
Seketika Dara panik melihat Anggi yang sudah meneteskan airmatanya
"kamu kenapa?, ngga apa-apa kan? " tanya Dara khawatir
" Ra, aku ternyata susah punya anak"
Dara seketika melongo dan tidak percaya dengan apa yang dikatakan Anggi
"kamu jangan bercanda Gi, ngga lucu"
"aku serius Ra, apa kesedihan aku tidak terlihat jelas dimata kamu" ucap Anggi seraya mengusap airmatanya
"maaf Gi, aku ngga bermaksud begitu, aku hanya heran saja, bukannya Kak Rama bilang kalau kamu baik-baik saja"
Anggi terdiam sesaat baru menyadarinya, apa Rama selama ini membohonginya supaya Anggi tidak sedih dan mengatakannya kalau dia baik-baik saja, tapi Dokter tadi bilang seakan semua fakta yang Anggi alami itu benar.
"Gi, kamu ngga apa-apa kan? " tanya Dara
" ngga apa-apa Ra, aku hanya butuh berpikir jernih aja"
"lalu Dokternya ngasih kamu solusi kan"
"dia ngasih aku obat dan beberapa vitamin"
"yah udah kalau begitu, kamu pulang aja biarkan pikiran kamu tenang"
"makasih yah Ra, udah nemenin aku"
"santai aja, udah jadi keharusan aku sebagai sahabat kamu"
"aku pulang yah, aku juga udah mau pulang"
Mereka berpisah saat berjalan menuju mobil masing-masing
Anggi mulai menjalankan mobilnya keluar dari area parkir kemudian menghilang dari pandangan Dara.
Dara mengeryitkan keningnya saat berpapasan dengan mobil yang sedikit familiar baginya, saat melihat orang yang turun dari mobil dan benar saja tebakan Dara benar.
"apa dia sakit, buat apa dia kerumah sakit" gumam Dara penasaran
Beberapa saat memerhatikannya dari kejauhan, Dara bertambah bingung saat melihat sosok lelaki itu yang bersandar di mobilnya seperti sedang menunggu seseorang seraya menatap jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, terlihat seorang wanita hamil yang menghampirinya, tidak hanya itu saja bahkan lelaki itu mengusap perut besar wanita itu seraya mengobrol dengan senyum yang mengembang
Karena Dara terlalu bingung dan heran, Dara segera mengabadikan momen itu di ponselnya untuk di jadikan bukti agar dia tidak asal bicara nanti, Otak Dara masih belum mengerti maksud dari yang liat barusan.
"siapa wanita itu?"
"ahh, jangan berpikiran sembarang Dara mana mungkin dia.."
Pikiran itu masih saja bersarang di otak Dara. Bahkan pikirannya sudah menilai bahwa mereka punya hubungan spesial.
"aku harus menyelidikinya dulu mengumpulkan bukti sebelum aku memberi tahu yang sebenarnya"
"kenapa nasib kamu begitu memilukan" ucapnya
Setelah mobil yang dilihatnya pergi meninggalkan area rumah sakit, Dara juga menjalankan mobilnya.
__ADS_1
"apa aku ikuti dia saja yah, hitung-hitung aku bisa tau mereka tinggal dimana"
Disisi lain Anggi sudah sampai dirumahnya, rumah yang besar namun didalamnya hanya suasana kesepian. Lagi-lagi dia sendirian dirumah, berhubung Rama belum pulang dari kantor, biasanya Rama akan pulang malam kadang hampir tengah malam dia baru pulang disaat Anggi sudah terlelap
Anggi mendarat tubuhnya ke sofa panjang, memikirkan perkataan Dokter tadi membuatnya segera meraih obat di dalam tasnya.
Anggi berjalan menuju dapur mengambil sebuah gelas kemudian menuangkan air segelas penuh. Tanpa pikir panjang Anggi langsung memasukkan 2 butir obat dan vitamin sekaligus ke mulutnya. Lalu meminum air sampai tandas
Anggi bernafas panjang lalu menghembuskannya secara kasar
"semoga bisa membuahkan hasil" cicit Anggi
Anggi kembali menuju sofa lalu mengecek ponselnya, mungkin saja ada seseorang yang menelponnya sedari tadi Anggi tidak membuka ponselnya sejak tadi siang.
Beberapa notifikasi pesan dan panggilan tak terjawab.
Ting Tong
Aktivitas bermain ponsel Anggi buyar setelah mendengar bel rumahnya berbunyi.
