Jatuh Cinta Dengan Istriku

Jatuh Cinta Dengan Istriku
Siuman


__ADS_3

Sekhawatir itu Rama setelah melihat Anggi jatuh pingsan, cara berpikirnya saja mulai tidak jernih.


Dengan tenang dia mulai mengambil minyak angin di kotak P3K yang berada diruang tamu.


Rama menemukan bibi yang datang akibat mendengar suara Rama yang berteriak tadi.


"Tuan cari apa? " tanya bibi yang baru datang


"kotak P3K mana bi"


" ada di laci bagian bawah tuan"


"memangnya siapa yang terluka, bibi dengar tadi tuan berteriak"


"itu Anggi pingsan, oh iya bi tolong telponkan Dokter yah, aku khawatir Anggi ada sakit apa"


"iya tuan"


Rama berlalu membawa kotak P3K kemudian membawanya ke kamar.


Segera membuka lalu membuka minyak angin untuk Anggi. Tak menunggu waktu lama, Anggi mengeryapkan matanya sadarkan diri


Rama membuang nafasnya lega, raut wajahnya tidak sekhawatir tadi.


"Anggi, kamu tidak apa-apakan"


Yang ditanya hanya memijit pelipisnya, rasa pening dikepalanya masih sangat terasa.


Rasanya Anggi ingin sekali mengeluarkan isi perutnya tapi masih tertahan, Segera ia bangun menuju kamar mandi namun dicekal Rama.


"kamu baru sadar, mau kemana?" tanya Rama


"ke kamar mandi" ucapnya lemah


"untuk apa"


Anggi hanya menatap Rama heran, suaminya kenapa, masa iya otaknya ditinggal di kantor, ke kamar mandi saja bertanya untuk apa


"aku temanin yah" usul Rama


"ngga usah, aku bisa sendiri"


Namun belum beranjak dari tempat tidur, Rama langsung menggendong Anggi ala bridal.


"Rama turunin aku, aku bisa jalan sendiri kok" perintah Anggi lembut


"Jangan bawel, kamu itu selalu seperti itu mau melakukannya sendiri, tapi nyatanya kamu ngga bisa"


"yah sudah, terserah kamu saja" ucap Anggi pasrah, berdebat dengan Rama hanya menambah kepalanya semakin pusing


Anggi masuk ke kamar mandi setelah di gendong Rama, namun Rama masih berdiri ditempatnya.


"kenapa ngga keluar"


"sudah ku bilang aku temanin, ntar ada apa-apa di dalam kamar mandi, bagaimana"


Anggi menghembuskan nafasnya pasrah, jika Rama sudah khawatir seperti ini, dia tidak akan mengubah perkataannya


"yah sudah, balik kalau begitu"


"buat apa,terlambat kalau kamu mau sembunyikan dari ku, aku udah melihat semuanya"


Perkataan Rama barusan berhasil mendapatkan hadiah pukulan dari Anggi, walaupun seperti itu tetap aja kan Anggi masih malu.


"sudah" ucap Anggi


Saat berdiri kembali Anggi terasa mual, Anggi beralih ke wastafel untuk mengeluarkan isi perutnya. Mendengar suara muntahan membuat Rama mengalihkan perhatiannya

__ADS_1


"tuh kan aku bilang apa"


Rama segera menghampirinya lalu menepuk-nepuk punggung Anggi.


"kita kerumah sakit aja yah"


"aku ngga apa-apa"


"ngga apa-apa gimana, kalau udah pingsan lalu muntah kayak gitu"


"ngga usah bawel, mending bawa aku ke tempat tidur"


Rama membawa Anggi sesuai perintahnya, duduk di pinggir tempat tidur, lalu memberikan segelas air untuk Anggi


"kita kerumah sakit yah, siapa tau kamu salah makan, memang nya tadi sore kamu habis kemana aja"


"cuman ke taman aja"


Suara ketukan pintu dari luar menghentikan perbincangan mereka.


