
Hubungan Rama dan Anggi semakin hari semakin dekat.
Sepertinya Anggi sudah mulai membuka hatinya untuk Rama.
Bagaimana tidak Rama selalu bersikap romantis ke Anggi
Hari ini mereka berdua ingin datang ke rumah Mama dan Papa Rama, katanya kemarin mereka sudah datang dari luar negeri karena urusan kerjaan
"Sayang, bangun udah pagi" Panggil Rama membangunkan Anggi
Anggi hanya merenggangkan badannya lalu tidur kembali
"masih ngga mau bangun nih"
Rama langsung mengecup bibir Anggi.
"hmm, Rama 15 menit lagi yah, aku masih ngantuk"
"pokoknya kamu harus bangun, hari ini kan kita mau pergi kerumah mama"
"pergi nya siang aja yah" jawab Anggi yang masih menutup matanya sambil berbicara
Rama hanya menggelengkan kepalanya lalu meninggalkan Anggi menuju loteng kamarnya. Hari ini cuacanya sangat cerah
Anggi yang merasa tidak mendengar suara Rama, membuka matanya
"kemana dia pergi"
Berharap Rama masih tetap berada di sampingnya menemani tidurnya
Anggi mengedarkan pandangannya kesegala sudut ruangan kamar tapi tidak menemukannya.
Anggi bangun lalu melangkahkan kakinya mencari Rama
Anggi menemukan Rama berdiri menghadap luar rumah lalu menghampirinya
Anggi memeluk badan jakung itu dari belakang menyenderkan kan kepalanya dipunggung Rama
Rama tersenyum merasakan pelukan Anggi
Lalu menunduk melihat tangan Anggi yang melingkar sempurna, kemudian memegang tanganya lembut
"jangan tinggalkan aku" 3 kalimat dari Anggi yang sukses membuat Rama tersenyum kembali
"aku disini, tidak kemana-mana"
Rama berbalik ke hadapan Anggi memperbaiki posisinya, Rama mengelus punggung Anggi
"ada apa, apa kau mimpi buruk lagi"
Anggi menggelengkan kepalanya di dada bidang Rama
"kamu tidak ingin aku meninggalkanmu" sambil menatap wajah Anggi
"hmm, kenapa kamu tidak disampingku tadi"
"yah aku kan sudah bangun"
"oh sepertinya akhir - akhir ini kamu tidak bisa tidur jika tidak ada aku di sampingmu" goda Rama
"aku takut"
"takut kenapa? " tanya Rama
Anggi menatap mata Rama lekat seperti memikirkan sesuatu yang selama ini ia pendam
" aku punya trauma" jawabnya lesu
Rama bertanya tanya mencari jawaban di mata Anggi, seperti nya dia berbicara serius
"trauma seperti apa? "
Anggi mulai melepas pelukannya lalu beralih duduk di kursi loteng yang sudah tersedia disana
__ADS_1
" saat kecil aku pernah di culik, disekap diruangan yang gelap tanpa ada cahaya sedikitpun"
"aku masih tidak mengerti motif dari penculikan itu. Aku selalu bertanya dengan orang tua ku tapi tidak ada yang mau memberitahuku"
"apa kau masih mengingat kejadian itu"
"masih aku ingat sampai sekarang"
"Coba ceritakan padaku siapa tau dengan kau memceritakannya trauma mu bisa perlahan sembuh"
"sepertinya tidak akan berhasil sampai orang tuaku menjelaskannya padaku"
"bagaimana caranya kau bisa lolos dari penculikan itu"
Rama mulai mendengar kan Anggi bercerita dengan wajah yang penasaran dan simpati dengan ceritanya seperti pernah mengalami kejadian serupa
"waktu itu, saat aku bangun dari tidurku, semuanya gelap, mataku tertutup kain dan tanganku terikat di bangku, aku mendengar suara gadis bersamaku sepertinya umurku juga sama dengannya, tapi saat aku berbicara padanya, aku tidak mendengar suaranya lagi"
"aku berpikir dia pasti di bunuh, kemudian aku berteriak minta tolong, tidak ada yang mendengarku, aku tertidur setelahnya"
"lalu aku tidak tau lagi kejadiannya, tiba-tiba aku berada di sebuah mobil bersama orang tuaku"
"apa orang tuamu tau kau sering trauma seperti ini" tanya Rama
