Jatuh Cinta Dengan Istriku

Jatuh Cinta Dengan Istriku
Terpaksa


__ADS_3

sejak kejadian tadi pagi kini Rama dihantui rasa penasaran, sedari tadi dia hanya duduk di sofa, menonton acara TV matanya menatap nanar benda persegi itu tapi pikirannya tidak mengarah pada alur cerita film


"apa Anggi hamil" batin Rama


"tapi tidak mungkin, dia itu susah hamil"


"apa aku cari tau saja, kalau memang dia hamil itu pasti anak ku"


"sayang, kamu mikirin apa sih, mata kamu itu ngga lepas dari layar TV dari tadi padahal filmnya udah abis" kata Viona sedari tadi menatap Rama


"hah, ngga apa-apa"


"apa kamu masih mikirin, yang tadi"


"ngga" bohong Rama


"ngga usah mengelak, aku tau kamu itu mengkhawatirkan Anggi kan, istri kamu"


"kamu itu bicara apa sih"


"perlu kau tau, aku juga istri kamu, aku sekarang hamil anak kamu dan semua keinginan mu selama ini bisa terwujud berkat ku, seharusnya aku itu cemburu,marah sama kamu karena ternyata kamu punya istri"


"aku minta maaf karena merahasiakannya padamu"


"kalau kamu masih cinta, pergi saja sana, tapi jangan harap kamu bisa memiliki anakmu ini" ketus Viona seraya mengancam Rama


Viona tau kelemahan terbesar Rama itu tentu saja anak yang berada di dalam perutnya sekarang, bahkan anak yang di kandungnya sudah hampir melihat dunia.


"aku memang cinta sama dia, bahkan perasaanku tidak pernah berubah padanya, cuman keadaan yang memaksaku seperti ini, aku tidak rela dia bersama lelaki lain, saat dia tau aku selingkuh hatiku juga sakit melihatnya sangat kecewa, tapi apa boleh buat, keinginanku punya anak sangat besar di banding rasa cinta ku, aku rela mengorbankan cintaku hanya memiliki anak" batin Rama

__ADS_1


Rama POV


saat perjumpaan nya dengan Viona untuk kedua kalinya Rama tidak menyangka dirinya bisa semabuk ini, padahal niat awalnya hanya ingin menjernihkan pikirannya.


tanpa dia sadari ada Viona yang menghampirinya, walaupun belum sepenuhnya mabuk Rama masih tau kalau itu Viona, entah mengapa saat meneguk minumannya lagi, hawa di ruangan itu begitu panas serasa Rama memandikan keringat padahal AC nya sudah menyala.


Viona begitu lihai menggoda Rama sampai-sampai dia sudah tidak bisa menahannya.


esok paginya mereka bangun dalam keadaan yang tidak bisa dikatakan normal bagi dua orang lawan jenis yang tidak memiliki ikatan pernikahan.


Rama hanya bisa menghela nafasnya kasar, dia sadar dengan kelakuannya kemarin, dia yang melakukannya hanya saja dia begitu heran, bagaimana bisa dia tidak bisa mengendalikan dirinya, sementara selama ini dia tidak pernah kekurangan sedikitpun jika menyangkut hal ini.


akhirnya dia pulang sangat pagi meninggalkan Viona sendirian di kamar yang masih terlelap tidur. selama kejadian itu Rama selalu menyibukkan dirinya di kantor, bahkan selalu beralasan pekerjaan keluar kota pada Anggi, padahal dia hanya berdiam diri di ruang kerjanya


Rama merasa bersalah dengan kelakuannya, jika Anggi tau dia pasti akan kecewa dan meninggalkannya. membayangkannya saja Rama tidak sanggup.


