
Rama masuk kembali ke kamar melihat keadaan Anggi.
Satu hal yang membuat Rama khawatir saat ini, bagaimana jika Anggi tau jika dia hamil, apa dia bisa menerima kehadiran anak itu, atau malah tidak menginginkannya.
Di ambang pintu Rama hanya menatap Anggi lekat sambil bersandar di daun pintu. Mungkin ada baiknya jika memerhatikan kesehatannya dulu.
Rama berputar haluan menuju dapur, menyiapkan makanan untuk Anggi, pikirnya Anggi belum makan malam.
Sekembalinya ke dapur, Rama masih menemukan Anggi tertidur pulas.
Sebuah nampan dengan berisikan bubur buatannya dengan segelas air yang menjadi pendampingnya.
" sayang bangun dulu yah, kamu pasti lapar kan" seraya Mengusap lembut pucuk kepala lalu beralih ke pipi Anggi
Anggi mengeryapkan matanya, bertanda dia sudah bangun sesekali dia menguap karena masih ngantuk.
"kalau sudah makan, lanjut tidur lagi"
"hmmm"
Anggi menyadarkan punggungnya agar tetap nyaman.
"aku suapin yah"
Saat melihat mangkuk berisi bubur rasanya Anggi tidak bernafsu untuk memakannnya
Saat ingin menyuap Anggi, kepalanya di gelengkan tak ingin makan, Anggi menutup rapat-rapat mulutnya.
"kenapa? "
" makan yang lain aja yah, aku ngga mau makan bubur"
"tapi kan kamu habis muntah, isi perut kamu lagi kosong"
"ngga mau"
"yah udah kamu mau makan apa"
"mmmm, soto aja" ucap Anggi berpikir sejenak, terlintas dipikirannya sesuatu makanan yang enak
"ngga" spontan Rama menolak permintaan Anggi
"aku mau makan itu Rama"
"yakin"
"iya" ucap Anggi semangat
"aku suruh Bibi buatin yah"
"ngga, mau nya soto yang di pinggir jalan dekat kampus"
"ya ampun Anggi, buatan bibi ngga kalah enak dari warung pinggir jalan itu"
"tapi aku maunya itu"
"besok aja yah, sekalian kita ke rumah sakit periksa kesehatanmu"
"kan udah sama Kak Dion"
"Dion menyarankan untuk periksa lebih detail, tadi kan hanya periksa biasa aja"
"yah udah, tapi janji boleh makan soto besok"
"iya iya, tapi makan ini dulu"
" ngga mau itu, nasi aja"
"yah udah, padahal buburnya aku yang masak loh kalau begitu biar aku yang makan saja, ehh ngga aku kasih ke orang aja"
__ADS_1
"mau kasih siapa"
"Kasi Nada aja kali yah, kan dia tinggal sendiri di Apartemennya"
Karena kesal Anggi beranjak dari tempat tidur menyibakkan selimut yang di pakainya sembarangan ingin menuju dapur untuk mengisi perutnya yang kosong
"mau kemana, kamu belum sembuh loh"
"bodo amat"
"Anggi, kamu itu kenapa sih, kalau di bilangin jangan membantah"
"aku mau makan, kasi aja tuh makan buatan kamu sama teman mu itu, ahh siapa namanya, sebut namanya saja malas aku dengar nya"
Rama mengerutkan dahinya bingung, maksud Anggi itu apa, kenapa malah kesal dengan Nada.
"Anggi" panggil Rama
Anggi tidak mengindahkan panggilan Rama, dia bahkan terus berjalan pura-pura tidak mendengar Rama yang terus memanggilnya.
"sayang kamu masih sakit, jangan banyak gerak dulu"
Bunyi bel dari luar pintu terdengar mengisi ruangan
Ting tong....
"biar aku yang buka"
Rama segera berjalan menuju pintu utama mereka kemudian membukanya.
Terpampang jelas seorang wanita dengan pakaian yang masih sama dikenakan sejak bertemu tadi siang
"Nada" gumam Rama
"masuk, dari mana kamu tau Rumah aku"
"kalau itu sih gampang"
"tenang Anggi, kendalikan dirimu" gumam Anggi
Karena malas menghampirinya, Anggi terus makan saja, namun ***** makannya menurun setelah tau Wanita yang tidak disukainya datang bertamu di rumah nya.
