Jatuh Cinta Dengan Istriku

Jatuh Cinta Dengan Istriku
Munafik


__ADS_3

Keesokan harinya Anggi dan Dara berencana datang kerumah sakit untuk bertemu dengan Dokter sheina memeriksakan kandungannya


Karena dokter yang pernah mengatakan bahwa Anggi hamil belum memberi tahu sudah berapa usia kandungannya, jadi hari ini Anggi akan pergi


Anggi masuk keruangan tersebut yang disambut oleh Dokter Sheina langsung dengan senyuman khasnya


"Selamat siang Dok" sapa Anggi


"siang, bagaimana apa sudah ada hasil?" balas Dokter sheina


Senyum Anggi merekah, sentak Dokter Sheina membalas senyuman itu


"aku pikir senyuman yang anda tunjukkan, seperti dengan maksudku"


"aku juga tidak yakin Dok, aku hanya bingung sedangkan aku hanya meminum obat anda sebulan yang lalu, sedangkan Dokter bilang efeknya bisa terlihat setengah tahun"


"sekarang aku percaya, keajaiban itu memang ada"


Anggi membaringkan dirinya, di brangkar untuk mengecek perkembangan janinnya,


"lihat lah, bahkan tuhan memberikan anda 2 sekaligus"


"maksud Dokter apa"


"maksud saya sepertinya anda membawa 2 nyawa, liat ada 2 titik disana, walaupun belum terlalu besar tapi embrionya sudah terbentuk"


"anak saya kembar Dok"


"iya, selamat yah"


"tapi bagaimana dengan kandungan aku Dok, apakah janin aku sehat"


"karena kandungan anda sangat lemah, aku akan memberikan anda pil untuk penguat kandungan, dan jangan lupa pesan saya, jangan terlalu banyak berpikir"


"baik Dok, terima kasih Dok, aku pikir karena obat yang anda berikan, aku bisa hamil lagi"


"apa yang aku berikan tidak ada apa-apanya jika anda juga tidak menuruti perkataanku"


"jadi semuanya juga usaha anda"


"baik Dok, kalau begitu aku permisi dulu"


Anggi keluar dari ruangan itu yang di sambut oleh Dara.


"bagaimana, janin kamu sehat kan"


"katanyanya lemah, tapi aku di beri obat penguat kandungan"


" Ra, kata dokter bayi aku akan kembar"


"oh ya, wahh aku akan punya ponakan kembar"


"hmm"


"Rama kamu akan menyesal setelah tahu bahwa calon anak kamu itu langsung dua, kau tega selingkuh karena Anggi tidak bisa memberikanmu Anakkan" batin Dara


"heyy, kamu kenapa kok melamun sih"

__ADS_1


"apa Gi"


"kamu lamunin apa sih, ayo pulang" tegur Anggi


"iya iya ayo"


"aku udah ngga sabar beri tahu Rama kalau aku hamil, bahkan punya anak kembar malah, penantian kita selama ini ngga sia-sia"


"Anggi kamu belum percaya juga sama perkataan aku, Rama itu selingkuh dari kamu" batin Dara


"Ra, tunggu disini dulu yah, aku mau resep obat yang di kasi Dokter Sheina"


"aku temanin"


"ngga usah, kamu duduk disini aja" tolak Anggi


"yah udah tapi cepat, aku ngga suka menunggu"


"iya iya, bawel banget sih"


Setelah mendapatkan obat, seorang lelaki yang sangat Anggi kenal tengah berjalan dikoridor rumah sakit.


Dengan langkah cepat Anggi menyusulnya


"apa dia sakit?" batin Anggi


Lelaki itu berhenti tepat di ruang UGD


"kamu tidak apa-apa kan, aku kan sudah bilang padamu kalau mau kemana-mana biar aku yang mengantar mu"


"lain kali kalau kamu butuh sesuatu, harus tanya aku dulu, bagaimana kalau terjadi apa-apa sama kamu" ucapnya begitu perhatian


Samar-samar namun masih cukup jelas Anggi mendengar semua pembicaraan lelaki itu didalam ruang UGD, begitu perhatiannya dia,tapi yang membuat Anggi terheran siapa wanita yang tengah diajaknya berbicara


"kamu istirahat yah, aku akan menjaga mu disini" lanjut lelaki itu


"janji jangan tinggalkan aku"


"iya aku janji, aku akan selalu berada disisimu"


Pendengaran Anggi memanas mendengar sebuah kata perhatian yang begitu manis diberikan kepada wanita itu.


begitu penasarannya Anggi menarik knop pintu


Untuk membukanya, pemandangan yang begitu jelas membuat matanya ikut memanas


Badannya seketika bergetar, melihat adegan romansa tepat didepan matanya, suaminya sedang berciuman dengan wanita lain bermula dikening lalu turun ke bibir wanita itu.