" Aku Hamil" ucap Viona menggenggam tangan Rama seraya menitikkan airmatanya


dua kata yang membuat Rama langsung melotot kan kedua matanya, bahkan dia hanya diam tak bergeming,


mencerna kembali dua kata itu


disisi lain dia sangat merindukan kata itu, namun disisi lain dia sadar yang hamil itu bukan istrinya, antara senang karena selama ini dia memang menginginkan Anak, sedih disaat mengingat kembali dia ingin mempunyai anak dengan Anggi bukan dengan wanita lain.


dengan berat hati, Rama mengatakan kalimat yang membuatnya mungkin akan menyesali perkataan yang dia keluarkan saat itu.


dia tidak tega melihat wanita didepannya ini hamil tanpa seorang suami, dan mungkin dia juga akan menyesal jika Viona memilih untuk menggugurkan anak yang di kandungnya padahal selama ini dia menginginkannya sementara ada wanita yang ingin sekali punya anak tapi belum di kasi sampai sekarang


"kamu tenang yah, aku janji akan bertanggung jawab, akan ku pastikan kau tidak menanggung malu atas kesalahan ku juga" ucapnya mantap sekali tarikan nafas

__ADS_1


Viona membawa dirinya ke pelukan Rama dan di balas hal yang sama oleh sang empu, namun Rama tidak tau sama sekali jika perlakuan mesranya di depan umum, sedari tadi ada yang memperhatikannya. tidak lain adalah Kakek Anggi sendiri.


selama menjalani kehamilan Viona selalu saja meminta Rama untuk berada di dekatnya dengan Alasan anaknya yang menginginkannya. dengan terpaksa Rama memutar otaknya lagi agar Anggi tidak curiga padanya, dengan Alasan dia akan pulang larut malam karena banyak kerjaan, nyatanya setelah pulang kantor di sore hari Rama mampir dirumah yang sudah dia sediakan untuk Viona dan jika Viona sudah tertidur, Rama akan pulang walaupun itu sudah larut malam.


sekali berbohong menurutnya tidak apa-apa selama Anggi percaya padanya, namun kebiasaan itu terus saja berlanjut, sampai akhirnya perhatiannya fokus pada Viona yang perlu pengawasan ketat membuatnya kelabakan sendiri.


pikirnya Anggi tidak akan masalah jika dia meninggalkannya lagi seminggu ini, Banyak yang akan menemaninya, terlebih Anggi selalu pergi bersama Dara melepas kebosanannya yaitu berjalan di Mall dan nongkrong di kafe seperti anak Muda pada umumnya.


namun Rama salah, kecurigaan Anggi malah bertambah saat Rama memberikan kata kasar dan membentaknya begitu saja, bukan berubah hanya saja Rama pusing dia tidak bisa memilih diantara keduanya.


selama seminggu itu pun Viona selalu bermanja-manja dengan Rama, Rama yang over protektif terhadap Viona mengingat Anaknya akan lahir, perasaan khawatir dan takut kejadian yang menimpa Anggi dulu membuatnya siaga, mau tidak mau apa pun yang di katakan Viona dia turuti termasuk memberikan haknya sebagai suami kepada Viona.


walaupun sedikit tidak rela dia membagi dirinya dengan wanita lain, semua terpaksa dia lakukan.


rencana awalnya menyetujui akan bertanggung jawab dengan Viona semata-mata hanya menginginkan anaknya saja, setelah anak itu lahir, Anak itu akan di berikan ke Anggi untuk di asuhnya mengingat itu darah dagingnya juga, namun bukan ibu kandungnya. kemudian Rama akan Menceraikan Viona.


takdir yang di rencanakan Rama, berbanding terbalik saat di pagi hari suara ketukan mengganggu tidurnya.


dengan langkah malas Rama berjalan menuruni anak tangga, namun belum sempat dia melangkahkan kakinya, betapa kagetnya, anaknya hampir celaka, dengan kesal Rama memarahi Anggi.


nasi sudah jadi bubur, dia sudah tertangkap basah bersama wanita lain, dengan berat hati makian dan cacian Terdengar jelas ditelinga Anggi, berbanding terbalik dengan apa yang ada dihatinya. hatinya sakit mengeluarkan kata yang membuat Anggi sakit hati.


jika dia jujur mengatakan dia mencintainya tidak ingin melepaskannya, lalu berkata hanya menginginkan anaknya Viona, tentu saja jika Viona tau gagal sudah rencananya.


betapa khawatirnya dia saat mengetahui ada Darah mengalir di kakinya, bahkan ingin sekali dia yang berada di posisi Ardan, dan ucapan Yudha terngiang jelas ditelinganya.


"Apa Anggi Hamil" pikiran itu terus saja bersarang di kepalanya Rama


bersambung....

__ADS_1


__ADS_2