"mau apa tuh orang datang kemari" Ucap Anggi menghentikan makannya.
Samar-samar Anggi mendengar percakapan mereka.
"ada perlu apa kemari"
"aku cuman mau ngasih ini" memberikan Ponsel Milik Rama
"kayaknya kamu lupa deh tadi, aku menemukannya di Sofa"
"pantasan aja aku cari tapi tidak ketemu, makasih yah udah bawa kemari"
"gara- gara aku juga, kalau ngga antar aku kan tidak bakalan ketinggalan"
Rama tertawa receh, mengiyakan perkataan Nada.
"kamu itu tidak pernah berubah yah, selalu saja lupa dan berakhir aku yang harus bawa kerumah mu" ujar Nada dengan tawa yang mengingat kenangan masa kecilnya
"kamu masih ingat itu"
Terdengar suara gelagat tawa di pendengaran Anggi, mendengar suara tawa itu, membuat Anggi tidak bisa menahan emosinya.
Sendok yang ada di pegangan Anggi digenggam kuat, Anggi meneguk segelas air lalu di simpannya kasar, sampai terdengar bunyi dentungan antar gelas kaca dan papan meja makan.
Sontak Rama dan Nada berbalik mendegar asal suara tersebut. Bibi yang berada di dapur hanya memerhatikan tingkah Anggi
Anggi berjalan ke kamar dengan malas pasalnya harus melewati sepasang lawan jenis yang berada di ruang tamu.
__ADS_1
"Anggi" tegur Nada
Anggi hanya melihatnya sekilas lalu masuk ke kamar dengan membating pintu cukup keras.
Rama tersenyum pasrah ke Nada melihat tingkah Anggi.
"sepertinya kedatangan aku tidak tepat deh"
"bukan seperti itu, kami memang ada masalah sedikit, dia marah sama aku"
"kalau begitu aku pulang aja yah"
"kenapa cepat sekali pulangnya"
"kamu selesain aja masalah kamu dulu sama Anggi" ujar Nada lembut
"yah sudah, jadi ngga enak sama kamu, kamu harus melihat Anggi marah-marah begitu"
"ngga apa-apa, aku ngerti kok masalah Rumah tangga kan memang seperti itu ada suka dukanya"
"makasih yah udah ngerti"
"iya sama-sama, aku balik yah salam sama Anggi"
" iya"
Nada pulang kerumahnya, sementara Rama harus menahan kesabarannya untuk berbicara dengan Anggi.
Saat berjalan menuju kamar, bibi datang menghampiri Rama
"Anggi kenapa lagi Bi, perasaan tadi baik baik aja"
"kalau bibi perhatikan tadi Nona Anggi seperti marah sama Tuan"
"marah kenapa" tanya Rama
"lebih tepatnya sih cemburu, kemarin- kemarin kalau tuan sebut nama temannya Tuan, Nona terlihat kesal"
"memangnya salah yah Bi"
"ngga salah sih tergantung cara menyikapinya, cuman Nona Anggi nya mungkin tidak suka"
"Mungkin wanita kalau hamil suka gitu yah, emosinya tidak terkendali"
"Nona Anggi Hamil yah" kaget Bibi
"belum pasti juga sih, makanya Dokter tadi menyarankan untuk ke rumah sakit besok"
"bibi jangan beri tahu orang rumah dulu yah, termasuk Anggi juga"
"kenapa tuan"
"soalnya ini juga belum pasti, hanya perkiraan Dokter aja"
"mending tuan bicara dulu sama Nona, tidak baik kalau Nona terlalu banyak berpikir, akan berakibat buat janinnya nanti"
"baik bi"
Rama masuk dengan menghirup udara banyak banyak, Sepertinya akan harus banyak bersabar menghadapi Anggi, terlebih lagi Anggi itu sangat sulit untuk di bujuk
Saat masuk kamar, Rama tidak menemukan Anggi di tempat tidurnya, kemana kira-kira dia pergi, kamar mandi juga tidak ada karena suara percikan air pun tak terdengar.
Rama berjalan ke arah loteng namun tidak menemukannya juga.
"Anggi" teriak Rama
Anggi muncul dari arah ruang ganti pakaian terlihat dia sudah mengganti pakaiannya dengan baju tidur.
"aku pikir kamu kemana, aku khawatir"
__ADS_1
"kenapa cari aku" tanya Anggi sarkas
Bersambung..