Jatuh Cinta Dengan Istriku

Jatuh Cinta Dengan Istriku
Penjelasan


__ADS_3

semenjak kejadian itu saat Anggi melihat langsung Suaminya bersama wanita lain, dia selalu menghubunginya tapi telpon Rama belum aktif.


hari ini sudah genap seminggu yang katanya Rama keluar kota, namun dia datang juga. apa dia memang sudah berniat untuk melupakanmu dan lebih memilih wanita itu.


kamar ini sepertinya menjadi saksi bisu kesedihan Anggi dan buku harian yang saat ini dia tulis mencurahkan semua isi hatinya.


berbagi dengan sahabatnya bukan ide yang buruk untuk berbagi suka dan duka, tapi Anggi juga butuh privasi karena tidak semua isi hatinya bisa tercurahkan hanya untuk mengobrol saja lagi pula Dara sudah banyak pikiran dan Anggi tidak ingin terlalu membebaninya.


Anggi membuka lembaran berikutnya untuk menempelkan foto USG hasil pemeriksaannya kemarin. terbit sebuah senyuman kecil di sudut bibirnya.


tiba-tiba muncul ide di benak Anggi, sepertinya dia tidak bisa tinggal diam jika suaminya direbut oleh orang lain. buku harian itu di simpan rapi di laci nakas bagian bawah.


segera Anggi meraih ponselnya di atas nakas kamarnya. dia menelpon seseorang yang sudah seharian ini tidak dia lihat batang hidungnya.


"kau butuh bantuan" ucapnya diseberang telepon


"Bisa kah kau menjemput ku"


"mau kemana? " tanya seorang wanita bersuara merdu


"bawa aku tempat yang pernah kamu tunjukkan padaku"


"maksud kamu yang mana? "


"Rumah yang Rama selama ini dia datangi"


"kamu yakin mau kesana"


"aku hanya ingin memperjelas semuanya Ra" kata Anggi ke Dara


" baiklah, aku akan mengantar mu ke tempat itu"


"atau kau kirimkan saja alamatnya padaku, biar aku yang datang sendiri ke sana"


"tidak, biar aku yang antar, kamu tunggu disitu jangan ke mana-mana sebelum aku datang"


"baiklah, aku tunggu"


setelah bersiap siap beberapa menit tak lama Mobil masuk ke halaman rumahnya dengan membunyikan klakson bertanda dia sudah tiba


namun sebelumnya Selepas ber teleponan dengan Anggi, Dara menghubungi Ardan dan Yudha bahwa Anggi ingin kesana.


tentu saja Yudha merasa kaget ini masih sangat pagi, bahkan dia saja masih tidur, Yudha sempat melarang Dara untuk membawanya ke sana, itu akan membahayakan dirinya, terlebih lagi dia sedang hamil dan tidak boleh terlalu emosional karena akan menggangu kehamilannya.


keputusan Anggi sudah bulat tidak boleh di ganggu gugat, mengingat watak Anggi yang keras kepala membuat mereka terpaksa menuruti kemauannya


dengan kecepatan penuh Yudha dan Ardan menyusul kedua wanita itu, perasaan khawatir terlihat jelas di raut wajah mereka saat ini. namun rasa kantuknya menghilang begitu saja.

__ADS_1


sumpah serapah dari Ardan bahkan sudah memenuhi mobil yang mereka gunakan. bukan masalah Ardan untuk menemani mereka, hanya saja Yudha menariknya paksa di saat mimpi indahnya. waktunya tidak tepat bahkan wajah kacaunya terlihat jelas baju yang asal pakai, terlihat seperti gembel namun Yudha tidak memedulikan penampilan Ardan, baginya Anggi yang terpenting.


"kalau sampai dia melukai Anggi sedikitpun aku tidak akan tinggal diam" batin Yudha seraya mengepal keras stir mobil nya


"heyy, kamu tenang kan dirimu, jika tersulut emosi seperti ini bisa-bisa kau membunuh anak orang"


"jangan memberiku ide Ardan, aku bahkan belum merencanakannya"


"baguslah"


"sepertinya itu ide yang sangat bagus, mereka pantas mendapatkannya"


dari tatapan Yudha yang Ardan liat terlihat sangat tajam bahkan siap menerjang sang musuh.


"kau jangan konyol, itu masalah rumah tangga orang"


"tapi semuanya gara-gara aku"


Ardan mengernyit bingung, walaupun kau menyukai Anggi bukan berarti itu semua karena kamu lalu apa hubungannya dengan Yudha mengenai perselingkuhan Rama.


