
Setelah bermain begitu lama bersama Anggi, anak kecil itu sepertinya sangat kelelahan bahkan tertidur di pangkuan Anggi
Merasa tidak diperhatikan, Anggi baru sadar memang sedari tadi anak itu selalu menguap bahkan tidak cerewet seperti tadi
Anggi sedikit terkekeh
"anak ini emang baru diam kalau sudah tidur" gumam Anggi
Anggi memperbaiki posisinya agar Aurel bisa dia angkat menuju kamarnya. Ternyata memang sudah gelap.
Anggi terkadang suka lupa waktu jika bermain dengan keponakannya ini, bahkan Anggi tidak merasa kesepian beberapa jam yang lalu, berbeda jika Anggi sendirian.
Setelah membaringkan Aurel, Anggi juga ikut berbaring disebelahnya. Malam ini Anggi tidak ingin menunggu Rama pulang kerja, seharian ini dia juga tidak menghubungi Anggi. pesan Anggi tadi pagi belum dibalas oleh Rama.
Selang beberapa menit, Anggi sudah masuk ke alam mimpinya.
Disisi lain seorang lelaki sedang menatap rumah bergaya minimalis itu dari jauh, hampir tiap malam setelah pulang kerja dia pasti menyempatkan mampir, walaupun hanya dari luar rumah, itu sudah cukup untuk membuatnya mengobati rasa khawatirnya.
Setelah puas dia masuk kembali ke dalam mobil sport berwarna putihnya.
"selamat malam Anggi" kata lelaki itu
Terlihat mobil hitam pekat masuk kedalam rumah itu, dia yakin itu pasti Rama yang baru datang.
"hmmm" seringai lelaki itu menatap lekat punggung Rama yang baru pulang
"akan ku pastikan Anggi menjadi milikku dan tidak berhak untuk kau miliki"
"kau jangan egois Rama, kau harus memilih satu diantaranya"
Lelaki itu mengangkat telpon dari orang suruhannya.
"bagaimana?"
"semuanya sudah beres, bukti yang kita dapatkan sudah cukup akurat, tinggal tunggu tanggal mainnya" ucap seseorang dibalik telponnya
"bagus, satu lagi, jangan sampai dia tau tentang ini"
"tenang saja, Anak buahku sudah mengawasinya"
Terlihat senyum kemenangan terbit disudut bibirnya.
Segera dia mengendarai mobilnya meninggalkan kawasan itu.
Saat ini Rama tengah berada di ruang tamu duduk di sebuah sofa, terlihat di sekelilingnya begitu berantakan terdapat banyak mainan anak kecil yang berserakan
"Aurel pasti nginap lagi" gumam Rama
Segera ia beranjak dari duduknya menuju kamar mandi dan bergegas mengganti bajunya menjadi piyama.
Dua wanita sedang tertidur pulas di tempat tidurnya, segera Rama membaringkan Tubuhnya tepat di samping Anggi.
Hari ini adalah hari yang cukup melelahkan bagi Rama.
__ADS_1
"selamat tidur sayang, mimpi yang indah" ucapnya sambil mengecup singkat kepala Anggi
Di pagi hari Aurel terbangun mendapati Anggi dan Rama masih tertidur, dia mengerucutkan bibirnya seperti menahan kesal
"ihh"ucapnya kesal seraya melepaskan tangan berat Rama di perut Anggi.
Dengan susah payah Aurel mengangkatnya tapi tidak berhasil, Rama malah semakin mengeratkannya.
Aurel mulai sesegukan dan berteriak di tempat tidurnya, air matanya mulai berjatuhan, sentak Anggi dan Rama terbangun mendengar suara tangis Aurel
"uwaaaa uwaaa" tangis Aurel
"Aurel, kenapa menangis sayang" tanya Anggi panik
"kamu habis mimpi buruk yah" Ucap Anggi lagi seraya menenangkan Aurel agar berhenti menangis
Aurel menggelengkan kepalanya bertanda dia tidak bermimpi, lalu dia mengangkat tangannya menunjuk ke arah Rama
Anggi mengikuti arah telunjuk Aurel, mendapati Rama yang cukup kaget menunjuk dirinya
"Uncle hiksss jahat hikss" ujar Aurel dalam tangisannya seraya masih sesegukan di pelukan Anggi
"Uncle kenapa, ayo beri tahu Aunty"
"Aurel ngga suka kalau Aunty dipeluk sama Uncle"
Rama menaikkan sebelah alisnya, Anak ini kenapa malah ngelarangnya, terserah aku dong, kan Anggi itu istri aku
"kenapa memangnya"
"lalu apa hubungannya sama Uncle" kata Rama membalas ucapan Aurel
"Aunty juga udah besar kalau Uncle peluk nanti punya Adik" ucapnya sambil berkacak pinggang
Sentak Anggi tertawa mendengar ucapan polos Aurel, lalu menahan tawanya saat Aurel menatapnya.