Anggi yakin itu bukan Rama karena Anggi yakin jika itu Rama dia akan membukanya sendiri, dan itu sudah menjadi kebiasaannya, jika pulang larut malam
Saat membuka pintu rumahnya, sosok anak kecil berjenis kelamin perempuan tengah tersenyum dihadapannya ditemani oleh ibunya yang tidak lain saudara kembar Anggi yaitu Anggun
"Aunty" panggilnya
"Aurel" balasnya ke anak itu yang berusia 4 tahun
"Aurel kangen Aunty" ucapnya begitu lucu seraya memeluk paha Anggi
"Aunty juga kangen sama Aurel"
Anggi lalu meraih tubuh Aurel untuk di gendongnya
"Aunty kata ibu, Aurel mau dititipin disini"
Anggi seketika bingung maksud keponakannya ini, pandangannya beralih ke Anggun
"gini, aku ada urusan di luar kota, kalau aku ajak Aurel, dia ngga punya teman disana, aku mau titipan dia ke suster nya tapi dia ngga mau, maunya sama kamu, boleh yah cuman 2 hari aja"
Anggi menatap Aurel yang sangat membuatnya gemas, bahkan Aurel memasang muka memelasnya, anak ini sungguh bisa membuat dirinya tidak bisa menolak
"aku sangat senang jika kamu memberikannya anakmu padaku" goda Anggi
"ehh jangan dong, biarpun anak aku ini sedikit nakal, tapi aku ngga rela jika kamu ambil"
Anggi hanya terkekeh melihat ekspresi Anggun
"kalau begitu aku pergi yah Gi, titip Aurel"
"kamu tenang aja, lagian Rama juga biasa pulang malam, untung ada Aurel yang nemenin Aunty"
"aku pulang yah"
Setelah Anggun pergi, Anggi dan Aurel bermain bersama di rumahnya.
__ADS_1
"Aurel lapar ngga, mau Aunty buatin makanan?" tanya Anggi
"iya Aunty" teriak Aurel
"tunggu disini yah, Aunty masak dulu" titah Anggi lembut
"oke Aunty" ucap Aurel mengacungkan tangannya berbentuk O
Sangking gemasnya Anggi menguyel-uyel pipi cubby milik Aurel sampai bibir kecilnya mengerucut
"ihh, gemes banget sih" gerutu Anggi seraya tertawa melihat wajah Aurel yang sudah ditekuk sebal karena ulah Anggi
Setelah berkutat di dapur, Anggi menyiapkan masakannya diatas meja lalu memanggil Aurel untuk makan
"Rel, Ayo makan, masakan Aunty udah jadi" Panggil Anggi
"asik, Aurel udah lapar banget nih Aunty" ucap Aurel kegirangan
Setelah sampai di meja makan, senyuman Aurel sedikit luntur, dikarenakan Anggi hanya menggoreng nugget dan sayur. Padahal Aurel sudah berharap akan ada banyak makanan.
"kenapa, kok cuma diliatin makanannya"
"cuma ini aja yah Aunty"
"maafin Aunty yah, soalnya Aunty ngga sempat belanja bahan makanan tadi, yang ada cuman itu aja, ngga apa-apa kan?" ujar Anggi memberikan pengertian ke Aurel
" ngga apa-apa Aunty, lagian Aurel suka kok makan nugget"
"yah udah, kalau begitu dimakan"
"Aunty nuggetnya kok ada yang warna hitam yah"
"oh itu, Aurel ngga usah makan yang warna hitam" ucap Anggi gelagapan takut Aurel banyak protes
"kenapa Aunty" tanya Aurel
"entar kalau makan yang hitam rasa nya pahit kayak obat"
"Aurel suka kok sama obat, kalau Minum obat Aurel langsung sembuh"
"Yah udah kalau begitu Aurel makan aja kalau suka"
Anggi sedikit tersenyum memerhatikan Aurel yang akan memakan satu diantara beberapa nugget yang gosong
"sesekali kerjain anak kecil ngga apa-apa" kekeh Anggi menahan tawanya
"Aunty tolong ambilkan minumnya, Aurel haus" ucap Aurel meminta air minum ke Anggi
"nih anak pasti ngga suka, cuman gengsi aja bilang ngga enak" batin Anggi
"Aunty Anggi ngga bisa masak" batin Aurel
"gimana, suka ngga"
"suka" bohong Aurel
__ADS_1
"nih anak baru 4 tahun pintar banget merayu orang" gerutu Anggi
Bersambung..