"masuk"


"iya kenapa bi"


"Dokter nya sudah datang tuan"


"suruh langsung masuk ke kamar aja bi"


"baik tuan"


Bibi keluar kembali memanggil Dokter untuk ke kamar tuannya


"siapa yang sakit?" ucap Dokter yang baru datang dengan asal teriak


Anggi dan Rama sontak berbalik mendengar suara yang tidak asing di dengar


"kamu kan manggil aku untuk kesini"


"aku ngga manggil kamu, tapi bapak kamu"


"sama aja, aku kan juga Dokter"


"bapak kamu mana"


"lagi ada operasi, makanya nyuruh aku kesini"


"oh" ucap Rama yang ber oh ria


"mau di periksa atau ngga nih"


"iya iya"


Walaupun Dion sedikit tidak sopan, selalu asal ngomong dan bertindak sesukanya, namun keahliannya dalam ilmu kedokteran tidak kalah dengan Papa nya yang tak lain Om dari Rama


"kak Dion" ucap Anggi dengan lembut


Dion segera menghampiri Anggi berlutut di hadapannya.


"kamu sakit apa, biar Kak Dion obatin yah" ucapnya lembut dan membanggakan dirinya


"Anggi cuman pusing aja kok"


Rama memutar matanya malas, sempat-sempatnya anak itu berpura pura lembut di hadapan istriku, jiwa playboynya benar benar keluar jika berhadapan dengan wanita


"ngga usah tebar pesona didepan istri orang, ingat yah itu istri aku" celetuk Rama


"kalau mau di obatin, di obatin aja ngga usah lama lama

__ADS_1


"mau aku periksa atau ngga nih, bawel banget sih"


"periksa lah, tujuan kamu kesini ini tuh bukan ngegombal"


"yah udah, kalau begitu keluar dulu, aku ngga bisa konsentrasi kalau kamu cerita terus"


" ngga, ntar istri aku kamu apa-apain"


"ya ampun Rama, aku ngga suka rebut istri sepupu sendiri yah, walaupun emang aku pernah suka"


"nah itu, makanya aku ngga izinin kamu berdua aja disini"


"yah udah asal jangan berisik"


"Anggi kamu baring dulu yah, biar aku periksa"


Anggi menurut saja, karena memang dia sedang merasa badannya tidak bisa diajak berkompromi


Setelah di periksa, Dion seperti menemukan keganjalan tapi dia juga belum terlalu yakin, tidak ingin mengatakan secara langsung, karena dia masih menduga, jadi Dion hanya menyarankan untuk memeriksa kesehatan Anggi untuk lebih detailnya ke rumah sakit, selain itu Dion bukan dokter spesialis yang memeriksa khusus tentang wanita.


"kamu banyak banyak istirahat yah, kalau butuh sesuatu panggil bibi aja atau Rama, jangan terlalu capek, oke" ungkap Dion ke Anggi dengan mengusap pucuk kepalanya


Anggi hanya mengangguk lalu tersenyum tulus


"Dion" ancam Rama


"kenapa" ejek Dion sambil menjulurkan lidahnya


"bagaimana keadaannya" tanya Rama


"bisa bicara sebentar" bisik Dion


"kita bicara diluar saja"


"Ada apa dengan Anggi" penasaran Rama


"begini, sebenarnya aku juga belum berani memvonisnya, tapi untuk lebih meyakinkan perkataanku, lebih baik kamu bawa Anggi ke rumah sakit khusus Dokter kandungan saja"


"maksud kamu apa, aku ngga ngerti" polos Rama sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal


"maksud aku Istri kamu hamil, bego" kata Dion yang gregetan dengan Rama sambil mendorong kepalanya


"hah" kaget Rama


Rama hanya diam mendengar pernyataan Dion, perasaannya sekarang bercampur aduk, antara senang dan ada perasaan sedih. Senangnya karena dia sangat ingin mempunyai anak dari Anggi namun sedihnya mungkin Anggi akan sangat susah untuk menerima kenyataan ini, pasalnya dia belum siap untuk hamil.


"kenapa kamu kaget begitu"


"ngga apa-apa sih, aku sangat senang jika memang itu benar"


"kapan terakhir kamu main" goda Dion


"aku mainnya hampir tiap hari sih" jujur Rama sambil nyengir kuda


"wahhh, pantas saja Anggi kelelahan begitu, ternyata gara-gara kamu" ledek Dion


"tapi aku belum bisa memastikan dugaan ku benar atau salah, mending besok kamu ke rumah sakit saja" lanjutnya


"baik lah"


"aku pulang kalau gitu, jaga Anggi baik-baik, ingat jangan buat dia banyak berpikir, karena itu tidak baik buat ibu hamil" ucap Dion dengan suara baritonnya


"suara kamu bisa dikecilin sedikit, kamu akan mengganggu dia beristirahat"


"maaf, sampai kan salam ku ke Anggi"


"iya, thanks yah"

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2