
"sekarang bagaimana" tanya Dara
"kita sudah tidak bergabung dengan geng motor lagi" balas Ardan
"kami juga mencari kalian, namun nihil ngga ada yang memberi tahu kami"
"maafkan kami, sebenarnya saat itu orang tua kami langsung membawa kita keluar negeri untuk dirawat disana makanya kalian tidak dapat bertemu bahkan mencari informasi tentang kami, kau tau mereka sangat jahat bahkan bisa membunuh jika tau Yudha dan aku masih hidup"
"tapi kenapa kalian kembali, tidak takut mereka akan datang lalu tiba-tiba menyerang kalian"
"ketua geng yang pernah jadi musuh kami sudah mati, aku juga tidak tau siapa yang membunuhnya, intinya sudah tidak ada yang dapat mengancam nyawa kami karena sudah tidak ada lagi geng motor di sini, semuanya bubar"
Anggi masih diam mendengarkan, seharusnya dia merasa bersalah karena tidak tau alasan dibalik kepergiannya.
"Anggi"panggil Yudha
"semarah itu kau denganku"
"ngga, maaf aku hanya masih tidak bisa mengendalikan emosiku, semuanya masih terasa tiba-tiba"
"aku juga minta maaf, karena tidak memberitahumu yang sebenarnya"
"tidak apa-apa, lagi pula kalian sudah menjelaskan pada kami"
"oh iya Anggi, kemana kamu setahun terakhir ini, aku baru melihatmu saat masuk kuliah" tanya Ardan
"ceritanya sangat panjang, dan sangat sulit jika aku jelaskan" Ujar Anggi
"saat itu aku benar-benar butuh kalian, aku bahkan sangat kehilangan sosok orang yang bisa menjadi sandaran untuk aku menceritakan kesedihanku"
"tapi bagaimana keadaanmu sekarang, sudah baikan"
"hmmm, semuanya sudah kembali normal tapi... " kata Anggi menggantungkan ucapannya
"tapi apa?" tanya yudha penasaran
"kehidupannku sangat berubah sekarang"
"maksud kamu"
Dara yang mendengarnya mengerti maksud Anggi, memang semua yang Anggi lalui setahun ini sangat menguji kesabarannya, dari dia diselingkuhi dengan pacarnya, tiba-tiba dia di jodohkan, fakta kalau dia anak adopsi dan ternyata punya saudara kembar ditambah kedua sahabatnya yang baru muncul dihadapan nya sekarang
"aku akan cerita, tapi tidak sekarang"
"aku yang akan menceritakan pada kalian nanti" celetuk Dara mengajukan diri
"baiklah" kata Yudha
Jika kalian tau sebenarnya kedua sahabatnya ini menyimpan perasaan suka ke Anggi, makanya mereka kembali memberanikan diri bertemu dengan mereka, namun satu fakta yang mereka tidak tau, kalau Anggi sudah menikah. Mereka hanya tau kalau Anggi memiliki seseorang yang selalu mengantarnya
"oh iya, apa yang kalian lakukan sekarang" tanya Dara
"hanya seperti ini"
"maksud kamu kalian pengangguran" kata Dara yang sukses membuat keduanya tertawa miring
"aku salah yah" ucap Dara
"ngga, cuman lucu aja kamu bilang kami ini pengangguran" ujar Ardan
"kalian ngga sekolah yah" kata Anggi mengingat mereka sempat sekarat bertahun tahun
Tawa mereka pecah kembali, mereka tau maksud ucapan Anggi walaupun mereka sekarat namun hal tidak mungkin jika yang mereka katakan barusan itu
Ardan Mahesa Pratama anak pertama dari milyader terkenal di indonesia Pratama Grup yang memiliki beberapa perusahaan dibeberapa negara
__ADS_1
Yudha aliansyah Savero anak tunggal dari Savero grup, seorang CEO di perusahaan Kakeknya sekarang, siapa yang tidak kenal dengan Savero Grup perusahaan nomor Satu di bidang Teknologi yang sukses berkembang di berbagai negara.
