
Sepulang dari kafe, Ardan langsung berangkat menuju kantor Yudha, namun sebelumnya dia mengirim pesan singkat untuk Yudha, Ardan tau lelaki itu pasti tidak akan mengangkat teleponnya
"kamu dimana?" isi pesan Ardan
Tanpa menunggu balasan, Ardan langsung menuju kantor Yudha.
"ehhmm" dehaman Ardan sukses membuat Yudha langsung menatapnya
"kenapa?" tanya Yudha lalu beralih ke beberapa kertas di hadapannya
"aku mau beri tahu kamu sesuatu yang penting, dan ini mengenai Anggi" ujar Ardan antusias
Sentak Yudha menatap dalam Ardan penasaran informasi apa yang akan diberi tahu Ardan namun Yudha cepat merubah raut wajahnya menjadi datar kembali agar dia terlihat merespon dengan biasa saja, kemudian Yudha mengangkat alisnya sebelah, tertarik dengan perkataan Ardan.
"Anggi, kenapa dia? " tanya Yudha seolah tidak tau apa-apa
"kamu harus tau ini" ucap Ardan menggantung kemudian duduk di sofa
"Apa?" singkat Yudha
"Rama itu selingkuh, Aku dan Dara bertemu Anggi di Kafe tadi"
"lalu" santai Yudha
"tentu saja Aku dan Dara memberi tahunya kemudian memberikan bukti kebohongan Suaminya itu"
"sial, rencana ku gagal dari dua anak ini" batin Yudha yang tengah mengumpat
"tau dari mana?"
"kamu tau juga? " spontan Ardan kembali
"maksud aku, siapa yang memberi tahumu"
"sebenarnya sebulan yang lalu aku pulang dari Jerman, saat dijalan aku ngga sengaja melihatnya sedang turun dari mobil bersama seorang wanita hamil pula, yah karena pikiranku ngga tenang, makanya aku suruh anak buah papa aku untuk mengikutinya"
"yang paling membuatku heran setiap aku mau keluar rumah ada aja hambatannya, mobil aku bannya kempes lah, kunci mobil tiba-tiba hilang, dan yang paling parah papa aku nyuruh urus perusahaannya, makanya sebulan ini aku ngga bisa mengikutinya langsung"
" Seperti ada seorang mata-mata dirumahku sendiri"
" tunggu" Ardan berpikir sejenak
" jangan bilang itu karena ulah kamu kan, bukannya kamu selalu... " tuduh Ardan yang tepat sasaran.
"iya" potong Yudha
"apa" kaget Ardan seketika matanya membola tak percaya, bagaimana bisa sahabatnya itu tega berbuat licik padanya. Walau Ardan tau, Yudha bisa melakukan apa saja demi kepentingannya.
"kenapa kamu lakuin itu hah?"
"kamu tau alasannya"
Bukan Yudha namanya jika dia akan menjelaskan panjang lebar. Itu hanya akan menguras tenaganya terlebih lagi Ardan tau maksud Yudha, hanya saja dia butuh penjelasan lebih
"Yudha, kamu pikir aku akan merusak rencanamu, agar kamu bisa dekat dengan Anggi, aku tau kamu sangat menyukainya bahkan aku merelakan perasaanku demi kamu, tapi kenapa menyulitkan aku juga"
"aku pikir kamu tidak bisa menjangkau apa yang aku pikirkan"
"asal kau tau, aku tidak sebodoh itu kita sudah lama berteman, mana mungkin aku tidak tau sifatmu itu" bangga Ardan
"baguslah" spontan Yudha
__ADS_1
"tapi kalian merusak sebagian dari rencanaku"
"karena kalian rencanaku sudah gagal"
"maksud kamu apa?, jadi benar kamu sudah tau" selidik Ardan
"sudah lama"
"kapan?
"setahun yang lalu"
"kamu sudah tahu tapi menyimpannya sendiri"
"Awalnya aku ingin memberi tahu Anggi, tapi aku takut Anggi akan marah padaku, jadi aku putuskan untuk mengikutinya saja, tapi selama ini dia masih tetap baik ke Anggi, jadi aku tidak mempermasalahkan itu, selama Anggi aman"
"tapi tetap saja, dia selingkuh Yudha"
"aku tau, sangat sulit membongkar perselingkuhan dia, karena dia selalu saja bersikap manis pada Anggi, jika aku memberi tahunya mana mungkin Anggi percaya, malah aku yang jadi sasarannya, berusaha ingin mengadu domba rumah tangganya"
"kau benar, Anggi mana mungkin percaya"
"tapi kenapa kau memberi tahu Anggi, mengenai Rama selingkuh"
"aku ngga tahan si brengsek itu terus terusan menyembunyikan topengnya"
"bodoh, seharusnya kamu jangan beri tahu Anggi dulu, biarkan dia yang tahu sendiri"
"yang bodoh itu aku atau kamu, kalau nunggu Anggi tau sendiri, dia bakal dibohongi terus sampai dia tidak tau kelakuan suaminya itu"
"walaupun kamu tidak beri tahu, dia sudah mulai curiga, bahkan dia menyelidikinya sendiri"
"benarkah, lalu kenapa dia tidak percaya dengan omongan kami tadi?"