"Aurel sayang, memang kenapa kalau Aunty punya Adik, kan bagus Aunty ada temannya"
"Aurel ngga mau punya Adik"
"kenapa?" tanya Rama kali ini dia sangat penasaran dengan apa yang ada dipikiran Aurel
"Aurel ngga mau kalau sayangnya dibagi bagi"
"kalau Aunty punya Adik, nanti Aunty sama Uncle ngga sayang lagi sama Aurel" ucapnya sesegukan
"ngga gitu Aurel, justru bagus dong kalau Aurel punya Adik, bisa main bareng udah ngga sendirian lagi kan mainnya, masa mau main sama Aunty terus, Aurel emang ngga bosan" sahut Rama memberikan penjelasan ke Aurel
Aurel sejenak berpikir dan memikirkan perkataan Rama, Memang yang dikatakan Unclenya ini ada benarnya juga.
"Aurel mau kan punya Adik" tanya Rama lagi
"yah udah deh, Aurel mau punya Adik" kata Aurel semangat
__ADS_1
"bagus, Anak pintar" ucap Rama seraya menepuk kepala Aurel
"Aunty, Adiknya mana" tanya Aurel
Terlihat Rama tersenyum senang saat Aurel meminta Adik dengan polosnya. Sentak Rama menyenggol lengan Anggi
"minta Adik katanya" ucap Rama seraya menaik turunkan Alisnya
Anggi menajamkan matanya menatap Rama yang berkata tanpa dosa.
"Aurel Kalau mau punya Adik harus bikin dulu, ngga langsung jadi" kata Rama
"yah udah, bikin aja Uncle"
"bikin nya itu ngga gampang, harus ditemanin Aunty dulu, baru ditunggu sampai 9 bulan"
"lama banget sih Uncle"
"memang caranya gimana sih" tanya Aurel dengan muka polosnya sambil menarik lengan Anggi
Anggi hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, Anggi dibuat pusing sendiri bagaimana cara menjelaskannya, dia aja masih kecil banget mana mungkin dia ngerti, sentak Anggi menepuk Paha Rama agar bisa membantunya menjelaskan.
"caranya itu, Aunty sama Uncle pelukan dulu" sahut Rama
"Ihh, kamu kok ngomong kayak gitu, dia itu masih anak-anak, boleh saatnya dia tau yang seperti itu, kamu itu gimana sih"
"gini, Kalau mau buat itu caranya harus siapin bahannya dulu baru deh dibuat"
"bahannya apa aja Aunty"
"pakai tepung sama telur, kayak buat kue gitu"
"Aunty yang masak yah? " tanyanya
"harus Aunty dong, kalau ngga, nanti ngga bisa jadi"
"yah Aunty kan ngga bisa masak, nanti Adiknya gosong, kayak nugget kemarin" jujur Aurel
"kemarin Aurel bilangnya suka" ucap Anggi
"Aurel terpaksa, karena ngga ada yang lain"
Anggi memutar matanya malas, anak ini kenapa cerewet banget sih, bisa-bisanya dia ngomong kayak gitu
Diam-diam Rama mengulas senyumnya melihat interaksi antara Aunty dan keponakanya. Terbesit rasa keinginan untuk memiliki anak juga bersama Anggi namun sampai sekarang Tuhan belum memberinya.
Kenapa Tuhan belum memberikan keajaiban itu padahal selama ini mereka sudah berusaha. Apa memang mereka berdua tidak di takdirkan untuk memiliki anak
Fakta bahwa Anggi sulit memiliki anak dia di tepis jauh-jauh, Rama sangat mencintai Anggi tidak akan membiarkan dia pergi darinya, selamanya Anggi harus berada disisinya
"Andai saja saat itu Anggi tidak kecelakaan mungkin anaknya sudah sebesar Aurel juga" batin Rama
"yah udah kalau begitu kita beli bahannya dulu, sambil kita jalan-jalan, mau ngga"
__ADS_1
"mau dong Aunty" ucap Aurel semangat
Bersambung...