
Sekarang Anggi tengah berjalan dari arah ruang ganti baju
"kenapa, ada apa cari aku"
"aku cuman khawatir sama kamu"
"ngga sok khawatir kalau kamu lebih memilih temanmu itu" berlalu ke tempat tidur
"maksud kamu apa sih, tentu saja aku khawatir denganmu, kamu itu sakit tapi malah banting pintu kayak gitu"
"kamu marah kalau aku banting pintu"
"yah udah cerita sama aku kenapa sikap kamu jadi kayak gitu"
"kamu tidak tau aku kenapa, karena memang kamu ngga ngerti perasaan aku" kata Anggi yang matanya sudah mulai berkaca-kaca
"bagaimana aku bisa mengerti kalau kamu ngga cerita"
"percuma cerita sama kamu" sahut Anggi kemudian berbalik ingin meninggalkan Rama keluar kamar namun berhasil di cekal
"mau kemana" tanya Rama
Anggi hanya diam, air mata sudah tumpah lolos membasahi pipinya.
"lepasin aku Rama, biarkan pikiranku tenang"
"pikiran kamu ngga bakal tenang kalau belum diselesaikan sekarang juga"
Rama membalikkan tubuh mungil itu dengan cepat Anggi menghapus kasar jejak air matanya agar Rama tidak melihatnya sedang menangis
Anggi menunduk menyembunyikan wajahnya
"tatap aku Anggi"
"ngga" Ucap Anggi menggelengkan kepalanya dengan suara parau, air matanya sudah menumpuk di pelupuk mata. Menahannya agar tidak jatuh
"kamu cemburu"
Anggi mendongkakkan kepalanya melihat Lawan bicaranya. Yang dikatakan Rama benar tapi Anggi selalu menepis karena tidak ingin mengakui bahwa dirinya cemburu, entah kenapa perasaan cinta itu semakin dalam untuk Rama,dia takut Rama pergi meninggalkannya
"iya benar, aku memang cemburu, aku tidak suka kalau kamu selalu menyebut nama wanita itu, setiap hari hanya nama itu yang kau sebut, kamu tidak berpikir kalau aku risih mendengarnya,
Hahh. aku benci terasa perhatianmu selalu berpusat padanya, aku muak setiap hari kamu bertemu dengannya sampai kamu mengantarnya pulang, aku bosan setiap saat hanya Nada, Nada dan Nada yang kamu ucapkan" kata Anggi yang mengeluarkan semua isi pikirannya dengan nafas yang memburu
Rama melongo mendengar semua perkataan Anggi, baru kali ini Anggi mengungkap semua isi pikirannya, Rama tau kalau Anggi cemburu tapi tidak sesuai dengan dugaannya, dia hanya berpikir Anggi cemburu karena kesalahpahaman waktu keluar kota, di tambah dia harus selalu bersama dengan Nada karena alasan kerja.
Rama baru tersadar ternyata Anggi menyimpan banyak kekesalannya begitu lama
"aku takut Rama"
Rama mengerutkan keningnya, apa yang Anggi maksud takut, apa dia mendengar pembicaraannya tadi dengan Bibi kalau dia hamil.
"maksud kamu apa Anggi? " tanya Rama menelisik mencari jawaban dari kata takut itu
"aku takut dia merebutmu dariku"
Kini Rama bernafas lega, menghembuskan nafasnya pelan pasalnya tidak ada yang perlu Anggi takutkan jika menyangkut hal itu.
"aku cinta sama kamu mana mungkin aku berpaling darimu, aku sama sekali tidak punya perasaan apapun dengan Nada" sahut Rama meyakinkan
"mungkin sekarang kamu bilang seperti itu, karena perasaan seseorang bisa saja berubah"
__ADS_1
"tidak akan,selamanya aku kan selalu berada disisimu, aku janji"
Rama meraih tangan Anggi lalu menggengamnya dengan lembut
"aku minta maaf, aku yang salah"
"aku yang bermasalah Rama, aku terlalu cemburu melihatmu selalu dekat"
"ngga, selama ini aku tidak mengerti perasaanmu"
"aku juga minta maaf terlalu kekanak-kanakan"
Ucap Anggi sambil sesegukan
Rama mengusap kedua pipi Anggi yang telah membanjiri wajahnya dengan air mata seraya tersenyum memandang wajah cantik Anggi
"aku tidak suka melihat mu menangis"
"tapi aku menangis karena kamu"
"yah makanya jangan menangis hanya karena aku"
"tapi kan itu ulah mu"
"iya iya maafkan aku yah" ucap Rama seraya mendekatkan tubuhnya Ke Anggi lalu melebar kedua tangannya untuk memeluk Anggi
Mereka saling berpelukan bahkan Rama mengusap punggung Anggi agar segera meredam tangisnya.