"kamu ngga kasihan sama dia, dia itu sedang hamil"
"aku tau"
"wah, sebenarnya apa yang kamu tidak tahu tentang Anggi"
"semuanya"
"kau psikopat" cibir Ardan
"jaga omonganmu" ucap Yudha tenang
"lalu apa namanya, kau teobsesi dengannya bahkan mengikutinya, kau rela apa saja agar bisa mendapatkan Anggi"
"terserah kamu mau ngomong apa, aku hanya ingin menjaganya"
"dia itu punya suami, kau tidak pantas menjaganya"
Yudha hanya tersenyum smirk, menanggapi Ardan
"kau pikir apa suaminya bisa menjaga keduanya, hmm" ucap Yudha seraya menaikkan alisnya
"tapi kau tidak berhak, itu urusan mereka"
"dia tidak boleh egois Ardan, dia harus memilih salah satunya"
"kau yakin Anggi akan memilihmu" ucap Ardan
__ADS_1
"jika pun dia tidak memilihku, asalkan aku masih bisa tetap menemaninya"
Ardan tersenyum miring, segitu cintanya kah dia bahkan rela melakukan apa saja demi Anggi
"jadi apa rencana mu, katakan padaku "
"biarkan Anggi mengetahui sendiri, apa yang dilakukan lelaki itu, disaat dia membutuhkan seseorang aku adalah lelaki pertama yang akan datang membantunya"
"kau tidak berpikir kalau jik nanti dia tau pikirannya terhadap lelaki akan sama saja di matanya"
"aku berharap dia tidak berpikir seperti itu, walaupun dia trauma mengenal lelaki, setidaknya dipernah mengenal kebaikan kita"
"kau begitu baik"
"udahlah, aku capek ngeladenin kamu"
"Yudha, baru kali ini aku melihatmu begitu cerewet, wahh pengaruh Anggi benar-benar luar biasa"
"pulang" singkat Yudha
"baru aja aku memuji mu tapi kau kembali seperti semula"
Seseorang mengetuk dari luar ruangan Yudha, lalu tanpa permisi langsung masuk melewati pintu ruangan itu
"Anggi" panggil Ardan seketika kaget, bukannya Anggi baru saja pulang kerumahnya
"Anggun" sapa Yudha setelah berbalik menengok sang empu
Sentak Ardan mengeryit bingung, siapa Anggun, kenapa wajah nya sangat mirip dengan Anggi
"kau pasti mengira aku Anggi kan, kenalkan aku Anggun saudara kembar Anggi"
"jadi selama ini Anggi punya saudara kembar, kau juga tau Yudha" tanya Ardan ke Yudha
"hmm" deham Yudha
Sentak Ardan mengusap bulu lengannya yang berdiri karena ngeri melihat Yudha.
"psikopat" ucapnya tanpa mengeluarkan suaranya, namun Yudha melihat gaya bicara Ardan yang mengatainya.
Dengan gerakan refleks Ardan mengusap dahinya yang berhasil mendapat jentikan keras tepat di dahi.
"sekali lagi kau bilang begitu, aku ngga segan membuatmu melompat dari gedung ini" ancam Yudha namun semuanya hanya omongan Yudha belaka
"ampun, lagian selama ini kau tau semuanya tapi kenapa tidak memberi tahuku juga"
"cerewet"
Anggun yang melihat mereka hanya tersenyum, begitu beruntungnya Saudara kembarnya itu mendapatkan sahabat seperti mereka.
"aku hanya mau membawa surat perjanjian kerja sama kita"
"makasih" ucap Yudha singkat
"kau sudah menemukan cara" tanya Anggun
"gagal"
"baiklah, kalau kau butuh bantuanku, aku akan selalu siap membantumu" jelas Anggun
Percakapan diantara kedua orang ini membuat Ardan lagi-lagi bingung.
__ADS_1
Bersambung..