juga sih yang dia bilang, aduhh kok aku gak kepikiran soal itu yah” Pikir Anggi
“siapa juga yang suka sekamar denganmu, lagian kita juga gak seranjang kan"
Dari jauh ternyata kakek menguping pembicaraan mereka.
Kecurigaanku selama ini memang benar, aku tau kalau kalian itu hanya akting saja.
Bibi ija melihat kakek sedang berdiri menonton perdebatan mereka.
“kakek ayo masuk ke kamar pasti kakek capek”
“Bi ija, kamu pasti tau semua yang terjadi dirumah ini kan” kata Kakek
“ maafkan aku tuan, mereka menyuruhku untuk merahasiakan ini dari anda”
“Kita masuk di kamar dulu, lalu kau jelaskan padaku”
Bibi ija menceritakan semuanya pada kakek
“selama aku di sini anggap saja aku tidak tau semuanya, aku ingin lihat seberapa jago mereka ber akting di hadapanku”
Makin banyak akting mesra mereka bisa membuat dia lebih dekat lagi
__ADS_1
Bersambung..