"dasar cemburuan" ejek Rama
"biarin"
"kalau cemburu kan itu tanda sayang" goda Rama
"kamu"
"kamu siapa?" tanya Anggi yang bermain - main dengan perkataannya sendiri
"Anggi"
"siapa Anggi"
"Anggi istri aku"
"istri kamu namanya Anggi yah"
"iya, Anggi istri aku yang cemburuan suka marah-marah" jelas Rama menggoda Anggi
Anggi melonggarkan pelukannya lalu menatap Rama kesal.
"emang kenapa kalau aku cemburuan, suka marah-marah, ngga suka, oh kamu lebih suka wanita itu kan" sarkas Anggi
Rama diam tak menyambung ucapan Anggi, baru aja dia berbaikan malah cari masalah lagi, sebaiknya dia tidak membuat Anggi kesal
"suka kok sayang"
"bohong"
"kok ngga percaya, malah aku suka buatbkamu kesal, soalnya aku jadi gemas pengen cium kamu"
"gombal" sahut Anggi seraya mengerucutkan bibirnya
__ADS_1
Rasanya semua yang di katakan Rama semuanya serba salah, dia Jujur dikata bohong, dipuji malah dituduh gombal
Memang wanita kalau hamil suka berubah sikap kayak gitu yah, emosinya naik turun bahkan apapun yang dilakukan salah
"Haahh" hembusan nafas berat Rama berhasil di dengar Anggi
"capek yah hadapin aku"
"apa?"
"aku bilang kamu pasti capek liat kelakuan aku yang selalu kesal"
"ngga sayang, aku cuman ngantuk aja"
"oh yah" singkat Anggi
"kita tidur yuk udah malam banget nih, besok kan kita mau kerumah sakit, periksa kesehatan kamu, lagian kamu ini sakit tapi kok kuat banget ngocehnya" ucap Rama panjang lebar sampai tidak menyadari Anggi sudah beranjak ke tempat tidur mereka
"yang banyak ngoceh itu kamu, mending kesini ke samping aku" titah Anggi
Rama berjalan menuju tempat tidur lalu membaringkan tubuhnya tepat di samping Anggi
Tidak tanggung-tanggung Rama di buat kaget atas perlakuan Anggi yang secara tiba-tiba, biasanya jika ingin tidur dia hanya tetap diam lalu tertidur pulas yang selalu memeluk duluan adalah Rama, entah mengapa malam ini dengan inisiatifnya sendiri tanpa Rama suruh Anggi langsung memeluknya menyembunyikan wajahnya di balik dada bidang Rama
Tercetak jelas senyum senang Rama yang tidak di ketahui Anggi
"aku boleh peluk kamu kan"
"bolehlah sayang, semuanya milik kamu juga"
"lalu kenapa tidak membalas pelukanku, apa tidak ingin memelukku juga"
Sebenarnya bukan tidak ingin, hanya saja Rama heran dan terkesan tiba-tiba, setelah dapat izin dari Anggi tentu saja Rama membalas pelukan Anggi yang membuatnya nyaman dan dapat menghangatkan tubuhnya.
"Aku cinta sama kamu" ucap Rama
"aku juga"
"Anggi" panggil Rama
Anggi mendongkakkan kepalanya menatap Rama lalu memperbaiki posisi tidurnya mensejajarkan wajahnya tepat di hadapan wajah Rama yang berjarak sangat dekat
"ada apa"
"aku mau bertanya sama kamu" seru Rama dengan hati-hati takut dia salah bicara
"tapi kamu harus jawab yah, sesuai apa yang hati kamu inginkan
"hmm, aku akan jawab sebisaku"
"Baiklah kalau begitu, dengar pertanyaanku baik-baik karena aku hanya akan mengulangnya sekali saja" terang Rama menjelaskan
"kalau misalnya, jika kata Dokter kamu hamil, apa yang akan kamu perbuat"
"kamu jangan ngaco pertanyaannya"
"Rama kepala aku masih pusing, jangan kasi pertanyaan yang belum bisa aku jawab soalnya itu belum terjadi" ujar Anggi
"aku kan cuman bertanya, yah tinggal kamu jawab saja"
"tapi, kamu yakin ingin tau jawabannya"
__ADS_1
Bersambung...