Bahkan melebihi dari kekayaan orang tua Anggi dan Dara
"ngga usah ketawa mengejek, aku tau kalian itu anak orang kaya" ujar Dara cemberut
Dara tau kalau mereka berdua itu anak orang konglomerat, bahkan sekolah yang di tempati dulu milik Kakek Ardan,
"bukan begitu, hanya saja kalian itu lucu sama sekali tidak berubah"
"yah udah kalau begitu, pesanan kami kalian yang bayar"
"tenang saja kalian tidak usah khawatir kafe ini
kan punya Yudha"
Yudah tersenyum kecut lalu memberikan hadiah jitakan dikepalanya, Ardan sangat cerewet menurutnya, Ardan menatap Yudha dengan cengiran kuda tau maksud Yudha
"iya ampun"
"kalau kalian butuh bantuan kami, kalian bisa menghubungi kami"
"tentu saja, memang itu tugas kalian" kata Anggi
Yudha tersenyum tanpa sadar mengusap kepala Anggi gemas, sontak Anggi menatap Yudha lekat.
"maaf, sepertinya kebiasaan aku tidak bisa aku ubah"
"ngga apa-apa" balas Anggi dengan senyum manisnya
Ardan, yah dia sedikit cemburu melihat kedekatan mereka berdua
"Ra, pulang yuk"
"masih banyak waktu di lain hari"
"Anggi, kita ini orang sibuk loh bisa menyempatkan waktu buat kalian"
"yang nyuruh kalian disini siapa"
"ngga ada, cuman kebetulan aja kami liat kalian makanya kami samperin"
"yah udah kebetulan aku juga ada urusan makanya kami mau pulang"
"kamu ini kalau berdebat ada aja yah kamu balaskan, tidak pernah berubah" ujar Yudha
"ishh" kesal Anggi
"yah udah ngga usah berdebat, Kami pulang dulu yah" ucap Dara menengah
"hati-hati yah" ucap Yudha
"ehh bayar dulu, bikin rugi aja kalian" teriak Ardan
"bodoh amat" melambaikan tangan tanpa menoleh kebelakang
Ucapan Ardan sukses mendapat dorongan dikepalanya, sontak Ardan memegang kepalanya berpura pura merintih
"berisik" kata Yudha lalu berjalan meninggalkan Ardan
"bisa ngga kamu ngga usah nyosor kepala ku, lama-lama aku bego beneran yah"
"baguslah kalau sadar"
"aku lapor ke Papa ku tau rasa kamu"
__ADS_1
"silahkan, dasar anak manja" ledek Yudha
Yudha dan Ardan berjalan menuju mobilnya, kemudian menaikinya, Yudha refleks berbalik di samping kursi kemudi nya
"ngapain" tanya Yudha heran
"mau pulang lah"
"turun" titah Yudha
"Yudha, aku ngga bawa mobil"
"turun" mendorong Tubuh Ardan
"ingat yah kamu yang bawa aku kesini, tanggung jawab dong bawa aku pulang"
"tidak peduli, telpon sopir kamu"
"ngga, buat apa aku nelpon ada kamu kok yang bisa nganterin"
"aku bukan sopir kamu" kesal Yudha
"ribet amat sih kamu, cuman tinggal antar susah banget"
"yah udah, bawel"
Yudha menghela nafas kasar, mau tidak mau dia harus mendengar ocehan Ardan. Namun begitu dia sahabat yang baik selama dia mengenalnya.
"Yudha" Panggil Ardan
"kenapa"
"Anggi sama Dara makin cantik yah, apalagi sih Anggi ngga pernah berubah sama sekali"
Yudha hanya diam mendengar Ardan sepanjang perjalanan hanya Anggi dan Dara yang Ardan bahas, mengenang masa-masa mereka dulu saat awal bertemu sampai sahabatan seperti itu
"ada yang berubah dari Anggi"
"maksud kamu berubah bagaimana"
"dia seperti memberi jarak dengan kita"
"perasaan kamu aja"
Yudha larut dalam pikirannya, bukan kita tapi cuma aku, dia hanya memberi jarak dariku saja
"mungkin karena kita baru bertemu, makanya dia seperti itu"
"mungkin"
Setelah perjalanan menghabiskan beberapa menit Yudha sampai di depan Perusahaannya, Ardan menatap Yudha sinis karena tidak membawa dia ke rumahnya, tapi malah ke perusahaannya
Yudha melempar kunci mobilnya ke Ardan
saat Ardan turun ke mobil, tangkapannya tepat sasaran
"nice"
"maksudnya apa woi" teriak Ardan
"pulang sendiri" lalu meninggalkannya
"sabar Ardan, dia memang seperti itu, aneh nya ngga ada obat" ucap Ardan kedirinya sendiri menerima nasibnya yang sudah tau sifat sahabatnya itu
Bersambung....
__ADS_1