"kau tidak bersalah hanya karena menyukai Anggi diam-diam"


"kau tidak tahu"


"aku memang tidak tahu"


"akan ku ceritakan nanti"


"Nanti" tegas Yudha


" kau membuatku penasaran saja"


"saat ini pikirkan tentang Anggi" ucapnya dengan setiap penekanan pada tiap katanya


" baiklah baiklah" jawab Ardan se enteng mungkin


Anggi dan Dara telah tiba di sebuah rumah minimalis berlantai 2, cukup besar namun rumahnya lebih luas.


rumah itu terlihat sepi sepertinya penghuninya belum bangun


"Gi, kamu yakin mau masuk" tanya Dara meyakinkan


"aku harus tau semuanya sekarang Ra, kalau bukan hari ini, aku akan terus-terusan tersiksa di hantui rasa ketakutan" jawab Anggi mantap


"kalau kau tau siapa wanita itu, hubungannya sama Rama apa, apa yang akan kamu lakukan?"


"entahlah, jika memang dia punya hubungan, aku mau mendengar alasannya terlebih dahulu, jika alasan itu masuk akal aku menyuruhnya untuk pergi dariku, jika Rama tidak ingin aku yang akan pergi darinya"

__ADS_1


"kau yakin dengan keputusanmu itu"


"aku sudah memikirkannya seminggu terakhir ini, itu sudah cukup untuk membuatku yakin"


"bagaimana dengan anak kamu"


"aku yang akan mengurusnya, sekalipun tanpa seorang ayah"


"baiklah, aku akan mendukung semua keputusanmu, selama itu membuatmu bahagia"


"kau tunggu saja disini, biarkan aku sendiri yang masuk, ini urusan rumah tangga ku" jelas Anggi


"baiklah, aku akan masuk menyusul jika terjadi apa-apa padamu"


Anggi menghirup udara banyak lalu dihembuskan nya secara perlahan, lalu turun dari mobil dengan langkah pasti dia masuk ke pekarangan rumah itu.


terlihat dua mobil terparkir disana dan salah satunya Anggi sangat mengenal mobil itu pemiliknya adalah Rama.


tibalah Anggi di depan pintu kayu bercat putih itu, lalu menekan bel nya.


sekali dua kali Anggi menekan bel, tidak ada sahutan dari dalam, karena kesal pemilik rumah tak kunjung membukakan pintu, dengan gusar Anggi menekan bel tersebut hingga menimbulkan bunyi yang tidak jelas dan bisa di pastikan pemilik rumah didalam akan terganggu dari tidurnya yang membuatnya harus bangun pagi kali ini


Dara sempat cekikikan melihat tingkah tidak sabaran sahabatnya itu.


Yudha dan Ardan baru tiba, dengan cepat menghampiri mobil Dara, Dara yang awalnya tersenyum langsung merubah wajahnya menjadi datar atas kedatangan Yudha yang membuat kaget


"Dara, Anggi mana?" tanya Yudha panik


"hey, kamu bisa tenang sedikit, orang yang kamu cari ada disana" tunjuk Ardan melihat aksi Anggi


Yudha berjalan melewati Ardan ingin masuk menyusul Anggi. namun dihadang oleh Dara


"mau kemana?"tanya Dara


"mau menyusul Anggi"


"Anggi sudah berpesan kalau dia ingin sendiri saja, karena itu urusan rumah tangganya"


"tapi kamu ngga liat, dia itu sendiri disana, kamu ngga takut jika terjadi apa-apa padanya"


"perlu kau ingat yang didalam itu suaminya, mana mungkin dia akan melukainya, terlebih lagi Anggi itu sangat jago jika urusan bertengkar" kata Dara


"situasinya beda Dara, Anggi itu sangat lemah sekarang, kamu bilang Rama tidak mungkin melukainya, tanpa kau sadari dia sudah melukai hatinya walau itu tak ada bekas apapun" ucap Yudha panjang lebar dengan muka khawatirnya


seketika Dara mematung, bukan karena kata-kata Yudha yang masuk akal, tapi perkataan Yudha yang begitu panjang menurutnya sangat langkah dia temukan


"iya aku tau, tapi Anggi sudah bilang kita boleh kesana jika terjadi apa-apa padanya"

__ADS_1


"lebih baik kita tunggu disini saja" Ucap Dara diakhir percakapannya.


bersambung..


__ADS_2