Betapa syoknya Anggi bahkan kaki dan tubuhnya ikut bergetar, rasa sakit hati yang begitu dalam seperti tersayat sebuah silet yang menyayatnya satu demi satu


Jantungnya seakan ingin berhenti saat itu juga Begitupun dengan matanya, air matanya tiba-tiba mengering enggan mau keluar.


Satu tangannya menggepal kuat menahan rasa sakit didadanya. Kenapa begitu sakit, rasa sakitnya melebihi saat dia kecelekaaan bahkan kehilangannya anaknya waktu itu.


Seorang lelaki tengah berada tepat di belakang Anggi, dengan tangan lebarnya dia berhasil menghalangi pandangan Anggi yang masih setia menatap kedua insan yang sedang bermesraan di hadapannya.


Dengan cepat, dia menutup kembali ruangan laknat itu.

__ADS_1


"jangan liat lagi" ucapnya


Anggi tidak merespon perkataan sang empu yang mengajaknya berbicara, hanya diam memikirkan kejadian tadi.


"Anggi, kau tidak apa-apa kan" tanyanya begitu khawatir


"kau bilang tidak apa-apa, coba pikir jika kamu yang berada diposisinya" sahut Dara yang baru datang setelah merasa Anggi begitu lama, dengan sigap Dara menyusulnya, namun kejadian yang dia tidak harapkan tengah terjadi


"bagaimana bisa kalian ada disini?" tanyanya


"yang harus bertanya itu aku, ini tempat umum jadi wajar lah kita ada disini"


"maksud aku, apa kalian sakit kenapa ada disini"


"aku balik tanya kenapa disini, ini bukan rumah sakit tempat mu bekerja"


"jangan bilang kau bersekongkol dengannya, kamu tau apa yang dia lakukan bahkan ikut andil dan berperan sebagai dokter nya kan" Tuduh Dara yang tepat sasaran


Seketika Dion membeku tak bergeming, mendengar semua perkataan yang keluar dari mulut Dara yang sangat benar


"kenapa kau diam, karena yang aku katakan benar kan" Kata Dara tersenyum miring


"selama ini kami percaya padamu tapi ternyata kamu berhianat, ohh bukan, sepertinya aku salah, lebih tepatnya kau seperti orang munafik yang sangat baik dihadapan kita namun busuk dibelakang" ucap Dara panjang lebar, yang lagi lagi membuat Dion tetampar oleh kata-kata Dara sangat menusuk


"sudah Ra, berhenti mengeluarkan tenagamu, percuma kamu mengatakan itu, semuanya sudah terjadi" kata Anggi yang sudah sedikit tenang


"Tapi, orang seperti mereka itu memang harus di beri tahu biar dia sadar, dia tidak memandang kita itu bisa di tindas begitu saja"


"biarkan aku memakinya Gi, dia pantas mendapatkannya"


"cukup" teriak Anggi yang membuat Dara bungkam


"Aku mau pulang" ucap Anggi seraya berjalan gontai meninggalkan kedua lawan jenis itu


"beri tahu orang itu, Ku harap dia menyesal dengan apa yang dia perbuat"


Setelah memberi tahu kalimat terakhirnya, Dara berlari mengejar Anggi yang sudah cukup jauh meninggalkannya.


Saat berada di mobil, Anggi hanya berbaring sambil menatap kaca jendela


"menangislah, karena kau bukan robot"


Sentak Anggi menatap Dara yang berada di sampingnya yang tengah fokus menyetir.


"menangislah, itu manusiawi setelah puas kembalilah pada tujuan hidupmu" kata Dara memberikan semangat


"Gi, menangis aja, aku malah khawatir padamu, jangan berpura-pura kuat tapi malah kau tidak sanggup"


"aku ngga kuat, bagaimana kalau aku mati aja"


Ucap Anggi seraya menatap lekat mata Dara


Mendengar ucapan Anggi spontan membuat Dara menghentikan mobilnya secara mendadak.


"jangan mengucapkan itu lagi, apa lagi jika kau berani melakukannya, aku ngga akan segan meneror Rama sampai dia menyusulmu juga" emosi Dara tak tertahan


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2