"tidak tau, aku selalu berhasil menutupinya, pernah sekali aku berteriak saat listrik padam, mereka cukup khawatir mendengarnya, tapi aku langsung bersikap biasa saja saat mereka menghampiri ku"
"sejauh ini mungkin mereka tau"
"kenapa tidak bertanya lagi"
"aku sudah capek bertanya, makanya aku tidak mengungkitnya lagi, bahkan aku menyembunyikannya pada mereka"
"lalu kenapa memberi tahuku"
"aku hanya ingin kau tau semuanya tentangku"
"aku percaya kau bisa menjagaku"
"terima kasih karena sudah ingin mempercayaiku" ucap Rama
"aku akan selalu percaya padamu"
"kau mau memulai semuanya dari awal bersamaku, belajar untuk saling menyukai, mencintai dan saling melengkapi" Ucap Rama sambil menatap Anggi memegang kedua tangannya
Anggi pura-pura berpikir sambil menatap kedua mata Rama, lalu tersenyum
"aku akan belajar untuk menjadi istri yang lebih baik lagi"
"maafkan aku karena pernah tidak ingin menerima perjodohan ini"
"aku juga minta maaf"
Kemudian mereka tersenyum sambil menatap satu sama lain
"aku mau mandi dulu" ucap Anggi
"mau aku temanin" sambil menaik turunkan alisnya
"ngga, jangan berpikir aneh pagi pagi"
Ajakan Rama langsung tertolak oleh Anggi
"Anggi, ayolah" teriak Rama sambil tertawa
"ngga, mandi sendiri sana"
"boleh yah" tawar Rama
"ngga" tegas Anggi
Saat Anggi sampai ke kamar mandi, wajahnya benar benar merah karena malu
Anggi menggelengkan kepalanya menepuk wajahnya agar lebih dingin, dia tidak bisa membayangkan jika mandi berdua di kamar mandi
__ADS_1
Anggi segera menyelesaikan aktivitasnya. Lalu keluar dari ruang ganti menemukan Rama di atas sofa sambil menunggunya bermain ponsel
Sudah ada Rama yang sudah rapi dengan setelan jas kulit nya disana
"mau kemana rapi sekali"
"bukannya mau kerumah mama, kita kan sudah janji mau berkunjung kesana"
"iya aku tau, tapi kenapa gayamu seperti orang mau pergi kencan" sambil menatap Rama dari atas sampai bawah
"emang aku mau pergi kencan dengan istriku dirumah mertuanya"
Anggi hanya tersenyum mendengar perkataan Rama barusan.
"yah udah, ayo"
Mereka keluar kamar bersama, lalu terhalang oleh ucapan kakek
"kalian sudah selesai"
"iya kek"
"kakek sudah menunggu kalian sejam yang lalu"
"maklum aja kek"
Rama melihat beberapa koper di dekat Kakek
"kakek mau kemana bawa koper begitu banyak"
" kakek mau tinggal di rumah mama papa kamu saja"
"kenapa kek" tanya Rama
"kakek ngga betah tinggal disini" tanya Anggi sedih
"bukan seperti itu, kakek juga ngga mau ganggu kalian berdua"
"kakek sama sekali tidak mengganggu kok"
Kakek membuang nafasnya kasar
Rama yang mengerti maksud kakeknya itu, segera memberikan pemahaman ke Anggi
"kakek tidak ingin melihat kita bermesra mesraan di depannya" ucap Rama to the point agar Anggi segera mengerti
"jangan ngomong sembarangan" sambil memukul lengan Rama
"aku ngga ngomong sembarangan, emang kayak gitu kok"
"begitu kan kek" sambil tersenyum
"sudah sudah, mending kita berangkat sekarang" ucap kakek
Mereka berangkat bersama menuju rumah Orang tua Rama.
Diperjalanan kesana, Rama menelpon papa nya jika sudah ingin menuju kesana.
Kakek dulu di kursi depan dekat sopir, Anggi dan Rama duduk di kursi penumpang
Rama menggengam tangan Anggi lembut sambil mengelusnya.
"sayang" bisik Rama ke Anggi
"hmm kenapa" sambil berbalik ke Rama
"tidak apa-apa" lalu tersenyum
Anggi merasakan ke bahagiaan Rama selama perjalan menuju Rumah mertuanya
"kenapa senyum-senyum"
"aku hanya senang aja"
__ADS_1
Anggi hanya menatap Rama dengan senyuman berharap senyuman di wajah Rama tidak pernah pudar
Bersambung...